Waktu berdua

1045 Kata
Rian senang sekali karena teman-teman dia datang ke rumah. Si kembar yang aku kenal bernama Raja dan Rija datang bersama dengan Ayah dan Ibu mereka. Aku senang bisa mengenal orang tua dari teman-teman Rian seperti ini. Nina juga sudah menyiapkan jamuan untuk mereka, kami sedang menikmatinya di halaman belakang sembari memantau Rian dan si kembar yang sedang bermain bola. "Gue nggak menyangka ternyata Rian adalah anak lo, Bas." "Sama, gue juga nggak nyangka. Lo malah udah punya anak dua, kembar pula." Iya. Aku tidak menyangka bisa di pertemukan kembali dengan teman sekolahku. Orang tua si kembar ternyata teman sekolahku dulu, saat kami masih berseragam putih-abu. Ya, sangat lama sekali memang. Sebenarnya tidak satu sekolah juga, kami kenal karena antara sekolah aku dan dia waktu itu bertanding sepak bola. Aku malah berteman akrab dengan Raka saat itu. Kebetulan juga kami berada di satu komplek rumah yang sama saat dulu, sebelum aku dan keluarga pindah rumah. Tidak menyangka juga setelah cukup lama, bahkan hilang kontak dengan dia. Anak-anak kami malah bertemu dan berteman seperti sekarang. Aku juga sangat terkejut saat Raka datang bersama dengan istrinya ke rumah kami, awalnya aku ragu namun Raka yang sadar lebih dulu dan mengatakan apakah aku adalah Bastian yang satu sekolah dengannya dulu dan merupakan tetangga sebelah rumahnya. Dulu aku tidak hanya pindah rumah, melainkan pindah sekolah ikut dengan Ayah saat mendiang Ayah masih ditugaskan ke luar kota. Waktu itu sempat sekolah di Bandung sebelum akhirnya aku kembali ke Jakarta saat masa kuliah. "Jadi ingat masa sekolah dulu ya, kalian masih sama-sama bahkan sampai menikah. Gue salut banget, hubungan kalian langgeng," ucapku. Aku sangat tahu siapa kekasih Raka di jaman sekolah dan tidak menyangka hubungan mereka awet sekali sampai ke jenjang pernikahan seperti ini. Bahkan aku lihat mereka sangat bahagia dengan anak-anak mereka. "Nggak seperti yang lo bayangkan. Kita sempat putus dulu waktu itu, sebelum akhirnya sampai di titik ini," balas Raka. "Tapi kalian sama-sama lagi, tandanya masih berjodoh." Aku ingat sekali dulu Raka selalu mengajak kekasihnya yang bernama Anjani ke lapangan futsal, saat kami bermain sama-sama. Sudah sangat terkenal sekali bagaimana harmonisnya hubungan mereka berdua, bahkan membuat teman-teman lain termasuk aku juga iri karena mereka tidak pernah terlibat pertengkaran seperti pasangan kekasih lainnya. "Lain kali, kita bisa kumpul sama teman-teman sekolah. Lo masih ingat sama Erza? Dia waktu itu sempat tanya keberadaan lo sih, cuma gue juga nggak tahu kan karena lo ganti nomor dan jadinya kita nggak kontakan lagi," ucap Raka. "Erza? Wah, dia apa kabar sekarang? Pasti udah nikah juga kan. Gue ingat banget kelakuan dia yang kadang absurd." "Dia udah nikah juga, malah otw punya anak yang kedua. Tapi ya gitu, udah jadi Bapak juga tetep aja kelakuan dia kaya dulu, masih absurd." Aku terkekeh, memang selain Raka yang aku kenal karena rumah kami bersebelahan. Aku juga mengenal Erza karena dia termasuk orang yang humble, dia mudah bergaul dengan orang baru termasuk dengan aku dulu, meskipun kami hanya bertemu karena pertandingan sepak bola antar sekolah, meskipun menjadi rival tetapi diluar lapangan kita tetap berteman seperti biasa. "Kapan-kapan bolehlah kita ketemuan, kangen juga sama dia," ucapku. Karena selama ini aku tidak pernah berkomunikasi dengan teman lamaku, mungkin akan sangat menyenangkan kalau kita bisa bertemu kembali setelah sama-sama memiliki anak seperti sekarang. "Boleh, nanti gue kasih tahu Erza." Setelah kami banyak bercerita tentang masa sekolah, malah jadinya asyik berdua. Kami membahas tentang perkembangan anak-anak, banyak yang aku pelajari dari Raka yang mengurus anak kembar, memang hebat sekali mereka bisa seimbang antara satu sama lainnya. Kami juga makan bersama setelah anak-anak selesai bermain bola. Mereka juga sangat senang karena bisa bermain sama-sama seperti ini, bahkan sampai membuat rencana lagi untuk bertemu. Katanya nanti mereka ingin berenang bersama dan tentu saja kami sebagai orang tua memberikan ijin. Rian dan si kembar bisa berteman baik, sama seperti aku dengan Raka dulu. ** "Mas, Rama kirim ini," ucap Nina yang sudah menghampiriku kembali setelah dia menerima tamu barusan. Aku menoleh mendapati Nina yang menujukkan satu kantung plastik yang entah isinya apa. Namun aku lihat logo salah satu toko kue yang tidak jauh dari rumah kami. "Pakai kurir?" tanyaku. Nina mengangguk. "Mau cobain? Ternyata isinya kue keju kesukaan aku, Mas," katanya setelah membuka kotak kue tersebut. Aku menatap Nina. Sebenarnya wajar saja kalau Rama mengirimkan karena memperhatikan anak dalam kandungan Nina. Tetapi aku malah merasa sedikit tidak suka dengan apa yang lelaki itu lakukan. Maksudnya, aku juga bisa membeli kue tersebut untuk istriku kan. "Mas." Suara Nina membuatku tersadar, mungkin karena aku merasa kali ini status Nina adalah istriku jadi asing rasanya kalau ada lelaki lain yang memberikan perhatian kepadanya. Ini bukan berarti aku cemburu kan? "Boleh, saya mau coba juga," jawabku akhirnya. Nina pun tersenyum lebar sembari memotong kue tersebut dan memberikan potongan itu padaku. Aku menerimanya dan langsung melahap kue tersebut, pun dengan Nina yang memang sangat menyukainya. "Enak banget, aku selalu suka sama kue keju," katanya setelah mencicipi kue tersebut "Nanti saya belikan yang banyak," jawabku cepat. Tentu saja aku bisa membelinya untuk istriku sendiri bukan meminta Rama atau lelaki lain yang membelinya. "Kamu tahu nggak sih, Mas. Kalau kaya gini ekspresi kamu tuh kaya suami yang lagi cemburu," ucap Nina tiba-tiba. "Nggak. Saya tidak cemburu." Nina terkekeh melihatku, sementara aku hanya diam saja. Sudah jelas aku merasa ini bukanlah karena aku cemburu, apa yang aku katakan memang benar bahwa aku bisa membelikan Nina kue keju lebih banyak dari apa yang sekarang Rama kirimkan padanya. Uangku lebih dari cukup untuk memborong semua kue kalau Nina menginginkan. Kami pun menikmati kue tersebut, bahkan Nina menghabiskan beberapa potong kue dan memang jelas sekali betapa dia sangat menyukai kue keju. Aku juga selalu diminta untuk membelinya kalau sepulang dari restoran. Padahal aku sendiri hanya makan satu potong saja, segitu sudah kenyang. Rian sedang menginap di rumah Ibu, jadinya sore ini aku hanya berdua saja dengan Nina di rumah. Sejak tadi kami hanya menghabiskan waktu di ruang tengah sembari menonton film horor yang Nina sendiri pilihkan. Ada banyak makanan yang juga kami pesan tadi, Nina akhir-akhir ini suka sekali ngemil bahkan pipinya sudah bulat begitu. Tetapi aku senang karena artinya kebutuhan Nina dan anaknya tercukupi, aku senang karena mereka baik-baik saja dan semakin lama aku juga semakin menantikan kelahiran anak kami. Iya anak kami, bukankah bayi tersebut sudah menjadi anakku juga setelah kita menikah kan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN