"Sayang, aku minta maaf."
Aku tengah mengelus nisan istriku, sore ini aku datang menemuinya sendirian seperti biasa. Memang selama satu minggu sekali, aku selalu rutin mengunjungi istriku di sini. Kadang menceritakan apa yang aku lakukan seharian atau tentang Rian kepadanya.
Kali ini dengan berat hati, aku harus mengatakan tentang rencana pernikahanku dengan Nina. Aku tahu yang aku lakukan menyakiti mendiang istriku, pun dengan Nina. Karena aku tidak bisa setia pada Atika, aku juga tidak mungkin menjadikan Nina sebagai istriku satu-satunya. Di hatiku akan terus ada nama Atika dan kuharap Nina mengerti.
"Aku menikah karena Rian, dia butuh sosok Ibu dan Nina sudah dekat dengannya, maaf karena aku melakukan ini dan menyakiti hati kamu, Sayang."
Aku menangis dalam diam. Tidak pernah terpikir bahwa aku akan menikah untuk yang kedua kalinya, bahkan alasannya sama-sama karena sebuah keadaan. Namun kali ini karena Rian juga yang menjadi alasan utamaku memutuskan untuk menikah dengan Nina.
"Nanti aku datang sama Nina dan Rian, aku kangen sama kamu, Sayang." Kutaruh mawar merah yang selalu Atika sukai, tidak pernah terlewati setiap kali aku mengunjunginya, bunga itu akan aku taruh di dekat nisannya.
Andaikan dia masih ada, itulah yang selalu aku pikirkan. Namun semuanya tidak lagi sama, aku dan dia berada di tempat berbeda. Yang tersisa adalah rasa cintaku yang semakin dalam padanya.
Setelah puas bicara dengan Atika, aku memilih pulang dan menjemput Rian juga Nina di rumah Ibu. Dua hari lalu, Ibu sudah pulang setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit. Aku cukup lega karena tidak ada masalah apa pun dengan kondisi kesehatan Ibu. Semuanya baik-baik dan Ibu hanya kelelahan saja.
Kali ini aku sudah memastikan kalau Ibu tidak perlu mengerjakan semuanya sendiri, aku juga mengatakan kepada Bi Jum untuk tidak membiarkan Ibu menyentuh pekerjaan berat di rumah, bukannya aku mempekerjakan Bi Jum untuk mengurangi pekerjaan rumah yang selalu Ibu lakukan sendirian.
"Habis berkunjung, Mas."
Aku mengangguk pada Bapak petugas pemakaman yang memang sudah mengenalku, mungkin karena aku juga yang paling sering datang ke sini dan selalu meminta bantuanya untuk membersihkan makam istriku.
"Iya, Pak. Seperti biasa ya, Pak, tolong rapihkan rumput di tempat istri saya," ucapku pada pertugas tersebut.
"Siap, Mas. Dua minggu sekali seperti permintaan Mas Bastian, saya rutin membersihkan makam mendiang istri Mas."
"Terima kasih, Pak. Ini buat beli rokok," ucapku kembali seraya memberikan beberapa uang lembar berwarna biru kepadanya. Lalu setelahnya, aku pun berpamitan dan segera berjalan ke arah parkiran.
**
"Ayah, kita makan diluar aja. Ayah kan janji mau ajak aku sama Mama makan diluar waktu itu. Rian juga pengen burger, boleh kan, Ayah?"
Kami sedang dalam perjalanan pulang dari rumah Ibu, Rian tiba-tiba saja ingat tentang ajakanku waktu itu yang sampai sekarang belum terlaksana. Bukan aku lupa, hanya saja masih belum memiliki waktu luang karena restoran sedang ramai. Weekend pun aku kadang datang ke restoran untuk memantau semuanya.
"Tanya Mama, mau apa nggak," balasku seraya melirik Nina sebentar yang duduk di sampingku. Rian duduk di belakang sendirian.
"Kok aku," gumam Nina yang masih bisa kudengar, mungkin karena jarak kita tidak begitu jauh dan keadaan mobil sedang berhenti di lampu merah.
"Mama boleh kan kita makan diluar?" tanya Rian kali ini pada Nina.
"Iya, boleh," jawabnya yang membuat Rian memekik senang. Aku dan Nina ikut tersenyum melihat Rian yang begitu senang karena kami akan makan diluar.
Perjalanan pun diisi dengan celotehan Rian, dia sedang bercerita tentang teman-teman yang berada di sekolah. Biasa, si anak kembar yang dekat dengan Rian. Katanya beberapa hari lagi mereka akan main ke rumah, tentu saja aku senang dan sangat menyambut teman-teman anakku itu.
Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di salah satu tempat makan cepat saji. Seperti yang tadi Rian katakan kalau dia menginginkan burger, akhirnya aku memutuskan untuk mengajak mereka ke sini. Nina juga tidak ribet dan ikut saja saat aku mengajaknya.
Rian sudah duduk di meja pilihannya, sementara aku dan Nina memesan makanan. Kami benar-benar seperti keluarga kecil yang bahagia, aku senang saat melihat wajah Rian yang akhir-akhir ini kembali berseri.
"Kamu gak apa-apa makan ini?" tanyaku kepada Nina saat kami tengah menunggu pesanan kami di siapkan.
"Gapapa, lagian kan nggak sering, Mas. Kasihan Rian kalau nggak diturutin," jawabnya.
Saat aku hendak bicara lagi namun terpaksa aku urungkan saat pesanan kami selesai, aku dan Nina pun langsung membawanya ke meja yang sudah Rian pilihkan. Di dekat jendela yang selalu menjadi pilihannya, hampir seperti Atika yang selalu memilih tempat duduk di dekat jendela.
"Rian senang bisa makan diluar sama Ayah dan Mama, biasanya Rian cuma sama Ayah aja," ucap Rian saat kami menikmati makanan masing-masing.
Aku dan Nina tersenyum, melihat Rian begitu lahap dan wajah yang berbinar membuatku merasa sangat bahagia. Tidak pernah kulihat Rian sebahagia ini, mungkin kalau Atika masih berada di antara kami, Rian akan merasakan hal yang sama seperti ini, pun dengan aku yang akan sangat beruntung karena memiliki Atika dan Rian dalam hidupku.
**
Setelah makan bersama, kami jalan-jalan sebentar. Rian membeli mainan kembali, aku juga menawarkan berbelanja pakaian atau barang lainnya pada Nina, namun dia menolak dan memilih untuk pulang saja. Akhirnya aku pun mengajak mereka pulang, Rian sudah puas sekali karena bisa makan dan jalan-jalan bersama orang tua lengkap, meskipun status aku dan Nina belum resmi menjadi pasangan suami-istri.
Aku senang melihat Rian senang seperti ini, berharap anakku akan selalu merasakan kebahagiaan dan merasakan sebuah keluarga yang utuh. Ada Ayah dan mamanya seperti sekarang bersama dengan dirinya.
"Saya minta maaf," ucapku pada Nina.
Kami sudah berada di dalalm mobil, Rian yang duduk dibelakang kami sudah terlelap. Mungkin karena kelelahan jalan-jalan, membuat aku bisa leluasa untuk bicara berdua dengan Nina.
"Soal apa, Mas?" tanya Nina yang kebingungan dengan perkataanku.
"Pernikahan kita nanti. Semuanya karena sebuah simbiosis mutualisme, saling menguntungkan kan. Dan apa kamu akan menerima dalam pernikahan nanti di dalam hati saya tidak hanya ada kamu saja?" Aku menoleh ke samping, melihat ekspresi yang tergambar dalam wajahnya. Tampak tersenyum dan biasa saja mendengar perkataanku.
Kulihat Nina mengangguk, sebelum akhirnya aku kembali fokus pada jalanan di hadapan kami. Lalu Nina berkata, "Aku tahu dan mengerti, Mas. Aku nggak masalah sama sekali, karena seperti yang kita sepakati bahwa pernikahan ini sama-sama mendapat keuntungan. Rian memiliki aku sebagai sosok ibunya dan aku memiliki kamu menjadi Ayah dari anakku."
"Kamu belum menceritakan semuanya, apa yang terjadi sampai seperti ini."
"Masa laluku terlalu buruk untuk diceritakan," katanya.
"Lebih buruk mana dari masa lalu saya yang mengabaikan istri saya sendiri dan sekarang saya menyesal."
"Kalau kita sudah menjadi suami-istri," ucapnya meyakinkanku.
Aku mengangguk setuju. Mungkin dia juga sama sepertiku, masih butuh waktu untuk menjelaskan semuanya.
"Sebelum pernikahan berlangsung, saya akan mengajak kamu lagi untuk bertemu dengan Atika. Kalau kamu, saya belum meminta ijin pada orang tua kamu secara langsung, kapan saya bisa bertemu dengan mereka?" tanyaku.
"Aku nggak punya keluarga, Mas. Aku sebatang kara."
Dan aku kembali mengingat Atika, bagaimana mungkin mereka sangat mirip. Tidak hanya wajah tetapi juga kondisi mereka yang sebatang kara.