OWG 44

1777 Kata
“Aku sudah selesai.” Nicho mendorong kursinya kebelakang lalu berdiri. Saat dia mengumpulkan piring dan sendok kotor bekas makan, Cecille menahan gerakan tangannya. “Nggak, usah biar aku aja.” Tindakan ini membuat Nicho mengangkat kedua alisnya, “Ini bagianku, kamu sendiri kan yang bilang?” “Jangan menyia-nyiakan uang dengan menghancurkan barang mahal. Sana duduk di depan, biar aku yang mengerjakan bagianmu.” Bukan tanpa alasan Cecille mengambil alih tugas Nicho dan melakukan pekerjaan yang dia benci. Pria itu kenal dengan Marcell Tjhia, bahkan tahu masih ada atasan yang lebih berkuasa daripada Marcell Tjhia. Cecille butuh orang dalam yang mengenal petinggi perusahaan itu supaya bisa masuk ke sana untuk memberikan tawaran kerjasama, karena suaminya bisa, kenapa tidak dimintai tolong? Yang harus pertama kali dilakukan adalah menyenangkannya dulu. Lagipula, Nicho juga sudah membantunya mempermalukan Anye siang tadi, yaah anggap saja ini sekalian balas budi. Rumah besar dengan hanya dua penghuni terasa sangat sepi ketika malam hari datang tiba. Ditambah lagi belum ada satupun tetangga karena perumahan di sini belum dijual untuk umum, rasanya seperti terisolasi dari dunia luar. Tinggal di sini sendirian, keberanian NIcho benar-benar membuatnya kagum. Tentu saja dia tidak takut, tetapi kalau disuruh pilih, tentu dia lebih suka tinggal di perumahan atau apartemen di tengah kota yang ramai penghuni. Sayangnya dia sudah membuat perjanjian dengan Nicho, selama pernikahan, dia harus ikut di manapun suaminya tinggal. Untunglah Nicho punya rumah yang nyaman. Dapur adalah bagian rumah favoritnya setelah balkon. Saat masak atau mencuci piring, dia bisa melihat pemandangan di luar melalui jendela kaca lebar. Baik pagi atau malam, pemandangan dari sini terlihat sama bagusnya. Dalam hatinya Cecille memuji arsitek yang merancang rumah ini karena memiliki estetika yang bagus Hanya butuh sepuluh menit bagi Cecille untuk menjadikan dapurnya kembali bersih. Begitu air di keran mati, hanya terdengar suara galon yang sesekali berdeguk, kemudian senyap. Setelah menggosok gigi dan menerapkan perawatan wajah, dia memakai sheetmask duduk dengan di sofa depan TV memegang remote dan mengganti saluran sesuka hati, selain saluran berita tidak ada acara yang layak untuk dia lihat. Nicho duduk di sebelahnya sibuk dengan laptopnya. Cecille melirik sekilas dan menemukan bahwa jari-jari pria itu menari di atas keyboard dengan kecepatan luar biasa, itu lebih cepat daripada Alina yang mendapat sertifikat mengetik sepuluh jari, dan dia sama sekali tidak terganggu dengan suara dari televisi yang berisik. Pada saat chanel pindah ke saluran yang menayangkan entertaintment malam, presenternya memberitakan tentang desainer terkenal yang kembali ke Indonesia setelah lama berkarir di luar negeri. Tarian sepuluh jari pria itu berhenti, menatap layar lebar di depan sejenak, kemudian menekuni lagi pekerjaannya. Mengamati gerak-gerik pria itu, Cecille teringat dengan utangnya tadi siang. Dia melempar remotenya asal-asalan, kemudian mengambil ponsel dari bawah bantal, memandang orang di sebelahnya, “Nicho.” “Hmmm…” saat bergumam matanya bahkan tidak beralih dari layar laptop. “Kirim no rekeningmu.” Barulah saat Cecille bertanya begitu, dia mengangkat wajahnya. “Buat?” “Belanjaanku tadi nilainya lumayan besar, aku akan membayarnya.” “Nggak usah,.” Nicho tidak ingin berbicara dengannya tentang topik ini, jadi dia hanya mengatakan “Itu hadiah pernikahan buatmu,” dan berkonsentrasi lagi dengan laptopnya. Dari mulut Cecille hampir keluar penolakan dengan kata-kata, “kamu kan beli ini bayarnya juga utang dulu ke bank, memangnya tagiah cicilannya nggak dibayar? Sok-sok an nolak dan kasih hadiah!” tapi untungnya dia keburu menggigit lidahnya tepat waktu. Dia dalam misi menyenangkan Nicho sekarang, jadi sebisa mungkin, hindari perkataan yang bisa membuatnya tersinggung “Daripada baju, sebenarnya aku lebih suka berlian, berlian merah jambu yang berkilau sebagai hadiah.’ Cecille bilang begitu maksudnya hanya bercanda, tanpa diduga, Nicho menanggapinya dengan serius. “Oke, nanti aku beli.” Cecille sedikit tertegun saat mendengar apa yang dia katakan. Nicho ini dengan gampangnya dia bilang oke, seolah berlian itu seharga permen seribuan. “Berlian itu jauh lebih mahal dari baju, memangnya ada uangmu?” Tangannya yang bergerak berhenti, “Gampang, ada Marcell, minta dulu sama dia.” Cecille meringis, dia seharusnya tidak meminta sesuatu pada Nicho. “Kalau nggak di kasih?” “Nggak mungkin, dia nggak akan berani menolak.” Nadanya seolah dialah yang bos besar, bukan Marcell. Cecille menarik masker yang sudah mengering dari wajahnya, “Memangnya kamu punya jasa apa ke dia? Kok sampai Marcell nggak berani menolak?” “Aku membantunya menghasilkan banyak uang sampai dia sekaya sekarang.” “Maksudnya, kamu ikut terlibat di perusahaannya, begitu?” Nicho mengangguk, “Bisa dibilang begitu.” “Serius?” Nicho mengangkat wajahnya, menatap Cecille dengan pandangan malas. “Menurutmu aku kelihatan seperti pembohong?” “Nggak, tentu saja nggak. Tampangmu itu tampang orang paling jujur,” Cecille meniupkan pujian omong kosong, menggeser duduknya lebih dekat, dia terlihat antusias, “Berarti kalian akrab ya, kalau sama atasan Marcell yang kamu bilang depan Anye tadi, gimana? Kenal juga?” “Lumayan, kenapa?” “Hebat!” Ekspresi Cecille tiba-tiba menjadi terkejut, merasa bahwa Tuhan itu baik. Nicho menatapnya, "Jadi apa?" "Jadi ..." Senyuman di wajah Cecille tiba-tiba menjadi sedikit kurang natural. "Kamu tahu? Papi lagi mencari jalan buat menjalin kerjasama dengan Toko Orange milik Marcell Tjhia, tapi sampai hari ini belum ada lampu hijau. Aku sudah take over kerjaan ini, deadlinenya satu bulan buat membuktikan kemampuanku. Kamu bukan cuma akrab dengan Marcell tapi tahu orang yang jabatannya lebih tinggi dari dia, ini adalah takdir. Bisa kamu kenalin aku ke mereka? Kalau bos besarnya nggak bisa, Marcell juga nggak masalah. Selanjutnya, biar aku yang urus sendiri.” Setelah dia selesai berbicara, dia pikir dia sangat pintar dan mengangkat alisnya pada NIcho, dan kata-katanya penuh kemenangan, "Bagaimana menurutmu?" Nicho menunduk dan menyimpan semua pekerjaannya dalam file penyimpanan. Setelah beberapa saat, dia mengangkat matanya untuk menatapnya, dan mengangkat alisnya sedikit, “kamu mau menggunakan jasaku buat berkenalan sama mereka?” “Yaah, anggaplah begitu. Ayahku mengandalkan Anye yang terpilih jadi BA baru toko Orange untuk bisa masuk sebagai mitra. Aku nggak mau kalah dari mereka, dan aku mengandalkanmu.” Pria itu melipat kedua tangannya depan dadda, menyandarkan punggungnya yang lurus, “Boleh, tapi ada syaratnya.” Bibir wanita itu berkerut, “Apa syaratnya?” “Panggil aku Hubby.” Cecille tertegun sebentar, wajahnya yang putih diwarnai dengan lapisan tipis warna merah. Mulutnya yang mungil membuka dan tertutup. Nicho menunggu kata-kata itu jatuh dengan senyum di bibirnya. “Hubby…” Kelopak mata Nicho berkedip, dan kelanjutannya adalah, “Hubby, nenekmu!” lalu Cecille berdiri, dan berjalan ke kamarnya. Percakapan yang menyenangkan akhirnya berakhir begitu Nicho melihat ke belakang Cecille, matanya tenggelam dan perasaan krisis di hatinya. Temperamen wanita itu masih sama susahnya dengan yang dulu. Saat itu tengah malam, Nicho memanggil Marcell yang baru mau mulai berpetualang dalam mimpinya. “Ada apa dengan bos besar?” Marcell menerima telepon di tengah malam, tidak dalam suasana hati yang sangat baik, merasa seperti asisten pribadi Nicho, melayani 24 jam sehari. Akan tetapi ini pembayaran semua cicilannya tergantung padanya, dia hanya bisa menanggungnya. “Ganti BA perusahaan dengan yang lain, jangan pakai Anye.” dia menginstruksikan dengan ringan. Mendengar permintaan semena-mena itu, Marcell segera duduk dan mengeluh, “Kenapa tiba-tiba? Kontraknya sudah dibuat, dan dikirim ke Chris sore tadi.” “Tinggal tarik lagi, di mana susahnya?” “Di mana susahnya?” Marcell mengulangi pertanyaan itu, “Nggak ada yang susah kalau kedua pihak belum tanda tangan, andai sudah kita harus bayar penalti pelanggaran.” “Kalau begitu bayar!” nada bicara Nicho ringan, tidak terdengar emosinya. “Sinting!” omel Marcell, “Tadi siang kamu bilang nggak mau ikut campur, dan terserah aku mau pilih siapa. Mendadak tengah malam minta diubah, kenapa sih? Istrimu?” Marcell mencium bau gosip, dan matanya terbuka sepenuhnya. “Imagenya nggak cocok dengan kita, itu aja.” Sudah tentu Marcell tahu alasan itu mengada-ada. Sebelah mananya image Anye yang tidak cocok dengan toko Orang? Jelas-jelas mangsa pasarnya kebanyakan adalah penggemar sinetron Anye yang sedang tayang stripping di salah satu televisi, tetapi sepandai apapun dia mencari tahu, Nicho masih tidak bergeming. Karena tidak berhasil mengorek informasi, Marcell yang mulai kesal dengan perintah tak masuk akal Nicho mengatakan, “Baiklah, baiklah. Besok aku atur waktu pertemuan buat menyeleksi pengganti Anye. Benar-benar menyusahkan!” “Pilih satu, kirim surat resign, atau dipecat dengan tidak terhormat?” Hei,hei aku Cuma main-main. Jangan main kasih pilihan yang sama nggak enaknya.” Marcell ingat untuk tidak menyinggung bos besar. “Kalau begitu, kerjakan saja tugasmu tanpa mengeluh.” Nicho tidak kembali ke kamar sampai jam satu malam. Melihat tempat tidur besar, dia menarik sudut mulutnya. Darimana dia dapat ide memasang perangkap tikus di tengah-tengah kasur sebagai batas wilayah? Nicho mengambil perangkap yang berjumlah tiga buah, membuangnya ke tempat sampah. Cecille adalah orang yang mudah tertidur, bahkan jika dia marah dengan orang di sebelah bantal, dia tertidur dengan posisi miring memeluk guling. Nicho mengangkat selimut yang menutupi kepalanya, dengan sedikit gerakan guling dalam pelukan Cecille sudah terlepas, lalu Nicho berbaring menarik tangan Cecille menjadikan dirinya sebagai pengganti guling. Dan akhirnya tidur dengan nyenyak malam itu. ~~~~ Situasi sedikit lebih sibuk pada Senin pagi, suami istri palsu itu secara otomatis membagi tugas tanpa banyak berdebat. Nicho sangat kooperatif. Ketika Cecille berlari ke kamarnya untuk menerima telepon, dia mengambil inisiatif mengambil alih untuk menyelesaikan memasak sarapan yang baru setengah jalan. Cecille masih mau hidup lebih lama di dunia, tentu saja segera menghalaunya keluar dari dapur. “Pergilah, kerjakan yang lain.” “Eh, yang bener aja, Ci, masih pagi juga.” Alina menelepon cuma mau mengingatkan ada meeting pagi, begitu mendengar disuruh mengerjakan hal lain, dia segera menyuarakan protes. “Aku nggak ngomong sama kamu, tapi sama suamiku.” Nicho sudah menghilang ke belakang dan ingat bahwa pakaian kotornya kemarin belum dibawa ke laundry. Dalam satu keranjang yang di sana juga ada pakaian Cecille, hanya sedikit. Sebaiknya cuci saja sekalian. Cecille memanggang roti dan membuat secangkir americano dengan cepat. Pergi ke kamar mandi dia berteriak, “Lagi ngapain kamu, Nicho?!” Pria itu mengangkat kepalanya dan menoleh, jari-jarinya yang ramping mengangkat bra putih berukuran setengah cup miliknya dari dalam mesin, “bantu istriku mencuci.” “Siapa yang mengizinkanmu menyentuh pakaian dalamku?” Cecille meraung, wajahnya kaku saat kedua tangan Nicho dengan semena-mena memeras bra dengan kekuatan seratus tangan, “Berhenti! Jangan diperas, diremas atau ditekan, kendor semua nanti!” Tunggu, kata-kata ini terdengar canggung. Setelah memikirkannya, Cecille sedikit tersipu untuk menutupinya, dia merebut bra di tangan Nicho dengan kasar, “Jangan pernah pegang-pegang pakain dalamku!” “Wifey, tapi kamu juga memegang celana dalamku!” dia berkata dengan senyum santai. “Aku… nggak, ngga pernah!” Kapan dia memegang celana dalam Nicho? “Itu.” “Hah?” perlahan dia mengangkat tangannya, ternyata ada celana boxer warna biru langit. Kedua benda paling pribadi milik keduanya saling terjerat…sangat erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN