Kehamilan Nina

1037 Kata
Berkumpul dengan keluarga adalah hal yang sangat membahagiakan. Momen ini juga aku pakai untuk memberitahu Ibu perihal kehamilan Nina saat ini. Aku akan mengatakan kepada Ibu kalau Nina tengah mengandung anakku, aku tidak ingin Ibu sampai kepikiran karena aku menikah hanya untuk bertanggung jawab atas kehamilan Nina. Meski memang itulah yang terjadi tetapi lebih baik hanya aku dan Nina yang tahu. Karena ini adalah pernikahan kami. Awalnya Nina bilang lebih baik menceritakan semuanya pada Ibu, namun kupikir bukanlah waktu yang tepat apalagi kondisi Ibu selalu kurang stabil setelah pernah sakit waktu itu. Aku selalu menjaga agar Ibu baik-baik saja dan tidak membuat beliau memikirkan sesuatu yang berat. Jadinya perihal fakta kehamilan ini, biar aku dan Nina saja yang mengetahuinya. Kami sedang makan bersama di halaman belakang yang sudah disulap menjadi tempat makan yang nyaman meskipun hanya menggunakan karpet dan meja untuk menyimpan makanan yang sudah dibuat oleh Nina dan Ibu. Rian kelihatan senang karena untuk pertama kalinya makan-makan yang kami lakukan menjadi kian lengkap dengan kehadiran Nina di antara kami. "Ibu senang karena kita bisa kumpul sambil makan bareng kaya gini," ucap Ibu kepada kami. "Aku juga senang, Bu. Sudah lama juga kita nggak makan sama-sama kaya gini," balasku. "Pokoknya kalian tuh harus sering makan sama Ibu di sini, sepi banget kalau nggak ada kalian." "Lagian Ibu udah aku suruh biar tinggal aja sama Bastian di rumah sana, kalau urusan rumah ini kan gampang, bisa di sewakan juga," balasku. Karena selalu mendengar bahwa Ibu merasa sepi kalau tidak ada kami di rumahnya, tetapi setiap kali di ajak untuj tinggal bersama, Ibu selalu menolaknya. "Ibu kan sudah bilang, rumah ini tuh banyak kenangannya, mana mungkin Ibu meninggalkan rumah ini." Aku tahu sekali, apalagi kenangan Ibu bersama dengan Atika sangat banyak sekali di sini. Karena Atika berada di rumah dengan Ibu, otomatis membuat mereka menghabiskan waktu bersama sementara aku sibuk bekerja. "Ibu sering aja menginap di rumah kami," ucap Nina kali ini. "Nah kaya gitu aja, Ibu nggak usah pakai pindah segala," balasnya menyetujui perkataan Nina. Kalau sudah perkataan menantunya pasti saja Ibu nurut, sama seperti dulu beliau yang selalu mendengar perkataan Atika. "Ya sudah, gimana Ibu saja deh," kataku akhirnya. Setelah itu kami pun melanjutkan makan bersama tersebut, ditemani dengan celotehan Rian yang mengatakan besok akan bertemu dengan teman-teman karena mereka akan ke rumah. Aku senang sekali karena Rian memiliki teman akrab seperti ini, tidak seperti sebelumnya yang sulit sekali untuk berteman akrab dengan anak-anak sebayanya. ** Sorenya kami pun memutuskan pulang, setelah hampir seharian berada di rumah Ibu dengan mengisi waktu bersama, terutama Ibu dan Nina yang memilih berkutat di dapur untuk membuat kue, aku menemani Rian yang bermain di halaman belakang setelah acara makan-makan kami. Kali ini dalam perjalanan pulang dan kami akan mampir untuk belanja sebentar. Karena besok akan ada teman-teman Rian bersama dengan orang tuanya, Nina mengatakan akan membuat makanan untuk mereka. Seharusnya waktu itu mereka sudah bertemu di rumah tetapi teman-teman Rian tidak jadi datang karena orang tuanya yang memiliki pekerjaan di luar kota. Alhasil baru besok mereka akan main ke rumah. "Ma, Rian pengen bikin puding cokelat. Pasti enak banget," ucap Rian saat kami sudah berada di supermarket untuk berbelanja. Nina dan Rian berjalan di depanku, sementara aku mendorong trolly belanja yang sudah terisi beberapa belanjaan di belakang mereka. Keduanya tampak asyik berbicara, saling meminta pendapat satu sama lain. Yeah, mereka seolah lupa akan kehadiranku bersama dengan mereka, kalau sudah asyik berdua memang seperti itulah mereka. "Dan kalian mengabaikan Ayah di sini," ucapku membuat keduanya kompak menoleh, lalu kulihat mereka tertawa pelan dan melanjutkan kegiatan mereka berdua. "Ayah jangan cemberut gitu, kaya anak kecil," ucap Rian yang kudengar sebelum mereka kembali asyik berdua. Baiklah, mungkin seperti ini menjadi orang ketiga di antara anak dan istriku sendiri. "Mas, nanti malam mau makan sama apa?" tanya Nina, kali ini dia bertanya kepadaku setelah menaruh satu kotak s**u cokelat kesukaan Rian ke dalam trolly. "Pengen mie," jawabku membuat Nina tampak protes mendengarnya. "Kenapa?" tanyaku kembali. "Masa sama mie, perasaan kemarin udah makan deh. Nggak baik tahu, Mas." "Dua minggu yang lalu saya makan mie," jawabku. Seingatku memang sudah dua minggu lalu aku memakan mie dengan sayuran yang banyak karena dia sendiri menyuruhku menambahkan sayuran, bahkan sampai banyak. Katanya biar tetap sehat. "Ya udah deh, nanti aku bikin mie buat kamu. Rian jangan di kasih ya, nggak baik kalau dia sering makan mie, kamu tuh harusnya juga tahu, mencontohkan yang benar," ucapnya setengah mengomel padaku. Aku tersenyum seraya mengacak rambutnya, gemas. "Iya, nanti nggak akan makan mie banyak-banyak. Kamu ternyata bawel juga ya," kataku. "Kalau buat kebaikan nggak apa-apa." Aku mengangguk lalu kembali mengajak Nina untuk berjalan setelah mendengar Rian berteriak memanggil kami seraya menunjukkan mie dengan kemasan berwarna hijau yang katanya mie sehat, membuat Nina berdecak melihatnya sementara aku terkekeh. "Namanya juga anak saya," ucapku yang melihat Rian sepertinya menginginkan menu makan malam yang sama seperti yang aku katakan tadi pada Nina. Ada dua kantung belanjaan yang sudah aku masukkan ke dalam mobil, di bagian belakang. Kami tidak mampir ke mana-mana lagi karena langit tiba-tiba turun hujan, membuat kami memutuskan untuk langsung ke rumah saja. Aku juga tidak mau kalau Nina dan Rian kelelahan. Apalagi kondisi Nina sedang mengandung, sebisa mungkin harus aku pastikan agar dia baik-baik saja dan tidak terlalu kelelahan dengan aktifitas yang dia lakukan. "Mas, aku boleh minta sesuatu?" tanya Nina membuatku menoleh sebentar sebelum kembali fokus pada jalanan di depanku. "Minta apa?" tanyaku balik. "Tiba-tiba pengen sosis bakar," jawabnya yang terdengar ragu. Mungkin karena ini menjadi permintaan pertama dia kepadaku di saat tengah hamil. Aku tentu saja tahu, Nina sedang mengidam. Persis Atika dulu yang meminta makanan ataupun hal lainnya kepadaku saat hamil Rian. Dengan senang hati aku menurutinya dan segera mencari penjual sosis goreng dalam perjalanan kami menuju rumah. Aku tidak mungkin mengabaikan keinginan Nina, bukannya aku bilang kan kalau akan bertanggung jawab atas janin yang ada dalam kandungannya. Aku akan memastikan kalau Nina baik-baik saja dan tidak akan membuatnya stress ditengah kondisi kehamilannya. Aku juga meminta kepada Rian agar menjaga mamanya karena ada adik dalam perut Mama. Tentu Rian senang saat tahu kalau dia akan memiliki adik. Harapanku, kami bisa menjadi keluarga kecil yang bahagia dan Rian bersama adiknya nanti akan akur-akur saja meskipun mereka bukanlah saudara kandung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN