Aku membujuk Nina untuk bertemu dengan Rama, karena aku tidak ingin lelaki itu malah menjadi memaksa dan melakukan tindakan tidak terduga nantinya, saat Nina terus saja tidak ingin bertemu dengan dia.
Beruntung Nina bisa kubujuk, dia mau bertemu dengan Rama asalkan bersama dengan aku yang menemaninya. Tentu saja aku mengiyakan apa yang Nina inginkan dan akhirnya aku pun merencanakan pertemuan itu, menghubungi Rama yang sebelumnya sudah aku minta untuk meninggalkan nomor kontaknya.
Kami bertemu di salah satu cafe, tidak jauh dari restoranku. Semula aku pikir di restoran pun tidak masalah, namun Nina menolak karena dia merasa tidak enak jika pegawai restoranku melihat semuanya.
Aku membiarkan mereka duduk berdua, saling berhadapan, sementara aku berada tidak jauh dari meja mereka, masih dalam pandanganku namun aku juga memberikan ruang untuk keduanya. Meskipun aku adalah suami dari Nina, tetapi aku tidak bisa ikut campur begitu saja di antara mereka, biar menjadi urusan mereka saja. Kecuali kalau Rama sudah bertindak berlebihan maka aku akan mulai memasang badan.
Aku tidak tahu apa yang mereka bahas, namun aku lihat Rama tampak menjelaskan dan berusaha untuk menggenggam tangan Nina yang berada di atas meja, sebelum akhirnya Nina menepisnya.
Kalau kulihat dan menyimpulkan sendiri, sepertinya Rama tengah membujuk Nina untuk kembali bersama dengan dirinya, karena anak yang berada dalam kandungan Nina.
Tidak berselang lama, Rama tampak beranjak dengan raut wajah yang terlihat pasrah setelah pembicaraan mereka yang aku yakini bahwa Nina tidak menerimanya. Lalu Rama menghampiriku saat aku hendak beranjak dari tempat duduk.
"Jaga Nina dan anak saya, mungkin saya dengan Nina tidak bisa bersama lagi karena semua murni kesalahan saya. Tetapi saya harap kalian tidak melarang saya untuk menemui anak saya kelak."
Rama bicara padaku setelah dia berdiri di hadapanku. Lelaki itu tampak serius sekali, aku mengangguk menyetujuinya. Tanpa dia bicara seperti itu pun, aku tentu saja akan menjaga Nina dan anaknya, karena Nina sudah menjadi istriku dan anak yang ada dalam kandungan Nina pun sudah seperti anakku sendiri, sama seperti Nina yang menganggap Rian sebagai anaknya sendiri.
Lalu setelah itu, Rama pergi dari hadapanku, keluar dari cafe yang tentu saja dengan rasa bersalahnya karena tidak bisa kembali dengan Nina, sekalipun dia berusaha membujuknya.
Aku menghampiri Nina yang masih duduk di tempatnya, jika aku benar menyimpulkan tatapan Nina, tidak ada lagi perasaan untuk Rama darinya. Mungkin karena lelaki itu telah menyakiti dia terlalu dalam. Dan karena itu juga, mengingatkan aku pada apa yang aku lakukan saat bersama dengan Atika dulu, menyakitinya terlalu dalam.
Rama adalah gambaran aku dulu, menyakiti perempuan namun bedanya dia tidak sempat memiliki kembali dan mempertanggung jawabkan apa yang dia lakukan. Sementara aku bertanggung jawab namun malah semakin menyakiti Atika. Kami adalah lelaki yang tidak bersyukur telah dipertemukan dengan perempuan luar biasa, namun bagiku itu dulu.
"Mas nggak penasaran apa yang aku obrolin sama Rama?" tanya Nina saat kami berada di dalam mobil, dalam perjalanan pulang.
Aku menoleh sebentar sebelum mengangguk menjawab pertanyaannya. "Karena itu urusan kamu sama dia, aku nggak akan ikut campur, kecuali kalau dia udah melakukan hal yang keterlaluan, baru aku akan ikut campur."
"Rama itu pacar pertama aku dari jaman sekolah dulu. Hubungan kami sebenarnya nggak dapat restu dari orang tua dia karena menurut orang tuanya aku nggak sepadan dengan Rama, terlalu jauh perbedaan kami. Mungkin karena aku udah nggak punya orang tua dan hidup sederhana."
Tanpa diminta, Nina menceritakan semuanya kepadaku. Bagaimana hubungan dia dengan Rama yang dimulai saat mereka masih berada di bangku sekolah. Aku tidak menyangka bahwa hubungan mereka tidak mendapatkan restu, tetapi bertahan sampai beberapa tahun.
"Waktu lulus, aku dapat beasiswa buat lanjut kuliah, sementara dia kuliah di luar kota atas keinginan orang tuanya. Tapi kami masih menjalin hubungan walaupun jarak jauh, dia membuktikan kalau hubungan kami tetap baik-baik saja meskipun nggak selalu ketemu dan komunikasi lewat telepon sama video call."
"Tapi hubungan kami emang udah jauh, nggak kaya pacaran biasa dan aku akui terlalu penurut sama dia. Semua berawal dari liburan semester kami, Rama dan aku berhubungan seperti suami-istri. Karena kami merasa semuanya berjalan baik dan seperti biasa, Rama terus menginginkan hubungan yang seperti itu."
Aku benar-benar menyimak apa yang Nina ceritakan, sepanjang perjalanan pulang kami untuk menjemput Rian di rumah Ibu. Dalam mobil diisi dengam cerita masa lalu Nina bersama Rama, meskipun aku menjadi suaminya sekarang, aku tidak cemburu sama sekali.
"Tetapi semuanya semakin rumit waktu orang tua Rama tahu kalau kami berhubungan, Rama semakin di tekan untuk menjadi yang terbaik. Sampai akhirnya Rama benar-benar fokus bekerja setelah lulus. Kami masih menjalin hubungan di belakang orang tua, Rama yakin suatu hari akan mendapatkan restu apalagi aku sudah memiliki pekerjaan sebagai guru."
"Aku percaya karena selama ini dia selalu membuktikan, aku memberikan semuanya sama dia dan ya, aku memang bodoh sekali. Terakhir kita melakukan hubungan itu, malah menjadi awal dari semua pertengkaran kami karena aku dinyatakan hamil. Katanya dia belum siap menjadi ayah, padahal aku juga waktu itu belum siap karena tujuanku memiliki pekerjaan tetap dan bisa hidup lebih baik dari sebelumnya dengan hasil keringatku sendiri. Tetapi mungkin naluri seorang ibu, aku senang atas kehadiran calon anak kami, hanya saja dia selalu mengatakan belum siap sampai puncaknya kami bertengkar dan dia mengatakan ingin mengejar mimpinya, menganggap kehadiran anak menjadi penghalang masa depannya."
Aku tahu Nina sangat kecewa dengan apa yang Rama lakukan, kesal, sedih dan kecewa pastinya bercampur menjadi satu. Wajar pada akhirnya Nina memilih untuk pergi dan tidak menerima Rama kembali sekalipun lelaki itu membujuknya.
"Kamu perempuan hebat, kamu bisa melewati semuanya selama ini hanya sendirian," ucapku setelah dia selesai bercerita. Tidak banyak yang aku komentari, karena tidak ada yang harus di komentar juga dari ceritanya.
Semua sangat jelas karena Rama sendiri yang menelantarkan Nina dan calon anaknya. Bahkan sampai menganggap bahwa kehadiran anak tersebut menjadi penghalang masa depannya. Aku tidak akan membuat Nina menangis, terlalu banyak air mata yang keluar saat hidupnya berat karena apa yang Rama lakukan. Aku hanya ingin melihat senyum di wajahnya, karena di saat dia tersenyum, aku selalu merasa bahagia.
Nina juga kebahagiaan yang dimiliki Rian, kalau dia menangis tentu saja akan membuat anakku bersedih, karena sekarang Nina sudah menjadi ibunya, yang sangat disayangi.