OwG 6

1241 Kata
Cecille baru mendengar nama itu dari Unge saat menyortir nama undangan dua minggu yang lalu. Kata-kata Unge adalah, “Nggak yakin Nicho mau datang.” “Kenapa?” “Udah lama banget dia nggak beredar di lingkaran. Tetapi jujur aja, siapa yang ngira keluarga Tjandra bakal bagkrut. Perumahan yang dulu orang pada berebutan beli sebelum Senin harga naik, sekarang banyak terbengkalai. Orang juga mikir-mikir kali, beli rumah ya ng tanahnya ada lapisan lumpur. Salah-salah gali, kayak Lapindo lagi. Tenggelam.” Moderna Griya Pratama yang didirikan oleh Iwan Tjandra telah berkembang dari perantara buat orang-orang yang mencari lahan atau rumah untuk ditempati, menjadi pengembang perumahan terbesar selama dua puluh tahun terakhir. Yang Cecille dengar, Nicholas tidak tertarik meneruskan bisnis keluarga, dan ayahnya juga kurang begitu cakap mengelola perusahaan yang sudah mapan. Lima tahun lalu Moderna terkena masalah. Hunian mereka yang  berkonsep One Stop Living ternyata di bangun di daerah yang jenis tanahnya cleyshale atau tanah ekspansif, jenis tanah mudah longsor dan mengalami pelapukan. Pembeli yang tahu masalah itu segera mengajukan pengembalian uang. Akibatnta pembayaran cicilan utang macet dan sejumlah bank mengajukan tagihan namun tak mampu dibayar.   Cecille tidak berharap akan bertemun dengan teman sekelasnya dalam kondisi memalukan seperti ini. “Maaf, “ dia memiringkan kepalanya untuk menghindari tatapan membara pria itu, “Aku nggak  lihat tulisan di pintu sebelumnya.” Pria itu melengkungkan bibirnya,  dan menurunkan suaranya perlahan dengan tekstur gemerisik, “Lebih teliti lain kali, untunglah sekarang cuma salah masuk kamar mandi. Gimana coba kalau salah pilih suami?” Cecille mengerutkan ujung hidungnya dengan tajam. Omong kosong apa ini? Kenapa setelah bertahun-tahun orang ini malah makin  menyebalkan? Dia memandang Nicho dengan dingin, “Jangan khawatir tentangku, pilihanku selalu tepat.” Matanya yang sipit menghilang akibat tawa pelan, dan pusaran dangkal di kedua pipinya yang bikin ketampanannya meningkat dua kali lipat terlihat jelas. “Kamu nggak tahu bagaimana brengseknya laki-laki.” Nicho mengambil ponsel android biasa dari saku celana, membuka kode QR, memberikannya pada Cecille, “Tambahkan nomor WA, kamu bisa menghubungiku kalau butuh bantuan.” Nicho adalah siswa pindahan di semester kedua kelas sebelas. Kabarnya dia dua kali nggak naik kelas. Jadi usianya dua tahun lebih tua dari Cecille yang tahun ini baru berumur dua puluh tiga. Tempatnya bersekolah adalah sekolah swasta mahal yang berprestasi. Mendapat tambahan siswa seperti Nicho tentu saja dianggap aib yang bikin malu sama murid lain. Saat itu  banyak yang protes ke guru kenapa murid begitu bisa diterima di sekolah mereka? Tapi nggak berguna, tetap saja Nicho masuk jadi siswa tambahan. Mau nggak mau ya harus di terima keputusan sekolah. Kelebihan Nicho adalah, dia tampan. Berkat ketampanan dan karakternya yang cuek  dan pemberontak, nggak butuh waktu lama dia jadi idola cewek-cewek di sekolah. Tapi yang  bikin kesal  nih, dia dan Nicho duduk sebelahan selama hampir tiga tahun, dan selama itu juga, setiap pagi dan baru saja Cecille menaruh tas. Nicho akan menyeringai  dan bertanya, “Cecille, pinjam PR mu dong, biar aku salin.” Selain itu, ketidaksukaan Cecille terhadap Nicho masih ada kaitannya dengan Evan. Pernah ada satu kejadian yang kalau diingat masih bikin Cecille takut sampai  sekarang. Seingatnya waktu itu, papanya minta izin ke kepala sekolah supaya dia dikasih libur hampir satu bulan untuk menenangkan diri. Di hari pertamanya masuk setelah libur, seseorang  di koridor tiba-tiba teriak kalau Evan berantem dengan seseorang. Kaget banget Cecille waktu itu. Evan paling baik dan sopan, nggak mungkin dia berantem. Pasti dia Evan yang jadi korban. Mengikuti yang lainnya, Cecille berlari dengan panik dari lantai tiga ke halaman belakang. Benar saja, Nicho mengepalkan tangan memukuli Evan sampai hampir mati. Setelah itu Nicho di skors selama dua minggu dan membayar biaya berobat buat Evan. Nggak ada yang tahu apa yang terjadi. Nicho lebih suka  bungkam saat ditanya kenapa memukuli Evan. Tetapi semua tahu karakter Evan, dia termasuk anak yang pintar dan sopan.  Tanpa ada yang mengomando, semua setuju yang bermasalah dan mencari gara-gara itu adalah Nicho.   Dengan sejarah kelam diantara mereka sejak bertahun-tahun yang lalu, bagaimana bisa Cecille menerima  tawaran yang mencurigakan dari  orang gila yang sudah menganiaya tunangannya? “Menurutku, baik sekarang atau nanti, kita nggak akan pernah saling berurusan deh. Jadi, no thank’s!” tolak Cecille tanpa harus berpikir dua kali. Nicho  menarik  tangannya, dan jari telunjuknya yang mengenakan cincin logam mengetuk dinding marmer satu demi satu. Posturnya santai dan tidak bisa dijelaskan. Dia mengangkat matanya unuk melihat Cecille, dan pandangan mereka saling bertabrakan. Dan Cecille sudah  tak sabar untuk segera pergi dari sana. “Aku belum mengucapkan selamat…” kata pria itu pelan, lalu berhenti, “buat pernikahanmu.” “Thank”s.” Cecille berkata datar tanpa menoleh kebelakang, “Aku sibuk, nggak bisa lama-lama menemanimu  ngobrol.  Jangan lupa datang nanti malam.” “Pasti!” pria di belakangnya menyeringai, “Asalkan kamu memintaku, pasti aku datang.” Hati Cecille bergerak aneh. Bingung memahami maksud pria itu. Orang ini  benar-benar sakit! *** Cecille dengan cepat melupakan pertemuannya dengan Nicho siang tadi. Hampir jam empat  sore ketika Sensen mengetuk pintu kamarnya, memberikan laporan chapel tempat pemberkatan malam nanti sudah selesai di dekorasi. Ada sedikit perubahan dari konsep yang sudah dia dan Evan tentukan sebelumnya, tetapi tidak masalah ini juga terlihat bagus, dan  Cecille terlihat cukup puas. “Tolong kirimin salinannya ke nomorku, Sen.” ‘”Semua?” Cecille mengambil tablet SenSen, dan memilih beberapa gambar dan video. “Yang ini, ini sama video ini. Udah, tiga aja.” Jari lentik dan gemulai SenSen bekerja cepat mengirim foto  yang sudah dipilih oleh Cecille, dan langsung diteruskan oleh wanita itu ke nomor  Evan. Biarpun Evan sudah bilang untuk masalah dekorasi terserah padanya, Cecille tetap penasaran dengan bagaimana pendapat tunangannya tentang sedikit perubahan ini, dan berinisiatif untuk mengirimkan  foto dan videonya.   Evan adalah tipe orang yang selalu bersama gadgetnya, benar saja, tak lama kemudian balasannya datang. “Oke, bagus.” Cecille tidak sempat berpikir yang aneh-aneh tentang jawaban yang singkat itu, karena Unge dan satu temannya masuk dengan gantungan baju dengan gaun pengantin diatasnya. Evan sudah menyiapkan gaun untuk Cecille. Dari mulai pemberkatan sampai untuk acara makan. Total tiga set, dan semua bermerek. Gaun untuk pemberkatan dibuat sesuai kepribadiannya.  Lapisan tule berwarna putih bersih, di desain Sabrina yang ramping, menonjolkan tulang selangka yang seksi dan indah, dan sosoknya yang anggun dan menawan.   Tak lama kemudian, Clara masuk untuk melihat situasi. “Kalian udah pda kumpul toh.” Clara menyapa untuk basa- basi. “Iya,  Tan. Aku sih udah dari tadi. Arling nih yang baru datang.” Gadis yang sedang merapikan gaun pengantin menoleh, lalu tersenyum, “Hallo, Tan. Gimana kabarnya? Senang dong mau punya menantu.” Godanya. “Senang… senang.” Sahut Clara tanpa antusias di dalamnya.  Menoleh ke Cecille dia memberitahu, “Ce, mami balik kamar dulu ya. Ngurusin papi dulu, baru dandan.” Cecille yang sedang ditata rambutnya hanya menjawab dengan, Um. Kemudian melanjutkan kegiatannya melintasi layar.  Mengucapkan terima kasih atau sekadar mengacungkan jempol untuk setiap komentar di statusnya yang memberikan selamat. “Kamu bilang, Evan ke Surabaya?” Unge bertanya sambil membantu Cecille menarik rambutnya, “Nekat  ya itu orang, kayak nggak punya karyawan aja ngurus kerjaan sendirian.” “Penting kali, Nge. Nggak bisa diwakilin sama anak buahnya.” Arling menengahi. Unge menjadi lebih marah saat menjawab, “Ya masa lebih penting dari pernikahannya sendiri sih? Awas aja, ntar ku omelin dia udah bikin orang sport jantung!” Untungnya ponsel Cecille bordering pada waktu yang tepat, dan nama yang muncul memberinya kesempatan untuk menjawab. “Lihat, Evan telepon. Paling mau ngasih tahu sudah sampai.”            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN