Aku juga butuh Ayah untuk calon bayiku. Bukannya kita sama-sama diuntungkan?
Perkataan itu terus terngiang, aku cukup terkejut dengan apa yang Nina katakan di hari pertama kami bertemu lagi setelah satu bulan dia menghilang. Aku senang saat Nina mengatakan kalau dia menerima tawaranku yang waktu itu, menjadi Ibu dari Rian. Tetapi aku juga tidak menyangka, bahwa saat ini Nina tengah hamil dan meminta aku untuk menjadi Ayah dari anaknya.
Seperti de javu, bedanya dulu memang aku harus bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan. Sementara sekarang aku mempertanggung jawabkan apa yang tidak aku lakukan, namun atas permintaan Nina sendiri. Kami memang sama-sama diuntungkan dalam pernikahan ini, kalau memang itu bisa dilaksanakan. Karena Rian bisa memiliki sosok Ibu yang selama ini dia harapkan, lalu Nina akan tenang karena memiliki aku yang menjadi Ayah dari bayi yang dia kandung.
Pertemuan aku dan Nina hari itu menghasilkan persetujuan antara kedua belak pihak. Aku juga langsung mengajak Nina untuk bertemu dengan Ibu, mengatakan maksud kami berdua. Namun tentu saja tanpa adalanya alasan karena Nina tengah hamil, itu urusan kami berdua dan hanya kami yang tahu.
Ibu senang mendengar kabar itu, aku dan Nina memutuskan untuk menjalin hubungan lalu langsung menikah. Karena Ibu merasa Nina adalah perempuan yang tepat dan sudah dekat dengan Rian, untuk menjadi Ibu pengganti. Selama ini baik aku maupun Ibu selalu memikirkan Rian, jika ada perempuan yang dipilih Rian, bisa mengambil hati Rian, maka aku dan Ibu akan setuju menjadikannya Ibu Rian.
Jika Ibu senang dengan kabar yang aku bawa, Nares dan Indira malah tampak bingung, mereka kompak sekali meminta penjelasan padaku dibelakang Ibu. Bagi mereka ini terlalu mendadak, iya aku akui memang seperti itu. Namun aku juga tidak bisa menunda karena kehamilan Nina akan terus membesar dan semakin sulit untuk kami bersama.
Kalau Nina hamil, Ibu pasti akan bertanya tentang siapa Ayah biologis dari anak Nina, Ibu pasti tidak langsung menyetujui rencana kami menikah nanti. Dan keputusannya lebih baik sekarang, aku dan Nina merencanakan semuanya dalam waktu dekat.
**
"Rian senang, Mama udah datang," ucap Rian saat Nina kembali menemuinya di rumah.
"Mama juga senang, maaf ya baru bisa datang sekarang ketemu sama Rian," balas Nina tersenyum seraya mengelus kepala Rian membuat anakku tersenyum lebar.
Seperti biasa yang kerap Nina lakukan, dia datang ke rumah untuk bertemu dengan Rian. Kali ini lebih pagi karena ingin menyiapkan sarapan untuk Rian, aku sama sekali tidak masalah dan membiarkan saja.
Tentang pekerjanya yang mengajar di sekolah, aku sudah mengatakan kalau dia tidak perlu mengajar lagi, lagipula kondisi sekarang dia tengah mengandung dan aku tidak mungkin membiarkan dia bekerja, sementara aku mampu memberikan nafkah untuknya setelah kami menikah nanti.
"Mama jangan pergi-pergi lagi ya," pinta Rian kepada Nina dengan raut wajah penuh permohonan.
Aku tahu sebulan kemarin meskipun Rian tidak bertanya perihal Nina lagi, tetapi anakku masih merindukan kehadiran Nina seperti biasa. Rian mungkin hanya berusaha menyembunyikan apa yang dia rasakan dan ingin ketahui.
"Iya, Mama janji nggak akan pergi lagi ninggalin Rian."
Rian langsung memeluk Nina begitu erat, aku tersenyum melihatnya. Memang benar selama ini Rian membutuhkan kehadiran Nina sebagai sosok Ibu pengganti. Rian sudah begitu dekat dengan Nina layaknya seorang anak bersama dengan ibunya.
"Hari ini kamu antar Rian sama saya, setelah itu kita harus cari undangan pernikahan," ucapku kali ini pada Nina.
Nina mengangguk. "Iya, Mas. Sekarang boleh aku siapin sarapan buat kalian?" tanya Nina setelahnya.
"Boleh." Aku mempersilahkan, sepertinya mulai sekarang aku harus membiasakan diri saat Nina membuatkan sarapan untuk kami, anggap saja sedang latihan tinggal bersama.
Nina akhirnya berjalan ke dapur, aku membiarkan dia berkutat dengan bahan masakan dan peralatan dapurnya. Sementara aku mengajak Rian untuk mandi, karena Nina datang pagi sekali di saat kami belum siap-siap.
Sejak tadi Rian begjtu bersemangat, mungkin karena sudah ada Nina lagi di sini. Tidak hentinya anak itu membicarakan kalau dia tidak sabar makan makanan yang disiapkan oleh Nina pagi ini. Aku tersenyum melihat Rian yang penuh semangat, keputusanku memang benar untuk menikahi Nina nanti, karena itu semua akan membuat Rian bahagia.
**
Aku baru saja mengantarkan Nina kembali ke rumah, setelah kami mengurus beberapa hal untuk pernikahan yang akan dilaksanakan satu bulan lagi. Dia tidak terlalu meminta banyak hal tentang pernikahan, katanya hanya ingin yang sederhana saja dan tamu undangan yang tidak terlalu banyak.
Aku menyanggupi, meski awalnya aku menyarankan kepada Nina untuk melangsungkan pernikahan yang dia impikan, dengan konsep mewah karena bagiamanapun ini adalah pernikahan pertamanya, tentu agar memberikan kesan luar biasa untuk Nina.
"Mulai hari ini kamu tinggal di rumah saya, ada kamar di lantai bawah. Sekarang rumah kontrakan yang lama sudah ada yang menempati kan dan jarak rumah yang sekarang ke rumah saya cukup jauh."
Bukan apa-apa aku memintanya untuk tinggal di rumahku saja, selain karena aku tidak ingin kalau dia kelelahan karena perjalanan dari rumah dia yang sekarang ke rumahku cukup memakan waktu, kondisi dia sekarang tengah hamil muda dan sudah menjadi tanggung jawabku untuk kenyamanan dan keamanannya meskipun Nina belum sah menjadi istriku.
"Tapi aku nggak enak kalau tinggal di rumah Mas Tian," ucapnya.
"Nggak enak sama siapa? Lagian nggak ada yang melarang dan ini atas persetujuan saya kan. Biar Rian tidak merasa kalau kamu pergi darinya lagi," balasku.
Nina tampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk setuju. Setelah ini aku pun membawa dia ke rumah kontrakannya yang sekarang untuk mengambil semua barangnya. Karena kata Nina dia hanya membawa pakaian saja dan tidak terlalu banyak barang yang dia miliki, memakai mobilku saja cukup untuk membawa barang-barang miliknya.
Selain karena Rian akan senang jika Nina tinggal dengan kami di rumah yang sama. Sebenarnya agar aku bisa terbiasa dengan kehadiran dia sebelum kami menikah. Karena selama ini masing-masing di antara kami masih menjaga jarak dan tidak seperti pasangan lainnya.
**
"What? Lo mau nikah?"
Seperti dugaanku Javi akan bereaksi seheboh ini saat aku mengatakan kepadanya tentang rencana pernikahanku dengan Nina. Setelah mengantar Nina membawa barang-barang miliknya ke rumahku, aku memang sudah janjian dengan Javi untuk bertemu di restoran milikku.
Aku menjelaskan semuanya sama seperti menjelaskan kepada Nares dan Indira waktu itu. Reaksi Javi memang lebih heboh dari yang lain, beruntung kami berada di ruanganku dan tidak membuat orang-orang melihat ke arah kami berdua.
"Lo yakin nikah, Bas? Maksudnya, okelah gue senang sama kabar ini karena setelah sekian lama akhirnya lo memutuskan untuk membuka hati dan menerima orang baru, tapi gue nggak nyangka secepat ini. Sebulan lagi?"
Aku mengangguk tanpa ragu. "Gue cuma mau kasih informasi aja sama lo," ucapku.
"Thanks, informasi yang sangat luar biasa bikin gue kaget."
"Gue pernah bilang kan akan menikah kalau emang Rian sendiri yang pilih orangnya dan Nina memang sudah dekat dengan Rian selayaknya Ibu dan anak."
"Gue paham, pokoknya gue ikut senang karena lo akan menikah lagi," ucap Javi.
"Dan semoga lo bisa menerima dia, benar-benar menerima sebagai istri, bukan untuk sekedar Ibu pengganti anak lo," lanjutnya yang membuatku terdiam.
Bisakah aku menganggapnya begitu?