Melihat bahwa sikap Nicho asal-asalan, Laeni sedikit tidak nyaman.
Hei, kekayaan keluarganya sudah merosot jauh, haruskah dia masih bersikap sombong?
Laeni menahan keluhannya.
Jika saja dia tidak berniat menarik pusat perhatian dan membuat gadis-gadis di lingkarannya iri melihat siapa yang dia gandeng di pesta nanti, demi apapun dia nggak mau tinggal lebih lama hanya untuk dicuekin.
“Ini sedikit berbeda dari yang aku dengar.”
“Apa yang kamu dengar?”
Melihat bahwa sikap Nicho asal-asalan, Laeni sedikit tidak nyaman.
Hei, kekayaan keluarganya sudah merosot jauh, haruskah dia masih bersikap sombong?
Laeni menahan keluhannya.
Jika saja dia tidak berniat menarik pusat perhatian dan membuat gadis-gadis di lingkarannya iri melihat siapa yang dia gandeng di pesta nanti, demi apapun dia nggak mau tinggal lebih lama hanya untuk dicuekin.
“Ini sedikit berbeda dari yang aku dengar.”
“Apa yang kamu dengar?”
Laeni menegakkan punggungnya sedikit bersemangat, “Katanya Ko Nicho suka minuman manis. Belgian choco hazelnut di sini rekomen banget lho. Pesan itu saja ya?”
Dengan diamnya Nicho, Laeni mengira pria itu setuju. Jadi setelah membaca menu, dia segera melambikan tangan untuk memanggil pelayan.
Namun, ketika dia menyebutkan apa-apa saja yang mau dipesan, Nicho menyela dari setengah percakapan.
“Air rebusan, itu saja. Terima kasih!”
Gerakan pena di tangan pelayan itu berhenti. Dia melihat Laeni untuk minta pendapat, dan wanita itu hanya mengangguk samar dengan ekspresi malu.
Setelah pelayan pergi, Laeni yang mengira kondisi keuangan Nicho sedang tidak bagus hati-hati bertanya, “Kenapa cuma air? Pesan yang lain juga nggak apa-apa, ini semua sudah dibayar keluarga Liemanto. Atau mau yang lain? aku yang bayar.”
Bibir tipis pria itu menekan ringan, dan nadanya yang acuh tak acuh kembali terdengar.
“Minuman manis nggak bagus buat kesehatan, kamu tahu? Jadi bukan berarti saya nggak mampu bayar, tapi saya sedang menghindari resiko banyak penyakit.”
Laeni memperhatikan kata-katanya, dan sedikit tersenyum di bibirnya. Dia baru mau melontarkan pujian, tetapi Nicho keburu berkata.
“Sama seperti pernikahan.” Tanpa memperhatikan reaksi lawan bicaranya, dia kembai meneruskan, “Nona Laeni, saya pikir kamu juga tahu apa tujuan kedua kakek kita mengatur pertemuan kali ini. Tetapi sementara ini, saya belum ada rencana untuk menikah.”
Wajah Laeni sedikit berwarna hitam.
Tetapi sedetik kemudian dia sudah memasang senyumnya yang biasa, “Aku juga belum ada rencana untuk menikah sekarang ini, tapi nggak ada salahnya kan kita berteman. Siapa tahu kedepannya kita cocok. Omong- omong, bukannya keluargamu membuka cluster baru? Kita bisa pergi bareng nanti malam, nanti aku kenalin ke teman-temanku. Banyak orang kaya baru yang menghamburkan uang buat beli rumah atau apartemen mewah yang nggak mereka butuhkan demi konten. Siapa tahu ada yang mau beli. Lumayankan kalau kalau laku satu atau dua unit.”
Dua orang dalam satu meja memiliki obrolan satu arah.
Laeni mengoceh tentang dirinya dan berkali-kali bilang akan membantu Nicho untuk mendapatkan client potensial. Saking semangatnya, dia tidak memperhatikan Nicho yang tidak tertarik dengan tema obrolan maupun orang yang mengajaknya ngobrol.
Pria itu hanya diam dengan tampang setengah bosan sambil matanya berkeliaran menjelajahi café. Ada lebih banyak makanan dan minuman dalam café ini dibandingkan pengunjung yang datang.
Di antara pengunjung ada beberapa wajah yang familiar, ada juga teman sekolah yang ia kenal yang juga melihatnya, tetapi dia terlalu malas untuk sekadar tersenyum apalagi datang dan menyapa.
Di tempat ini Nicho biasa datang untuk bersantai dan menikmati secangkir kopi. Jadi, tahulah dia berapa harga makanan dan minuman yang termurah di tempat ini, dan tidak tahan untuk berdecak.
Liemanto tua ini benar-benar memanjakan cucu perempuannya.
Mata pria menetap lama di satu tempat di café. Ketika dia mengalihkan pandangannya untuk melihat ke tempat lain, sosok yang dikenalnya melintas tidak jauh dari tempatnya duduk.
Cecille yang baru keluar dari tempat perawatan kecantikan sedang berbicara dengan Unge, sahabatnya. Kedua wanita muda itu nampak berdebat tentang suatu hal, hingga tidak memperhatikan sekitarnya.
Sudut bibir Nicho terkait ke atas membentuk segaris senyum ketika melihat keduanya. Ketika Laeni mendongak, dia melihat senyum yang begitu menawan. Dengan segera hatinya memainkan drum yang iramanya semakin cepat. Semburat merah mewarnai kulit wajahnya yang bebas flek.
Tuhan… ciptaanmu yang satu ini benar-benar tampan.
Hanya di detik berikutnya, Nicho melompat dari duduknya seraya berkata, “Kencan buta ini nggak akan berhasil. Jangan buang-buang waktu lagi. Selamat tinggal!” lalu pergi dari sana tanpa menengok ke belakang lagi.
Cecille berdiri di depan toilet lantai satu, menyisir rambutnya yang ikal menutupi punggung. Sepasang mata almond yang menawan meringkuk dengan ringan, dan kaca yang lebar memantulkan bentuk tubuhnya.
Cecille melihat lagi penampilannya. Dengan kecantikannya, dia tidak percaya bahwa Evan benar-benar selingkuh.
Pintu toilet terbuka diikuti langkah kaki di belakangnya.
Segera setelah pintu terbuka, Cecille menyadari ada sesuatu yang salah. Aroma musk yang bersih dan dingin menyapa ujung indra penciumannya, dengan temperamen yang khas dan sedikit agresivitas.
Cecille melihat bagian dalam sepertinya nggak ada yang salah, dan kepalanya mulai berdengung. Dia berbalik untuk melihat siapa yang datang.
Orang di belakangnya juga diam-diam mengawasi dengan satu tangan terbenam dalam saku celana.
Pria itu memiliki visual tiga dimensi yang memanjakan mata para wanita dan pria penyuka sesama jenis.
Mata sipit di bawah alis yang tebal memiliki tatapan yang tajam. Wajahnya khas peranakan Tionghoa dengan karakter yang tegas, dan pangkal hidungnya tinggi dan lurus.
Kakinya yang panjang sedikit tumpang tindih, dan dia memiliki rasa kehadiran yang kuat dalam ruangan sempit.
Saling memandang sejenak, bibir tipis pria itu terentang seperti senyuman, tetapi dia tidak tersenyum, “salah masuk?”
Suaranya serak dan rendah dengan intonasi sedikit malas.
Dia berjalan lima langkah ke depan, dan memangkas jarak mereka semakin dekat. “Sudah lama nggak melihatmu.”
Cecille mengedipkan mata dengan sangat lambat, dan tatapannyan perlahan beralih dari kemeja pria yang sangat biasa dan rapi ke garis lehernya yang longgar.
Kemeja dengan dua kancing terbuka lebar dan lengan yang digulung sebatas siku. Seragam sekolahnya dulu juga dipakai dengan cara yang sama. Berantakan!
Dan lengkungan bibirnya yang tersenyum, masih sama nyebelinnya seperti dulu.
Itu adalah Nicholas Sean Tjandra.