Kabar duka

1133 Kata
Kehamilan Nina sudah menginjak usia lima bulan dan beberapa bulan ini Rama tidak pernah menemui Nina kembali. Mungkin karena waktu itu Nina sempat bertemu dan bicara empat mata dengannya. Yang entah membahas apa, namun setelah hari itu aku tidak pernah mendapatkan kabar bahwa Rama ingin bertemu dengan Nina ataupun kiriman makanan dari lelaki itu. Selama kehamilan ini pun hubungan aku dengan Nina sudah selayaknya pasangan suami-istri lain. Aku sudah sangat menerima kehadiran dia dalam hidupku, setiap apa pun yang dia lakukan selalu membuatku merasa bersyukur karena memiliki istri seperti dirinya. Rian malah semakin manja pada Nina disaat usia kandungan Nina semakin besar. Mungkin Rian agak takut kalau kehadiran adiknya membuat rasa sayang Nina kepada dia berkurang atau bahkan tidak lagi menyayangi, padahal tidak seperti itu. Nina selalu mengatakan kepadaku bahwa dia akan memperlakukan Rian dan anaknya sama. Tidak ada yang membeda-bedakan karena kami sudah menjadi suami istri maka keduanya adalah anak kami. Sore ini aku masih berada diluar rumah, tidak berada di restoran namun aku dalam perjalanan menuju tempat istri pertamaku. Aku sedang merindukan dia dan selalu begitu, karena itu aku selalu mengunjungi dia di sana. Aku ingin bercerita kepadanya, bagaimana kehidupanku sekarang. Bagaimana aku berhasil hidup tanpa dirinya meskipun di awal sangatlah berat, namun seperti yang selalu Javi maupun Nares katakan, bahwa aku harus tetap menjalani kehidupanku meskipun tanpa Atika di sampingku. Karena itu aku yakin Atika juga bahagia di sana melihatku sekarang sudah baik-baik saja. Meskipun kehilangan dia, namun aku mulai terbiasa tanpa dirinya. Aku juga mulai terbiasa dengan Nina yang sekarang berada di kehidupanku, terbiasa dengan dirinya yang tidur di sampingku setelah tempat itu cukup lama kosong dan begitu dingin. Sampai di tempat pemakaman umum, aku langsung berjalan menuju tempat peristirahatan terakhir istri pertamaku, membawa sebuket mawar merah yang tidak pernah aku lupakan setiap kali mengunjunginya di sini. Setelah berada di dekat nisannya, menyimpan buket bunga tersebut seraya mengirimkan doa untuknya. Lalu menatap lekat tulisan namanya yang tidak pernah pudar. Makam Atika sangat bersih dan rapi, artinya orang yang kuminta untuk menjaga makam istriku melakukan tugasnya dengan baik. "Aku kangen kamu, Sayang." Kuelus nisannya, ingin sekali aku mendekapnya. Namun semua itu tidak pernah bisa aku lakukan. Kepergian dia masih jelas teringat dalam benakku, kesakitanku karena kehilangan dia dan anak kedua kami masih selalu membuat tidurku gelisah. Namun aku berhasil menutupi semuanya dari orang-orang disampingku, apalagi Nina. Tetapi setelah keberadaan Nina dan tidur di sampingnya, kegelisahan itu perlahan menghilang. Aku tidak lagi merasa takut untuk memejamkan maga saat akan tidur, tidak lagi gelisah dan terbangun tengah malam karena perasaan bersalah yang selalu menyelimuti hatiku. Nina mampu membuat aku merasakan baik-baik saja, merasakan kenyamanan bersama dengan dirinya. "Usia kandungan Nina udah lima bulan, Sayang. Aku jadi ingat waktu kamu hamil Rian. Perut kamu gemas banget sama kaya Nina sekarang. Kamu nggak apa-apa kan kalau aku menganggap anak Nina seperti anakku sendiri, Rian juga senang karena mau punya adik." Aku terus menceritakan semuanya kepada Atika, berharap keberadaan dia di atas sana mampu mendengar apa yang sedang aku ceritakan kepadanya sekarang. "Aku sekarang nggak akan melakukan kesalahan yang sama dan semoga saja aku bisa memberikan yang terbaik untuk Nina dan anaknya. Maafkan aku karena tidak bisa setia dan menikah satu kali hanya dengan kamu, aku ingin Rian merasakan kasih sayang seorang Ibu." Lalu setelah aku mencurahkan semua perasaan dan segala macam yang ingin aku ceritakan kepada Atika, aku memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Sepertinya akan turun hujan, aku tidak bisa membiarkan Nina bersama dengan Rian di rumah hanya berdua saja. "Nanti aku ke sini lagi, Sayang," ucapku sebelum memutuskan untuk beranjak dari sana dan keluar dari area pemakaman. ** "Mas, gimana ini? Aku dapat kabar kalau Rama kecelakaan dan nggak bisa di selamatkan." Nina menghampiri aku yang sedang berada di dapur, membuatkan roti bakar untuknya atas permintaan Nina tadi. Istriku menangis saat sudah berada di hadapanku sembari memegang handphone miliknya. Aku tentu saja terkejut dengan apa yang dia katakan perihal Rama yang kecelakaan dan tidak tertolong. "Kamu tahu dari mana?" tanyaku. "Berita. Dia kan salah satu pengusaha yang punya perusahaan besar. Katanya tadi malam terlibat kecelakaan dan barusan dikabarkan meninggal dunia." Nina menangis dan aku mengerti perasaannya, bagaimana pun Rama pernah menjadi bagian dalam hatinya. Wajar kalau Nina merasa bersedih dengan kabar ini. "Aku mau ke pemakaman dia, Mas." Perkataan Nina membuatku melotot, tidak sadar kah dia sekarang tengah hamil besar. Tentu saja aku tidak akan mengijinkannya, kalaupun harus ke sana maka aku saja yang menjadi perwakilan. "Kamu diam di rumah. Saya yang akan mewakilkan ke sana, ingat kamu sedang hamil dan saya tidak suka dibantah sekarang," ucapku penuh penegasan. "Tapi, Mas ...." "Saya yang akan datang." Nina akhirnya mengangguk setelah mendengar nada suaraku yang terkesan dingin, tidak ingin dibantah olehnya. Aku pun segera bersiap untuk berangkat ke tempat duka. "Tunggu di rumah, saya akan kasih tahu kamu keadaan di sana," ucapku sebelum berangkat. Perjalanan dari rumah kami ke kediaman orang tua Rama cukup memakan waktu. Ini juga yang menjadi alasan aku untuk tidak mengijinkan Nina datang ke sana, aku tidak ingin dia kelelahan. Apalagi aku sangat tahu bagaimana hubungan Nina dengan keluarga mantan kekasihnya itu, keberadaan Nina pasti akan menjadi perbincangan. Apalagi yang aku tahu Rama tidak menjalin hubungan dengan siapa pun setelah putus dari Nina. Aku tidak ingin istriku terlalu memikirkan hal berat kalau sampai datang ke sana dan tidak mendapatkan perlakuan ramah dari keluarga Rama. Sampai di rumah orang tua Rama, sudah banyak kerabat dan teman-teman yang datang untuk memberikan ucapan belasungkawa. Banyak jiga media yang meliput di sini, membuat aku semakin percaya kalau Rama bukanlah kalangan biasa saja. Aku memasuki rumah dan melihat banyaknya orang di dalam sana. Bahkan aku melihat Javi, sahabatku yang sedang duduk di antara para pelayat. Javi melihatku lalu berdiri dan menghampiriku. "Lo kenal Rama?" tanyaku saat dia sudah berada di hadapanku. Javi menganggukkan kepalanya. "Kita satu sekolahan dulu dan sempat kerja bareng. Lo sendiri dari mana lo kenal sama dia?" "Rama mantan kekasih Nina," jawabku membuat Javi kelihatan terkejut. Apakah aku lupa menceritakan ini pada Javi? Melihat ekspresi dia yang terkejut seperti itu, mungkin aku tidak menceritakan tentang ini kepadanya. "Dunia sempit sekali," katanya setelah menetralkan keterkejutannya. Aku mengangguk, menyetujui ucapannya. Dunia memang sempit sekali sampai orang-orang yang aku kenal nyatanya saling berhubungan dengan orang-orang yang Nina kenal. Setelah itu aku pun mengucapkan turut berduka cita atas kepergian Rama untuk selamanya. Kubilang aku mewakili Nina, bukan statusnya sebagai mantan kekasih namun aku mengatakan karena mereka berteman. Tidak kusangka orang tua Rama malah bertanya keberadaan Nina padaku dan sempat mengutarakan permintaan maaf atas apa yang mereka lakukan di masa lalu. Tentu semua itu akan aku sampaikan kepada Nina, namun soal kehamilan Nina yang merupakan cucu mereka, aku merahasiakannya. Aku tidak mau mengambil resiko seandainya mereka tahu dan melakukan hal yang tidak di inginkan. Aku akan terus melindungi Nina dan anaknya. Itulah janjiku selamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN