Aku dan Rian semakin terbiasa dengan kehadiran Nina di hari-hari yang kami lalui. Terutama Rian yang semakin menikmati harinya karena bersama dengan Nina. Mereka tampak terlihat seperti pasangan Ibu dan anak saat sedang bersama-sama dan aku selalu membayangkan yanh bersama Rian adalah Atika.
Tidak hanya kami yang terbiasa dengan kehadiran Nina, tetapi juga Ibu. Karena setiap ada kesempatan Ibu selalu meminta Nina menemuinya, tentu membawa Rian bersamanya. Mereka akan sibuk di dapur dengan berbagai bahan masakan atau kue. Benar-benar seperti mertua dan menantu yang menghabiskan waktunya untuk mencoba resep baru.
Sementara aku, kuakui aku pun terbiasa dengan kehadiran Nina. Berusaha untuk tidak membayangkan bahwa gadis itu adalah Atika, karena bagaimanapun mereka adalah orang yang berbeda. Aku tidak mau menganggap Nina adalah Atika karena itu akan menyakiti kedua perempuan tersebut, apalagi aku tidak mau menyakiti istriku untuk kesekian kalinya.
Namun permintaan Rian kali ini membuatku bimbang, tidak pernah aku merasa berada di antara pilihan yang begitu sulit seperti ini, kecuali dulu saat akhirnya aku memutuskan untuk melepaskan Indira dan menikahi Atika.
"Rian pengen kaya teman-teman, tinggal sama Mama sama Ayah di rumah yang sama. Kasihan Mama kalau bolak-balik ke sini, kenapa Ayah sama Mama nggak di rumah ini atau kita di rumah Mama aja, Yah."
Aku bingung. Rian semakin mengerti, dengan semua yang terjadi pada kami, dengan perbedaan antara dirinya dan teman-temannya. Yang di mana memiliki orang tua yang tinggal di rumah yang sama sementara yang di alami oleh Rian adalah aku dan Nina tidak tinggal di rumah yang sama, tentu saja karena kami tidak memiliki hubungan yang mengikat, yang mengharuskan tinggal di satu atap yang sama.
"Rian kan udah tahu, kalau Mama punya rumah sendiri. Lagian kan masih bisa ketemu setiap hari, di sekolah juga ketemu kan," ucapku.
Kedua mata Rian berkaca-kaca, membuatku kembali sakit hati melihatnya. Aku tidak ingin kalau Rian kembali bersedih, sudah beberapa waktu ini tidak pernah ada kesedihan di kedua matanya, karena Rian sangat bahagia memiliki sosok Ibu dalam hidupnya. Lantas, sekarang aku malah menyakitinya seperti ini.
"Nanti Ayah bicara sama Mama," putusku akhirnya setelah melihat Rian yang bersedih. Aku harus membuat sebuah keputusan yang tidaklah mudah.
**
"Gue paham sama apa yang Rian rasakan, namanya juga anak-anak, Bas. Pasti merasa iri dan beda sama teman-teman dia, karena nggak tinggal barengan sama mamanya."
Aku bertemu dengan Javi. Kami memang jarang bertemu karena sahabatku itu akhir-akhir ini sibuk dan ada pekerjaan di luar kota. Baru hari ini kami kembali bertemu dan aku menceritakan tentang keinginan Rian padanya.
Selain Nares dan juga Indira yang menjadi tempatku mencurahkan seluruh isi hatiku, Javi sebenarnya menjadi orang pertama yang tahu bagaimana aku selama ini, bagaimana rapuhnya aku ketika kehilangan Atika, bagaimana aku yang dulu berakhir dengan membenci diriku sendiri atas perbuatan yang aku lakukan pada istriku, bagaimana aku terpuruk akan semua yang terjadi pada kehidupanku setelah kepergian istrku dan bagaimana aku yang pada akhirnya terlambat jatuh cinta.
"Semuanya nggak mudah, tapi lo juga pasti nggak mau kalau Rian sedih lagi kan. Dari cerita lo, di mana Rian dekat banget sama cewek itu. Gue rasa memang Rian lebih membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari seorang Ibu, wajar kalau dia minta buat tinggal sama-sama bareng orang yang dia anggap ibunya sendiri.
"Keputusan ada sama lo, Bas. Pikirkan baik-baik dan nggak usah terburu-buru mengambil keputusan. Coba untuk membujuk Rian lagi," lanjutnya.
Aku mencerna semua perkataan Javi. Apa yang dia katakan sepenuhnya benar, bahwa aku tidak mau melihat anakku kembali bersedih, cukup dulu saja di mana Rian belum menemukan sosok Ibu setelah kehilangan Atika, sekarang jangan sampai mengalami yang kedua kalinya karena kehilangan Nina.
"Gue udah ambil keputusan."
**
Aku menjemput Rian di sekolah setelah bertemu dengan Javi tadi. Tidak kembali ke restoran karena sudah lama sekali aku tidak memiliki waktu untuk menjemput Rian, sampai beberapa hari ini Rian pulang bersama dengan Nina menggunakan taksi online.
Aku sudah sampai di depan sekolah Rian, sudah banyak murid yang keluar dari sekolah juga. Aku mencari keberadaan Rian yang belum juga terlihat batang hidungnya.
Lalu tak berselang lama, aku melihat Rian bersama dengan dua anak lelaki yang sudah aku kenali. Mereka tampak saling bercanda satu sama lain, membuatku ikut tersenyum melihatnya. Bersyukur karena Rian memiliki banyak teman dan membuat hari-hari di sekolahnya berwarna.
"Ayah!" serunya saat menyadari kehadiranku.
Rian berlari menghampiriku bersama dengan kedua temannya. Anakku tersenyum lebar, memelukku menjadi sebuah kebiasaan kami saat Rian pulang sekolah atau aku yang pulang bekerja.
"Ayah, tadi Mama bilang nggak bisa pulang bareng, katanya ada rapat dulu," ucap Rian padaku.
Aku menatapnya lalu mengangguk mendengar penuturan Rian. Kemudian aku menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil, setelah berpamitan pada si kembar yang juga di jemput oleh seorang supir.
"Kalau gitu Rian ke rumah Nenek dulu ya sekarang, tungguin di sana kaya biasanya," ucapku setelah berada di balik kemudi.
Rian mengangguk dan aku pun segera melajukan mobilku menuju rumah Ibu. Kesempatan untuk aku bicara berdua dengan Nina nanti, karena tidak ada Rian di antara kami.
"Ayah, nanti beli dulu buku gambar. Punya Rian udah habis, tinggal bagian belakangnya aja yang kosong. Rian punya pe-er menggambar nanti," ucap Rian saat kami dalam perjalanan.
"Ya udah sekarang cari dulu, biar sekalian dan nanti langsung bisa kerjain pe-ernya," balasku kemudian memilih untuk pergi ke toko peralatan sekolah dan membeli apa yang Rian butuhkan.
**
Aku kembali ke sekolah, setelah mengantarkan Rian ke rumah Ibu. Karena Nina memiliki rapat dengan guru lainnya, aku memutuskan untuk kembali menjemput dan karena aku harus bicara dengannya.
Cukup lama aku menunggu di depan gerbang sekolah sampai akhirnya aku melihat Nina yang berjalan keluar area sekolah. Aku langsung membunyikan klakson membuat Nina menoleh dan menyadari kehadiranku.
Gadis itu berjalan mendekati mobilku yang terparkir tidak jauh dari posisinya setelah keluar dari area sekolah. Kemudian aku membuka kaca mobil, menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam.
"Nggak perlu jemput aku, Mas. Pasti Mas Tian sibuk banget di restoran," ucapnya setelah duduk di kursi penumpang.
"Saya ingin bicara sama kamu," balasku membuat Nina menoleh dengan tatapan penuh tanya. Mungkin dia juga bingung karena aku yang mendadak ingin bicara hanya berdua dengannya, padahal selama ini selalu ada Rian di antara kami.
"Bicara soal apa, Mas?" tanya Nina padaku.
"Tidak di sini, kita cari cafe yang dekat dulu." Aku segera melajukan mobil, tanpa menunggu balasannya, mencari tempat yang bisa dengan nyamannya untuk bicara berdua, semua sudah aku putuskan dan aku harap ini adalah keputusan yang terbaik.
Sayang, apakah aku bisa mengambil keputusan yang baik untuk Rian dan juga aku? Aku tidak ingin menyakiti kalian.