Kedatangan seseorang

1065 Kata
Semuanya tampak baik-baik saja sampai hari ini, Nina menjalankan peran sebagai istri dan ibu dengan sangat baik. Aku juga sudah terbiasa dengan semua yang dia lakukan, termasuk bagaimana dia menyiapkan semua keperluanku. Jika orang melihat, mungkin mereka sudah menyangka bahwa kami adalah pasangan suami-istri yang serasi dan begitu harmonis. Ditambah dengan adanya Rian diantara kami, bak keluarga kecil yang bahagia. Aku berhasil mewujudkan sebuah keluarga untuk Rian, anakku bahkan selalu tampak ceria dan tidak seperti dulu yang lebih banyak diam, menutup diri dari orang-orang karena merasa tidak memiliki seorang ibu. Sekarang dengan bangganya dia selalu mengatakan bahwa dirinya memilih ibu sama seperti yang lain. Aku senang melihat Rian tumbuh dengan baik juga sangat menyayangi Nina yang sekarang berstatus sebagai ibunya. Tentang perasaanku. Nina masih memaklumi bahwa aku tidak sepenuhnya membuka hatiku, perempuan yang sudah resmi menjadi istriku satu bulan ini sangat paham akan perasaan yang aku miliki, bahwa tidak akan pernah ada dirinya saja, namun mendiang istri pertamaku akan terus ada dalam hatiku. Semula aku pikir semua ini akan menyakitinya, namun Nina baik-baik saja. Dia tidak pernah merasa terganggu dengan apa yang aku lakukan dan rasakan, semuanya dia anggap hal yang wajar. Apalagi setelah mendengar cerita lengkap bagaimana hubungan aku dengan Atika di masa lalu. Dan lagi, aku sangat terkejut dengan pengakuan dirinya. Nina mengatakan bahwa dia sudah jatuh cinta padaku, entah sejak kapan namun kali ini dia merasakan hal yang berbeda setiap bersama denganku. Aku sangat menghargai perasaanya, aku pun mencoba untuk membuka hati dan yang kurasakan sekarang aku menyayanginya. Bukan lagi sebagai Ibu pengganti melainkan karena dia adalah istriku. Hal yang sangat wajar kan, kalau aku menyayangi istriku sendiri, meskipun dia belum seutuhnya menjadi istriku. Hal yang tidak terduga terjadi, aku sendiri tidak menyangka akan secepat ini permasalah di rumah tanggaku terjadi. Bukan konflik antara aku dan Nina, melainkan adanya lelaki lain yang masuk ke dalam kehidupan kami. Lelaki itu mantan kekasih Nina, yang tiba-tiba saja datang dan mengatakan ingin bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat kepada Nina, atas janin yang berada dalam perut Nina. Ke mana saja dia selama ini? Pertanyaan itu tentu saja menjadi hal utama yang ada dalam otakku, setelah Nina resmi menjadi istriku, kenapa juga lelaki itu malah ingin bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Nina sendiri tidak mau. Dia bahkan selalu menghindar setiap kali lelaki yang aku kenal bernama Rama berusaha untuk bertemu dengannya. Bahkan tidak menyangka lelaki itu sampai tahu alamat rumah kami, seperti sekarang dia sudah berada di depan rumah kami. "Mau apalagi?" tanyaku. Dia kelihatan tidak suka, ketika aku yang membukakan pintu rumah dan menyambut kedatangannya. "Saya ingin bertemu dengan Nina," katanya. "Istri saya tidak ingin bertemu dengan anda," jawabku seraya memberikan penekanan pada kata istri saya. Aku ingin dia menyadari bahwa sekarang semuanya sudah berubah. Nina bukan lagi kekasihnya, melainkan sudah menjadi istriku dan sudah menjadi tanggung jawabku. "Saya tidak ada urusan dengan anda. Urusan saya dengan Nina," ucapnya masih keukeuh saja ingin bertemu dengan Nina. Padahal sudah beberapa hari ini kedatangan dia sama sekali tidak digubris oleh Nina. Rian yang mengatakannya kepadaku, bahwa ada seorang lelaki yang selalu datang saat aku bekerja. Namun Mama tampak ketakutan, membuat Rian selalu memasang badan sampai akhirnya mengatakan semuanya kepadaku. Aku tentu saja khawatir, apalagi kondisi Nina tengah berbadan dua. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Nina dan anaknya. Alhasil hari ini aku tidak pergi ke restoran, memilih untuk berada di rumah dengan istri dan anakku, meskipun weekend restoran akan ramai namun keluargaku lebih penting dari itu. "Saya tahu, tetapi istri saya tidak ingin bertemu dengan anda. Lebih baik kita bicarakan semuanya dengan kepala dingin, apa yang anda inginkan. Kalau bertanggung jawab atas apa yang telah anda lakukan, sebaiknya anda urungkan saja karena sekarang Nina sudah menjadi istri saya dan saya yang bertanggung jawab atas dirinya termasuk janin yang berada dalam kandungannya." Aku bicara panjang lebar agar dia mengerti posisinya, mungkin fakta memang mengatakan bahwa dia adalah Ayah biologis dari anak yang Nina kandung, namun kenyataannya sekarang adalah aku yang menjadi suami Nina dan Nina sendiri yang menginginkan aku untuk menjadi Ayah dari calon anaknya. "Saya sangat menyesal," ucap Rama kali ini wajahnya tampak sendu. Tidak seperti tadi yang kelihatan angkuh sekali. "Penyesalan memang selalu datang diujung, tetapi sekarang anda harus mengerti dan sadar bahwa anda sudah lepas dari tanggung jawab untuk menikahi Nina karena anak dalam kandungannya. Anda sendiri sudah mendengar kan kalau dia sudah menjadi istri saya." Rama diam. Mungkin lelaki itu sudah menyadari bahwa semua tidaklah sama, dia tidak bisa dengan entengnya ingin bertangung jawab dan menikahi Nina. Karena sudah jelas Nina menjadi istriku sekarang. Aku juga tidak seberengsek itu untuk melepaskan Nina dan membiarkan dia menikah dengan mantan kekasihnya. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama, menyakiti Nina adalah hal yang aku hindari. Nina juga bukanlah barang yang bisa di pindah-pindah kepemilikannya, kalau Nina sudah menjadi istriku maka selama aku hidup dia akan tetap memiliki status yang sama. "Saya benar-benar ingin bertemu dengan Nina. Saya ingin meminta maaf karena sudah pernah menolak untuk bertanggung jawab, karena saat itu saya merasa keberatan anak akan menghalangi fokus saya untuk melebarkan karier." Aku tidak menyangka sependek itu pemikiran Rama, bahkan dulu meskipun dengan terpaksa aku tetap bertanggung jawab atas kehamilan Atika yang karena sebuah kesalahan. Karena kehadiran seorang anak bukanlah sebuah kesalahan ataupun penghalang, meski caranya hadir dari sebuah kesalahan. Anak itu tetaplah anugerah yang telah Tuhan titipkan. Bahkan seharusnya merasa bersyukur saat Tuhan memberikan kepercayaan dengan menitipkan seorang anak, karena tidak setiap orang yang menikah bisa langsung diberikan momongan. Ada yang sampai bertahun-tahun menunggu kehadirannya. "Saya akan membujuk dia. Tetapi saya tidak bisa memaksa dan keputusan apakah dia ingin bertemu dengan anda, menjadi keputusan istri saya. Mungkin beberapa hari ke depan anda jangan dulu muncul, saya akan memberikan kabar jika memang Nina mau bertemu." Rama tampak memikirkan perkataanku. Aku bukannya ingin menghalangi, tetapi kalau Nina masih belum ingin bertemu dengan Rama, tentu saja aku tidak akan memaksa. Aku tidak ingin Nina merasa terbebani sampai akhirnya memengaruhi kandungannya. Aku tahu Rama masih memiliki hak atas anak yang berada dalam kandungan Nina, karena lelaki itu adalah ayahnya. Aku juga tidak akan melarang Rama untuk bertemu dengan anaknya, kelak saat anaknya lahir. Namun aku juga harus memikirkan perasaan Nina, bagaimana pun pasti masih sakit hati atas apa yang Rama lakukan, atas penolakan yang Rama berikan. "Saya berjanji tidak akan melarang anda untuk bertemu dengan anak anda nanti, tolong berikan Nina waktu, demi kandungannya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN