“Aku ketemu Cici kemarin.”
Itu adalah kata-kata pertama yang dikatakan oleh Anye begitu Clara menuangkan segelas jus dingin saat dia duduk di meja makan.
Rumah Hartono besar dan memiliki dua ruang makan di dalamnya Tahun pertama setelah istrinya meninggal, kakek Liem dan Cecille pernah tinggal di sini.
Saat ada tetua dalam keluarga, mereka tidak pernah melewatkan waktu sarapan dan makan malam bersama, dan kebiasan itu masih terbawa sampai sekarang.
Saat itu keluarga besar yang berkumpul terlihat rukun dan harmonis, ketika masa berkabung kakek Liem selesai, lelaki tua itu disibukkan lagi dengan kegiatannya di perusahaan, beliau kembali pindah ke rumah pribadinya tanpa membawa Cecille yang memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya.
Dengan menetapnya Cecille, Anye merasa terancam.
Sejak pertama kali bertemu, Anye melihat Cecille selalu lebih beruntung dari dirinya sendiri dalam segala hal.
Dia lahir dari rahim wania cantik yang berasal dari keluarga kaya, sedangkan ibunya adalah wanita miskin dari desa yang perlu di kasihani.
Dia punya kakek dan nenek yang mencintainnya tanpa syarat, sementara Anye, dia harus memasang wajah memelas supaya supaya diperhatikan dan mendapatkan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya, terutama dari Hartono.
Bahkan untuk penampilan, dia masih jauh di bawah Cecille.
Butuh usaha lebih dan banyak biaya bagi Anye untuk mengubah penampilannya menjadi glow up seperti sekarang.
Cecille yang mendapat gen bagus dari ibunya dan cantik dari lahir, mana kenal dia dengan kata glow up.
Anye tahu dia tidak akan bisa mengubah takdirnya, tetapi dia bisa mengubah nasibnya, termasuk nasib orang lain.
Dan dia bersumpah bahwa dia harus lebih baik dari Cecille.
Pada saat itu dia mulai melakukan sedikit trik dengan tidak sengaja mengeluh kalau meja makan yang cukup untuk sepuluh orang ini terlalu besar dan dingin untuk keluarga yang hanya ada lima orang.
Dengan kelihaiannya, Anye membujuk Clara supaya mereka pindah ke ruang makan yang bentuk dan ukurannya serupa dengan meja yang mereka tempati hari ini.
Itu meja makan minimalis dengan hanya ada empat duduk yang saling berhadapan.
Jauh sebelum Cecille dan kakeknya pindah, dia dan Joseph menamai kursi dengan nama masing-masing penghuni rumah.
Ketika Cecille keluar dari kamarnya untuk ikut makan, dia hanya bisa berdiri dengan wajah bingung karena tidak ada namanya di sana.
Dia menggunakan cara itu untuk membuat Cecille seolah-olah tidak diinginkan di rumahnya sendiri.
“Ketemu di mana, Anye?” Clara yang menanggapi.
“Ecoutez,” sahut Anye setelah menelan potongan buah berry dan apple dalam oat yang menjadi menu sarapannya, “Dia sama suaminya, beli banyak baju di sana.”
Clara mengendorkan tangannya dan mengeluh, “Benar-benar anak itu, nikah semaunya, setelah menikahpun, dia sama sekali nggak datang ke sini. Apa dia sudah nggak menganggap kita sebagai orang tuanya?”
“Itu salah Akong yang terlalu manjain dia, makanya Cici jadi sombong dan kepala batu!”
“Kamu kok malah nyalahin Akong sih?”
“Lho emang benar kan, Mi? cucu Akong ada dua, tapi siapa yang paling di peratiin? Cici kan? Aku mana dianggap!”
Anye memandang Joseph dengan pandangan puas, tidak percuma hampir setiap hari dia mengipasi pemuda itu tentang kakeknya yang lebih menyukai Cecille dan warisan kakeknya yang akan menjadi milik kakaknya, setelah bertahun-tahun bara kebencian itu menyala semakin besar.
“Diam!”
Suara Hartono yang menggelegar membuat Joseph menyusut, pria paruh baya itu menoleh ke istrinya.
“Hari ini mami datang ke kantor, ajak Cecille makan siang, bujuk dia supaya mau pisah sama Nicholas itu.”
“Pi, dia baru nikah lho, masa langsung disuruh cerai.”
“Memang kenapa? Dia nggak punya masa depan dengan pernikahan itu, mendingan cerai dari sekarang. Semakin lama mereka menikah, semakin ribet nanti!”
Clara berada dalam dilema antara setuju atau menolak.
Sedikit banyak dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh anaknya.
Ditinggalkan sendirian saat pernikahan, untuk menghindari malu dia asal comot menikahi orang lain, sekarang semua orang dalam lingkaran pergaulan mereka sudah tahu Cecille menikah dengan Nicho.
Kalau tiba-tiba mereka bercerai, anak itu pasti menjadi santapan empuk gosip, tetapi di sisi lain, kata-kata suaminya benar.
Tidak ada masa depan untuk pernikahan mereka.
Clara menghela napas, “Baiklah.”
Mendengar itu, Anye merasa gelisah di hati.
Ketika dengan sengaja menggagalkan pernikahan kemarin, dia tidak benar mau merebut Evan buat dirinya sendiri, dia hanya mau melihat sepupunya menjadi bahan lelucon.
Kalaupun dia tetap nekat menikah dengan Evan, berita tentang suaminya yang lebih mencintai mantan pacarnya sudah beredar kemana-mana dan akan terus membayangi kehidupan rumah tangganya.
Tanpa diduga Cecille menikah dengan Nicho yang tidak sebanding dengan Evan. Dan itu merangsangnya untuk menjadikan Evan sebagai pacarnya, semakin bagus kalau dia mau menikahinya.
Jadi bagaimana dia bisa memberinya pertunjukan bagus kalau Cecille harus bercerai dengan Nicho?
Memikirkan ini, Anye segera berkata, “Ngomong-ngomong, aku punya kabar bagus. Chris bilang, aku kepilih jadi Brand Ambassador baru toko Orange.”
“Beneran? Selamat kalau begitu.”
Hartono mengangguk, tidak bisa tidak terlihat senang. “Bagus, bagus. Jangan lupa buat mempromosikan perusahaan kita waktu kamu ke sana.”
“Tapi, Om.” Anye sengaja menjeda perkataannya.
“Kok ada tapinya, memangnya ada masalah, Ci?”
Anye mengangguk, “Masalahnya untuk jadi BA itu aku harus bersih dari skandal atau berita tentang masalah pribadi yang lebih heboh daripada pemberitaan tentang perusahaan yang aku wakili, baru kemarin berita tentang aku sama Evan viral dan berhasil diredam. Nah, kalau Om nyuruh Ci Cecille cerai dari suaminya, bagaimana kalau media tahu dan nyangkut pautin ke aku lagi?”
“Gimana tuh, Pi?” Clara menatap suaminya.
“Jangan takut, lakukan secara diam-diam biar nggak ada yang tau.”
“Pi, jaman sekarang mana ada sih yang rahasia?” tanya Joseph, “nggak usah orangnya, mobilnya aja yang parkir ke depan pengadilan, besoknya berita udah kesebar si A mau gugat cerai. Jaman online lho ini.”
Wajah Hartono berubah jelek.
Untuk mempertahankan posisinya di perusahaan, untuk sekarang ini dia hanya bisa mengandalkan Anye untuk membawanya masuk lebih dekat dengan keluarga Tjhia.
Meskipun Nicho tidak menjanjikan dan tidak pantas untuk menjadi menantunya, ada baiknya dia menahan diri untuk tidak memaksa Cecille bercerai dalam waktu dekat.
“Tunggu sampai kita mendapatkan kontrak kerjasama dengan keluarga Tjhia. Setelah itu, baru aku bereskan bisul kecil yang menganggu ini.”
Hartono datang ke kantor dalam suasana hati yang baik. Pada saat pertemuan pagi, dia memerintahkan manajer untuk segera menyiapkan konsep kerjasama dengan Toko Orange.
Lalu kabar tentang Anye yang terpilih menjadi Ambassador baru dari Toko Orange menyebar dengan cepat di perusahaan Liemantyo--memberi sedikit angin segar, biarpun pihak ecommerce terbesar di Indonesia itu belum merilis berita apa-apa.
Ketika Cecille keluar dari ruangannya, dia bersikap seolah tidak mendengar berita apa-apa, acuh tak acuh dan sombong.
Dia tampak tenang, mengambil gelas air untuk minum, dan mendengar beberapa rekan mengobrol di luar pintu pantry.
“Daripada Cecille, Anye yang kataku lebih cocok jadi penerus perusahaan. Itung deh, berapa kali kita ajuin proyek kerjasama dengan tokonya Tjhia, mana ada yang lolos coba, mesti Anye yang turun tangan baru tembus.”
“Padahal baru tiga hari yang lalu ini diambil alih sama Cecille, belum juga bergerak udah kalah.”
“Yang paling benar tuh tarik Anye jadi HUMAS perusahaan kita, dia muda, cantik, dan punya banyak penggemar. Bisalah sekalian promoin kalau ada model perhiasan baru yang keluar.”
“Sudah pernah yang ngusulin kan?” komentar yang lain, “Tapi ditolak sama Cecille.”
“Ah dia sih emang gitu. Sejak gabung ke perusahaan, ini itu nggak boleh.”
“Sekarang lihat akibatnya, gara-gara dia gagal nikah, perusahaan yang paling kena imbasnya.”
Uhuk!
Satu dari tiga orang yang ada di pantry tiba-tiba batuk untuk mengingatkan temannya yang masih bergosip.
Cecille berjalan dengan tenang, mengangkat dagunya sedikit dan berkata kepada rekannya yang berdiri di samping dispenser air panas, "Tolong geser sedikit, aku mau buat kopi.”
Berdiri di dekat dispenser adalah seorang staff bagian gudang.
Dia biasanya selalu ramah dan sering memuji Cecile karena kecerdasan, kecantikan, dan kemampuannya.
Hari ini dia tertangkap basah sedang bergosip tentangnya, dan sedikit malu saat berhadapan dengan Cecille.
Wanita muda itu segera menggeser tubuhnya ke samping, dan menarik sudut mulutnya dengan canggung, “Sini bair aku yang tuangin, Cici mau air pana atau dingin?”
Cecille tersenyum dan berkata, "Terima kasih, aku bisa sendiri.”
Rekan di sebelahnya menyentuh wanita itu dengan lengannya, mengedipkan mata padanya dan menyuruhnya untuk tidak berbicara.
Cecille menuangkan segelas air lalu meninggalkan dapur tanpa berkata apa-apa.
Bisikan datang dari belakang. “Kapan dia datang? Kok nggak kedengaran apa-apa sih?”
“Kayak hantu aja.”
“Kira-kira dia denger nggak ya kita ngomongin dia?”
Cecille kembali ke tempat duduknya, Alina menatapnya sebentar, dan meletakkan kue kecil dari laci di depannya.
"Ci, roti cream strawbery, aku beli khusus buatmu."
Cecille mengambilnya dan bertanya sambil merobeknya, "Kamu juga sudah tahu?"
Melihat bahwa wajahnya normal, Alina berkata, “yang Anye? Baru tadi pas makan siang.”
Cecille tersenyum kecut, “Aku benar-benar kalah kali ini.”
“Lho, katanya suami Cici kenal sama Marcell Tjhia. Kok bisa ngomong kalah?”
“Aku nggak bisa ngandelin dia!” suaranya kali ini sedikit ketus.
“Kok gitu?” Alina mengerutkan kening, tidak habis pikir dengan jalan pikiran atasannya. Bukankah dia sudah punya jalan, kenapa tidak dimanfaatkan?
Cecille menjawab dengan ringan, “Karena aku nggak mau memanggilnya hubby.”
wajah Anye terdistorsi oleh kata-kata Cecille, bukannya lebih gampang bilang hubby ya, daripada cari orang dalam yang bisa membawanya ke Marcell?
“Jadi Cici gimana, lepasin kerjaan ini?”
Ceceille yang belum mau menyerah menjawab, “Ya aku punya cara lain buat mendekati Marcell.”
Alina menghela napas , dia sudah bekerja di bawah Cecille selama beberapa bulan dan tahu Cecille punya kepribadian yang sangat kuat.
Selama dia memutuskan sesuatu, dia tidak akan mudah menyerah.
Meskipun agak mustahil dia bisa mendapatkan cara lain untuk mendekati Marcell Tjhia, melihatnya begitu bertekad, Alina hanya bisa membantunya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Cecille mengetuk layar komputer, Alina berdiri dan berjalan di belakang kursinya.
Setelah membaca isi yang dicari di halaman web komputer Cecille , kepercayaan diri yang baru saja dia bangun jatuh lagi.
Barusan, saat Cecille bilang dengan serius dia punya cara lain, dia pikir Cecille mungkin akan minta tolong ke kakeknya, tetapi ternyata caranya itu bertanya ke Google.
Alina sudah melakukan itu sebelum ini, dan hanya menemukan informasi umum.
Tetapi yang dicari oleh Cecille bukan Marcell Tjhia.
Dia ingat, Nicho bilang masih ada bos besar di atas Marcell Tjhia, jadi dia mencari petunjuk tentang bos misterius itu melalui internet.
Namun, sepertinya dia tidak bisa menemukan banyak harapan, semua kata kunci yang dia tulis di kolom pencarian, semua menunjuk ke Marcell Tjhia.
Mungkinkah Nicho cuma menggertak Anye waktu bilang begitu?
Dia masih penasaran dengan kebenarannya, jadin dia mengklik situs web resmi toko orange.
Situs web resmi berisi informasi tentang personel inti perusahaan, semuanya adalah wajah-wajah muda yang tidak dikenal, tetapi dia merasa samar-samar seperti melihat wajah salah satu dari mereka.
Cecille ingat dengan senyumnya yang manis dengan wajah kekanakan, sepertinya baru kemarin dia melihatnya.
Tetapi dimana?
Wanita itu menggigit sudut bibir, menggali ingatannya dalam-dalam.
Setelah beberapa saat, dia akhirnya ingat. Terakhir Nicho menyuruhnya pindah dari apartemen, dia mengirim orang untuk membantunya pindah. Satu diantara mereka adalah pemuda yang ada di situs.
Kalau tidak salah ingat, namanya Inggo.
Hmmm, jadi dia juga kerja dengan Marcell Tjhia?
Meskipun tidak mengobrol banyak saat itu, Cecille memiliki kesan yang baik tentang Inggo. Pria muda itu juga pernah memberinya nomor telepon, dan bilang jangan ragu menghubungnya kapan saja kalau butuh bantuan.
Dia melihat sedikit ada harapan dalam sekejap mata.