Aku masih memikirkan perkataan Rian beberapa saat lalu, yang membuat suasana menjadi hening saat itu karena perkataan Rian membuat kami semua terdiam.
Ibu yang langsung sadar, mengalihkan obrolan kami dan beruntung Rian langsung ikut membahasnya, tentang kegiatan Rian di sekolah.
Selesai makan bersama, aku diajak oleh Ibu untuk bicara empat mata. Aku tahu apa yang akan Ibu bahas kali ini padaku. Sementara yang lain tengah berkumpul menemani Rian dan Gea yang kembali bermain bersama.
Aku dan Ibu berada di lantai dua, dengan secangkir teh yang tadi aku bawa dari dapur sebelum menghampiri Ibu yang sudah lebih dulu menunggu di atas.
"Ibu nggak nyangka ada perempuan lain yang mirip sekali dengan Atika, siapa yang lebih dulu bertemu sama Nina?" tanya Ibu.
Perkenalkan Ibu dengan Nina memang tidak terlalu mendetail sampi membahas pertemuan pertama kami dengan Nina. Karena tidak mau membuat Nina risih dengan membahas hal tersebut, apalagi aku juga sudah mengajaknya untuk bertemu dengan Ibu seperti ini, padahal hubungan kami pun tidak bisa dikatakan sebagai pasangan, hanya karena Nina begitu dekat dengan Rian saja.
"Tian juga kaget waktu tahu kalau ada perempuan lain yang mirip banget sama Tika, Bu. Rian yang pertama kali bertemu sama Nina, dia sendiri yang bawa Nina ke rumah dan langsung manggil Mama. Mungkin karena sebelumnya dia selalu lihat foto Atika dan Tian yang suka bilang kalau Atika masih kerja, waktu Rian tanya kenapa Mama belum pulang terus."
"Ini sepenuhnya salah Tian, Bu," lanjutku.
Ibu mendengar semua penjelasanku, entah hanya perasaan aku saja atau memang begitu adanya, Ibu kelihatan lega setelah mendengar penjelasan dariku. Mungkin karena pertemuan kami dengan Nina, diawali oleh Rian yang membuat Ibu lega karena aku tidak memaksakan diriku untuk membuat Rian dekat dengan Nina. Semua murni karena Rian sendiri yang lebih dulu bertemu dan dekat dengan Rian.
"Ibu nggak melarang kamu untuk dekat dengan siapa pun karena kamu juga bukan anak kecil ataupun remaja lagi. Kamu sudah dewasa dan memiliki satu anak. Tetapi yang Ibu harapkan saat kamu memilih untuk membuka lembaran baru dengan seseorang, kamu tidak memaksakan Rian menerimanya."
Aku mengangguk. Jelas, aku tidak akan pernah memaksakan Rian untuk menerima orang baru yang menggantikan sosok ibunya, atau memaksa Rian untuk memanggil seseorang dengan panggilan Mama. Dan lagi, aku juga tidak akan pernah menjalin hubungan lagi kecuali atas persetujuan anakku. Karena sekarang yang paling berharga dalam hidupku adalah Rian, tidak perduli jika aku tidak memiliki pasangan hidup lagi, yang paling aku butuhkan adalah anakku terus ada disampingku.
"Jangan juga memisahkan Rian dengan Nina. Ibu lihat anak kamu benar-benar menyayangi Nina dan membutuhkan kasih sayang darinya."
Benar, yang Ibu katakan semuanya benar. Siapapun bisa melihat bagaimana sayangnya Rian pada Nina dan betapa anak itu membutuhkan Nina saat ini. Aku juga tidak mungkin membuat Rian bersedih dengan menjauhkan mereka berdua. Yang paling penting sekarang adalah kebahagiaan Rian, bukan tentang kebahagiaan diriku.
**
"Rian mau bobok sama Mama di sini," ucap Rian setelah kami sampai di rumah.
Kami memang tidak menginap di rumah Ibu, mengingat aku juga tidak hanya datang bersama Rian, tetapi bersama dengan Nina juga. Nares dan Indira serta Gea pun sudah lebih dulu pulang setelah seharian bersama kami di rumah Ibu.
Dan sekarang Rian sedang merajuk, anak itu tidak memperbolehkan Nina pulang seperti biasa. Entah kenapa akhir-akhir ini Rian menjadi manja dan mudah merajuk. Namun anehnya lagi aku senang melihatnya karena Rian tampak seperti anak-anak seusianya. Selama ini Rian terlalu dewasa diusia yang sebenarnya.
"Besok kan ketemu di sekolah, udah mau malam juga, Mama harus pulang," ucapku masih membujuk Rian agar mau ditinggal oleh Nina.
Aku sudah banyak merepotkan gadis itu, menariknya jauh sekali dalam kehidupanku. Aku tidak ingin Nina kehilangan kebebasannya hanya karena keberadaan Rian yang saat ini dalam kehidupannya.
"Ini juga rumah Mama kan, papanya Gea sama mamanya juga tinggal di satu rumah yang sama. Kenapa Ayah sama Mama nggak ada di sini sama-sama?"
Aku seharusnya memiliki jawaban atas pertanyaan Rian ini. Namun baik aku maupun Nina malah dibuat bungkam karena pertanyaan yang terlontar dari mulut kecil Rian.
"Aku pengen bobok dipeluk sama Ayah, sama Mama. Teman-teman aku selalu cerita senang tidur sama orang tuanya. Raja sama Rija juga suka tidur di temanin Mama sama papanya."
Aku menyerah. Aku bingung harus mengatakan apa kepada Rian agar anakku mengerti bahwa semua yang dia inginkan tidak mungkin terjadi. Bagaimana mungkin aku mengajak Nina untuk tidur bersama kami, tentu akan sangat canggung sekali berada di kamar yang sama meskipun ada Rian di antara kami.
"Kasihan Mama nanti kemalaman pulangnya," ucapku masih berusaha agar Rian mau membiarkan Nina pulang seperti biasanya.
Kulihat kedua mata Rian mulai berkaca-kaca, diikuti isakan terdengar pilu ditelingaku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak ingin Rian bersedih, tetapi aku juga tidak mungkin meminta Nina untuk tinggal di sini malam ini, Nina juga memiliki keluarga yang pastinya akan bertanya-tanya kenapa gadis itu belum juga sampai di rumahnya.
"Ya udah malam ini Rian bobok sama Mama ya."
Ucapan Nina membuat aku memandang ke arahnya memberikan tatapan penuh protes namun dibalas dengan gelengan olehnya dan bibir yang bergerak mengatakan kalimat tidak apa-apa.
Rian yang tadinya menangis langsung berhenti dan menatap Nina penuh binar bahagia. "Beneran, Ma?" katanya.
Nina mengangguk, membuat Rian memekik senang karena malam ini dia akan tidur bersama dengan Nina di kamarnya. Anakku tampak bahagia sekali dengan hal yang mungkin sederhana di mata orang-orang namun berharga untuk Rian yang selama ini belum pernah merasakan tidur dalam dekapan mamanya.
Rian langsung mengajak Nina berjalan ke arah kamarnya, sementara aku mengikuti mereka dari belakang namun tentu saja masuk ke dalam kamarku, tidak ke kamar Rian. Aku memilih berganti pakaian lebih dulu, sebelum melihat Rian kembali yang akan tidur ditemani Nina.
**
Aku terpaku melihat Nina yang sudah berganti pakaian, bagaimana mungkin aku membayangkan bahwa kali ini yang berada di hadapanku adalah Atika, istrku.
"Maaf Mas, tadi Rian kasih baju ini sama aku," katanya membuat aku kembali tersadar.
Saat ini Nina memakai pakaian tidur milik Atika, yang entah kenapa begitu pas di badanya dan aku tidak pernah tahu kalau Rian memiliki pakaian milik mamanya di kamar ini.
"Rian lihat baju tidur itu di lemari Rian, Yah," ucap Rian kali ini seolah mengerti dengan pikiranku sekarang.
"Ayah bobok di sini juga?" tanya Rian setelahnya.
Aku menggeleng. "Rian sama Mama Nina aja ya, Ayah tidur di kamar Ayah," ucapku.
"Ayo Rian naik ke atas ranjang," ajak Nina sebelum Rian membalas perkataanku yang pasti akan merajuk karena aku tidak ikut tidur bersama mereka.
Rian menurut sekali kalau sudah Nina yang menyuruhnya. Anakku langsung naik ke atas tempat tidurnya disusul oleh Nina. Posisinya Rian berada di ujung dekat dinding sementara Nina di sampingnya membuat.
"Selamat malam Ayah," katanya.
Aku tersenyum seraya berjalan mendekati tempat tidurnya, mencondongkan tubuhku dan mencium kening Rian lalu membalas ucapan selamat malamnya.
"Tidur yang nyenyak anak Ayah," ucapku.
Tanpa sadar posisiku kali ini seperti mengurung Nina di bawahku, membuat gadis itu menahan napasnya karena wajah kami begitu dekat. Kalau saja aku tidak mengontrol diriku, aku benar-benar membayangkan bahwa sekarang perempuan yang bersama dengan Rian adalah istriku.
"Selamat malam," ucapku memecah kecanggungan di antara kami setelah Rian memejamkan matanya.
"Ah, iya. Selamat malam juga, Mas Tian."
Aku terpaku. Demi Tuhan, aku merasakan bahwa Atika bersamaku sekarang. Tidak mau larut dalam khayalanku, gegas aku keluar dari kamar Rian dan pergi ke kamarku.
Sampai di kamar, aku langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Mungkin aku merindukan Atika sampai semua yang kulihat adalah dirinya, semua yang kupikirkan adalah tentang dirinya.
Sayang bisakah kamu datang ke dalam mimpiku, aku ingin bertemu.