Beberapa minggu belakangan ini Anye kembali viral di media sosial.
Potongan-potongan adegan dari sinetron yang ia bintangi sering wara-wiri di t****k maupun i********:, membuatnya mendapat banyak pujian dari netizen berkat akting apiknya sebagai seorang gadis yang dianiaya oleh saudara tirinya.
Cecille adalah orang yang paling tertekan dari naiknya popularitas Anye dalam semalam.
Karena tidak berhasil mendapatkan kontak Marcel Tjhia, dia hanya bisa berharap dengan keajaiban.
Masih ada satu petinggi yang paling berkuasa di toko Orang, yaah siapa tahu orang itu tidak suka dengan Anye dan tiba-tiba memutuskan kontrak kerjasama dengan, tetapi mengingat bagaimana terkenalnya Anye belakangan ini, rasanya itu sangat mustahil.
Butuh seseorang untuk mendengarkan unek-uneknya, Cecille mengajak kedua sahabatnya keluar untuk sekadar menikmati segelas es kopi dan camilan manis di sela-sela jam kerja.
Cecille duduk menyangga dagunya di meja, menunggu kedua temannya yang sedang memesan makanan dan minuman di counter pemesanan saat telepon bergetar dua kali menunjukkan bahwa dia menerima pesan baru. Cecille meraih telepon, lalu mengusap layar dengan satu tangan.
[Kapan kamu pulang ke rumah?]
[Mami tau kamu pasti masih marah karena waktu itu kami lebih peduli sama kondisi Anye daripada kamu, tapi ini menyangkut masalah nyawa sepupumu. Lagian semua sudah telanjur terjadi dan kita nggak bisa memutar lagi waktu kebelakang. Sekarang waktunya buat kita memperbaiki semua. Berhenti ngambek sama orang tuamu, kamu sudah bukan lagi anak berumur lima tahun. Oke?]
[Datanglah ke sini, temuin papimu, ajak dia ngobrol. Tensinya terus-terusan tinggi sejak kamu menikah sama Nicholas]
Pesan yang panjang itu berasal dari ibunya, belum sempat dia mengetik jawaban, wanita yang seharusnya menjaga perasaannya malah mengirimkan beberapa tautan berita online tentang kepopuleran Anye.
[Baca itu berita Anye, untung dia bikin berita yang bikin papimu bangga, jadi papimu bisa sedikit terhibur]
Cecille hanya membaca pesan yang dikirim oleh Clara, dan merasa ibunya semakin tidak masuk akal.
Buat apa dirinya disuruh pulang kalau papinya sudah cukup terhibur oleh Anye?
[Coba kamu lebih patuh dan masuk akal kayak Anye, Ce. Pikiran mami pasti lebih tenang dan santai, nggak harus dengerin omelan papi kamu yang terus terusan nyalahin mami karena nggak becus mendidik kamu]
Cecille memutar kedua matanya saat membaca pesan terakhir yang dikirim oleh Clara. Memangnya sejak kapan dirinya mendapat didikan langsung dari ibunya? Seingatnya, wanita itu hanya melahirkan kemudian menyerahkan dirinya untuk dirawat oleh kakek neneknya.
Tentu saja dengan imbalan berupa posisi strategis untuk Hartono di perusahaan milik kakeknya.
Gawainya kembali bergetar, Cecille takut Clara akan mengirim pesan lagi untuk merangsangnya. Hatinya tidak tahan, jadi dia mematikan gawai dan melemparnya ke dalam tas.
Unge dan Arling kembali ke meja dengan nampan berisi makanan dan minuman. Melihat wajah kusut Cecille, Unge segera memberikan satu gelas venti berisi caramel macchiato dengan hiasan cream putih diatasnya.
“Thank’s.”
Unge mengabaikan ucapan terima kasih yang keluar dari mulut Cecille, dan langsung berkata, “nah, karena amunisinya udah lengkap, sekarang giliran kamu cerita. Kenapa mukamu kusut kayak orang terjerat pinjol ilegal begitu?”
“Masa kelihatan segitu desperatenya sih?”
“Ngaca aja kalau kamu nggak percaya.”
Cecille bersenandung, “Nggak usah. Aku percaya. Belakangan ini aku emang lagi banyak masalah. Terutama masalah perusahaan.”
Arling menatap Cecille dengan pandangan khawatir. “Masih belum ada titik temunya?”
Cecille menggeleng, menarik sudut mulutnya dengan lemah, “dengan popularitas Anye sekarang, tinggal tunggu waktu aja buat aku ngibarin bendera putih.”
“Tenang, Ce, nggak usah panik.” Unge mencondongkan tubuh untuk menghibur. “Tahu sendiri kan gimana dunia hiburan di sini. Perhatiin deh seleb-seleb yang pernah viral dulu. Palingan si Anye juga sama, cuma viral sebentar. Abis itu, cling, ilang nggak berbekas. “
“Jangan samain Anye sama orang lain.” Cecille mendengus tidak setuju, dan terus mengeluh, “ada perusahaan Evan yang back up Anye, mereka pasti akan tinggal diam kalau pundi-pundi rupiahnya sudah mulai anyep dari peredaran.”
“Nggak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selama Tuhan berkehendak.”
Cecille tidak bisa menjawab.
Dia mengerutkan bibir bawahnya dan menatap Unge juga Arling untuk sementara waktu, lalu dengan putus asa menjawab, “tapi Tuhan lebih berpihak ke Anye, gimana dong?”
Arling memasukkan sesendok cheesecake ke mulutnya, dan bertanya dengan ingin tahu, gara-gara itu kamu mau menyerah, Ce? Kamu setuju dengan permintaan ayahmu untuk bercerai dengan Nicho?”
Cecille menggertakkan giginya, “nggak usah bahas pria yang nggak punya hati itu! Kalau pernikahan ini berakhir lebih cepat, itu semua gara-gara dia yang terlalu pelit!”
Cecille semakin kesal ketika dia teringat dengan Nicho. Dia merasa, 70% dari kegagalannya kali ini adalah andil Nicho yang tidak mau menolong mengenalkannya dengan Marcel Tjhia.
Sebagai balasan untuk ketidakpedulian pria itu, Cecille tidak menunjukkan wajah yang baik saat berhadapan dengan suami palsunya ketika berada di rumah.
Unge juga berteriak luar biasa setelah mendengar ini, dan kemudian ikut mengomel, "kebangetan banget memang si Nicho. Ternyata dia memang nggak berubah, masih nggak peduli sama kesusahan orang lain!”
"Masalahnya aku ini istrinya lho! Bukan orang lain, masa iya dia harus sepelit itu? Cuma ngenalin ke Marcell buat bisnis aja kok, bukan untuk jual diri!" Cecille memukul meja dan menggigit sedotan di mulutnya, "Semakin dia menolakku, semakin aku ingin membuktikannya kalau aku bisa mendapatkan akses untuk langsung menemui pemilik toko Orange! Apa itu menyerah? Aku nggak kenal sama kata-kata itu!”
Berbicara tentang ketidakpedulian Nicho, semangat juang Cecille yang nyaris mati tiba-tiba kembali berkobar.
“Nah gitu dong!”Arling ikut bersemangat. “ini baru Cecille yang aku kenal.”
"Bagaimana cara membuktikannya? Kamu bahkan belum pernah melihat wujud asli Marcel Tjhia. Apalagi berniat menemui orang di atasnya?”
Cecille langsung membeku akibat ucapan Unge, "Kayaknya… Nicho pernah deh.”
Dua orang didepannya langsung menghela napas dalam-dalam sebagai tanda prihatin.
Sepertinya Cecille memang sudah ditakdirkan hanya bisa tergantung pada Nicholas. Lihat saja dari semua masalah yang menimpanya, sejauh apapun dia memutar mencari jalan keluar, ujung-ujungnya tetap saja berakhir pada minta bantuan Nicholas.
“Ini lebih susah dari perkiraanku. kayaknya menyerah dan mengaku kalah dari Anye jauh lebih mudah dari pada minta bantuan Nicho.”
Arling menadahkan tangannya depan Cecille. “Hape mana hape?”
“Ada di tas,”sahut Cecille lemah.
Arling dengan sigap meraih tas tangan Cecille, mengeluarkan gawai milik gadis itu dari sana
“Oke, karena Nicho sudah jadi satu-satunya jalan keluar, telepon aja dia, panggil Hubby, sayang, honey bunny, atau apapun yang bikin suamimu senang.”
Cecille mendengus dingin, wajahnya cemberut, dan nada suaranya juga sedikit enggan, “Sudah beberapa hari ini aku diemin dia. Males banget kalau tiba-tiba nelepon.”
Arling tahu bahwa di bawah pengaruh perseteruan dan persaingannya dengan Anye juga keluarganya, dia sangat sensitif terhadap sikap mengalah, dan menyarankan, "kenapa kamu nggak pulang dan ngomong baik-baik sama Nicho di rumah. Ingat, jangan terlalu mengintimidasinya, nanti dia malah takut.”
Bergeser sejauh dua kilometer dari pusat perbelanjaan tempat Cecille dan teman-temannya berkumpul, dalam gedung empat tingkat yang menjadi kantor sementara Oranye Shop, office boy baru saja keluar dari ruangan bos besar setelah mengantarkan dua kotak makan siang.
Marcel berbalik dan melirik Nicho yang baru saja selesai memeriksa tampilan terbaru platform online mereka dengan satu komputer dan dua laptop di depannya.
Pria itu bersandar acuh tak acuh di punggung kursinya, melihat merek Pagi Sore yang tertulis dalam kotak makan siangnya dengan pandangan bosan.
Sudah tiga hari ini dia harus puas dengan makan siang dan makan malam yang dibeli di luar. Selain roti tawar, selada, tomat dan secangkir kopi untuk sarapan, Cecille tidak meningglkan hal lain yang dilayak dimakan di meja makan.
Nicho sendiri bukannya tidak tahu kalau Cecille sedang dalam mode merajuk, tetapi dia memasang sikap seolah-olah tidak tahu apa-apa.
Dengan kepribadian arogan Cecille yang terkenal, lebih besar kemungkinan dia menemukan uang seratus juta teronggok di pinggir jalan daripada melihat Cecille merendahkan diri meminta bantuan orang lain.
Wanita itu bahkan lebih suka membuang pria yang dia cintai dan sudah bersamanya dari zaman kuliah daripada harus membiarkan harga dirinya terjun bebas.
Dan Nicho tidak berniat menyia-nyiakan fenomena langka yang amat sangat jarang terjadi ini.
Kapan lagi dia bisa melihat Cecille merengek padanya kalau bukan saat ini? Biarpun harus menukarnya dengan makananan yang enak buatan wanita itu.
Bersyukurlah Cecille masih mau membuatkannya sarapan, daripada tidak sama sekali.
“Nggak ada yang lain selain ini? Sayur bening pakai kentang sambal dan bakwan jagung, sop ayam kampung, capcay, ayam kecap. Masa nasi padang terus.”
Marcel menghela napas, mengangkat alisnya dan berkata, “Suruh saja istrimu yang masak kalau maumu itu.”
“Dia lagi sibuk. Nggak sempat masuk dapur.”
“Ada apa, mungkinkah dia lagi marah sama kamu karena kamu nggak mau ngasih no hape ku?”
NIcho mengangkat alisnya dan membuka penutup kotak nasi, buku-buku jarinya yang putih dan ramping perlahan menunjuk ke arahnya, dan nada suaranya dengan santai mengungkapkan pendapatnya, “kenapa harus marah? Toh ini bukan hal penting.”
“Nicho, ku kasih tahu ya,” kata Marcel lagi. “Nggak penting buatmu, belum tentu buat istrimu. Jangan lupa, kamu hanya mempelai pria pengganti. Ketika badai berlalu, Cecille mungkin akan meminta cerai padamu suatu hari nanti. Saranku, jadilah orang yang murah hati supaya Cecille hanya mengingat hal yang baik-baik tentangmu saat kalian berpisah nanti.”
Begitu suara itu jatuh, ekspresi Nicholas sedikit terdistorsi, dan wajahnya langsung tenggelam. Namun, dalam hitungan detik, dia mengangkat alisnya ke arah , dan berkata dengan dingin, "Kami nggak akan bisa dipisahkan dari pernikahan ini."
"Aku tahu, aku tahu. Semua orang yang bercerai bilang kalau gugatan perceraian itu merepotkan, dan bukan hal yang mudah untuk bercerai." Marcel memalingkan kepalanya dan tidak memperhatikan emosi pihak lain, dan menambahkan, "Tapi itu adalah pasangan yang serius, yang menikah karena pernah saling mencintai , yang pernikahannya sah di mata agama dan negara . Nggak ada hubungannya denganmu yang permikahannya nggak tercatat. Yang nikahnya hanya sebagai mempelai pengganti nggak diajak.”
Ada keheningan di ruangan itu, dan dinginnya es secara bertahap meresap, Marcel mengangkat kepalanya, dan akhirnya menerima mata dingin pria itu.
Nicho mengerutkan kening. “Berisik!”
“Kalau kamu masih pelit kayak gini, lihat saja, tinggal tunggu waktu Cecille bekerja sama dengan Evan untuk melawan ayahnya.”
Nicho sudah penuh depresi, tapi sekarang dia bahkan lebih kesal dengan ramalan Marcel, dia menekan alisnya dan hanya menutup matanya.
Kontrak pernikahan antara Cecille dan Evan bukan rahasia lagi, Nicho sadar dia bisa menjadi mempelai pria yang sudah jadi karena Evan yang pergi dari pernikahan.
Mengingat bagaimana agresifnya pria itu mendatangi Cecille kemarin, haruskan dirinya merasa terancam?
Nicho menghela napas dalam-dalam, mengangkat kelopak matanya dengan ringan, dan bertanya dengan ringan, "Marcel, perhatikan penampilanku baik-baik. Apakah menurutmu dari segi penampilan dan kepribadian, Evan jauh lebih baik dariku?”
“Sepertinya iya…” takut dirinya salah bicara, Marcel buru-buru meralat, “dilihat dari tampang, kamu sedikit lebih unggul dari Evan, tapi kalau dari temperamen jelas kalian dua pribadi yang berlawanan.”
Evan adalah tipe anak baik yang dipuji oleh para guru dan orang tua sejak dia masih kecil. Dia memiliki temperamen yang lembut. Dia tidak pernah bertengkar dengan siapa pun ketika dia masih kecil.
Jauh berbeda dengan Nicho yang terkenal sebagai siswa pembangkang dan urakan.
Setelah mencerna alasan untuk suasana hati Nicho yang mendadak berubah buruk tadi, Marcel berbicara lagi .
“Jadi kamu cemburu juga sama Evan?”
Nicho menolak untuk mengakuinya, terkekeh dengan suara yang jelas, dan kemudian dengan santai berkata, "Aku perlu cemburu?"
Marcel berkata dengan sengaja. “Bagaimanapun dia mantan terindah istrimu. Peluang untuk mereka balikan jauh lebih terbuka daripada mempertahankan pernikahanmu.”
Nicho membalas dengan alis yang kental, seolah memikirkan sesuatu, perlahan mengeluarkan sesuatu dari saku bagian dalam setelan lurus dan meletakkannya langsung di atas meja.
Melihat mata Marcel melebar dalam sekejap, dia membuka mulutnya dengan puas. "Aku sudah memiliki ini, apa masih perlu khawatir dengan hal lain?"
Marcel cukup terkejut, karena dia sering melihat sekelompok orang di lingkaran teman yang sering pamer buku menikah setelah menikah, tetapi Nicho berbeda, dia tidak pernah memposting apa-apa.
Siapa yang mengira dia sudah mendapatkan surat nikahnya yang sah dan diakui negara.
Marcel memberi Nicho--yang sedang tersenyum bangga di depannya, tatapan seperti melihat mahluk aneh.
Pria sinting ini… sepertinya dia mengantongi dan membawa surat nikahnya kemana-mana.
"Surat nikah ini benaran asli?”
Marcel mengulurkan tangan untuk mengambil surat itu secara langsung dan ingin melihat lebih dekat, tetapi pihak lain menyimpan akta nikah berwarna merah tua.
“Perlukah kamu meragukannya?” Nicho mengerutkan bibir tipisnya, berhenti, dan melirik alisnya, “Jangan khawatir tentang perceraian untukku lagi.”