bc

The Killer Who Fell for His Victim’s Daughter

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
BE
reincarnation/transmigration
time-travel
confident
heir/heiress
bxg
seductive
like
intro-logo
Uraian

“Jangan… tolong jangan tembak ayahku!”

Suara gadis kecil itu menggema di ruangan gelap yang dipenuhi bau mesiu.

Pria bertopeng hitam itu hanya diam. Tangannya tetap terangkat, menggenggam pistol yang sudah mengarah tepat ke d**a seorang pria tua yang gemetar ketakutan.

Air mata gadis kecil itu jatuh tanpa henti.

“Kalau kau ingin membunuhnya… bunuh aku saja!”

Untuk pertama kalinya, tangan sang pembunuh sedikit bergetar.

Namun pekerjaan tetaplah pekerjaan.

Suara tembakan menggema memecah malam.

Dan sejak malam itu… hidup mereka berdua berubah selamanya.

---

Sepuluh tahun kemudian, Alden, seorang pembunuh bayaran paling ditakuti di dunia bawah tanah, tidak pernah melupakan wajah gadis kecil yang menangis di hadapannya malam itu.

Wajah yang penuh ketakutan.

Wajah anak dari pria yang ia bunuh dengan tangannya sendiri.

Selama bertahun-tahun Alden mencoba menghapus kenangan itu. Ia membunuh tanpa emosi, tanpa rasa bersalah, tanpa memikirkan masa lalu.

Sampai suatu hari takdir mempermainkannya.

Ia bertemu kembali dengan gadis itu.

Elena.

Namun Elena tidak mengenalinya.

Baginya, Alden hanyalah pria misterius yang tiba-tiba muncul dan menyelamatkan hidupnya dari bahaya.

Masalahnya… Alden tahu satu hal yang tidak diketahui Elena.

Dialah orang yang menghancurkan hidupnya.

Dialah pria yang merenggut ayahnya.

Dan semakin lama mereka bersama…

Semakin Alden menyadari satu hal yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Ia jatuh cinta pada anak dari pria yang pernah ia bunuh.

Namun rahasia sebesar itu tidak mungkin tersembunyi selamanya.

Karena jika Elena suatu hari mengetahui kebenaran…

Cinta yang baru saja tumbuh di antara mereka mungkin akan berubah menjadi kebencian paling mematikan.

Dan saat hari itu datang…

Alden harus memilih.

Melindungi wanita yang ia cintai…

atau menghadapi konsekuensi dari dosa yang ia lakukan sepuluh tahun lalu.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Malam yang Tidak Terlupakan
Bab 1 Malam yang Tidak Terlupakan “Jangan tembak! Tolong… jangan!” Suara seorang pria tua pecah di dalam ruangan kerja yang gelap itu. Tangannya gemetar hebat di udara, seolah dengan begitu peluru yang mengarah ke dadanya bisa berhenti. Namun pria yang berdiri di seberangnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Topeng menutupi setengah wajahnya. Dan di tangannya, sebuah pistol dengan peredam suara mengarah lurus ke jantung targetnya. Sunyi. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan. Tik… Tik… Tik… Pria tua itu menelan ludah dengan susah payah. “A-aku bisa memberimu uang,” katanya tergagap. “Berapa pun yang kau mau. Aku—” “Diam.” Suara pembunuh itu rendah dan dingin. Satu kata saja sudah cukup membuat ruangan terasa semakin mencekam. Pria tua itu langsung membungkam diri. Pembunuh itu melangkah mendekat perlahan. Langkahnya ringan, hampir tidak bersuara di atas lantai marmer mahal. Di dunia bawah tanah, ia dikenal dengan satu nama. Alden. Seorang pembunuh bayaran yang tidak pernah gagal menyelesaikan pekerjaannya. Tidak ada emosi. Tidak ada belas kasihan. Hanya pekerjaan. Ia berhenti tepat dua meter dari targetnya. “Pesan terakhir?” tanyanya datar. Pria tua itu menatap pistol di tangan Alden, lalu menutup matanya dengan putus asa. Namun sebelum ia sempat berkata apa pun— BRAK! Pintu ruangan tiba-tiba terbuka keras. Alden langsung menoleh. Seorang gadis muda berdiri di ambang pintu. Napasnya terengah-engah seperti baru saja berlari. Matanya yang besar langsung menangkap pemandangan di depannya. Pistol. Pria bertopeng. Dan ayahnya yang gemetar ketakutan. “AYAH!” Gadis itu berteriak histeris. Tanpa berpikir panjang ia berlari masuk ke dalam ruangan. Alden mengerutkan dahi sedikit. Ini tidak ada dalam rencana. Biasanya rumah seperti ini sudah bersih sebelum ia datang. Namun sekarang ada saksi. Dan saksi berarti masalah. Gadis itu langsung berdiri di depan pria tua itu, melindunginya dengan tubuhnya. “Apa yang kau lakukan?!” teriaknya dengan suara bergetar. Alden tidak menjawab. Ia hanya mengarahkan pistolnya sedikit lebih tinggi. Sekarang bukan lagi ke arah pria tua itu. Melainkan tepat ke arah kepala gadis itu. Ruangan mendadak menjadi sangat sunyi. Gadis itu membeku. Matanya membelalak melihat moncong pistol yang kini mengarah padanya. Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berbicara. Lalu suara pria tua itu terdengar parau dari belakangnya. “Elena… pergi dari sini…” Gadis itu menggeleng cepat. “Tidak!” Air mata mulai mengalir di pipinya. “Aku tidak akan meninggalkan Ayah!” Alden mengamati mereka berdua dengan tatapan datar. Drama keluarga seperti ini bukan sesuatu yang asing baginya. Ia sudah melihat terlalu banyak tangisan. Terlalu banyak permohonan. Namun tidak satu pun dari itu pernah mengubah hasil akhirnya. Jarinya mulai menekan pelatuk. Namun tiba-tiba— Gadis itu bergerak. Ia melangkah lebih dekat, berdiri tepat di depan pistol itu. “Kalau kau ingin membunuhnya…” katanya dengan suara bergetar. “…bunuh aku dulu.” Alden berhenti. Matanya menyipit sedikit di balik topeng. Berani. Atau mungkin bodoh. Ia tidak bisa memutuskan. Namun yang paling aneh adalah sorot mata gadis itu. Tidak hanya ketakutan. Ada sesuatu yang lain. Keberanian. Keputusasaan. Dan tekad yang aneh. Alden tidak pernah melihat seseorang berdiri di depan pistol dengan tatapan seperti itu. Kebanyakan orang akan berlutut. Menangis. Memohon. Namun gadis ini tetap berdiri tegak meskipun seluruh tubuhnya gemetar. “Pergi,” kata Alden akhirnya. Suaranya rendah. Gadis itu menggeleng lagi. “Tidak.” Pria tua di belakangnya tiba-tiba menangis. “Elena! Dengarkan dia! Pergi!” Namun Elena tidak bergerak sedikit pun. “Ayah tidak melakukan apa-apa!” katanya putus asa. “Kau pasti salah orang!” Alden tahu itu tidak benar. Ia tidak pernah salah target. Nama. Alamat. Rutinitas. Semuanya sudah dipastikan sebelum ia menerima pekerjaan. Namun gadis ini jelas tidak tahu apa-apa. Dan sekarang ia berdiri tepat di tengah pekerjaan Alden. Gangguan. Masalah. Saksi. Secara logika, ia seharusnya menembak keduanya sekarang juga. Namun entah kenapa jari Alden tidak menekan pelatuk. Tatapan gadis itu masih terpaku padanya. Dan untuk sesaat, Alden merasa seperti sedang dilihat bukan sebagai pembunuh. Melainkan sebagai manusia. Perasaan aneh itu membuat dadanya terasa tidak nyaman. Ia tidak suka itu. Alden menghela napas pelan. Lalu— PSSST! Suara peluru yang teredam memecah ruangan. Tubuh pria tua itu tersentak keras. Matanya membelalak sebelum perlahan kehilangan cahaya. Darah mulai mengalir dari dadanya. Elena membeku. Beberapa detik ia bahkan tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Lalu tubuh ayahnya jatuh ke lantai. “Ayah…?” Suaranya hanya bisikan. Ia berbalik perlahan. Melihat tubuh yang sudah tidak bergerak itu. “Ayah…” Tangannya menyentuh bahu pria itu. Tubuhnya dingin. Kaku. Matanya mulai berkaca-kaca. “AYAH!!” Jeritannya memecah kesunyian rumah besar itu. Elena langsung berlutut di samping tubuh ayahnya. Air matanya jatuh tanpa henti. “Bangun… Ayah… tolong bangun…” Namun tidak ada jawaban. Tidak akan pernah ada lagi. Di belakangnya, Alden sudah menurunkan pistolnya. Pekerjaan selesai. Seharusnya ia langsung pergi. Namun langkahnya tertahan. Gadis itu masih menangis di lantai. Bahunya bergetar hebat. Tangannya menggenggam pakaian ayahnya yang kini berlumuran darah. Pemandangan itu anehnya membuat Alden merasa… terganggu. Ia tidak suka berada di dekat emosi seperti ini. Tanpa berkata apa pun, ia berbalik menuju pintu. Namun sebelum ia keluar— “Elena!” Suara langkah kaki terdengar dari lorong. Beberapa orang berteriak panik. Pengawal. Alden mengumpat pelan. Terlalu lama. Ia melompat keluar jendela yang sudah ia siapkan sebagai jalur kabur. Tubuhnya mendarat ringan di taman belakang. Dalam hitungan detik ia sudah menghilang ke dalam kegelapan malam. Di dalam rumah, suara tangisan Elena masih terdengar. Namun Alden tidak menoleh lagi. Bagi seorang pembunuh, masa lalu tidak seharusnya berarti apa-apa. Namun entah kenapa… Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya… Alden tidak bisa melupakan sorot mata seseorang. Sorot mata seorang gadis yang berdiri di depan pistolnya tanpa takut. "Sial, seharusnya aku membunuhnya," batin Alden, tapi pada kenyataannya. Ia tidak mampu menekan pelatuk nya untuk menembak Elena. Namun, suara jerit tangis Elena menghantui benak nya. "Apa salah ayahku? Kenapa kamu membunuhnya? Kenapa!?" Ucapan itu membuat Alden jadi tidak tenang sendiri. "Apa yang terjadi padaku? Kenapa hatiku tiba-tiba merasa bersalah? Bukankah aku sudah terbiasa dengan membunuh?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

JANUARI

read
50.2K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.9K
bc

HAN MIN

read
9.4K
bc

Kali kedua

read
220.2K
bc

TERNODA

read
200.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook