Bab 42

1033 Kata

Setelah 3 hari berlalu... Andini berjalan gontai menuju ke parkiran kantornya. Ia lelah mengurus beberapa susulan berkas perceraian pada Laily serta pemantauan proyek. "Enaknya ngopi dulu sebelum pulang," ucap Andini. Andini menekan pedal gas sedikit lebih dalam, mobil tua itu meraung pelan menyusuri jalanan menuju kafe favoritnya. Langit sore mulai mendung, udara terasa lembap, membuat suasana hati Andini makin berat. "Kenapa nih?!" Tiba-tiba, getaran aneh mengguncang setir, diikuti bunyi mendesis yang menusuk telinga. Dia menepikan mobil, menurunkan kaca jendela, dan melihat ke arah roda. Matanya membelalak saat menyadari dua ban bagian kiri sudah kempes, bahkan bocor parah. “Astaga, hari ini kok sial banget sih,” keluh Andini sambil menghela napas panjang. Tangannya lem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN