Untungnya ponsel Cecille bordering pada waktu yang tepat, dan nama yang muncul memberinya kesempatan untuk menjawab. Dia tersenyum di wajahnya dan berkata dengan senang.
“Lihat, Evan telepon. Paling mau ngasih tahu sudah sampai.”
“Baguslah. Langsung suruh mandi dan touch up dikit kalau udah beneran sampai.”
Cecille berdiri sembari menjulurkan ujung lidahnya, “Berisik!” kemudian berjalan menuju jendela untuk menerima telepon Evan.
“Cecille, maaf.” Suaranya terdengar lelah, “Ada kecelakaan kecil di sini, aku belum bisa pulang.”
Senyum di bibir Cecille langsung membeku, “Maksud kamu?”
“Ada kecelakaan di tempat syuting. Ini benar-benar diluar kuasaku.”
Cecille menutup matanya, mengagkat lima jari rampingnya untuk menutupi dahi, dan menghela napas dalam-dalam.
“Hallo, sayang, kamu masih di sana kan?”
Cecille tidak menjawab dan malah bertanyam, “Gimana kondisi di sana?”
Detik berikutnya, dia mendengar Evan menjawab, “Agak kacau, tapi sudah bisa di tangani. Ada satunya talent yang luka.”
“Syukurlah.”
Suara itu masih selembut seperti biasa membuat jantung Evan yang tadinya resah mulai tenang.
Ruangan itu sunyi, Unge dan Arling melihat temannya yang menyibak gorden tebal dan melihat ke kesibukan di bawah.
Pemberkatan pernikahannyan akan dilakukan dua jam lagi.
Dari suite lantai dua tempatnya berdiri Cecille melihat sebagian dari tempat parkir sudah hampir penuh terisi. Mulutnya ditarik membentuk senyum ironis.
Pernikahannya sudah di depan mata, tetapi mempelai pria entah berada di mana.
Cecille tidak tahu, apakah tamu-tamu yang datang ini akan menjadi saksi yang ikut bahagia diengan pernikahannya atau nantinya akan menjadi orang yang tertawa paling keras melihat kemalangannya.
Selanjutnya suara yang tenang, teliti, dan sikap yang seperti sedang menghadapi masalah perusahaan kembali jatuh di telinganya.
“Aku masih menunggu hasil pemeriksaan korban luka. Kayaknya nggak akan keburu pulang sekarang.”
“Jadi?”
“Begitu hasilnya keluar, aku langsung pulang malam ini. Untuk pernikahan kita bisa menundanya sampai besok. Jangan khawatir tentang tamu, aku sudah menghubungi Kenny, dia yang akan member tahu para tamu nanti.”
Cecille menahan diri untuk tidak melempar ponselnya ketika dia mendengar kata-kata Evan.
Jangan khawatir katanya?
Tadi siang , ketika Evan menelepon memberitahu ada urusan mendadak di Surabaya, Evan juga menggunakan nada lembut dan tenang untuk meyakinkan dirinya jangan khawatir, dia akan pulang tepat waktu untuk menikah.
Nyatanya, dia bohong!
Mata almond Cecille mulai dilapisi kabut, dan dia menahan sekuat tenaga supaya kabut itu tidak mejadi tetesan air mata. Ceceille enggan menyia-nyiakan air matannya yang berharga untuk seorang laki-laki yang tidak kompeten.
Setelah dirasanya mulai tenang, dia berbicara tanpa emosi, “Evan, aku tau Anye juga di Surabaya. Yang kamu bilang terluka itu dia kan?”
Evan jelas tidak menyangka kalau Cecille yang selama ini cuek tidak peduli kepada Anye, ternyata diam-diam memperhatikan kegiatan Anye, hal yang mengejutkan itu membuatnya hening.
Apakah dia menaruh curiga akibat gosip di luaran?
Kelopak mata Cecille mengerjap, ketika sedikit airmata turun, dia mencela dirinya sendiri, “Jangan bohong. Kamu nggak akan khawatir kalau yang luka bukan dia, benar kan?”
Di sisi lain, Evan berkata dengan suara rendah, “Maaf, sayang. Aku sengaja nggak ngasih tahu, karena aku takut kamu salah paham.”
“Takut aku salah paham? Kamu tahu kan aku selalu salah paham tentang kalian? Tapi nyatanya, kamu tetap nemenin dia kan? Jadi buat apa takut?” nadanya dipenuhi dengan keluhan.
Pandangan Unge tidak lepas dari Cecille, dan merasa ada yang tidak beres. Hanya saja dia urung mendekat setelah Cecille member isyarat supaya dia tidak bergerak dari sana.
Untuk keluhan yang di derita Cecille, Evan menanggapinya dengan sedikit acuh tak acuh, “Ce, aku tahu kamu selalu curiga sama Anye, tapi dia sepupumu. Aku segera jadi suaminya, jadi aku nggak bisa mengabaikannya.”
Evan jelas membela Anye. Sikapnya itu membuatnya sedikit tidak berarti.
Cecille kembali menghela napas dan melihat ke bawah dengan tenang.
“Iya Anye memang sepupuku, tapi dia juga mantan pacarmu.”
Di ujung lain Evan menghela napas, “kami sudah lama putus, oke? Kita sudah mau menikah, jadi jangan bahas masa lalu. Lagian ada Joseph juga di sini, dia pasti bilang ke kamu kalau macam-macam.”
Cecille tidak bisa menahan cibirannya saat Evan menyebut nama Joseph.
Mana mungkin Joseph mau bilang ke dia kalau Evan macam-macam? Apalagi kalau itu masih bersangkutan dengan Anye. Mustahil!
Dia paling tahu bagaimana Joseph, adiknya itu lebih condong ke Anye yang dibesarkan bareng dengannya dari pada kakak kandungnya yang tinggal di luar sejak kecil.
“Gimana hasil pemeriksaannya?”
Keduanya sudah banyak perselisihan gara-gara Anye, dan Evan terlalu lelah untuk menanggapi perselisihan baru malam ini, dan hanya menjawab. “Masih di rumah sakit. Tapi nggak ada yang parah.”
Cecille menghela napas lega. Tapi sejujurnya, dia mengharapkan lain dalam hatinya. Any sudah sering memainkan banyak trik kepadanya, dan Cecille yakin kejadian ini juga salah satu trik licik Anye untuk membuatnya malu dan menangis putus asa.
Sayangnya, Cecille nggak akan pernah membiarkan gadis licik itu menang.
Suara Evan kembali terdengar, “Ce, aku nggak berpikir perjalanan ke Surabaya bisa mengacaukan pernikahan kita, sekarang sudah telanjur kacau. Biarkan aku mengaturnya lagi, oke?”
“Tapi kondisi kakek?”
Kesehatan kakeknya semakin memburuk belakangan ini, bahkan sekarang ini terlalu lemah untuk meninggalkan rumah sakit untuk datang ke pernikahannya. Tetapi pria tua itulah yang paling bersemangat dengan pernikahan Cecille.
Ketika mendengar pernikahan di tunda, mungkin beliau tidak akan tahan menerima kabar ini.
“Kakek nggak akan tahu. Hanya sehari kok penundaannya. Besok kita sudah berdiri di altar buat mengucapkan sumpah.”
Cecille meremas ponselnya. Dia akhirnya menyadari, ketika pernikahan ini ditentukan dirinya dan Evan memiliki pandangan yang berbeda.
Dia yakin kabar ini akan meledak di forum gosip selebriti dan akun-akun gosip dalam beberapa menit setelah Kenny memberitahu tamu.
Muljadi dan Lie akan menikah, tetapi pengantin pria menunda pernikahan untuk mantan pacarnya pada hari pernikahan.
Penggemar Anye yang selama ini mengutuknya pasti senang dan pesta komen di kolom komentar menganggapnya sebagai badut menyedihkan.
Belum lagi tamu undangan yang menyebarkan gosip sangat cepat dengan ditambahi bumbu penyedap.
Lalu dengan enaknya Evan bilang kakeknya tidak akan tahu.
Kakeknya memang tidak main media social, tidak tahu ada thead di salah satu forum yang selama ini mengutuk cucunya.
Tetapi perawat dan pelayan di rumah semuanya melek internet. Dan seperti yang dibilang, ghibah itu hiburan gratis yang menyenangkan. Jadi nggak mungkin mereka nggak mengikuti akun-akun gosip di media social.
Cecille tidak berani membayangkan apa yang terjadi kalau salah satu dari mereka kelepasan ngomong di depan kakeknya kalau cucunya yang berharga di telantarkan di depan altar hanya dua jam sebelum pemberkatan.
Dia tidak bisa membayangkan gosip dan ejekan macam apa yang akan dia alami setelah ini.
Cecille kembali melihat ke bawah dengan tenang.