Perkataan Nina anehnya membuat aku tenang. Tatapannya, tutur katanya, semuanya membuat siapapun merasa begitu nyaman di samping gadis itu.
Sudah satu minggu berlalu dari obrolan kami waktu itu, Nina tetap menemui Rian di rumah dan katanya dia juga bekerja menjadi seorang guru di sekolahan Rian, membuat anakku semakin senang karena selalu bertemu dengan Nina meskipun tidak di rumah saja.
Aku belum menceritakan semuanya pada Ibu, rencananya akan mengajak Nina untuk bertemu dengan Ibu nanti saat waktunya sudah tepat. Sekarang pun aku baru akan menceritakan semuanya pada Nares dan Indira.
Aku menunggu mereka di restoran, sekaligus makan siang bersama. Mungkin karena menjalin pertemanan setelah apa yang terjadi di antara kami, lalu aku yang sering mengutarakan isi hatiku pada mereka, jadinya aku selalu bercerita seperti ini pada mereka, terutama pada Nares karena kami sama-sama lelaki.
"Sorry ya baru datang, maklum punya anak kecil butuh persiapan ini-itu," ucap Indira saat mereka baru saja sampai di restoran.
Aku sama sekali tidak masalah, sangat maklum apalagi usia Gea satu tahun di bawah Rian dan anak perempuan itu sangat aktif sekali, berbeda dengan Rian yang cenderung diam. Kecuali akhir-akhir ini karena begitu senang memiliki Mama.
"Santai aja, Ra," kataku. Aku dan Indira tidak merasa canggung satu sama lain, meskipun kami adalah mantan tunangan di masa lalu.
"Gue penasaran banget apa yang mau lo bicarakan sama kita," ucap Nares kali ini. Setelah duduk di samping Indira seraya memangku Gea, sepertinya anak mereka sedang manja pada Nares sekarang.
"Kita makan siang dulu, nanti gue cerita selagi kita makan sama-sama," balasku. Kemudian kami pun memesan makanan, setelah aku memanggil salah satu pelayanku.
**
Aku sudah menceritakan semuanya pada Indira dan Nares, di sela-sela kami menikmati makan siang. Keduanya tentu terkejut dengan ceritaku, bahkan tidak menyangka sama sekali. Sebelum aku memberikan foto Nina yang kuambil diam-diam saat sedang bermain dengan Rian beberapa hari lalu.
Nares bilang kalau gadis itu memang mirip sekali dengan mendiang istriku. Indira juga sama sekali tidak menyangka ada dua orang yang sama persis namun tidak memiliki hubungan darah sama sekali.
"Dan sekarang dia sering ke rumah lo?" tanya Nares.
Aku mengangguk. "Iya, karena Rian nggak mau pisah sama Nina yang dia anggap mamanya," balasku.
"Aku bilang apa kan, Tian. Rian itu harus segera tahu mamanya dan kamu harus bisa jelasin semuanya, kalau udah kaya gini jadi susah buat kasih Rian pengertian," timpal Indira.
"Gue yakin Rian akan mengerti, cuma perlu pelan-pelan aja jelasinnya. Nina juga akan bantu jelasin ke Rian dan rencananya besok gue akan ajak Rian ke makam Atika, bersama Nina juga."
Penjelasanku diterima oleh Indira dan Nares. Mereka berharap semuanya lancar dan Rian bisa mengerti dengan keadaan yang terjadi sebenarnya. Rian juga bisa menerima bahwa Ibu yang telah melahirkannya sudah pergi jauh, pergi untuk selamanya.
Setelah aku selesai menceritakan semuanya, kami pun kembali menikmati hidangan yang tersaji di atas meja. Dengan obrolan kecil yang membuat suasana di antara kami menjadi hangat, Nares dan Indira bukan sekedar teman saja untukku. Mereka sudah seperti saudaraku sendiri apalagi kalau kami sudah berkumpul di rumah Ibu dengan anak-anak kami. Rasanya seperti memiliki keluarga baru dan bahagia karena Rian selama ini tidak kesepian, saat bersama dengan Gea.
**
Aku baru saja sampai di rumah saat malam hari
Karena ada urusan mendadak, jadinya aku pulang sedikit terlambat. Beruntung ada Nina yang dengan senang hati menemani Rian di rumah saat aku mengirimkan pesan padanya kalau aku akan pulang malam dan meminta Nina untun menemani Rian lebih dulu.
Terdengar gelak tawa dari ruang tengah saat aku baru saja masuk ke dalam rumah dan berjalan semakin dalam ke arah ruang tengah. Lalu kedua mataku tertuju pada Rian dan Nina yang tengah asyik berdua, menonton salah satu acara kartun yang membuat mereka tertawa.
Aku terpaku. Inikah keluarga lengkap yang selama ini Rian harapkan. Bukan hanya ada aku yang sebagai ayahnya, tetapi juga ada sosok perempuan seperti Nina yang mirip dengan mamanya. Dadaku kembali sesak mengingat momen kami berdua, aku dan Atika saat dulu bersama.
Ruang tengah ini menjadi salah satu tempat kami saat menikmati waktu berdua, saat Atika dengan asyiknya menonton drama korea dan aku hanya menemaninya.
"Mas lihat deh, ganteng banget cowoknya. Semoga anak kita mirip aktor korea itu," ucap Atika seraya mengelus perutnya yang sudah mulai membesar.
Aku yang duduk di belakangnya, menjadi tempat dia bersandar, berdecak sebal mendengar perkataan istriku. Mana mungkin anak kami mirip aktor tersebut, aku kan ayahnya. Tentu saja mirip denganku.
"Kamu ada-ada aja, ini kan anak aku. Jelas nanti kalau lahir dia bakalan mirip sama aku, bukan malah sama cowok itu. Apaan cowok cantik gitu, nggak ada ganteng-gantengnya," balasku.
Atika langsung menoleh seraya memukul dadaku pelan, membuatku meringis karena terkejut dengan apa yang dia lakukan. Padahal aku mengatakan hal yang benar, ini juga ungkapan aku sebagai seorang suami yang sedang cemburu karena istrinya asyik melihat lelaki lain di layar televisi.
"Kamu tuh jangan ngatain gitu, mereka ciptaan Tuhan juga," katanya yang dengan bibir mengerucut karena ikutan sebal.
Aku terkekeh melihatnya, lalu kulayangkan kecupan kecil di bibir manis istriku. Bibir yang selalu menjadi kesukaanku, apalagi dia sedang kesal seperti ini. Istriku menggemaskan.
"Ayah!"
Lamunanku buyar ketika suara Rian memanggilku dengan penuh semangat, anakku ternyata sudah menyadari keberadaan aku di sini. Dia bahkan beranjak dari sofa dan berlari menghampiriku.
Rian memelukku seolah kami sudah lama tidak bertemu, namun memang beginilah Rian menyambut kepulanganku setelah bekerja. Kubalas pelukannya, menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapanku.
Rian adalah anugerah terindah yang Tuhan kirim padaku, yang menemani aku selama ini dan menjadi alasan untukku agar tetap melanjutkan hidupku meskipun kesedihan teramat membuat aku terpuruk. Rian adalah pelipur laraku.
Sementara di tengah kami yang masih saliny berpelukan, aku menatap Nina yang berdiri tidak jauh dari kami. Gadis itu tersenyum melihat interaksiku bersama dengan Rian, senyum yang begitu tulus, yang membuatku hampir saja hilang kendali. Membuatku merasakan adanya Atika di sini bersama kami.
Aku menggeleng pelan, tidak sepantasnya aku berpikir begitu. Menganggap Nina sebagai Atika yang menjadikan keluargaku lengkap. Wajah mereka mungkin sama namun mereka tetap dua orang yang berbeda.
Nina hanya seseorang yang kebetulan mirip dengan mendiang istriku dan membuat Rian menganggapnya sebagai seorang Ibu. Sementara Atika jelas adalah istriku, wanita yang pada akhirnya sangat aku cintai meskipun raganya tidak lagi bersama dengan kami di sini.
Sayang, aku nggak mungkin terpikat sama dia kan. Maafkan aku ...