bc

Antara Balas Dendam dan Wanita

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
mafia
city
harem
friends with benefits
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Seorang Pemuda yang membalas dendam untuk kematian Ayah dan Kakaknya. ia berlatih selama tiga tahun sebelum akhirnya memulai rencana balas dendamnya. namun, di setiap jalan yang dia lalui, ia bertemu seorang wanita yang merobohkan kedinginan hatinya yang penuh amarah, menjadi penuh cinta.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Tragedi Tanjung Perak.
Surabaya. Sebuah gudang kosong di pinggir Pelabuhan Tanjung Perak. --- Lutut Arkan Wijaya menempel di lantai beton yang kasar. Teksturnya seperti amplas—berkerikil, dingin, dengan bercak-bercak hitam yang mungkin karat, mungkin oli, mungkin darah kering dari korban sebelumnya. Celana jeans-nya robek di bagian lutut, dan dia bisa merasakan kulitnya terkelupas, darah hangat mulai merembes. Di belakangnya, dua pria bertubuh kekar berdiri seperti patung. Tangan mereka mencengkeram bahunya, jari-jari kasar menekan tulang selangka hingga dia hampir meringis. Pergelangan tangannya diikat ke belakang dengan kabel ties yang menggigit kulit setiap kali dia mencoba bergerak. Tapi rasa sakit fisik itu tidak ada artinya. Di depannya, Ayahnya terikat di kursi kayu reyot. Bramantyo Wijaya—lima puluh empat tahun, auditor senior dengan reputasi bersih seperti kaca. Mata kirinya bengkak dan nyaris tertutup sepenuhnya, kulit di sekitarnya berwarna ungu kebiruan. Darah mengalir dari pelipis kanannya, menetes lambat ke kemeja putih lusuh yang tadi pagi masih diseterika rapi oleh Karina. Giginya sudah ompong dua. Di sebelah Ayah, Karina berlutut. Blus putihnya masih bersih. Tangannya diikat ke belakang. Mulutnya disumpal kain lap hitam yang kotor—mungkin bekas mengelap oli, mungkin bekas membersihkan darah. Mata Karina bertemu dengan mata Arkan. Air mata sudah mengalir di pipinya. Tapi di balik air mata itu, ada sesuatu yang lain. Bukan ketakutan. Bukan permohonan. Tapi kemarahan yang membara, dan sebuah pesan yang tidak terucapkan: Ingat. Ingat semuanya. Suara langkah kaki. Langkah itu pelan. Terukur. Sepatu kulit mahal berderit di lantai beton. Bambang Suryadharma masuk ke dalam lingkaran cahaya bohlam yang berayun pelan di atas mereka. Pria lima puluh lima tahun itu tidak tinggi, tapi auranya memenuhi seluruh gudang. Dia duduk di satu-satunya kursi yang layak di tempat itu—sebuah sofa kulit butut yang jelas dibawa khusus untuknya. Menyilangkan kaki. Menyalakan cerutu. "Kau tahu, Pak Bram," suaranya berat dan tenang, seperti eksekutif yang memimpin rapat direksi. "Saya ini sebenarnya orang yang sabar." Ayah Arkan mengangkat kepalanya dengan susah payah. "Proyekmu... menenggelamkan kampung nelayan. Dua ratus kepala keluarga... kau gusur tanpa ganti rugi. Aku punya buktinya." Bambang tersenyum—senyum seorang kakek yang melihat cucunya merengek minta es krim. "Maka dari itu, mana buktinya, Pak Bram?" "Aku tidak akan memberitahumu." Bambang menghela napas panjang. Ia berdiri, berjalan mendekati Karina. Berhenti tepat di depannya. Meraih dagu Karina, memaksanya mendongak. "Cantik juga kau." Ia melepaskan dagunya, berbalik, dan berjalan kembali ke sofanya. Sebelum duduk, ia berkata tanpa menoleh: "Lihat! Saya akan memotivasi Bapak untuk bicara." Ia mengangguk ke arah anak buahnya. Pria di samping Karina bergerak. Tanda lahir merah di leher kanannya—berbentuk seperti pulau kecil di peta. Tato naga hitam melingkar di lengan bawahnya. Otot-ototnya menegang saat ia meraih kerah blus Karina dari belakang. Dan merobeknya. SREEEETTTT— Blus putih itu terbelah. Kancing-kancing berhamburan, memantul di lantai beton. Kain itu melorot, memperlihatkan bahu Karina yang halus, tulang selangkanya yang menonjol, dan bra putih sederhana yang sekarang menjadi satu-satunya yang menutupi dadanya. Pria itu memeluk pinggang Karina dari belakang. Satu tangannya naik, meremas p******a kanan Karina yang masih tertutup bra. Jari-jari kasarnya mencengkeram, memutar putingnya melalui kain tipis itu. Karina mengerang kesakitan di balik sumpalannya. Pria itu kemudian membuka ikat pinggangnya sendiri dengan satu tangan. Gesper logam jatuh. Ritsleting dibuka. Tangannya yang lain menarik bra Karina ke bawah—satu tarikan kasar hingga kain itu melorot, memperlihatkan payudaranya yang putih dan bulat. Pria itu menunduk. Menjilat leher Karina. Perlahan. Menikmati. Lalu ia menggigit—cukup keras untuk meninggalkan bekas merah, cukup untuk membuat Karina menjerit tertahan. Tangannya turun. Meraba perut Karina yang rata. Masuk ke dalam celana panjangnya. Jari-jarinya menyelinap di balik celana dalam, menemukan bulu-bulu halus di sana. Karina meronta lebih keras, air matanya mengalir deras. "Sssttt... santai, Cantik," bisik pria itu ke telinganya. Suaranya serak, bau rokok dan alkohol. "Makin lo berontak, makin sakit nanti. Tapi... Aku suka. Karena makin nikmat buat gue." Ia menarik celana panjang Karina hingga ke lutut—perlahan, sengaja memperlambat. Celana dalam putih sederhana kini terlihat, dengan noda basah kecil di sana—bukan dari gairah, tapi dari keringat dingin dan ketakutan. Pria itu meludahi tangannya sendiri. Mengoleskan ludahnya ke penisnya yang sudah tegak dan besar. Lalu ia menarik celana dalam Karina ke samping, memperlihatkan v****a kakak Arkan itu yang merah muda, rapat, dan sama sekali tidak siap. Ia menusuk masuk. Sekaligus. Keras. Tanpa peringatan. Karina menjerit—jeritan tertahan yang menusuk gendang telinga Arkan. Tubuhnya menegang, punggungnya melengkung. Darah mulai merembes dari antara pahanya, menetes ke lantai beton. Pria itu terlalu besar, terlalu kasar, dan Karina terlalu kering. Kulit di dalam vaginanya robek. "Ah... sialan... sempit banget..." Pria itu mengerang. Ia tidak berhenti. Ia malah mendorong lebih dalam, memaksa seluruh panjangnya masuk. "Perawan memang enak..." Arkan melihat semuanya. Ia melihat pria itu mulai bergerak—dorongan-dorongan brutal yang mengguncang seluruh tubuh Karina. Setiap kali pria itu mendorong masuk, kepala Karina terlempar ke depan, rambut hitamnya yang tergerai menutupi wajahnya. Setiap kali pria itu menarik keluar, Arkan bisa melihat darah di penisnya—semakin lama semakin banyak, bercampur dengan cairan putih yang mulai keluar. Pria itu mempercepat gerakannya. Tangannya meraih p******a Karina dari belakang, meremasnya kasar, kukunya yang kotor meninggalkan bekas-bekas merah di kulit putih itu. Mulutnya menciumi leher Karina, menjilati keringatnya, menggigit daun telinganya. "Lo suka ya? Suka diperkosa kayak gini?" bisiknya di sela-sela erangannya. "Bilang lo suka. Bilang lo mau lagi." Karina tidak bisa menjawab. Mulutnya tersumpal. Tapi tubuhnya bergetar hebat, dan Arkan bisa mendengar suara aneh dari tenggorokannya—bukan erangan kenikmatan, tapi suara seseorang yang jiwanya sedang mati. Pria itu semakin cepat. Dorongannya semakin brutal. Suara tubuh mereka bertumbukan—daging bertemu daging, basah oleh darah dan cairan—bergema di seluruh gudang. Dan kemudian— Pria itu mengerang keras. Tubuhnya menegang. Ia mendorong masuk dalam-dalam, menahan posisinya di sana. Arkan bisa melihat otot-otot di pahanya bergetar saat ia melepaskan semuanya di dalam Karina. Ia menarik keluar perlahan. Penisnya masih tegak, berlumuran darah dan a******i. Cairan kental itu menetes dari ujungnya, mengenai paha Karina, bercampur dengan darah yang sudah mengalir hingga ke lutut. Pria itu mundur selangkah, terengah-engah. Ia menampar p****t Karina dengan keras, meninggalkan bekas merah. "Mantap." Ia menoleh ke temannya yang sedari tadi menonton. "Giliran lo." Pria kedua—lebih pendek, lebih gendut, dengan bekas luka di pipi—melangkah maju. Senyum lebarnya memperlihatkan gigi-gigi kuning. "Ah... Akhirnya giliran gue. Makasih Johan." Ia membalikkan tubuh Karina yang sudah lemas. Sekarang Karina telentang di lantai beton yang dingin, matanya menatap kosong ke langit-langit, air matanya masih mengalir. Pria kedua membuka celananya, mengeluarkan penisnya yang pendek tapi gemuk, dan memaksa masuk tanpa persiapan apa pun. Karina bahkan tidak menjerit lagi. Arkan menyaksikan semuanya. Pria kedua bergerak lebih cepat, lebih rakus, tangannya meremas-remas p******a Karina, mulutnya menjilati wajah Karina yang basah oleh air mata. Ia selesai dalam waktu singkat, mengerang seperti binatang, melepaskan di dalam Karina, lalu berdiri dan meludah ke wajah Karina. "Ambil. Itu hadiah dari gue." Bambang, yang selama ini menonton dari sofanya sambil menghisap cerutu, akhirnya bersuara. "Kau lihat, Pak Bram? Sekarang... mana flashdisk itu?" Ayah Arkan mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya basah oleh air mata dan darah. "Aku... tidak akan... memberitahumu..." Bambang menghela napas. "Keras kepala sekali. Kau tidak kasihan pada anakmu!?." "Aku yakin. Anakku bahkan rela mati daripada hidup tapi membiarkan b******n sepertimu berkeliaran. Dasar ANJING!" Bambang berdiri. Berjalan mendekati Ayah Arkan yang baru saja memakinya dengan suara serak. Berhenti tepat di depannya. Menatapnya lama. Lalu ia menoleh ke pengawalnya dan mengangguk—anggukan kecil, hampir tidak terlihat. Pengawal itu mengangkat pistolnya. Menodongkannya ke d**a Ayah Arkan. "Arkan..." Ayahnya memanggil untuk terakhir kalinya. Matanya yang satu-satunya masih bisa terbuka menatap Arkan. Satu kata terbentuk di bibirnya tanpa suara: Balaskan. DOR! Darah menyembur dari d**a kiri Ayahnya—merah tua, kental, menyebar di kemeja putih itu seperti bunga yang mekar. Bramantyo Wijaya roboh ke samping bersama kursinya. Tubuhnya membentur lantai beton dengan suara gedebuk. Pengawal itu menggeser pistolnya sedikit ke kiri. Ke arah Karina yang masih tergeletak, setengah telanjang, berlumuran darah dan a******i, menatap kosong ke langit-langit. DOR! Letusan kedua. Peluru menembus puncak kepala Karina. Darah dan serpihan berhamburan ke lantai. Kakak Arkan itu tewas seketika. Sementara Ayah Arkan sempat menyaksikan kematian Karina, sebelum akhirnya dia juga menghembuskan nafas terakhirnya. Arkan tidak berteriak. Tenggorokannya tercekat. Yang keluar hanyalah suara aneh—seperti lolongan binatang yang tercekik. Bambang memandangi kedua mayat itu selama beberapa detik, tanpa ekspresi. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke Arkan. Untuk pertama kalinya malam itu, mata mereka bertemu. Bambang melihat sesuatu di mata anak muda itu. Bukan kebencian. Bukan ketakutan. Tapi kepastian. Ia mengabaikannya. "Sudah, bereskan dua mayat itu. Dan... Anak kecil ini buang ke laut saja. Pastikan dia tenggelam. Tidak perlu membuang peluru untuk anak ingusan seperti ini." Ia berjalan keluar gudang. Dua orang yang tersisa menghampiri Arkan. Menyeretnya keluar menuju dermaga. Sepanjang jalan, Arkan tidak meronta. Tubuhnya lemas. Tapi di dalam kepalanya, ia merekam semuanya: Tanda lahir di leher. Tato naga. Bau rokok. Suara serak. Nama: Johan. Suara Bambang. Bau cerutunya. Namanya. Jeritan Karina. Darahnya. Matanya. Aku akan kembali. Mereka tiba di ujung dermaga. Satu dorongan. Tubuh Arkan melayang, lalu menghantam air laut yang hitam dan dingin. Air membanjiri paru-parunya. Penglihatannya memudar. Tapi sebelum kegelapan total menelannya, satu kalimat terakhir terukir di benaknya: "Aku akan membuat kalian merasakan semuanya. Dua kali lipat. Aku tidak akan mati. Aku pasti kembali." --- Empat tahun kemudian, seorang pria dengan nama baru akan turun dari kereta di Stasiun Surabaya. Matanya seperti laut dalam—gelap, dingin, dan menyembunyikan badai di dasarnya. ---

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.7M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
625.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.2M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
865.1K
bc

A Warrior's Second Chance

read
300.7K
bc

Not just, the Beta

read
309.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.0M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook