Panggilan telepon itu berakhir, menampilkan senyum menyeringai dari Andini di ruang kerja itu. Jemarinya mengetuk meja itu secara bergantian. "Bagus, langkah yang bagus. Awalan yang sungguh memuaskan," ucap Andini seraya beranjak dari kursinya. "Rasain kamu, Mas. Emangnya enak?" tanya Andini. Ia mengambil tas brandednya untuk dibawa ke rumah sakit. Dengan supercarnya itu, Andini meluncur ke rumah sakit yang sudah dibagikan oleh Armor. "Ngrepotin aja sukanya," ucap Andini. Selang 5 menit saja, Andini telah sampai. Sesegera mungkin, Andini meneteskan obat mata agar terlihat dramatis. "Andini, saat ini, kamu harus jadi pemeran utamanya," batin Andini segera keluar dan menuju ke IGD. Terlihat Armor yang duduk dengan pandangan menunduk di kursi tunggu. "Armor... " "Bu Andini... "

