Nina tidak datang kembali. Itulah yang sekarang terjadi, setelah ajakan menikah beberapa waktu lalu, aku tidak lagi melihat keberadaan Nina. Yang biasanya gadis itu selalu datang ke rumah, kali ini tidak lagi dan aku sangat menyesal sekali. Karena yang aku lakukan malah membuat Nina pergi dan Rian kembali kehilangan sosok ibunya.
Hari pertama mungkin aku bisa mengatakan pada Rian kalau Nina ada urusan dan tidak bisa datang ke rumah. Namun hari-hari berikutnya aku sudah tidak lagi memiliki alasan karena Rian pun tidak mempercayainya.
Hal tersebut membuat Rian sedih karena tidak bisa bertemu dengan Nina seperti biasa, bahkan katanya di sekolah pun Nina tidak ada. Tentu aku semakin merasa bersalah, tetapi apakah harus sejauh itu Nina melakukannya, sampai tidak lagi mengajar di sekolah Rian.
Ibu tentu saja tahu alasannya, kenapa Nina tidak datang menemui kami lagi seperti biasanya. Ibu juga yang selalu membantuku membujuk Rian agar tidak selalu bertanya tentang keberadaan Nina dan kenapa Nina tidak lagi datang ke rumah.
Rian jadi rewel, karena dia sudah terbiasa dengan semuanya. Dengan Nina yang berada di hari-harinya dan menjadi sosok Ibu untuk Rian. Sekarang, gadis itu justru menghilang bak ditelan bumi.
Aku sudah berusaha mencari, tetapi saat datang ke alamat rumahnya, sang pemilik rumah mengatakan kalau Nina sudah lama pindah dan tidak tahu alamat barunya. Sementara saat aku bertanya pada pihak sekolah, mereka juga mengatakan kalau Nina tiba-tiba mengundurkan diri menjadi pengajar di sana dan tidak mengetahui alasan pasti, Nina tidak mengatakannya.
Semua membuatku bingung dan membuat Rian bersedih karena kehilangan Nina. Aku selalu berusaha untuk menghiburnya, meskipun aku tahu itu tidak berhasil karena di hari berikutnya Rian tetap bertanya tentang keberadaan Nina.
"Tapi menurut gue, berlebihan sih kalau dia sampai mempertaruhkan pekerjaannya kaya gitu. Masa hanya karena ajakan menikah dari lo, dia sampai rela resign dari sekolah. Padahalkan cari pekerjaan di jaman sekarang itu susah," ucap Javi memberikan komentarnya setelah aku menceritakan semua yang terjadi kepada kami, aku dan Nina.
Perkataan Javi benar adanya, tidak menyangka karena ajakan menikah dariku membuat Nina sampai melepaskan pekerjaannya seperti itu, padahal aku tahu mengajar adalah bagian dari hidup Nina dan gadis itu sangat menyukainya. Busa berinteraksi dengan anak-anak adalah hal yang Nina sukai.
"Gue juga nggak nyangka, padahal cukup menghindari gue, jangan sampai mengorbankan pekerjaan. Gue juga nggak tega sama Rian, dia terus tanya-tanya di mana Nina," balasku.
"Terus apa yang akan lo lakuin sekarang? Cari dia atau gimana?" tanya Javi padaku.
Aku sendiri belum memiliki rencana apa pun, karena tidak ada alasan untuk aku mencari keberadaan di saat hubungan kami saja bukan siapa-siapa. Hanya karena Rian, aku mengenal gadis itu dan sekarang aku tidak mau memaksa meskipun alasannya adalah Rian, tetapi kalau Nina ingin pergi dari kehidupan kami, aku tidak bisa terus membiarkan Nina tetap tinggal.
"Mungkin memberitahu Rian kalau Nina nggak akan kembali dan menjalani kehidupan seperti biasa saat belum ada Nina ke kehidupan kami," jawabku.
"Apa pun itu, gue harap yang terbaik sih. Tapi lo juga harus berusaha banget buat bujuk Rian biar nggak terus menerus tanya keberadaan Nina."
Aku mengangguk. Memang harus dengan usaha keras untuk aku bisa membuat Rian tidak lagi bertanya perihal Nina. Mungkin kami harus kembali seperti sebelumnya, hanya ada aku dan Rian saja.
**
"Ayah, kenapa Ayah nggak cari Mama? Rian mau ketemu sama Mama Nina."
Sejak pagi, Rian terus saja memintaku untuk mencari keberadaan Nina. Karena hari ini libur sekolah, Rian juga ingin mencarinya. Namun aku tidak langsung mengiyakan, karena aku juga tidak tahu harus mencari ke mana. Lagipula aku tidak ada rencana untuk mencarinya karena Nina sendiri kan yang menginginkan untuk pergi dari kehidupan kami.
"Rian dengerin Ayah mau ngomong," ucapku.
Kami baru saja selesai sarapan, masih duduk di ruang makan dengan piring yang sudah kosong di hadapan kami. Aku ingin membuat Rian agar tidak terus mengharapkan kehadiran Nina karena ini sudah menjadi pilihan gadis itu, aku tidak ingin memaksakan untuk membuat Nina kembali di antara kami.
"Mama Nina kan bukan Mama Rian, bukan yang melahirkan Rian. Mama Nina sekarang udah kembali sama keluarganya, nggak bisa terus sama Rian dan Ayah di sini kaya dulu, jadi Rian nggak usah cari dan tanya Mama Nina lagi ya. Rian kan punya Ayah, Nenek, Om Javi, Om Nares, Tante Ina sama Gea juga."
Aku tidak tahu apakah Rian akan mengerti dengan semua yang aku katakan kepadanya. Yang aku inginkan adalah Rian tidak usah mencari keberadaan Nina, tidak perlu bertanya di mana Nina sekarang dan kenapa tidak datang lagi ke rumah.
"Mama Nina pergi ninggalin Rian, kaya Mama Tika ya, Ayah?" Rian tampak sendu sekali, dia kembali kehilangan mamanya.
Aku menggeleng. "Nggak, Mama Nina masih ada tapi nggak bisa lagi ketemu sama Rian di sini karena Mama Nina udah pindah kerja juga."
Rian beranjak dari kursinya, lalu berlari meninggalkan aku yang masih berada di ruang makan. Anakku berlari ke arah kamarnya dan aku tahu Rian sangat bersedih.
Aku pun memutuskan untuk menelepon Nares, mungkin kalau Nares membawa Gea ke sini, akan membuat Rian senang karena memiliki teman main. Biasanya kalau sudah ada Gea, Rian tidak akan bersedih karena melihat keceriaan dari wajah Gea.
**
Nares membawa Gea ke rumah seperti apa yang aku minta. Hanya mereka yang datang, katanya Indira sedang membuat kue di rumah Mama Nares, alhasil kami -aku dan Nares- menjadi dua orang Ayah yang mengasuh anak-anak kami kali ini.
Seperti perkiraanku tadi, Rian tidak sedih lagi saat tahu Gea datang ke rumah dan mengajaknya bermain. Bahkan Gea juga membawa sepeda miliknya dari rumah dan mereka sedang bermain sepeda di halaman belakang, dengan aku dan Nares yang duduk sembari memantau mereka.
Aku juga sudah bercerita kepada Nares tentang Nina yang pergi setelah pembicaraan aku dan Nina waktu itu. Nares tampaknya mengerti dengan apa yang terjadi di antara kami, apalagi dia mengerti bahwa Rian sangat kehilangan Nina karena anakku sudah begitu terbiasa dengan kehadirannya.
Tidak banyak komentar dari Nares, lelaki itu hanya mengatakan kalau Nina mungkin saja membutuhkan waktu untuk sendiri. Terlalu terkejut dengan ajakanku, itulah yang Nares simpulkan setelah aku bicara tentang Nina kepadanya.
Aku tahu semua begitu mendadak dan membuat Nina terkejut, tetapi tidak menyangka saja kalau Nina akan melakukan sejauh ini, sampai tidak lagi mengajar di sekolah Rian. Padahal cukup menghindariku saja, aku tidak akan mempermasalahkan, yang penting Rian tidak lagi kehilangan. Sekarang apa yang harus aku lakukan?