Tidak mau kelihatan terlalu antusias, Cecille sengaja berjalan lambat ke ruang direksi yang terletak di lantai sepuluh.
Melewati pintu lift yang terbuka, senyum di bibirnya terangkat saat menyapa, “Wah, Om Gunadi, kapan mulai kerja lagi?”
“Belum lama, barengan kamu mulai cuti kayaknya.”
Cecille memusatkan perhatian pada kenyataan bahwa sosok pria paruh baya di depannya jauh lebih kurus, dan berkata dengan agak menyesal.
“Sorry, aku belum sempat jenguk waktu Om di rawat.”
“It’s okay, Om tahu kamu sibuk.”
Gunadi Sadikin adalah kepala bagian legal perusahaan, satu-satunya orang kepercayaan Liemanto yang posisinya tidak bisa diganggu gugat oleh Hartono, salah satu orang yang menyaksikan Cecille tumbuh dewasa.
“Ngomong-ngomong, kemarin malam aku kirim emaill, sudah Om terima?”
“Kamu yakin mau melepas tanah itu?” tidak menunggu tanggapan Cecille, Gunadi megingatkan, “Ayahmu nggak akan setuju.”
Cecille mencibir, “Om aku sudah berumur dua puluh empat tahun, dan sudah menikah. Kalau aku nggak salah ingat, itu syarat legal buat mengelola asetku sendiri.”
Bertemu lagi dengan kekeras kepaaan Cecille, Gunadi menggelengkan kepala tanpa daya, “Oke, ini keputusanmu. Semoga ini keputusan yang benar, dan kamu nggak dimanfaatkan sama suamimu.”
“Tenang saja, itu nggak akan terjadi.”
Lift dipenuhi dengan poster produk baru, Cecille bertanya dengan perasaan ingin tahu, “Perusahaan mau launching produk baru ya? Kok banyak banget poster begini?”
Gunadi menjelaskan, "Bukannya ayah dan ibumu mau merayakan hari ulang tahun pernikahan yang ke-25? Hartono secara pribadi merancang kalung untuk ibumu dan meluncurkannya sebagai produk konsep untuk para istri paruh baya yang dipenuhi cinta.”
Cecille menghela nafas, ayahnya benar-benar jenius bisnis,bahkan uang tahun pernikahan bisa mendatangkan keuntungan untuk perusahaan
Lift berhenti, Cecille melambaikan tangan kepada Gunadi yang memiliki arah berlawanan.
Cecille melewati koridor yang sunyi, ketika hendak berbelok seorang wanita dari datang dari arah berlawanan membuat keduanya hampir bertabrakan.
Cecille meliriknya dan merasa wajah feminim yang lembut di depannya nampak familier.
Bukankah ayahnya sedang meeting? Kenapa masih ada tamu yang datang ke sini?
Wanita itu juga melihat Cecille, dan tersenyum, mengangguk dengan lembut, kemudian pergi.
Cecille mengangkat alis sambil berpikir, mengetuk pintu dan berjalan ruang meeting.
Di ruangan dingin yang bersebelahan dengan kantor Hartono, beberapa pemimpin tingkat menengah duduk di kedua sisi meja konferensi, Hartono yang baru masuk setelah menemui tamunya duduk di posisi tengah.
Ada ketukan di pintu, dan semua orang menoleh saat Cecille dalam setelan biru muda mendorong pintu dan masuk. Dia sedikit mengangguk kepada perwakilan setiap divisi.
Meletakkan buku catatan di atas meja, Cecille menarik kursi dan duduk di sisi kiri Hartono.
Semua orang mengalihkan pandangan mereka ke Hartono. Hartono melihat tepat ke mata anaknya tanpa diduga, Cecille tidak memberinya wajah yang baik di depan umum.
Wajah Hartono tenggelam, bahkan suaranya sedikit dingin, “Kasih ke dia data terbaru, seberapa banyak kita kehilangan uang investor karena keputusan egois yang dia ambil!”
Cecille memegang kertas di tangannya, menyodok pipi dengan telunjuk kiri membaca setiap angka minus di catatan.
Alasan utama investor berani menanam uangnya di Liemanto lebih karena pernikahan Cecille dan Evan, ketika dua keluarga kaya itu bersatu, di situ mereka akan kecipratan untung besar dari hasil investasi.
Jangan salahkan mereka yang menarik lagi sebagian uangnya ketika mendapat berita pernikahan bukan hanya gagal, tetapi di gantikan oleh anak dari keluarga Tjandra.
Cecille tidak segera membela dirinya, tetapi memandang Hartono, “Menurut Papi, bagaimana aku harus bertanggung jawab untuk mengatasi kekacauan ini?”
“Batalkan pernikahan!” Hartono berkata tanpa berpikir lagi, “Kemudian temui Evan dan keluarganya, minta maaf ke mereka karena sudah bersikap konyol.”
Cecille sama sekali tidak terkejut mendengar pendapat ayahnya. Dia melemopar file ke atas meja, dan tersenyum.
“Sayangnya, Pi, aku nggak akan membatalkan pernikahan ini.”
“Kamu …” Hartono memelototi Cecille, bertanya-tanya apa anak ini dengan sengaja menentangnya?
Hartono, yang telah mengalami masa pemberontakan Cecille, jelas tahu seberapa jauh putrinya akan menentangnya dan tidak berhenti sampai ayahnya kehilangan kesabaran.
Setelah berpikir sejenak, dia mengangguk dan berkata dengan suara yang melembut, “Akhir-akhir ini pendapatan perusahaan nggak bagus, kita juga mau mengeluarkan produk baru perlu banyak uang untuk itu. Perusahaan akan kekurangan banyak uang kalau semua modal di tarik.”
Hartono berhenti sejenak, matanya tertuju pada Cecille kembali, dan putrinya masih duduk tanpa mengubah ekspresinya
Hartono melanjutkan, “Kalau kamu mau datang ke Evan dan memperbaiki hubungan kalian, kita nggak akan kehilangan banyak uang.”
“Daripada menyuruhku mengemis ke Evan, kenapa nggak mencari cara buat meningkatkan penjualan?”
“Sekarang ini agak susah.” Manajer marketing yang menjawab, “Saingan berat kita sekarang bukan toko offline, tapi toko online.”
“Kita ada juga kan toko Online nya?”
“Ada, tapi kondisinya nggak jauh beda dengan offline store. Kalah pasar dengan toko Oranye kepunyaan Marcell Tjhia.”
“Jangan mengajari buat gabung dengan keluarga Tjhia,” Hartono berkata, “sebagai Raja E- commerce dengan penjualan terbesar seIndonesia, mitra dipilih dengan ketat. Papi sudah menghubungi perwakilan pihak Tjhia, ada tiga perusahaan yang bersaing. Peluang kita hanya 35 persen. Akan lebih gampang kalau Anye berhasil tembus ke sana.”
Cecille mengerutkan dahinya, “Kenapa dengan Anye?”
Hartono menjawabnya dengan senyum yang menunjukkan dia bangga. “Pihak toko Oranye meghubungi Chris, menawari Anye sebagai BA baru mereka.”
Cecille memandanganya dan berkata dengan ringan, “Nggak usah mengandalkan Anye, aku juga bisa memasukkan produk perusahaan kita ke toko mereka.”
“Jangan omong kosong,” Hartono mulai meremehkan, “Papi, bahkan Evan saja nggak bisa. Apalagi kamu.”
“Lihat saja nanti. Kalau aku berhasil, jangan lagi ikut campur dengan pernikahanku!”
“Kamu bilang gitu, ke papimu?” Di restoran, Arling duduk di seberang Cecille, menggaruk-garuk kepalanya dengan hiruk pikuk.
Ketika menerima pesan dari Cecille kebetulan dia baru selesai melakukan photoshoot di hotel sekitar situ.
Dikiranya Cecille menelepon untuk mengajaknya makan siang biasa, tetapi dia malah mendengar cerita yang mengejutkan.
Tampaknya pertempuran diantara kedua sepupu itu belum akan berakhir.
“Dengar-dengar sih peluang Anye buat jadi BA lumayan besar, Christian jago banget ngelobi.”
“Kamu meragukan kemampuanku?”
“Nggak, tentu saja nggak.” Arling menyanggah, “Kemampuanmu buat ngelobi nggak bisa diragukan.”
“Yang pasti, aku nggak bakal kalah dari Anye!”
Melihat semangat Cecille, Arling mengepalkan tangannya, “Benar, kamu nggak boleh kalah. Jadi apa rencanamu sekarang?”
“Rencana? Nggak ada,”Cecille menggeleng. “yang pasti aku mesti dapat kontak Marcell Tjhia dulu, terus bikin janji ketemu sama dia.”
“Uhuk!” Arling yang sedang minum tersedak, dan langsung memuntahkan air.
Cecille dengan cepat mengambil selembar kertas dan menyerahkannya untuk menyeka mulutnya.
"Kenapa sih kok kaget gitu?"
Cecille menatap Arling dengan heran.
Arling menyeka mulutnya dengan bersih, tubuhnya duduk tegak tanpa sadar, matanya yang memerah berkedip, "Siapa yang nggak kaget, gila! Aku kira kamu punya kenalan orang dalam makanya berani nekat nantang ayahmu. Kalau kamu mau menemui Marcell, kayaknya peluang menangnya tipis.”
Cecille mengguncang teleponnya dan berkata sambil tersenyum, “Aku belum ngasih tau ya? Nicho kenal sama Marcell, kucing dan rumah yang kami tempati itu punya Marcell. Bahkan Nicho jadiin dia sebagai penjamin kartu kreditnya.”
Setelah makan siang yang terlambat, keduanya pergi berbelanja bersama di mal terdekat untuk mencerna makanan yang barusan masuk ke perut mereka.
Cecille membawa Arling ke lantai lima, lantai ini dikhususkan untuk toko barang-barang bermerek yang hanya melayani pelanggan VIP dengan nilai belanja yang tinggi dan pelayanan yang sangat baik.
Melihat lift berhenti di lantai lima, Arling buru-buru berhenti, "Ce, jangan ke sini ah, honorku belum cair, gawat kalau kalap.”
Cecille bertemu dengan ekspresinya yang hati-hati dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Lihat-lihat aja kan gratis, Arling. Kalau ada yang bagus, baru deh beli.”
“Dibilang honorku belum turun.”
“Santai aja, kan ada aku. Kamu tunjuk aja apa yang kamu mau, nanti aku yang bayarin semua. Anggap saja ini hadiah karena mau nemenin aku makan siang.”
Untuk mengatasi ketidakpuasan calon ibu mertuanya terhadap dirinya, setelah kembali ke Jakarta, Cecille terlalu sibuk dengan Evan dan keluarga besarnya, bahkan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menyenangkan mereka.
Akibatnya, dia tidak punya waktu bertemu teman-temannya untuk sekadar makan atau jalan, tetapi saat dia berada dalam situasi yang memalukan, kedua temannya selau ada untuknya.
Hal itu membuat Cecille memiliki nurani yang merasa bersalah di dalam hatinya.
“Karena ada Sugar mommy, hari ini aku nggak akan sungkan-sungkan.”
Arling sudah siap menghabiskan uang Cecille, tetapi temannya itu malah membawanya ke toko perabotan mewah.
“Ce, ini kok—“
“Sebentar, aku mau membeli sesuatu buat di rumah.”
Cecille memiih set alat makan baru yang harganya standar, ketika dia iseng melihat harga piring yang sama persis dengan piring yang dibuang oleh Nicho karena malas mencucinya, kedua alisnya yang indah terangkat.
Ini merek Royal Albert yang harganya hampir dua juta per setnya, dan dibuang begitu saja oleh Nicho.
“Wow, Marcell Tjhia benar-benar kaya.”
Arling yang barusan mendengar cerita tentang kejadian piring itu segera memberi komentar terbaiknya, “Bukan Marcell yang kaya, tapi suamimu yang nggak waras! Barang punya orang main buang-buang aja!”
Memikirkan hal ini, Cecille mengangkat kedua bahunya dan menjawab, "Siapa tau rumah itu dibeli sekalian sama isinya.”
“Aku masih nggak percaya Nicho kenal, bahkan bisa kerja di tempatnya Marcell Tjhia. Mereka nggak saling kenal kan sebelumnya?”
“Kamu pikir aku percaya?“Cecille memiliki pertanyaan yang sama, “Meskipun keluarganya punya banyak masalah, nilai ujian nasionalnya bagus waktu itu, tapi dia nggak lanjut kuliah kan.”
“He’eh.” Arling mengangguk, “Koko ku pernah bilang juga si Nicho kerja serabutan sana sini buat biayain hidupnya sendiri, dia baru lanjutin kuliah karena dapat bantuan.”
Mendengar informasi dari Arling barulah Cecille paham.
“Kalau Nicho lanjutin kuliah setelah cuti setahun, dia seharusnya menjadi teman seangkatan Marcell Tjhia di sana.”
“Ngomong-ngomong, Marcell punya adik cewek yang sering ikut dia kemana-mana. Kebetulan nggak sih? Atau Jangan-jangan, dia baik sama Nicho karena…”
Cecille menyelanya, “Nggak mungkinlah Nicho mau nikah sama aku kalau dia ada sesuatu dengan adik Marcell.”
“Benar juga,” Arling setuju dan mengangguk, “Lagian adik Marcell juga sudah lama nggak di Indonesia.”
Cecille menerima kartu dari pramuniaga, memasukkannya dengan asal-asalan ke dalam dompet.
“Oh yaa? Memang dimana dia?”
“Antara di Roma atau Paris, nggak ada yang tahu.”