Pernikahanku dengan Nina sudah dilaksanakan. Seperti yang Nina inginkan, pernikahan ini diadakan dengan sederhana dan hanya mengundang keluarga juga teman-teman dekat saja.
Aku tidak menyangka untuk kedua kalinya menjadi seorang suami, pernikahan yang untuk kedua kalinya dilangsungkan dalam waktu singkat. Namun bedanya, kali ini tanpa sebuah paksaan atau sebuah tanggung jawab. Melainkan karena aku ingin membahagiakan Rian dan memberikan status yang jelas dari bayi yang berada dalam kandungan Nina.
Mungkin bagi beberapa orang pernikahan ini tetap saja karena sebuah alasan. Tetapi bagiku yang kali ini benar-benar berharap untuk yang terakhir aku jalani dan tentunya aku tidak akan memberikan luka yang dulu kulakukan kepada Atika, pada Nina kali ini.
Acara masih berlangsung, lebih tepatnya kali ini aku tengah bersama dengan keluargaku setelah tamu undangan lain membubarkan diri. Ada Nares dan Indira yang masih bersama kami, juga Javi yang datang sendirian. Anak-anak sedang sibuk dengan mainan mereka, sementara kami tengah berbincang santai.
"Ada rencana honeymoon ke mana, Bas?" tanya Javi dengan tatapan tengah melemparkan godaan.
Aku dan Nina saling berpandangan, lalu kompak menatap Javi kembali. "Belum ada rencana," jawabku mewakili.
"Pas kalau gitu." Javi tampak semangat sekali, kemudian memberikan amplop kepada kami berdua, "Hadiah honeymoon dari gue, nggak keluar negeri sih. Dalam negeri aja tapi gue udah siapin semuanya khusus buat lo," katanya lagi menjelaskan maksud dari dirinya memberikan amplop tersebut.
"Dan ini dari gue sama Indira," ucap Nares kali ini seraya memberikan kotak hadiah yang berukuran cukup besar, yang aku tidak menyadari kapan kotak itu ada.
"Dipakai ya, Nina," ucap Indira pada Nina yang duduk di sebelahku. Aku malah jadi curiga kotak tersebut berisi apa dengan raut wajah yang mencurigakan karena tersenyum penuh arti.
"Terima kasih," jawab Nina.
"Makasih, kalian udah repot-repot kasih hadiah sama kita," ucapku.
"Nggak repot, gue senang," balas Javi tersenyum lebar. Setelah itu kami pun kembali berbincang, menikmati kebersamaan di hari bahagia aku dan Nina kali ini.
**
Nina tidur bersama dengan Rian, di kamar anakku. Tentu saja karena dalam pernikahan yang kami jalani ini, tujuan utamanya adalah kebahagiaan Rian.
Saat anakku meminta Nina untuk menemaninya tidur, yang katanya seperti teman-teman di sekolah selalu bercerita tidur di temani mama mereka, Rian pun tidak mau kalah. Apalagi sekarang memiliki Ibu.
Aku memilih untuk ke kamar, beristirahat karena hari ini sangat melelahkan. Di dalam kamar, yang masih penuh dengan foto mendiang istriku, aku menatap ke seluruh penjuru kamar. Sepertinya aku harus melepas beberapa foto yang terpajang di dinding kamar, karena aku juga harus menghargai Nina yang sekarang menjadi istriku.
"Sayang, maafkan aku. Beberapa foto kamu harus aku turunkan. Akan aku pindah ke kamar Rian dan ruangan lain, bukan karena aku sudah tidak mencintai kamu lagi, tetapi aku harus menghargai Nina sebagai istriku sekarang," ucapku seraya menatap sebuah foto yang baru saja aku lepaskan.
Cukup lama aku memandang foto tersebut, rasa rindu kembali menyelimuti hatiku. Semuanya benar-benar membuatku sesak, seharusnya aku menyadari sejak lama saat Atika masih ada di dunia ini, bahwa aku telah mencintai dia, Ibu dari anakku. Tetapi semuanya terlambat dan kecelakaan itu merenggut nyawa istriku sendiri. Seharusnya aku saja yang mati saat itu, agar Atika bisa hidup dan tidak berada dalam kesedihan karenaku.
**
Sarapan hari pertama di mana aku kembali menyandang status sebagai seorang suami, rasanya tidak begitu asing. Mungkin karena sejak awal aku sudah terbiasa dengan kehadiran Nina di meja makan kami. Kecuali bagaimana Nina yang melayaniku, membuatku sedikit aneh saja.
Rian tampaknya senang sekali, anakku benar-benar tidak pernah kelihatan menekuk wajahnya setelah Nina berada di antara kami. Bahkan di meja makan kali ini, dia begitu bersemangat dan tidak lelah berbicara. Katanya dia senang karena bisa setiap hari tidur ditemani Mama seperti teman-teman, Rian juga bilang akan bercerita tentang ini kepada temannya.
"Nanti Mama jemput aku kan?" tanya Rian kepada Nina.
Nina mengangguk tanpa ragu. "Iya, nanti dijemput," jawabnya.
Rian memekik senang, mendengar bahwa dia akan dijemput oleh Nina. Padahal aku juga selalu menjemputnya, tetapi anakku tidak pernah terlihat begitu antusias seperti sekarang.
Ini juga menjadi hari pertama tidak bekerja di manapun, karena aku merasa lebih dari mampu untuk memenuhi kebutuhan anak dan istriku. Aku juga tidak mungkin membiarkan Nina bekerja sementara kondisinya sekarang tengah berbadan dua. Bagaimana mungkin aku mengabaikan calon anak yang berada dalam kandungannya, karena Nina dan anaknya sudah menjadi tanggung jawabku.
"Ini pegang, semua kebutuhan rumah udah jadi tanggung jawab kamu," ucapku memberikan beberapa lembar uang kepada Nina. "Nanti atm baru kamu selesai, saya akan transfer uang kebutuhan kamu, Rian dan rumah ke sana," lanjutku.
Aku hendak berpamitan pada Nina, bersama dengan Rian juga yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada mamanya. Karena sekarang Nina adalah istriku, aku pun memberikan tanggung jawab kebutuhan rumah padanya, untuk urusan lain masih menjadi tanggung jawabku.
"Ini nggak kebanyakan, Mas?" tanya Nina saat menerima uang dariku.
Aku menggeleng. "Sisanya kan bisa kamu simpan, buat keperluan kamu beli apa pun."
"Makasih ya, Mas."
"Sudah menjadi kewajiban saya." Lalu aku segera berpamitan karena Rian sudah berteriak dari dalam mobil, katanya takut terlambat.
Aku sempat terpaku saat Nina mencium tanganku, hal yang biasa aku lihat saat Ibu mencium tangan Ayah, ketika ayahku pergi bekerja. Kali ini aku merasakan bagaimana di posisi mendiang ayahku. Karena bersama dengan Atika dulu, aku lebih banyak mengabaikannya.
"Saya berangkat dulu," pamitku.
Nina mengangguk lalu mengantarkan aku sampai masuk ke dalam mobil, aku dan Rian pun segera berangkat. Anakku melambaikan tangannya penuh keceriaan saat mobil yang aku kendarai menjauh dari halaman rumah. Ada perasaan lega yang luar biasa, karena sekarang aku bisa melihat senyum Rian memiliki seorang Ibu dan tinggal bersamanya.
**
Seharian ini, aku malah berdiam diri di lantai dua restoranku. Biasanya sesekali aku akan pergi ke dapur untuk mengecek semuanya, atau membantu pegawai lain melayani pengunjung. Tetapi yang aku lakukan adalah berdiam diri di dalam ruangan seraya menerawang jauh memikirkan bagaimana hidupku sekarang.
Pernikahan yang aku jalani, aku masih tidak menyangka bahwa akan menikah kembali setelah kepergian Atika untuk selamanya, aku tidak pernah menyangka akan ada wanita lain di dalam rumah kami yang menggantikan peran Ibu, yang selama ini aku pikir bahwa Atika akan selamanya bersama kami, bersamaku melihat anak-anak dewasa. Namun takdir Tuhan tidak pernah ada yang tahu.
Sekarang aku hanya perlu memperbaiki semuanya, jangan sampai kelakuanku dulu menyakiti Nina, seperti rasa sakit yang Atika rasakan waktu itu. Cukup sekali aku kehilangan dan terlambat menyadari perasaanku. Sampai sekarang di mana aku mencintainya yang telah tiada, aku hancur karena kehilangan dirinya untuk selamanya.
Pandanganku terfokus pada fotoku bersama Atika, foto saat Atika tengah mengandung Rian. Aku mengelus foto tersebut, bagaimana mungkin aku terus merindukannya seperti ini, bagaimana bisa rasaku malah terus ada dan begitu dalam pada dirinya yang telah tiada. Diam-diam aku kembali menangis, kepergian Atika membuatku menjadi lelaki cengeng, sejujurnya aku tidak bisa hidup tanpa dirinya.