OwG 9

1160 Kata
“Nggak usah khawatir tentang itu. Iya, secepatnya kami berdua ke sana.” Mengakhiri panggilannya, baik Hartono dan Clara melihat Cecille. “Ce.” Panggil ayahnya. “Pergilah kalau kalian mau pergi, aku baik-baik saja di sini.” Clara maju  dua langkah mendekati putrinya, tetapi kurungan gaun yang lebar menghalangi langkahnya. Dalam hatinya Cecille mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang menciptakan model gaun ini. Dia tidak perlu capek-capek menghindar. “Cecille kamu segera ganti baju dan ikut kami.” “Buat?” Clara memelototi anaknya dengan gemas, “Untuk alasan ke tamu. Mereka pasti mengerti kalau pernikahan hari ini batal karena adikmu kecelakaan.” Cecille mencibir, “Siapa yang bilang pernikahan hari ini batal, nggak ada yang batal kok.” “Cecille!!” Clara dan Hartono berbarengan memanggil anaknya. Hartono yang pertama bersuara, “Kamu patuh, turuti kata mamimu. Ikut kami ke Surabaya. Ini demi kebaikanmu.” Cecille mengangkat matanya sedikit untuk menatap ayahnya, menggeleng, lalu berkata dengan acuh tak acuh. “Perjalanan jauh bikin capek dan kurang tidur. Aku nggak mau kelihatan jelek di foto pernikahanku.” “Cecille. Bisa-bisanya kamu ngomong gitu. Nggak ada empati sama sekali, yang kecelakaan itu saudaramu bukan orang lain!” Cecille tidak punya kesempatan membalas omelan ibunya, karena Hartono keburu melerai, “Sudah-sudah, nggak masalah kalau kamu nggak mau ikut. Istirahat sja di sini, papi pastikan kami pulang secepatnya.” Begitu pasangan itu keluar, ruangan itu senyap. Cecille berdiri menatap pintu dengan mata berkaca-kaca. Tampilannya yang kuat barusan menghilang. Anye benar-benar mengambil semua miliknya. Saat Hartono masuk, Unge dan Arling tahu diri. Mereka keluar untuk member ruang bagi keluarga untuk bicara. Saat masuk lagi, Unge menginjak sepatu hak tinggi masuk ke ruangan dengan marah. “Cecille lihat ini, ini  benaran Evan lagi sama Anye?” Unge dengan satu tangan di pinggulnya, mengerutkan kening, pipinya memerah karena marah. Dia meletakkan ponselnya di  depan Cecille untuk dia lihat. Benar saja, gosip tentang Anye jadi trending satu di forum gosip. ‘Anye Tan kecelakaan di lokasi syuting, sekarang baru keluar dari rumah sakit ditemani mantan pacarnya. CLBK???’ Dalam foto tersebut, pria tersebut memakai kemeja warna maroon. Wajahnya di atas rata-rata, alis berkerut, hidung lurus, dan kacamata tipis berbingkai emas yang memantulkan cahaya lensa. Dia tinggi dan lebar, dengan lengan di sekitar wanita mungil di lengannya, sedikit ke samping, seolah menundukkan kepalanya. Dan wajah cantik Anye sedikit malu-malu, tapi wajahnya agak lemah dan pucat. Sungguh pemandangan yang sangat memesona. Cecille meremas tangannya, mencoba menekan rasa sakit hati, dan mencoba mengabaikan komentar di bawahnya. “Jadi pernikahanmu hari ini gagal karena mahluk nggak tau malu ini?” Unge tidak bisa menahan lidahnya untuk mengutuk. Cecille  tidak berbicara untuk sementara waktu, dia terus menatapnya dengan salinan satu tangan, ekspresinya suram dan matanya dalam. Baru kemudian Cecille menjelaskan dengan singkat pada Unge, mengakhirinya  dengan kalimat, “Intinya, sekarang Anye ada Surabaya dalam keadaan sakit. Begitulah!” “Jadi, tadi mami sama papimu pergi buru-buru mau nyusul ke sana?” “Hmmm” “Astaga! Anye ini kok lama-lama semakin keterlaluan sih. Maksudnya apa coba, syuting sehari sebelum pernikahanmu? ” Unge meninju udara saking dia kesal. Padahal posisinya cuma sebahgai pendengar, bukan orang  yang mengalami hal ini sendiri. Salut  dia sama Cecille, dalam kondisi begini masih bisa tenang dan nggak sedikitpun meneteskan airmata. Calon suaminya nggak datang ke pernikahan karena Anye, orangtuanya langsung meninggalkan tempat acara buat menemui Anye, dan adiknya nggak kelihatan batang hidungnya juga karena Anye. Kalau ini terjadi sama dirinya. Sudah nangis-nangis sampai pingsan kali dia. “lalu bagimana selanjutnya? Kenny sudah mengumumkan penundaan sampai besok, tapi Ce, kamu yakin tetap menikah?” “Persiapannya sudah selesai, tamu sudah datang. Apapun yang terjadi, aku tetap harus menikah!” Unge diam, dia menatap Cecille yang sibuk  dengan gaunnya. Sebagai teman baiknya dia sedikit tertekan atas perasaan Cecille yang begitu besar ke Evan. Anye memiliki hubungan denganEvan saat  itu, kemudian putus. Anye yang mengakhiri semua karena mau fokus dengan sekolahnya.  Setelah itu, Evan patah hati dan pergi ke luar negeri satu minggu setelah Cecille berangkat, dan mereke bertemu lagi di sekolah yang sama. Evan menerima perasaan Cecille di tahun kedua setelah mereka berada di luar negeri. Bahkan jatuh bangunnya Evan memulai usahanya,bagaimana dia diremehkan keluarganya ketika usahanya gagal, Cecille selalu ada di sampingnya memberinya support.  Cecille tidak melanjutkan S2 nya, dan tidak pulang ke negaranya, tetapi memberikan semua uang tabungan kepada Evan dan menemaninya di saat-saat sulit. Tidak ada yang tahu seberapa besar peran besar Cecille pada kesuksesan Evan sekarang. Unge ingat mata cerah dan berbinar Cecille saat dia datang untuk liburan dan menemuinya. “Unge, Evan melamarku, dan kami akan segera menikah.”  "Kapan?"  "Belum tahu, kemungkinan tahun depan, setelah Evan mengakuisi OurTV dengan perusahaan keluarganya." dia mengangkat tangan kiri, menunjukkan cincin berlian kecil di jari manisnya, "Kalau nggak lihat cincin ini, aku masih belum percaya akhirnya kami bisa melangkah maju. It was like dream's come true, nggak sih?"  Unge tahu kenapa Cecille senang. Itu karena Evan melamarnya karena dia mencintainya, bukan karena permintaan  tetua yang menjodohkan mereka.  Dan hubungan jarak jauh mereka yang harmonis, mulai sedikit bergelombang sejak Cecille memutuskan kembali ke Jakarta. Semua itu bersumber dari hubungan yang ambigu antara Anye dan Evan. Dan sekarang, keduanya membuat asumsi orang semakin liar dan panas lagi. Unge menghela napas, menggelengkan kepalanya dan berkata. “Ce, menurutku nih, nggak ada gunanya kamu lanjutin ini lagi.” Cecille berhenti menggulir layar ponselnya saat dia menjawab, “Aku tahu!” “Kok kamu santai banget sih, Ce?” Unge semakin gusar. “Memangnya harus gimana?” “Marah, terus maki-maki Evan gitu kek!” Cecille tertawa saat membuka mulutnya, “ngapain marah? Buang-buang energi aja, toh percuma. Nggak akan mengubah keadaan.” Episode ikatan cinta sejati Anye dan Evan lagi seru-serunya dibahas di forum atau media social di luaran sana. Dan penggemar Anye mulai halu dan baper berjama’ah. Di mata netizen penggemar pasangan ini, Cecille adalah antagonis yang merusak kebahagiaan pemeran utama. Bahkan jika Evan menikah dengannya besok, orang luar hanya akan mengira pria itu mau menikah di bawah tekanan. “Unge, mukamu nggak usah khawatir gitu ah. Aku nggak sesedih yang kamu bayangkan. Lagian, aku sudah bilang ke Evan untuk mengakhiri kontrak pernikahan.” Unge langsung bodoh, ekspresi  wajahnya kebingungan. “Kamu mengakhiri kontrak pernikahan? Tapi bukannya kamu bilang tetap akan menikah?” Unge mengangkat matanya ke mata Cecille, dengan sedikit tanda tanya yang mencolok. Ada kerapuhan dan rasa frustasi yang kuat pada netra gelap di depannya, emosi semacam ini tidak pernah bisa Cecille sembunyikan darinya. Cecille tersenyum menenangkan pada Unge. “Awalnya aku mau batalin semua, lalu pergi menenangkan diri ke luar negeri.” Dia terkekeh sebelum melanjutkan, “tapi kalau aku begitu, Anye pasti kesenangan sudah berhasil bikin aku jadi badut yang diketawain semua orang.” Biarpun mengagumi keberanian cecille  yang mengambil keputusan tak terduga, masih ada satu yang mengganjal di pikiran Unge. “Tapi calon suaminya?” Cecille berhenti bergerak tiba-tiba, bulu matanya sedikit bergetar saat bibirnya merenggang untuk tersenyum. “Aku berpikir untuk mengubah calon mempelai…pria!”                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN