OwG 4

1190 Kata
Oke, ini nggak bisa didiamkan lagi. Cecille memasukkan lipbalm nya ke dalam tas dengan gerakan kasar. Ada garis hitam di dahinya. Dia mengangkat dagunya sedikit, lalu menghampiri kelompok wanita itu dengan penuh minat. “Permisi, menurut kalian gimana penampilanku?’ Ditanyai oleh orang yang tidak mereka kenal, keempat wanita itu berhenti tertawa. Mereka saling bertukar  tatapan mata sebelum akhirnya melihat Cecille. Wanita muda itu berdiri dengan satu tangan di pinggang seperti seperti peserta pageant, kaki putih jenjang, pinggang tipis, dan bagian daddanya penuh, gelombang hitam tersampir di belakangnya. Wanita-wanita itu mendesah iri saat melihat mini dress selutut warna mini dress yang dipilih  oleh Cecille. Kulit Cecille putih mulus dan penuh kolagen, nampak seperti telur rebus yang baru dikupas dan mini dress pink pastel sepanjang lutut yang ia kenakan membuatnya semakin terlihat bersinar. Coba kalau warna itu dipakai oleh mereka, yang ada merusak penampilan karena jadi terlihat kusa. “Bagaimana?” Orang yang dipanggil dengan nama Put yang pertama kali sadar, dia memasang senyum lima jari. Penampilan wanita ini sempurna, kalau dia bisa menariknya ke perusahaan dan menjadikannya seorang  bintang, hmmm... ini pasti akan menjadi pundi-pundi uang. Dengan pikiran begitu dia maju selangkah, melambai ke Cecille dan tersenyum, “Cantik, cantik banget. Tadi aku malah sempat mikir, ini selebriti  bukan sih?” Tindakan ini membuat semua orang ikut bersuara. “Terima kasih. Sayangnya aku bukan selebriti sih. Ngomong-ngomong selebrita cantik mana, aku atau Anye Tan?” Meskipun heran kenapa membandingkan dirinya dengan Anye yang jelas-jelas kebanting, Put tetap menjawab dengan  sanjungan, “Cakepan cici kemana-mana dong.” Bibir Cecille terangkat dan menunjukkan senyum kecil, “Berarti orang secantik aku nggak perlu pakai pelet dong buat punya pacar?” Menganggapnya becanda, kelompok wanita itu kembali tertawa. “Nggak usah pakai pelet cowok-cowok juga pada antri.” Seloroh Re, dan langsung diamini oleh yeman-temannya. “Iya juga sih,” Cecille mencondongkan tubuh dan berkata dengan suara rendah ,”Dengan kecantikan ini, aku juga nggak perlu tidur sama laki-laki supaya dinikahi. Benar, nggak?” Mendadak suasana di ruang ganti itu menjadi aneh. Tidak mempedulikan tampang wanita- wanita yang memandangnya dengan mata yang berkedip bingung, dia kembali berkata dengan santai. “Kok pada  bingung gitu sih?” Cecille pura-pura menepuk dahi seakan dia lupa, “Ahh, iya kita belum kenalan. Ini aku, Cecille Andrine Liemanto.” Pandangannya beralih ke Re, “Perhatikan baik-baik, apa aku gemuk pendek kayak yang kamu bilang?” Gadis-gadis itu tersedak, terutama yang namanya Re dan Put, wajah mereka sekarang merah padam, hati mereka cemas seperti semut di wajan panas, dan kepalanya mulai berputar mencari alasan. “I-itu, jangan sa-salah paham. Kami Nggak ada maksud---“ “Sudah dimaafkan?” kata Cecille, bahkan sebelum orang-orang itu meminta maaf kepadanya, “lanjutkan bersenang-senang. Ingat fasilitas ini diberikan oleh keluarga Liemanto, bukan Muljadi!” Cecille memasang senyum tegas, sebelum pergi dengan penuh percaya diri. Di sebelahnya Unge mengikuti langkahnya setelah menghadiahi mereka tatapan sinisnya.  “Harusnya di usir aja sih, Ce. Jangan dibiarin di sini. Songong!” kata Unge tajam. Cecille dan Unge berada di sekolah yang sama sejak SMP,  pada awalnya Unge adalah salah satu orang yang ikut-ikutan memusuhinya karena penampilan Cecille. Kelihata dari luar dia memang  angkuh, sombong, dan susah untuk didekati. Faktanya, Cecille adalah orang yang paling baik yang pernah ia kenal. Unge baru kelas sepuluh ketika memprovokasi seniornya yang sudah SMA di sekolah yang sama, gara-gara itu dia dikeroyok dan dikurung dalam kamar mandi di gedung yang sekolah yang sudah tidak terpakai oleh senior yang bisa dibilang paling berkuasa di sekolah. Dari sekian banyaknya orang yang mengaku teman, cuma Cecille yang dia musuhi yang mau melawan senior untuk menolongnya. Sejak saat itu sudut pandangnya tentang Cecille mulai berubah, setelah mencari tahu segala sesuatu tentang Cecille, Unge mulai mengikutnya dan akhirnya mereka berteman hingga sekarang.   “Kamu jangan diem aja, Ce. Cari tahu, terus bilang ke Evan. Biar di pecat-pecatin semua. Enak aja, masa calon nyonya bos di katain begitu!” “Biarin sih, mereka punya mulut jadi ya terserah mau ngomong apa.”   “Kok dibiarin sih. Mereka pada nggak suka sama kamu lho, Ce!’ Unge masih memprovokasi demi harga diri sahabatnya. Dan Cecille hanya menanggapinya dengan santai, “Memangnya aku duit? Jadi semua orang harus suka?” Unge tidak berbicara lagi dan diam-diam memutar matanya di belakang Cecille. “Ngomong-ngomong, aku mau ke restaurant. Masih ada beberapa yang mesti dicek, kamu naik duluan aja, Nge. Nggak lama kok, palingan sepuluh menit.” Unge melihat punggung temannya yang sudah menjauh dan memukul ringan lidahnya. Sembari memasuki restaurant, Cecille memeriksa ponselnya. Belum ada kabar dari Evan, khawatir terjadi apa-apa, dia mencari nomor tunanganya untuk menelepon. Suara pria itu lembut dan  tenang, “Cecille, aku ada urusan  mendadak di Surabaya.” Cecille menggigit bibirnya, wajahnya benar-benar tidak berdarah, dan dia mengenggam ponselnya sampai jari-jarinya memucat. Urusan apa yang bikin Evan jauh-jauh ke Surabaya kurang  beberapa jam dari pernikahannya? Namun, pertanyaan itu hanya keluar dalam hatinya, bukan dari mulutnya. Otak Cecille mengingatkan tentang Anye yang pergi ke sana semalam, tetapi sebagian dari dirinya yang denial berkata, itu hanya kebetulan. Mendengar tidak ada tanggapan apa-apa dari pihak lain, Evan yang mengira Cecille marah berkata dengan nada sedikit membujuk, “Sekarang lagi otw pulang, kalau perjalanan lancar sebelum jam enam aku sudah sampai Malang.” Cecille melirik jam di pergelangan tangannya,  “Baiklah, berkendara dengan hati-hati.” Suara itu selembut biasanya yang membuat Evan merasa lega. Setelah beberapa kata, Cecille mengakhiri panggilan teleponnya lalu kakinya berbelok ke kamar mandi. Dia linglung sepanjang jalan, bahkan kenangan yang ingin dia lupakan kembali masuk dalam memorinya.     Di dalam restaurant, Nicho berjabat tangan dengan seorang gadis muda setelah keduanya berkenalan satu sama lain. Gadis yang dijodohkan oleh kakeknya kali ini adalah Laeni Tandjung, satu-satunya cucu perempuan dari Caesar Tandjung, pemilik pabrik tekstill terbesar di Jawa Timur. Baik Laeni dan Nicho, keduanya datang ke resort ini sebagai tamu undangan mewakili keluarga masing-masing., dan kedua tetua memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat cucu-cucu mereka bertemu. Laeni yang tadinya enggan datang karena nggak akrab denga calon pengantin, terutama dengan Cecille jadi tak sabar menunggu hari H setelah mendengar nama Nicho. Biarpun keluarga Tjandra tidak sebaik dan sekaya seperti sebelumnya, tetap saja menjadi kebanggan sendiri kalau bisa menggaet Nicholas Sean Tjandra yang menjadi idola di lingkaran mereka karena ketampanannya. Nicho duduk dengan sopan, dengan ekspresi serius seolah-olah dia sedang berurusan dengan urusan resmi.  Dia selalu menggunaka ekspresi ini karena sudah terbukti ampuh untuk membuat gadis-gadis yang direkomendasikan oleh kakeknya mundur teratur. Laeni  selalu menganggap pria yang serius adalah pria yang tampan, tetapi tidak mengira setelah bertemu dengan orang seperti  itu dalam satu meja, hanya ada adegan canggung  yang membuatnya  terlihat seperti orang bodoh. Menyadari Nicho belum memesan minum Laeni senang, dan dia berpikir ini adalah kesempatan bagus unntuk mencairkan suasana. Dia tahu laki-laki tidak begitu suka dengan gadis yang kasar dan agresif.  Jadi dengan suara lembut dan sikap yang sengaja dibuat agak malu-malu dia menawarkan. “Ko Nicho suka minuman apa, biar aku yang pesan.” Nicho selalu punya pikiran simple. Karena dia sudah nggak berminat buat kenalan, jadi buat apa memberitahu wanita ini minuman yang suka dia minum? Tanpa berpikir dan dengan acuh tak acuh dia hanya menjawab, “Air rebusan!”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN