Kabar mengejutkan

1116 Kata
Satu bulan berlalu dan selama itu juga aku tidak pernah tahu tentang kabar maupun keberadaan Nina. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa gadis itu akan menghilang begitu saja. Rian sudah kembali terbiasa tanpa kehadiran Nina, meskipun di awak berat sekali untuk aku membujuk Rian karena selalu bertanya tentang keberadaan Nina. Semuanya berjalan seperti biasa, aku tetap sibuk dengan restoranku dan Rian bersekolah seperti biasanya, namun kali ini aku tidak selalu menjemput dirinya. Kalau tidak sempat menjemput, aku menyuruh supir yang berada di rumah Ibu untuk menjemput Rian di sekolah. Tentang Ibu. Akhir-akhir ini ibuku dalam kondisi kesehatan yang tidak baik. Beberapa kali harus cek ke rumah sakit untuk memastikan tidak ada penyakit berbahaya yang menyerang Ibu, mungkin faktor usia membuat Ibu rentan sekali terkena sakit apalagi kalau sudah kelelahan. Seperti hari ini, asisten rumah tangga yang baru, yang aku pekerjakan di rumah Ibu menelepon aku di pagi buta. Memberikan kabar kalau Ibu demam tinggi, membuat aku bergegas pergi ke rumah Ibu bersama Rian yang kubangunkan secara terpaksa, karena aku tidak mungkin meninggalkan anakku sendiri di rumah. Aku langsung membawa Ibu ke rumah sakit, takut terjadi apa-apa kalau dibiarkan begitu saja. Rian menangis melihat neneknya yang terserang sakit sampai harus di rawat. Katanya demam biasa, namun karena aku khawatir aku meminta Ibu untuk menginap di rumah sakit beberapa hari sampai semuanya kembali normal. "Rian sekolah dulu, nanti pulang sekolah bisa ke sini lagi jagain Nenek," ucapku mengajak Rian pulang lebih dulu karena harus siap-siap sekolah. "Tapi Nenek sama siapa di sini, Ayah?" "Ada suster yang jagain, Bi Jum juga kan lagi ke sini, masih di jalan." Rian mengangguk lalu ikut denganku untuk segera keluar dari ruangan rawat Ibu. Aku tidak mungkin membiarkan Rian bolos sekolah hanya karena menjaga neneknya di sini. Apalagi Rian sebentar lagi akan mengikuti ujian semester pertamanya. Aku dan Rian pun bergegas pulang, setelah aku memastikan ada seorang perawat yang akan memantau Ibu di sini. Aku juga harus ke restoran hari ini karena ada salah satu pelanggan yang akan memakai restoran milikku untuk acaranya dan tidak hisa aku wakilkan oleh pegawaiku, harus aku yang menemui mereka. ** Aku memberitahu Nares dan Indira perihal Ibu yang tengah dirawat di rumah sakit, tentu saja mereka aku kabarkan karena selama ini begitu dekat dengan Ibu seperti anak sendiri. Apalagi Indira yang memang dekat dengan Ibu cukup lama, saat dia masih menjadi kekasih sekaligus tunanganku. Katanya mereka akan datang sore nanti bersama dengan Gea juga. Tentang Nina, aku benar-benar tidak mencarinya lagi karena kupikir semuanya sudah kembali seperti semula, di mana Rian tidak bertanya tentang gadis itu kembali. Namun anehnya, aku masih kepikiran saja, masih tidak menyangka saja dengan apa yang aku katakan kepadanya waktu itu membuat jarak kami semakin jauh bahkan Nina memutuskan untuk tidak menemui Rian juga. Seperti yang kubilang tadi bahwa Nares dan Indira akan datang ke rumah sakit. Aku meminta mereka untuk menjaga Ibu lebih dulu, karena aku akan pulang terlambat. Rian pun sudah berada di rumah sakit, tadi aku meminta supir untuk menjemputnya. Restoran sedang ramai sekali dan aku tidak bisa meninggalkannya, bahkan aku juga harus terjun langsung membantu pegawaiku. Ini efek dari salah seorang content creator yang secara tiba-tiba mempromosikan restoranku lewat media sosialnya. Pukul lima sore, aku baru saja sampai di area rumah sakit, setelah pulang lebih dulu untuk mandi dan berganti pakaian. Juga membawakan pakaian Rian karena katanya akan menginap di rumah Nares saat tadi Nares meneleponku dan ternyata Rian yang bicara. Tentu saja aku tidak melarang, karena Rian memang beberapa kali menginap di rumah Nares, meskipun besok harus sekolah tetapi Nares bilang dia akan mengantar Rian pagi-pagi ke sekolah, mengingat jarak rumah mereka dengan sekolah Rian cukup jauh. Mungkin hal yang bagus kalau Rian menginap di rumah Nares dan Indira, karena aku bisa menginap di rumah sakit untuk menjaga Ibu. Tadinya aku akan meminta Bi Jum untuk menginap di sini, karena aku tidak mau kalau sampai Rian ikut menginap di rumah sakit, kasihan anakku nanti. Saat aku berjalan menuju ruang rawat Ibu, tanpa sengaja aku berpapasan dengan seorang perempuan yang cukup aku kenal. Aku terkejut melihatnya lagi setelah sekian lama, dia yang juga melihatku tampak terkejut. Untuk sesaat kami saling terdiam, dengan posisi yang saling berhadapan. Sampai aku akhirnya membuka suara, "Apa kabar, Nina?" ** Pertemuan aku dan Nina kembali benar-benar tidak terduga. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Nina di rumah sakit seperti ini. Setelah berpapasan tadi dan saling terdiam satu sama lainnya, aku pun mengajak Nina untuk bicara lebih dulu, mengajaknya ke taman yang tak jauh dari posisi kami saat itu. Duduk bersebelahan, kami masih diselimuti keheningan. Aku masih terkejut dengan pertemuan kami ini setelah satu bulan tidak bertemu dengan Nina dan tidak mengetahui keberadaannya. "Maaf," katanya memecah keheningan di antara kami. Aku menoleh sebentar sebelum kembali menatap pemandangan lain di hadapanku. "Untuk apa minta maaf?" tanyaku. "Karena tiba-tiba pergi dan pasti buat Rian sedih lagi," jawabnya. Aku mengangguk singkat. Nina memang membuat Rian sedih karena kehilangan sosok ibunya lagi. Namun sekarang semuanya sudah kembali seperti biasa. Lalu kami kembali terdiam, aku masih belum tahu akan bicara apa saja kepadanya, atau mungkin karena terlalu banyak yang ingin aku tanyakan kepadanya. "Mas Tian sedang apa di sini? Mas sakit atau Rian?" tanya Nina kembali. "Ibu yang sakit," jawabku. "Kalau kamu?" tanyaku setelahnya. "Aku habis periksa, memastikan sesuatu," katanya yang entah apa dan kenapa juga aku malah penasaran. Namun aku urungkan untuk kembali bertanya-tanya, bukan urusanku dan takut melanggar privasinya. Kami kembali diam, bergelut dengan pikiran masing-masing. Aku tidak memulai pembicaraan lagi, pun dengan Nina. Tetapi kami berdua tidak berniat juga untuk beranjak dari tempat duduk kami. Suara dering handphone milikku membuat aku akhirnya merogoh saku jaket, kulihat di layarnya muncul nama Nares sebagai kontak yang memanggil. "Ada apa, Res?" tanyaku. "Lo masih di mana? Ibu nanya nih," katanya terdengar dari seberang telepon. "Sebentar lagi sampai, lo buru-buru?" "Nggak, Rian sama Gea lagi makan di kantin bareng Indira. Gue yang di ruangan sama Ibu," jawabnya lagi. "Titip Ibu sebentar, gue masih ada yang harus diurus," kataku akhirnya yang diiyakan oleh Nares setelah itu sambungan telepon terputus. Aku kembali melirik Nina yang berada di sampingku, entah hanya perasaanku saja atau memang begitu yang terjadi. Tangan Nina beberapa kali mengelus perutnya, sebenarnya Nina sakit apa? "Mas Tian." Suara Nina kembali kudengar, aku akhirnya menatap gadis itu, menunggu dia melanjutkan perkataannya. "Tentang ajakan Mas Tian waktu itu, apa masih berlaku?" Aku tentu saja terkejut dengan pertanyaannya, padahal aku sama sekali tidak berniat untuk membahas, meskipun aku penasaran karena setelah ajakan menikah dariku membuat dia langsung menjaga jarak. "Memangnya kamu mau?" Aku malah balik bertanya kepadanya. Kulihat Nina mengangguk, "Ayo menikah, Mas Tian bilang Rian butuh sosok Ibu yang selalu ada untuknya, aku juga butuh sosok Ayah untuk calon bayiku. Bukannya kita sama-sama diuntungkan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN