Seperti yang aku katakan pada Nares dan Indira, bahwa hari ini aku akan mengajak Rian menemui mamanya. Tentu saja bersama dengan Nina karena aku membutuhkan dia untuk ikut menjelaskan keadaan nanti pada Rian.
Aku juga sudah bicara dengan Nina malam itu, saat aku mengantarkan dia pulang setelah Rian tidur selepas Nina membacakan dongeng untuknya. Nina tidak mempermasalahkan dan akan ikut saat kubilang aku akan membawa Rian bertemu dengam Mama kandungnya.
Dan sekarang kami sedang bersiap, karena ini bertepatan dengan hari minggu, jadinya aku mengajak mereka di pagi hari. Setelah pulang dari pemakaman, aku memutuskan akan mengenalkan Nina pada Ibu, setelah sekian hari aku memikirkannya.
"Ayah, tapi nanti ada Gea di rumah Nenek. Kemarin Nenek telepon aku," ucap Rian saat aku menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
"Iya nanti kita ke rumah nenek juga, sekarang Rian ikut dulu sama Ayah," balasku kemudian menutup pintu mobil bagian belakang. Nina duduk di kursi depan dan benar-benar pemandangan ini selayaknya keluarga kecil yang bahagia. Andaikan Nina adalah Atika.
Aku segera masuk ke mobil, berada di balik kemudi. Lalu kami pun berangkat menuju tempat peristirahatan terakhir istriku, tanpa Rian ketahui bahwa kami akan ke sana. Yang dia tahu, aku mengajaknya untuk jalan-jalan sebelum nanti ke rumah neneknya.
Sebenarnya aku merasa gugup dan takut, bagaimana reaksi Rian nanti saat mengetahui bahwa Nina bukanlah mamanya, melainkan seseorang yang sudah terkubur di dalam tanah dan pergi untuk selamanya. Kuharap anakku mengerti, sama seperti selama ini yang mengerti ketika dia bertanya perihal keberadaan Atika.
**
Kami sampai di parkiran area pemakaman, aku semakin dibuat gugup setelah sampai di sini. Sementara Nina tampak tenang, mengajak Rian untuk keluar dari mobil. Rian tampak kebingungan dengan lokasi yang kami tuju sekarang, namun tidak ada satu pun di antara kami yang berusaha menjelaskan, menunggu sampai Rian melihat nisan Atika.
Aku mengajak mereka untuk masuk ke area pemakaman, berjalan dan mencari tempat Atika tidur panjang. Tentu saja sudah sangat aku hapal letaknya karena satu minggu sekali aku selalu mengunjungi istriku di sini.
"Rian, sekarang kan Rian udah sekolah. Anak Ayah ini pintar banget, jadi dengar apa yang mau Ayah bilang ya," ucapku setelah kami berada di dekat nisan Atika.
Rian menatapku, masih terlihat kebingungan namun anak itu mengangguk mengiyakan apa yang baru saja aku katakan. Sementara Nina yang berada di sampingnya memilih untuk diam.
"Rian tanya sama Ayah, kenapa Mama nggak pulang terus kan waktu itu. Rian selalu pengen tahu tapi Ayah bilang Mama kerja. Ayah minta maaf ya, kalau selama ini Ayah bohongin Rian."
Dadaku mulai sesak, sejujurnya aku masih belum bisa menjelaskan semuanya kepada Rian. Namun semua harus aku lakukan, daripada Rian mengetahui semua dari orang lain dan akan membuat Rian semakin sakit hati.
"Mama Nina ini bukan Mama Rian, walaupun wajahnya mirip kan sama foto Mama yang selalu Rian lihat di kamar."
"Mama Nina, Mama Rian!" pekiknya membuatku tersentak karena suaranya.
"Dengarkan Ayah dulu, Sayang," ucap Nina mengelus punggung anakku penuh perhatian.
Aku yang berjongkok menghadap Rian membawa tubuh anakku lebih mendekat ke dekat nisan yang bertuliskan nama Atika.
"Ini Mama yang udah melahirkan Rian. Karena Tuhan lebih sayang sama Mama, jadinya Mama pulang lebih dulu daripada kita. Mama bilang Rian pasti jadi anak yang pintar dan benar kan sekarang Rian menjadi anak pintarnya Mama sama Ayah."
"Ayah minta maaf karena udah bohong sama Rian, dulu Rian kan belum sekolah jadi Ayah nggak kasih tahu kalau Mama udah pulang ke rumah Tuhan. Sekarang Rian udah sekolah, Rian udah pintar banget, Ayah pengen Rian tahu meskipun Mama udah nggak sama kita lagi, tapi Mama selalu sayang sama Rian," lanjutku dan pecah sudah tangisan yang sejak tadi aku tahan.
Aku menangis, pun dengan Rian yang ikut menangis seraya memelukku. Setelah aku menutupi semuanya, sekarang anakku mengetahui bahwa mamanya sudah tidak ada di dunia ini. Tangisan Rian membuat hatiku hancur, pelukanku semakin erat. Nina yang berada di samping kami pun ikut menangis melihat Rian menangis.
"Rian anak pintar, Mama Atika ini yang melahirkan Rian, yang sayang banget sama Rian dari bayi sampai sekarang dan selamanya. Sekarang Rian kirim doa buat Mama, biar Mama di sana tahu kalau Rian udah datang ke sini buat ketemu sama Mama," ucap Nina seraya mengusap puncak kepala Rian.
Pelukan kami mengendur, Rian mulai menatap makam Atika yang berada di hadapan kami. "Mama," ucapnya begitu lirih.
"Jagoan Ayah nggak boleh nangis lagi ya, Mama nanti sedih kalau lihat Rian nangis kaya gini. Rian kan masih punya Ayah di sini, Rian juga masih bisa ketemu sama Mama dan kirim doa ke Mama setiap hari," ucapku menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Tapi teman-teman punya Mama yang antar ke sekolah, Ayah," katanya.
"Rian juga punya, kan ada Mama Nina," balasku.
Demi kebahagiaan Rian, aku akan melakukan apa pun. Termasuk menganggap Nina sebagai ibunya, karena Rian memang membutuhkan figure seorang ibu. Dan Nina adalah orang yang tepat, mengingat bukan hanya paras gadis itu yang begitu mirip dengan mendiang istriku, tetapi perhatiannya kepada Rian benar-benar bak seorang ibu dan Rian juga merasa nyaman dengannya.
"Rian punya dua Mama, lebih spesial dari teman-teman Rian di sekolah," lanjutku.
Kulihat seulas senyum di wajah Rian membuat dadaku yang sesak tadi mulai mereda. Aku tahu Rian akan mengerti dan menerima semuanya, setidaknya aku sudah mengatakan semua tentang Atika pada Rian dan Tuhan mengirim Nina di waktu yang tepat untuk Rian. Anakku tidak merasa terus menerus bersedih, karena kehadiran Nina yang selama ini seperti ibunya sendiri.
"Jadi, Rian masih boleh kan panggil Mama Nina?" tanya Rian yang menatapku dengan Nina secara bergantian.
Aku mengangguk, pun Nina yang mengangguk seraya tersenyum lebar. "Boleh dong, Sayang," katanya mengelus rambut Rian begitu perlahan.
Kemudian aku dan Nina saling bertatapan, sebelum akhirnya aku memutuskan tatapan tersebut dan beralih pada nisan istriku. Mengelusnya dengan penuh kerinduan, selalu begitu yang aku rasakan selama ini.
"Kamu bahagian kan, Sayang. Rian ada di sini sama kita. Dia udah tahu tentang kamu sekarang," ucapku mengelus nisan Atika.
Lalu aku menyuruh Rian untuk menaruh bunga, yang tadi sempat aku beli dalam perjalanan menuju ke sini, aku menyuruhnya untuk meletakkan di dekat nisan mamanya.
"Mama, Rian sayang sama Mama Atika. Nanti Rian ke sini sama Ayah," ucap Rian setelah mengetahui nama mamanya membuatku tersenyum melihatnya.
Terima kasih Sayang, kamu melahirkan anak yang hebat seperti Rian. Aku tahu kamu di sana tersenyum melihat Rian sekarang, maaf aku baru mengajaknya ke sini.