Penolakan Nina

1027 Kata
Aku dan Nina berada di Cafe tak jauh dari arah menuju rumahku. Tidak ada pembicaraan di antara aku dan Nina untuk beberapa saat setelah minuman yang kami pesan tersaji di atas meja. Aku sendiri sedang menyiapkan diri untuk memulai apa yang akan aku katakan kepada Nina kali ini. Padahal tadi aku merasa semuanya akan mudah aku katakan kepada gadis itu, tetapi sekarang malah sulit sekali untuk memulainya. "Mas Tian sebenarnya mau ngomong apa?" tanya Nina akhirnya memecahkan keheningan di antara kami. Aku menarik napas lalu mengembuskannya secara perlahan. Entah Nina sadar atau tidak dengan kegugupanku saat ini, dia tampak santai sekali seraya menatapku yang duduk di hadapannya. "Saya tidak tahu apakah perkataan saya ini dapat menyinggung kamu atau tidak. Yang pasti saya meminta maaf lebih dulu atas apa yang akan saya katakan," ucapku memulai pembicaraan kami. Nina tampak serius mendengarkan apa yang aku katakan saat ini. Sementara aku merasa sulit untuk merangkai kata, agar diterima dengan baik oleh gadis itu. Tanpa menyinggung apa pun. "Kamu mau menikah dengan saya? Demi Rian, karena saya tidak bisa melihat dia sedih dan saat ini yang membuat dia bahagia adalah kamu berada di antara kami, di rumah kami tanpa merasakan ada jarak saat hubungan kita sudah resmi menjadi suami-istri," lanjutku seraya menatap kedua mata Nina. Kulihat Nina terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan, tentu saja siapa pun akan terkejut saat diajak menikah oleh orang yang sama sekali belum dikenali. Meskipun Nina sudah cukup lama bersama aku dan Rian, tetapi Nina lebih sering bersama dengan Rian dibandingkan aku. Jelas karena Rian yang lebih membutuhkan sosok Nina dalam kehidupannya. Cukup lama kami berada dalam keheningan kembali, Nina mungkin masih menetralkan suasana hati dan pikirannya atas apa yang aku katakan kepadanya. Aku tahu ini sangatlah mendadak, bahkan kami tidak saling mengenal secara dekat satu dengan yang lainnya. Aku menundukkan kepala, dengan detak jantung yang tidak karuan. Tidak menyangka setelah sekian lama, aku mengajak seorang perempuan untuk menikah di saat kami baru saja bertemu. Sampai akhirnya suara Nina terdengar, membuatku menatapnya kembali dan tentu saja aku tahu apa yang akan dia katakan. "Aku nggak bisa, Mas. Maaf," katanya seraya beranjak dari tempat duduknya. Kemudian gadis itu meninggalkan aku yang masih terpaku di posisiku. Nina keluar dari Cafe ini setelah menolak ajakanku yang tadi. Aku tahu ini tidak akan mudah, tetapi setidaknya aku sudah mencoba meskipun hasilnya tidak mampu memberikan aku kelegaan, karena sebuah penolakan yang Nina lakukan. Bukan aku yang patah hati, melainkan anakku, Rian akan sangat sedih karena aku tidak bisa mewujudkan yang dia inginkan. ** "Ayah, kok nggak pulang sama Mama?" Rian yang menghampiriku langsung menanyakan keberadaan Nina, gadis itu memang sudah menarik perhatian anakku. Tidak pernah terlewat sedetik pun, Rian yang selalu menanyakan Nina ketika gadis itu tidak berada di sini dengan dirinya. Aku benar-benar menjadi nomor dua untuk anakku sendiri setelah kehadiran Nina dalam kehidupan kami. Namun aku tidak pernah merasa marah, aku justru senang ketika melihat Rian yang tersenyum lebar setiap bersama dengan Nina. Sudah kukatakan bukan, kalau sekarang prioritas utamaku adalah Rian, semua demi anakku dan kebahagiaannya. "Mama langsung pulang, kasihan capek habis kerja kan. Nanti pasti ke sini," balasku. Rian kelihatan kecewa karena aku tidak pulang bersama dengan Nina, namun setelahnya mengangguk dan kembali bermain mobil-mobilan yang sejak tadi dia mainkan sendirian. "Rian main sama Ayah dulu, Mama pasti ke sini. Kan setiap hari Mama temanin Rian di sini," ucapku kembali. "Rian main sendiri aja," jawabnya membuatku urung untuk bergabung dengan anakku. Sepertinya Rian memang ingin sendiri. Aku pun memutuskan untuk menemui Ibu, mungkin akan lebih lega kalau aku bercerita kepada Ibu atas apa yang baru saja terjadi kepadaku dan Nina. Ibu berada di dapur, saat aku mencari keberadaannya. Aku pun langsung duduk di kursi yang berada di ruang makan. Ibu menghampiriku dan menempati kursi yang berada di hadapanku. "Ada apa?" tanya Ibu yang sepertinya sudah menyadari ada sesuatu yang mengganjal, mungkin terlihat dari raut wajahku. "Bastian tadi bicara sama Nina, Bu." Ibu tidak mengatakan apa pun, sepertinya beliau memilih menunggu aku menyelesaikan perkataanku, sampai akhirnya aku pun menjelaskan semua yang terjadi antara aku dan Nina tadi. Tentu Ibu sangat terkejut dengan apa yang aku lakukan, terlihat dari raut wajahnya yang berubah, tidak setenang tadi, sebelum aku menjelaskan semuanya. "Kalau memutuskan sesuatu, kamu harusnya berpikir yang matang. Jangan mengambil keputusan tergesa-gesa. Ibu tahu semua ini demi Rian, tetapi di sini kamu juga harus bisa menghargai Nina." Ibu menasehatiku, aku sadar apa yang aku lakukan memang tidak memikirkan posisi Nina, aku hanya memikirkan bagaimana agar Rian tidak merasa sedih, bagaimana Rian bisa bahagia dengan merasakan keluarga yang lengkap dan ingin mewujudkan apa yang Rian inginkan. "Dia pasti kaget karena kamu ajak menikah, lagian kamu sih, anak gadis orang udah langsung diajak menikah padahal kalian juga nggak saling mengenal dekat satu sama lain. Nina selama ini lebih sering bersama Rian kan, dibandingkan dengan kamu." Aku mengangguk. Semua yang dikatakan Ibu memang benar dan sekarang aku sendiri bingung menghadapi Nina esok hari, bagaimana sikap Nina padaku setelah apa yang aku lakukan kepadanya. Padahal selama ini aku berusaha untuk tidak canggung bersama dengan gadis itu, tetapi sekarang malah aku sendiri yang membuat keadaan menjadi canggung. "Kamu memang Ayah yang baik, memikirkan kebahagiaan Rian, dibandingkan kebahagiaan kamu sendiri. Tetapi kamu juga harus menghargai perasaan orang lain, jangan seperti ini, Tian." "Iya, Bu. Bastian mengaku salah, udah ambil keputusan tergesa-gesa tanpa bicara dulu sama Ibu. Malah baru bicara sekarang setelah Bastian melakukan semuanya," ucapku. Setelah itu, aku dan Ibu pun terlibat pembicaraan lainnya. Ibu masih bertanya-tanya apakah memang tidak ada hubungan saudara antara istriku dan Nina, mengingat wajah mereka hampir mirip seperti adik-kakak. Aku juga sudah mencari tahu dan tidak ada tanda-tanda apa pun yang menjurus bahwa Atika memiliki hubungan saudara dengan Nina. Aku juga masih tidak mengerti kenapa bisa mereka begitu mirip dan mereka juga masuk ke dalam kehidupanku di masa yang berbeda, namun tentu saja Atika adalah perempuan yang paling aku cintai, sementara Nina hanyalah gadis asing yang tidak sengaja aku kenali berkat Rian. Sekarang yang harus aku lakukan adalah bagaimana caranya agar tidak ada kecanggungan di antara aku dan Nina saat bertemu nanti. Seharusnya aku masih memikirkan semua, bukan malah mengambil keputusan seperti itu. Bastian, kenapa kamu menjadi begini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN