Bab 41

1105 Kata

"Besok saja, sekarang istirahatlah." Julia pun mengangguk. Ia pun segera melangkah ke arah kamarnya. "Bikin gara-gara saja gundik itu," batin Andini. Andini melangkah pelan menuju kamar, suara langkahnya nyaris tanpa jejak di lantai kayu yang dingin. Di sana, Bram sudah tertidur pulas, wajahnya yang biasanya keras kini lembut dan tak berdaya dalam gelap malam. "Mumpung dia tertidur seperti ini, aku akan segera mengurus semuanya," batin Andini. "Aku akan merebut kembali harta yang ku punyai dahulunya. Tidak sepeserpun aku ikhlas jika digunakan untuk menghidupi hidup gunduk itu, apalagi selingkuhan lainnya Mas Bram," lirih Andini. Andini menatapnya sejenak, campuran rasa benci dan kecewa berkelindan di matanya, tapi ia tak membiarkan perasaan itu menguasai dirinya. Dengan gera

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN