Dia sudah menyukai Evan lebih dari sepuluh tahun. Pertemuan mereka berkat insiden kucing yang dia temukan di piggir jalan hilang.
“Evan, kamu masih ingat saat aku kehilangan kucing?”
Suaranya halus dan lembut, membawa ingatan pria itu kembali ke saat dia menemuka Cecille menangis di depan gerbang komplek bertahun-tahun yang lalu.
Waktu itu Cecille ngotot tidak mau pulang sebelum kucing itu ditemukan, entah apa yang membawanya, Evan malah mengikuti gadis kecil itu seharian berkeliling komplek mencari kucing.
Sepanjang jalan itu Cecille terus menangis, membuat Evan bingung harus bagaimana membujuknya supaya diam. Apalagi saat orang-orang melihatnya dengan sedikit tuduhan.
Khawatir dikira mengganggu anak orang, Evan agak membentaknya dengan, “ Diam nggak! Cuma orang lemah dan bodoh yang nangis karena kehilangan. Berhenti nangis, terus kita cari lagi!”
Cecille benci dibilang bodoh apalagi lemah.
Jadi dia mati-matian menahan tangisnya sampai tersedak air mata.
“Kenapa kamu mendadak nanyain itu?” Tanya Evan.
“Aku baru sadar waktu itu aku memang bodoh.” Cecille tertawa pelan, “menangis hanya karena seekor kucing yang nggak pantas aku tangisi.”
Setelah mengatakan itu, sebagian emosi Cecille menghilang.
Penyebab dia menangis saat itu lebih karena ketika dia kembali ke rumah orang tuanya, dia merasa tidak ada tempat di sana. Tempatnyan sebagai anak dan kakak perempuan sudah diambil oleh Anye.
Ketika pulang ke tempat yang disebut oleh kakeknya rumah, dia hanyalah orang asing yang tersisih melihat kebahagiaan satu keluarga yang terdiri dari empat orang.
Dan hari ini, sekali lagi dia tersisih dan terabaikan.
Di sisi lain, Evan berdiri di bangsal rumah sakit. Matanya tidak lepas dari sosok Anye yang sejak tadi belum bangun. Tangan kiri gadis itu dipasangi jarum untuk infus.
Kepergiannya yang mendadak ke Surabaya memang masih ada hubungannya dengan Anye. Ada senior yang membuat masalah selama syuting, yang di incar adalah Anye sampai membuatnya merasa depresi dan ketakutan.
seperti biasa, dia hanya diam dan tidak membiarkan orang tahu masalah yang menimpanya. untunglah saat itu ada Joseph yang datang ke lokasi syuting untuk menemani dan menghibur Anye.
Evan datang karena ditelepon oleh Joseph yang memintanya untuk membantu Anye. Keputusannya ini bisa dianggap benar, karena akhirnya dia tahu bully yang dihadapi Anye ditempat kerja sangat mengerikan.
Andai Anye tidak tepat waktu mendorongnya, pasti lampu pencahayaan tadi jatuh dan menghancurkan kepalanya. Karena kesigapan Anye dia selamat, tapi gadis itu menderita luka di kaki terkena serpihan kaca yang berserakan.
Mata Evan masih belum beranjak dari objek pandangnya. Bulu mata gadis itu terkulai, alisnya sedikit terentang. Dia adalah jenis kecantikan yang murni dan lugu yang mudah diganggu.
Evan memiliki perasaan yang tidak bisa dijelaskan tentang Anye.
Gadis ini memiliki kemauan keras, tetapi lemah dan selalu membutuhkan seseorang sebagai tempat berlindung. .
Dia berbeda dengan Cecille yang karaktenya kuat dan punya segalanya.
Bahkan saat terjun ke dunia hiburan, Anye mengandalkan kemampuannya sendiri karena tidak mau merepotkan Om nya.
Dia bahkan tidak meminta bantuan dari Evan meskipun saat itu dia tahu platform hiburan Evan sudah sangat terkenal.
Lalu ada berita tentang pelecehan yang dilakukan oleh salah satu produser yang merekrut gadis-gadis muda untuk jadi selebriti, dan Anye juga nyaris menjadi korbannya.
Begitu tahu, Evan segera turun tangan
Saat itu rencana untuk mendirikan PH baru setengah jalan, begitu semuanya selesai, Evan tidak ragu-ragu untuk memanggil Anye dan mengajaknya bergabung ke dalam tim.
Tentang gosip yang beredar tentang dia dan Anye, selama itu tidak menganggu kehidupannya, biar saja. Itu cuma gosip. Toh anggota badannya masih tetap utuh biarpun digosipin ini itu.
“Evan, ayo putus.”
Suara halus itu seperti batu besar yang jatuh ke dalam permukaan air yang tenang.
Kedua belah pihak tiba-tiba mengalami jalan buntu, dan ada keheningan yang bergejolak yang membuat suasana berangsur-angsur menjadi tertekan.
Ada keheningan yang lama, dan suara rendah pria itu dipenuhi dengan kemarahan yang tidak bisa disembunyikan.
“Cecille jangan konyol! Aku tahu seharusnya aku tidak pergi dari pernikahan. Urusanku ini penting aku bisa jelasin besok. Jangan asal ngomong putus atau membatalkan pernikahan. Lalu setelah ini menangis karena menyesal.”
Pernyataan Evan membawa beberapa celaan samar, yang membuat Cecille terdiam sejenak.
Mereka sudah saling kenal selaama sepuluh tahun, Cecille yang pertama kali bilang cinta ke Evan, dan keduanya menjalin cinta selama tiga tahun. Selama itu, memang dirinya lah yang tidak bisa melepas Evan.
Tetapi pria itu sudah mengabaikan dirinya demi mantan pacarnya. Bodoh kalau dia masih mau bertahan.
“Aku capek membohongi diri sendiri. Siapa yang kamu cintai, kita berdua sama-sama memahaminya. Dari pada pernikahan ini bubar ditengah jalan, lebih baik dibatalkan saja dari awal.”
Evan mengusap wajahnya dengan gerakan kasar, “Cecille, dengar. Aku mencintai kamu, bukan orang lain. Dan pernikahan kita akan tetap diadakan besok. jangan berdebat lagi, oke?”
Cecille merasa Evan tidak masuk akal. Dia yang sudah lari pernikahan, tapi dia juga yang tidak mau mengakhiri hubungan ini.
“Kamu harus memberiku kesempatan buat menebus semua ini besok.” Kata Evan lagi.
Tangannya meremas telepon ketika dia mendengar permintaan itu.
Bukannya dia tidak mau member kesempatan atau tidak mau mempercayai Evan lagi, tapi dia enggan terlalu banyak menumpuk kekecewaan akibat manaruh harapan terlalu tinggi.
Mungkin Evan juga mencintainya, tapi dia juga tidak bisa melepaskan perasaannya terhadap wanita lain.
Itulah yang akan selalu menjadi penghalang dalam hubungan mereka.
Cecille tidak mau terus diam atau terus menerus mengalah yang melukai perasaannya.
Itu sangat melelahkan.
Dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, ketika suara wanita yang halus dan menawan terdengar di ujung telepon.
“Van, aku haus.”
Suara itu tidak asing, lembut dengan sedikit ketidakberdayaan.
“Sebentar aku ambilkan air.” Tanpa menutup teleponnya, Evan bergegas menghampiri Anye, membantunya minum dengan sedotan.
“Evan…kakiku sakiiit.”
Cecille melihat telepon dengan sedikit ejekan di matanya. Detik berikutnya, dia mencibir dan menutup telepon begitu saja.
Dia tahu Anye sengaja memprovokasi dengan suaranya yang dibuat manja untuk mengungkapkan keintiman dari hubungan yang sudah sangat dekat.
Tetapi Cecille sudah memutuskan mengakhiri semuanya.
Cecille memasukkan nomor Evan ke daftar blokir, ketika dia berbalik Unge dan Arling sudah di belakangnya dengan tatapan yang mengandung gosip.
“Ada apa?”
Begitu Unge selesai bertanya, pintu kamar terbuka, Clara yang sudah di make up,masuk sedikit tergesa.
“Cecille, asisten Evan mengirim email ke setiap tamu katanya pernikahan ditunda sampai besok, benar begitu?”
Tanpa memberinya waktu untuk menjawab, pintu kembali terbuka, ayahnya masuk dengan telepon di tangan.
“Cecille, Evan—“
“Benar, pernikahan ditunda sampai besok. Ada sedikit musibah yang menahan Evan di Surabaya.”
Hartono menekan pelipisnya, “Ngapain dia ke Surabaya? Harusnya dia tahu tentang larangan buat calon pengantin pergi kemana-mana sebelum menikah! Bikin masalah saja!”
Cecille geli melihat ayahhnya. Kalau dia tahu Evan ke Surabaya karena Anye kecelakaan, apa dia masih ngamuk begini?
Urat di dahi Hartono berdenyut saking marahnya dia. Clara yang takut suaminya emosi menoleh ke Cecille.
“Ce, telepon Evan. Suruh dia pulang sekarang, mau ditaruh dimana muka kita nanti?”
“Mi, Evan nggak akan pulang. Anye kecelakaan di sana, jadi dia menunggu semua beres baru pulang ke sini!”
Tidak ada darah di wajah Clara, “Anye kecelakaan? Kapan, gimana keadaan dia?”
“Mana aku tahu. Bukannya Joseph sama dia, telepon saja Joseph kalau mau tahu keadaannya.”
Clara nampaknya tidak melihat ketidakpedulian Cecille. Tangannya gemetar hebat ketika mencari nomor Joseph, tetapi suaminya sudah berbicara dengan suara menggelegar.
“Kenapa nggak kabarin papi? Iya, Cecille mau menikah, tapi nyawa lebih penting. Gimana keadaan kakakmu sekarang?”
Clara berjinjit, ikut menempelkan telinganya pada bagian telepon untuk mengetahui apa kata Joseph.
Cecille tersenyum sinis melihat tingkah kedua orang tuanya. Dia tidak akan terkejut kalau setelah ini mereka akan langsung pergi ke Surabaya untuk melihat Anye, dan melupakan hari penting putrinya yang berantakan.