50

740 Kata
dikit dulu yaa ntar lanjut Ketika Cecille turun dari mobil, dia mengikuti Nicho tetap dalam keadaan linglung. Keduanya berjalan melewati taman ke rumah  utama. Begitu pintu terbuka, lampu menyala.Cahaya di dalam sangat nyaman, terang, bersih dan rapi. Lobi, ruang tamu, dan ruang makan semuanya ada di lantai satu, dan melihatnya sekilas.. Ini sangat besar. Nicho tersenyum ketika dia menatapnya, lalu  membuka kunci pintar di pintu dan berkata, "Kemari, ambil sidik jarimu.” Saat menempelkan ibu jarinnya ke pengingat kunci, dia bertanya dengan tidak yakin. “Beneran kita tinggal di sini?” “Kamu lebih suka tinggal di kolong jembatan?” Nicho balik bertanya. Cecille tidak bisa menahan wajah cemberut, “Maksudku, berapa jumlah yang kamu bayar tiap bulannya?” Rumah yang ia datangi bersama Nicho luasnya sekitar 200 meter persegi, luas bangunan sekitar 150 meter dengan tiga kamar, dan dua garasi. Ini yang paling besar dengan kisaran harga empat setengah milyar. Berdasarkan gaji karyawan dengan level wakil direktur sepertinya, Cecille harus mengeluarkan sekitar 22 juta setiap bulan setelah mengambil pinjaman selama dua puluh lima tahun. Tekanan dalam hidup Nicho tidak kecil, memangnya dia sanggup membayar tagihan sebesar itu? Seakan melihat kekhawatiran Cecille melalui matanya, Nicho menatap bangunan dengan dalam sebelum menjawab, “Dp nol rupiah, tiga puluh juta, 360 bulan” Mata bulat itu membelalak, “tiga puluh juta? kebayar?” Nicho menjawab dengan acuh tak acuh, “kenapa nggak, istriku wanita kaya.” Cecille terkejut, dan mengejang sesaat, “Kontrak kita setahun, dan kamu ngandelin aku buat bayar rumah yang tempo cicilannya tiga puluh tahun? Konyol!!” Nicho  memasukkan tangannya ke saku, dan memandangnya dengan santai, “Kalau gitu kenapa kita nggak menikah seterusnya? Itung-itung membantu meringankan bebanku.” “In your dream!” umpat Cecille, menginjak sepatunya menjauh dari Nicho, dan berjalan  ke balkon samping. Rumah ini letaknya dataran tinggi, atas bukit. Dari balkon terlihat pemandangan kota dan atap-atap rumah di sekitarnya. Cecille bisa membayangkan bagaimana bagusnya pemandangan di malam hari dan berpikir untuk menaruh kursi di sini untuk bersantai.   Apartemennya juga tinggi, dan bisa melihat pemandangan kota malam hari. Tetapi vibesnya beda dengan rumah. “Bagus kan?” “Worth it lah untuk cicilan segitu.” Cecille memutar tubuhnya, memandang pria di belakangnya. “Rumah ini, bagaimana kamu bisa dapatnya?” “Marcell!” sahut Nicho, “dia sudah janji, kalau aku berhasil bantu dia dapatin tanah saat pelelangan, aku dapet satu unit.” “Kamu kenal Marcell Tjhia?” Cecille membelalakan matanya. Semua pengusaha di kota ini tahu nama keluarga Tjhia, tapi belum ada yang pernah melihat atau bertemu dengan mereka. Bahkan Evan yang mau menjalin kerjasama dalam pengembangan game online di tolak tawarannya, dan ternyata Nicho yang bukan siapa-siapa kenal dengan pria itu. Ini terlalu… mengejutkan. Menjawab pertanyaan Cecille, Nicho mengangguk. “seniorku waktu kuliah.” Jawaban itu hanya mendapat respon “Ooo” panjang dari cecille. Ada beberapa keraguan, tetapi dia tidak bertanya. Cecille memakai prinsip, untuk melindungi hatimu, maka jangan selidiki hatinya. “Ada yang mau disampaikan?” Nicho seperti cenayang yang bisa membaca pikiran duduk di depannya. Menjernihkan tenggorokannya, Cecille memanggil, “Nicholas, aku punya pekerjaan sendiri dengan gaji yang lebih dari cukup, jadi kamu nggak perlu memberiku nafkah.” “Oh.” Pria itu mengangat alisnya dan ekspresinya tidak terduga. Dan Cecille dengan semangat menyarankan, “Kita pakai sistem sendiri-sendiri untuk keperluan pribadi. Maksudku, pekerjaanmu nggak jelas, belum lagi utang keluargamu, ditambah cicilan rumah yang nilainya besar. Ngga mungkin aku nambah bebanmu kan?” Nicho tertegun, menatapnya, dan mereka berdua saling memandang.Pupil cokelat itu dalam dan pria itu menyapu wajahnya dengan tenang tanpa jejak. “Jangan tersinggung, aku cuma nggak mau utang budi denganmu.” Nicho mengangguk, “Oke.” “Buat rumah, selama tinggal di sini, aku akan membayar cicilannya setengah. Anggap saja itu sewa. Termasuk listrik, wifi, dan yang lainnya.”  Nicho  puas dan mengangguk, "Itu bagus." Diskusi mereka untuk membangun rumah tangga sementara sudah mencapai kesepakatan. Selain untuk makan dan keperluan bersama yang dibayar patungan, yang lainnya urusan masing-masing. Tanpa sadar mata wanita itu terbang ke dapur dan mendapati dapur itu sangat bersih. Bahkan tanpa kompor. Alis NIcho mengendur, dengan senyum di matanya, "Rumah ini jarang ditempatin, dan seringnya aku pesan makanan diluar.”   “Jangan terlalu banyak makan junk food, itu nggak bagus! Karena nantinya aku masak, yang pertama kita isi  harusnya dapur.” Nicho sepertinya bukan tipe orang yang suka belanja,tetapi mungkin karena baru menikah, dia mau mengikuti Cecille ke Mall untuk mengisi rumah baru mereka. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN