Prolog
Prolog
Disha menarik lengan sahabatnya, Juwita, lalu meneriakinya dengan suara yang cukup keras. Tak peduli orang-orang di sekelilingnya. Toh mereka juga mempunyai kehidupan mereka masing-masing.
“Sumpah, tempatnya sumpek banget, Ju.”
“Namanya juga kelab malam, Dis. Kamu mau aku ambilin minuman enggak?”
Disha dengan cepat menggeleng.
“Kalau begitu aku mau nyusul Vania sebentar ya ke toilet. Kamu jangan ke mana-mana nanti aku sama Vania ke sini lagi.”
“Oke,” ujar Disha sambil menunjukan jempolnya kepada Juwita.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Disha, Juwita pun melangkah meninggalkan tempat itu menuju toilet. Menghampiri Vania yang sepertinya sedang muntah-muntah karena mencoba meminum wine, sudah tahu belum pernah minum ia malah dengan sombongnya mengiyakan ajakan teman barunya untuk minum wine. Itulah akibatnya, ingin dibilang gaul tapi malah berakhir tragis di toilet.
“Hai, sendirian aja?”
Disha menoleh saat mendengar seseorang berbicara di telinga kanannya. Dari suaranya saja Disha tahu kalau yang mengajaknya mengobrol adalah lelaki. Dan saat ia menoleh, dugaannya benar sekali. Seorang pria berkemeja putih dengan bagian lengan yang dilipat sampai siku menatapnya tanpa berkedip. Hanya senyum madunya yang tersisa. “Om kan punya mata. Kenapa masih nanya?”
“Om? Kamu panggil aku Om? Aku ini masih muda, cewek manis. Kamu sama siapa ke sini? Kok bisa masuk. Dari bau badanmu saja aku bisa mengira kamu masih di bawah umur dan ilegal masuk ke sini.”
“Aku sama teman, dan denger ya Om, aku ini udah gede. Aku udah punya KTP makanya bisa masuk ke sini.”
“Aku enggak percaya. Lihat KTP kamu?”
Disha menatap curiga Om-Om di depannya lalu menggeleng. “Ngapain juga aku memperlihatkan KTP aku ke Om? Om emang yang punya ini tempat.”
Pria itu mendesis lalu mundur, mengikuti pergerakan Disha yang duduk di barstool. Dia sudah lelah berdiri sejak tadi.
“Om ngapain sih ngikutin aku?” Disha sewot saat melihat Om-Om yang sejak tadi mengganggunya ikut duduk di sampingnya.
“Suka-suka aku dong. Dan kamu, berhenti panggil aku Om. Satu, aku bukan Om kamu. Dua, kamu bukan keponakan aku. Tiga, berhenti panggil aku Om karena namaku Dastan, bukan Om.”
“Emang siapa yang nanya nama kamu?” kilah Disha. Ia membuang muka lalu mencari-cari keberadaan dua temannya yang masih belum nampak. Jika tahu tempat hiburan malam hanya seperti ini, ia tidak akan mau dibujuk oleh Vania dan Ju yang sama isengnya mencoba masuk ke tempat hiburan malam.
Dastan, pria itu menatap kesal Disha yang tidak menatapnya sama sekali lalu melirik pakaiannya yang tidak terlalu terbuka. Dia bahkan memakai gaun malam dengan potongan d**a tinggi, berlengan panjang, dan berwarna hitam terbuat dari bahan sifon yang panjangnya hanya sepaha. Tubuhnya yang mungil entah mengapa membuatnya penasaran.
Dastan menelan ludahnya. Ia mengambil gelas yang berada di atas meja asal saja lalu meneguknya sekali tandas. Cairan hangat itu segera memasuki kerongkongannya. Ia kemudian menatapi lagi tubuh gadis yang belum mengucapkan namanya itu. “Eh nama kamu siapa tadi?” Dastan mencoba bertanya, dengan jelas.
Disha menatap Dastan lalu mendesah. “Disha Putri Aristya.”
“Namanya panjang. Panggilannya Disha, Putri, atau Tya?” Dastan mulai cegukan. Ia mengambil lagi gelas berisi minuman di atas meja lalu meminumnya perlahan sambil melirik sekilas tubuh Disha yang mungil. Mungkin jika dia memeluknya, gadis itu akan tersembunyi dengan segera.
“Disha.” Disha menjawab pendek.
Dastan mengambil segelas penuh wine di sampingnya lalu menyodorkannya pada Disha. “Minum nih! Orang gede bisa minum kayak ginian.” Dastan mencibir, membuat Disha kesal lalu memegang gelas pemberian Dastan. Dalam hati, ia tidak sudi meminum minuman keras ini.
“Ayo dong diminum! Enak banget rasanya.” Dastan mulai merasakan atmosfer di sekelilingnya memanas. Disha perlahan memegang gelas berisi wine putih itu lalu menegaknya dengan cepat. Sekali teguk, dan ia terlihat ingin muntah.
“Lihat aku udah gede kan, Om.”
Dastan tertawa mendengar penuturan Disha. Jadi ia meminum wine itu hanya untuk pembuktian pada dirinya. Konyol sekali.
“s**t, minuman yang gue pesen ke mana?”
Dastan mendengar keributan dari sampingnya. Ia tidak menoleh dan lebih memilih memandangi tubuh mungil Disha yang berbalut gaun berwarna hitam. Membuatnya terlihat makin seksi.
“Tadi udah saya taruh di sini, Om. Mungkin diambil sama orang lain.”
“Itu minuman udah gue kasih obat, Dodol. Lo makanya naroh hati-hati. Bikin ulang nih!”
Dastan menoleh, apa yang baru dia dengar? Apa tadi minuman yang ia ambil? Dastan tidak lama memandangi bartender dan pengunjung itu lalu melirik ke arah Disha yang sudah menutup seluruh bagian tubuhnya dengan lengan kecilnya.
Saat pengunjung yang tidak ia kenali melewatinya, Dastan memanggil bartender yang tadi diajak pengunjung itu bicara. “Tadi orang itu ngasih obat apa?”
“Pak Dastan? Ehm, obat biasalah, Pak. Hehehe, obat bius.”
“Ya ampun.” Dastan bangun dari barstool lalu menghampiri Disha yang ia berikan minuman. Benar saja, Disha mulai merancau tidak jelas. “Disha, kamu enggak apa-apa?”
“Om, aku mau pulang.” Disha bicara semampunya lalu terjatuh di d**a Dastan.
Dastan yang serba salah, akhirnya menggendong Disha di lengannya lalu membawanya ke luardari dalam tempat hiburan malam. Ia memasukannya ke dalam mobil hitamnya lalu menepuk-nepuk pipi Disha. “Dis, kamu tinggal di mana?”
Tak ada jawaban.
“Nih anak udah pingsan pula. Gue mesti bawa ke mana juga nih anak? Bawa ke apartement?” Dastan menerawang sebentar dan tatapan matanya tak sengaja jatuh di paha Disha yang rok bawahnya sedikit tersingkap. “Haish, otak gue kapan enggak ngeres?”
Akhirnya setelah pergulatan batin dengan dirinya sendiri Dastan membawa Disha ke apartementnya. Awalnya ia menidurkannya di tempat tidur miliknya, tapi anehnya saat ia hendak pergi, ia seperti mendengar bisikan. Sebuah ajakan untuk membawa Disha yang terkadang bergumam tidak jelas itu menuju surga dunia yang sudah sangat mahir dilakukan oleh Dastan.
“Ayo dong, Dastan! Masa lo takut sama cewek masih bau kencur. Urusan besok apa yang terjadi besok, bisa diurus!”
Akhirnya dengan keberanian penuh, Dastan merangkak di atas ranjang miliknya dan berada tepat di atas gadis yang tak dikenalnya.[]
***
bersambung>>>>
selamat datang di cerita lama tera. Ceritanya belum dapat ACC nih. jadi harus sabar nunggu kelanjutannya yaaa ??
dijamin gak kalah seru dan asyik buat bacaan kamu selain ceritaku yang udah mau tamat, Dipaksa Kawin Lari...