Bram menghela nafas panjang. "Jelas aku cemburu, Andini. Dia seperti mendekat padamu." Andini tersenyum tipis. "Kamu terlalu berlebihan Mas. Sudahlah, mau sampai kapan kamu cemburu? Toh dia sudah pergi," ujar Andini dengan tenang. Andini lantas menggandeng tangan suaminya. "Ayo kita pulang, hmmm?" Bram masih tersulut emosi saat itu. Ia hanya berdiam diri di tempat. "Aku gak suka kamu dekat sama dia, Sayang." "Come on, Mas. Dia cuma orang lain, dia pemenang lelang lukisanku. Ya ampun...." ucap Andini terkekeh pelan. Akhirnya setelah beberapa kali dibujuk, Bram pun luluh oleh bujuk rayu Andini. "Ya sudah, ayo kita pulang." Mereka pulang menaiki mobil mewahnya. Di perjalanan, Bram hanya diam saja. Ia menunjukkan gelagat kesalnya yang belum berkesudahan. "Masih marah?" Tidak ada ja

