Aku akan menikah lagi

1028 Kata
"Lo udah yakin dengan keputusan lo itu?" Kali ini aku sedang bersama dengan Nares, entah yang keberapa kalinya pertanyaan itu masih saja keluar dari mulut lelaki itu. Padahal aku sudah menjawabnya dan jawabanku tentu saja tidak pernah berubah. "Lo nggak bosan, Res. Tanya hal yang sama setiap kali kita ketemu?" Aku balik bertanya padanya. Mau bagaimana pun, keputusan aku untuk menikah dengan Nina tidak akan pernah berubah. Aku sudah berulang kali meyakinkan diriku sendiri atas apa yang telah menjadi keputusanku. Semuanya demi Rian, karena aku ingin anakku memiliki sosok Ibu yang setiap saat bisa bersama dengannya dan Nina adalah pilihan yang telah Rian pilih juga. "Gue nggak nyangka aja, semuanya terlalu mendadak buat gue pahami," balas Nares lalu menyesap kopi yang tadi dia pesan. Aku tahu betapa Nares mengkhawatirkan diriku sama seperti Ibu dan juga Indira. Mungkin karena aku yang terlihat belum merelakan kepergian Atika dari kehidupanku. Namun, semua ini sudah menjadi keputusanku, yang sudah aku ambil untuk kebahagiaan Rian. "Gue ingin Rian merasakan adanya sosok Ibu dalam hidupnya, gue nggak mungkin terus egois dengan memikirkan diri gue sendiri karena kehilangan Atika dan terus bersedih. Sementara masih ada Rian yang butuh perhatian dari orang tua yang lengkap," ucapku menjelaskan semuanya kepada Nares. Aku harap Nares bisa mengerti dan setuju dengan keputusan apa yang sudah aku ambil ini. Aku sudah memikirkan berulang kali dan jawabannya tetap sama, menikahi Nina adalah satu-satunya cara untuk membuat Rian bahagia. "Gue harap lo benar-benar menerima gadis itu dan ini menjadi pernikahan terakhir yang lo lalukan. Gue selalu berdoa lo mendapatkan kebahagiaan setelah kesedihan yang selama ini terlalu membuat lo terpuruk," balas Nares tampak serius sekali. Aku mengangguk. Sama seperti yang Nares katakan, tentu saja aku juga menginginkan ini menjadi pernikahan terakhir yang aku jalani. Nina menjadi pendamping hidupku yang terakhir, yang akan menemani hari tuaku. "Ingat, Bas. Lo berhak bahagia." Aku akan selalu mengingatnya. Meskipun aku tidak pernah tahu apa yang menjadi bahagiaku, kecuali bersama dengan Atika kembali, aku melewati semuanya seperti biasa, tanpa ada yang spesial dan membuatku bahagia, benar-benar merasakan sebuah kebahagiaan. "Makasih, Res. Sudah bersama gue sampai sejauh ini." ** Aku mengajak Nina untuk mengunjungi makam istriku. Seperti yang aku katakan waktu itu bahwa aku akan kembali mengajak Nina untuk bertemu dengan Atika, akhirnya sekarang kami pergi berdua tanpa Rian. Perjalanan kami diisi dengan keheningan, sampai akhirnya aku dan Nina berada di tempat tujuan. Sampai di parkiran, aku langsung mengajak Nina untuk masuk ke dalam area pemakaman, kulihat Nina agak gugup berada di sini, tidak seperti sebelumnya saat kami datang bersama dengan Rian. Mungkin karena kali ini tujuannya berbeda, kali ini benar-benar mengenalkan dirinya pada istriku dan mengatakan bahwa kami akan menikah. Meski aku merasa sangat berat, tetapi semua harus aku lakukan. Aku dan Nina sudah berada di dekat makam Atika, seperti biasa kuusap nisan itu dengan penuh rasa sesak dalam dadaku. Setiap kali aku menemuinya, aku selalu merasakan kesedihan dan rasa bersalah atas apa yang aku lakukan kepadanya saat istriku masih hidup. Nina mungkin menyadari bagaimana aku yang terluka dan diam-diam menangis. Karena entah sadar atau tidak, tangannya mengusap punggungku seakan mengatakan kalau aku harus baik-baik saja. "Sayang, ini Nina. Seseorang yang Rian panggil Mama, kamu tahu kan. Tapi kamu akan tetap di hati Rian dan selalu ada dalam hatiku. Maaf karena aku datang dengan kabar yang mengejutkan, aku akan menikah dengan Nina." Kuusap nisan yang bertuliskan nama Atika tersebut, seraya mengatakan semua yang ingin aku katakan kepadanya. Aku harap dia mengerti alasan aku menikah dengan Nina, bukan karena ingin melupakan sosoknya sebagai istriku, tetapi karena aku ingin memberikan sosok Ibu untuk Rian agar anak kami merasa senang memiliki seorang ibu yang selama ini teman-teman dia banggakan. Nina menyimpan sebuket mawar merah yang tadi kami beli. "Mbak Tika, ijinkan aku menjadi Ibu dari Rian. Aku janji akan menjaga dan menyayangi dia seperti anakku sendiri," ucapnya membuatku menatap perempuan itu. "Aku juga akan menjaga Mas Tian," lanjutnya. Keheningan menyelimuti kami berdua, dalam diam kami memberikan doa terbaik untuk mendiang istriku. Setidaknya sekarang aku merasa lega karena sudah memberitahu Atika tentang semuanya dan sudah mengenalkan Nina pada sosok istriku, perempuan yang sampai saat ini aku cintai. Aku sudah memberitahu Nina, agar dia menerima hatiku yang tidak hanya terdapat namanya saja kelak, tetapi akan selalu ada nama Atika di dalamnya. Aku tidak akan pernah bisa melepaskan mendiang istriku, meskipun sosoknya telah tergantikan. Nina paham dengan apa yang aku pinta, mungkin karena aku juga sudah menceritakan semuanya tentang hubungan kami -aku dan Atika- dulu dan dia akan menerima keputusanku karena pernikahan ini untuk Rian, juga anak dalam kandungannya. "Seharusnya orang hamil tidak boleh ke sini kan?" tanyaku baru menyadari kondisi Nina yang tengah hamil. "Aku sampai lupa, Mas," jawabnya. "Ya udah, kita pulang sekarang. Maaf, saya tidak ingat kalau kamu sedang hamil," sesalku. Terlalu mengabaikan keadaan Nina yang sekarang. "Nggak apa-apa, Mas. Aku ngerti." Aku pun segera mengajak Nina untuk pulang, mungkin sekarang aku harus membiasakan diri dengan Nina, dengan kondisi yang saat ini terjadi, termasuk dengan kehamilannya. Jangan sampai aku mengulang kesalahan yang sama, mengabaikan perempuan hamil di masa-masa awal seperti dulu yang Atika rasakan. ** "Rian manja banget ya, Na, sama kamu." Ibu tersenyum menatap Rian yang tengah disuapi oleh Nina. Saat aku baru saja sampai di rumah Ibu bersama dengan Nina, anakku langsung memeluk tubuh perempuan yang dia anggap sebagai ibunya. Katanya Rian sangat merindukan Nina, membuat kami tersenyum melihatnya. Lalu setelah itu, Rian meminta makan disuapi oleh Nina, yang tentu saja tidak akan mendapatkan penolakan dari Nina. "Dari waktu itu kaya gini, Bu." Nina juga sudah membiasakan dirinya memanggil ibuku dengan panggilan yang sama seperti aku memanggil beliau. Ibu bilang semuanya harus dibiasakan, entah hubungan antara beliau dengan Nina, ataupun hubungan aku dengan Nina. Karena Ibu ingin pernikahan ini menjadi pernikahan terakhirku dan semuanya berjalan seperti pasangan lain, bahkan Ibu menyebutkan agar aku seperti Nares dan Indira yang selalu rukun dan mesra. Entahlah, apakah aku bisa melakukan semuanya atau tidak. Yang pasti aku akan berusaha lebih dulu untuk menerima kehadiran Nina nanti menjadi istriku, aku akan berusaha menerima keberadaan dia di satu atap yang sama denganku. Bukankah semuanya butuh proses? Sayang, aku tidak akan melupakan kamu. Karena sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi pemilik hati dan yang paling kucintai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN