Aku, Rian dan Nina baru saja sampai di rumah Ibu setelah mengunjungi Atika dan mengenalkannya pada Rian. Menyudahi kesedihan kami, aku segera mengajak Rian ke rumah Ibu karena Nares dan keluarga kecilnya juga sedang berkunjung. Setidaknya kehadiran Gea akan membuat Rian sedikit lupa akan kesedihannya.
Kulihat Nina tampak gugup, saat kami keluar dari mobil dan hendak masuk ke dalam rumah. Sejak di perjalanan tadi pun, Nina sempat mengatakan kalau dirinya tidak usah ikut saja, namun tentu aku menolak karena tujuan utamanya adalah mengenalkan dia pada Ibu. Mana mungkin aku terus menutupi seseorang yang membuat Rian merasakan kehadiran seorang Ibu. Sekalian mengenalkan pada Nares dan Indira juga setelah aku menceritakan Nina pada mereka.
"Gea udah datang ya, Ayah?" tanya Rian saat kami berada di depan pintu rumah.
Aku mengangguk. "Udah, tadi Om Nares telepon Ayah kalau udah sampai di sini," kataku.
Rian kelihatan senang mendengar Gea sudah datang ke sini. Kami pun segera masuk ke dalam rumah, pastinya kehadiran Nina akan membuat semuanya terkejut, apalagi Ibu yang sangat mengenal mendiang Atika.
"Nenek!"
Rian berlari menghampiri neneknya yang berada di ruang tengah saat kami sudah masuk ke dalam rumah. Kulihat yang lain juga berada di sana dan seperti yang aku katakan kehadiran Nina yang sejak tadi berdiri di sampingku membuat mereka terkejut.
"Nenek, Rian punya Mama sekarang. Namanya Mama Nina, tadi Rian juga ketemu sama Mama Atika. Jadi kata Ayah, Rian punya dua Mama yang spesial," celoteh Rian setelah berada di hadapan Ibu.
Sementara Ibu masih terpaku, dengan kedua matanya yang memperhatikan Nina di sampingku. Sebelum akhirnya merespon perkataan Rian.
"Rian senang?" tanya Ibu.
Senyum di wajah Rian mengembang, tanpa di katakan pun sudah sangat jelas terlihat bahwa Rian sangat bahagia memiliki dua orang Ibu dalam kehidupannya.
"Senang, Nek!" Rian tersenyum lebar membuat Ibu ikut tersenyum dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Rian main sama Gea gih. Daritadi Gea udah nungguin loh," ucap Indira setelah menetralkan keterkejutannya.
Rian mengangguk antusias, lalu mengajak Gea untuk bermain di halaman belakang. Setidaknya mereka terhindar dari obrolan para orang dewasa setelah ini.
"Bu, ini Nina."
Aku pun mengenalkan Nina pada Ibu dan gadis itu pun dengan kegugupannya menghampiri Ibu seraya mencium tangan.
"Saya Nina, Tante," katanya.
Ibu mengelus pipi Nina, masih dengan kedua mata yang berkaca-kaca. "Kamu mirip sekali dengan Atika," ucap Ibu begitu lirih.
Ada kerinduan pada Atika dalam kedua mata Ibu saat menatap Nina. Maklum saja Atika begitu dekat dengan Ibu selayaknya anak dan Ibu kandung sendiri. Ibu pun sangat menyayangi Atika dan merasa hancur saat Atika pergi untuk selamanya meninggalkan kami.
Nina tersenyum tipis, dia sudah tidak asing lagi disebut mirip dengan Atika. Aku pun sudah lebih dulu mengenalkan Atika dan memberikan foto istriku pada Nina. Waktu itu Nina juga sama terkejutnya, menyadari bahwa wajah mereka mirip bak pinang dibelah dua. Namun Nina meyakini bahwa dirinya tidak memiliki saudara sama sekali.
"Nin, ini Nares dan Indira teman baik saya," ucapku kali ini mengenalkan Nares dan Indira yang berada di dekat Ibu.
Nina pun berjabat tangan dengan mereka berdua, saling berkenalan satu sama lain dan tentu saja Indira langsung berusaha akrab pada Nina. Aku dan Nina pun bergabung dengan mereka, duduk di ruang tengah sembari mengobrol setelah perkenalan singkat tadi.
Ibu yang menarik Nina untuk duduk di dekatnya terus mengajak Nina bicara. Bertanya tentang kegiatannya dan saat tahu Nina juga merupakan guru di sekolah Rian, Ibu senang mendengarnya. Apalagi tahu Rian sangat dekat dengan Nina, padahal jelas Ibu paham bahwa selama ini Rian tidak pernah mudah dekat dengan orang baru, mungkin karena Nina mirip dengan Atika.
**
Para perempuan sedang menyiapkan makan siang, Nina bisa dengan mudahnya dekat dengan Ibu dan juga Indira setelah berbincang tadi, mereka malah seperti sudah saling mengenal lama.
Aku dan Nares berada di halaman belakang sembari memperhatikan anak-anak yang sedang bermain ayunan. Rian terlihat begitu menjaga Gea seperti adiknya sendiri dan itu membuat kami senang karena anak-anak bisa dekat layaknya saudara.
"Gue masih nggak nyangka sih, Bas. Mirip banget sama istri lo," ucap Nares.
Sejak tadi Indira maupun Nares mengatakan hal yang sama, bahwa mereka tidak menyangka akan semirip ini dengan mendiang istriku. Seperti kembaran Atika katanya.
"Gue juga awalnya gitu, mereka nggak bisa di bedakan dan hampir bikin gue salah. Menganggap bahwa Atika ada bersama kami, harusnya gue nggak membayangkan itu," ucapku.
"Tapi itu wajar, Bas. Kalau gue ada di posisi lo sekarang, gue juga bakalan ngerasa apa yang lo rasakan."
Aku tahu, namun aku takut menyakiti Nina karena menganggap dirinya Atika, bukan sebagai dirinya sendiri. Bagaimana pun tentu saja mereka bukanlah orang yang sama, ada yang perbedaan di antara keduanya saat aku semakin mengenal Nina lebih jauh. Kalau orang lain memperhatikan lebih teliti, warna matanya berbeda, jika Atika memiliki warna hitam pekat, Nina memiliki warna cokelat.
"Dan sebenarnya gue takut," ucapku membuat Nares langsung menoleh penuh rasa penasaran.
"Karena apa?" tanya Nares padaku.
"Gue takut memandang Nina sebagai Atika, membuat mereka tersakiti."
**
Makan siang kali ini sungguh berbeda, tentu karena kehadiran Nina di tengah-tengah kami. Kali ini terasa seperti keluarga lengkap, khusunya aku dan Rian karena ada Nina bersama kami sekarang.
Tadi Rian begitu senang mengenalkan Nina sebagai mamanya pada Gea. Dengan penuh percaya diri Rian berseru bahwa sekarang dia juga memiliki Mama sama seperti Gea yang memiliki Mama.
Sekarang saat makan siang pun tiba-tiba saja Rian ingin makan disuapi oleh Nina, melihat Gea yang makan disuapi oleh Indira membuat anakku malah ikut-ikutan. Biasanya Gea yang selalu ikut-ikutan Rian saat anakku melakukan apa pun, sekarang malah kebalikannya.
Ibu yang melihat itu tersenyum lebar, aku yakin Ibu juga terharu karena melihat betapa Rian bahagia atas kehadiran Nina dalam kehidupannya, menjadi sosok Ibu yang memberikan kasih sayang kepada Rian. Tanpa aku jelaskan, Ibu bisa melihat sendiri bagaimana ketulusan Nina yang tergambar jelas.
"Rian sering makan disuapi sama Tante Nina?" tanya Ibu pada Rian yang duduk tidak jauh darinya.
"Ini Mama aku, Nek," balas Rian.
Ibu tersenyum lupa menyebut Nina sebagai Mama Rian. "Ah iya, Nenek lupa, Mama Rian kan," ucap Ibu kembali.
"Kalau di rumah suka disuapi tapi nggak setiap hari, karena kafa Ayah kasihan Mama capek habis kerja, Rian juga kan sudah besar."
Jawaban Rian membuat kami tersenyum, aku bangga sekali pada anakku karena Rian begitu penurut dan sangat menyayangi orang-orang yang berada di dekatnya.
"Tapi Rian sedih, karena Mama nggak bobok sama kita di rumah. Rian pengen bobok sama Ayah dan Mama kaya Gea."