bc

Lingkungan Baru untuk Perbaikan Moral Gadis Religius

book_age12+
320
IKUTI
1.1K
BACA
love-triangle
friends to lovers
student
comedy
otaku
highschool
friendship
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

Nur Faj’rinah Alfia adalah gadis fujoshi yang dulunya adalah siswa yang bersekolah di Madrasah Aliyah swasta yang terkenal akan ke religiusan para peserta didiknya. karena ketangkap basah guru BK sedang membawa komik BL (Boys Lover) yang underated 18+ di tasnya, dia pun di keluarkan dari Madrasah Aliyah itu. Dia pun pindah di sekolah baru yang merupakan sekolah umum yang tidak berbasis agama islam. Meskipun sekolah barunya termasuk sekolah yang bagus di kotanya, namun gadis ini masih menutup diri dan setengah hati menjalani kehidupan di sekolahnya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1 : Dikeluarkan!
Usai menjalani skorsing selama seminggu, Nur Faj’rina Alfia kembali kesekolahnya. Setelah menyalimi ayahnya yang mengantarnya dia membuka pintu mobil dengan tangan bergetar. Ayahnya tak bisa menyimpan lagi kecemasan yang sedari pagi dia tahan agar putrinya bisa percaya diri dan semangat kembali. “Apa lebih baik Abi anter kamu aja, Sayang?” tanya ayahnya. “Jangan, Abi! Biar Nurfa sendiri aja!” gadis ini langsung menolaknya, “tenang aja! Nurfa kuat, kok!” gadis itu menunjukan senyum lebar yang memang agak memaksa. Nurfa sadar senyumannya tak berhasil menghapus wajah cemas ayahnya. Dia pun menenteng tasnya dan keluar dari mobil. Saat menjumbulkan kepalanya Nurfa merasakan udara dingin semriwing di pagi hari. Di jam segini masih banyak siswa dengan seragam yang serupa dengannya muncul berjalan masuk kegerbang sekolah -kebetulan disekolah itu ada gerbang khusus laki-laki dan gerbang khusus perempuan. Saat Nurfa melangkah dan menuju kesekolah dia pun merasakan beberapa pasang mata memandanginya. Dan juga kasak-kusuk dari bibir siswa lain disana-sini. Tubuh gadis itu gemetar karena tiba-tiba saja ada angin yang melewati sekitar lehernya. Padahal dia berhijab tapi dinginnya angin itu menusuk dan membuatnya menggigil. Hawa dingin makin terasa saat dia menatap mata orang disekitarnya atau saat suara orang yang tiba-tiba tak sengaja dia dengar. “Jadi dia anak yang suka bacaan homo itu?” “Masya Allah..” “Nggak habis pikir, deh. Ada aja anak kaya gitu di sekolah kita..” Jantung Nurfa berdegub begitu kencang. Matanya mulai basah. Dia ingin menangis, dia ingin berlari. Namun, dia tetap berusaha membuat dirinya tampak senormal mungkin. Hingga seseorang menepuk bahunya. “Kamu sudah masuk, Nurfa?” suara wanita menegurnya. Nurfa menoleh pada wanita itu. Wanita itu ialah Bu Isnaini guru BK untuk siswa putri. Guru yang dengan tega mengocok isi tas Nurfa dan mengeluarkan semua komik BL (Boys Lover) yang ada di tas itu. Wanita paruh baya itu juga membuka isinya dengan tangan gempalnya dan membaca istigfar berkali-kali. Dia memandang Nurfa dengan mata melotot yang nyaris saya bola mata itu menggelinding keluar dari tempatnya. Melihat buku-buku itu membuat guru itu sangat shock. Dan Nurfa sendiri melihat tampang guru itu juga membuatnya sangat shock. Gadis ini masih ingat saat dia diomeli didepan kelasnya. Belum cukup dia dibawa keruang guru dan diomeli di ruang guru. Dan belum lagi dia juga di bawa ke ruang sekolah dan di omeli di ruang kepala sekolah. Parahnya komik BL nya di bawa kemana dia membawa Nurfa. Di tunjukan keorang-orang bahwa Nurfa yang memiliki buku itu. Yang membuat Nurfa paling sakit hati adalah melihat orang-orang lain memandangnya. Mereka memandangnya bak orang yang memiliki penyakit menular. Meraka tak melakukan kontak mata pada Nurfa yang tampak trauma sekali. Mereka bergunjing tentang kerusakan moral anak ini dengan Bu Isnaini. Di hari itu kedua orang tua Nurfa di panggil. Dan Bu Isnaini pun melakukan hal yang sama. Dihadapan Nurfa dan kedua orang tuanya dia menunjukan komik yang Nurfa miliki dan menunjuk-nunjuk anak itu. Dia mengatakan betapa rusaknya moral anak itu bagai anak yang tak beragama. Pada saat itu gadis ini terdiam. Dia melihat orang tuanya yang tampak tidak percaya dengan hal ini. Pada saat itu kedua orang tuanya tampak sesak. Mereka bernapas amat berat. Setelah mendengarkan guru itu berbicara mereka juga mendengarkan kepala sekolah berbicara. Saat itu Nurfa seakan tuli. Dia tak mendengar apapun yang mereka katakan. Tidak. Bukan saat itu saja. Dia sudah tak mendengar apapun sejak diomeli didepan kelasnya. Dia terdiam. Melihat dengan tatapan kosong. Dia melihat orang tuanya memohon agar mengampuninya. Dia melihat orang tuanya meminta maaf. Dan tatapan kosong itu pun terganti menjadi lelehan air mata. Gadis itu menangis menderu-deru di ruang kepala sekolah. Hingga skros seminggu pun di terimanya. “Kamu ikut saya keruang kepala sekolah sekarang” ujar bu Isnaini. Nurfa tak berkomentar apapun dan mengikutinya. Dia melihat siswi putri di sekelilingnya menatapnya. Sepanjang koridor tiap tempat yang dia lewati dia di tatap dengan cara yang berbeda. Baik siswa laki-laki maupun siswa perempuan, mereka menatap dengan cara yang tanpa mereka sadar sangat mengintimidasi gadis itu. Nurfa tertunduk sepanjang jalan. Telinganya kembali tuli. Di tak lagi mendengar suara di sekitarnya. Tak lagi mendengar suara gunjingan orang yang menatapnya. Tuli dan sangat tidak nyaman. Membuatnya sesak. Mengingatkan trauma yang dia rasakan sebelumnya. Di ruang kepala sekolah dia kembali duduk dihadapan kepala sekolah. Pria paruh baya itu tak menunjukan raut senang. Saat menatap Nurfa dia begitu kesusahan. Dia bingung ingin memulai pembicaraan dari mana. “Nak Nurfa” dia memanggil gadis itu. Nurfa menatapnya sebentar setelah itu menunduk kembali. “Bagaimana perasaan kamu setelah terkena skorsing selama seminggu ini? Apa kamu sudah menyadari kesalahan kamu?” Nurfa terdiam beberapa saat. Membuat orang yang menatapnya menunggu. Dan akhirnya dia berkata, “Saya masih belum mengerti.. salah saya apa, pak? Kenapa saya harus di hukum seperti ini?” Bu Isnaini membuka mulutnya untuk memberikan ceramah nada tingginya kembali. Tapi dia tak mengeluarkan suara saat kepala sekolah mengankat tangannya. Kali ini kepala sekolah memandang gadis ini serius. “Ayolah, Nurfa.. ini sudah kesekian kali saya bertanya seperti ini dan jawaban kamu masih seperti itu. Bapak bisa melupakan kejadian seminggu yang lalu jika kamu menyesali perbuatanmu dan bertaubat kepada Allah. Tapi sampai sekarang kamu masih seperti ini. Apa itu jawaban dari siswi yang santun, memiliki akhlakul karimah, dan mengerti hukum agama? Kamu ini juga anggota dari ekskul tahfidzul qur’an yang sudah menghapal berjuz-juz Al-Qur’an, pastinya tahu jika hal-hal tersebut dilarang oleh Allah. dilkanat oleh Allah!!” Nurfa pun mendengar ceramah yang serupa. Dia pernah menyela pembicaraan ini untuk membela dirinya. Tapi tidak pernah berhasil. Dia akan terus dimarahi dan dimarahi lagi. “Jika perilaku kamu seperti ini terus. Bapak tidak akan memberi lagi kesempatan kamu untuk bersekolah di sini lagi. Bapak tidak peduli meskipun orang tuamu donatur terbesar di sekolah ini. demi terjaganya moral dan akhlak para siswa di sini bapak harus mengeluarkan kamu agar kamu tidak menjadi perngaruh buruk bagi siswa lain..” Dan keputusannya pun disahkan. Palunya sudah diketok. Dan orang tua gadis ini kembali dipanggil kesekolah. Gadis ini pun menunggu lama orang tuanya berdebat dengan kepala sekolah di luar ruang kepala sekolah. Hari ini dia merasa apes. Kenapa dia harus mengalami ini? “Mempengaruhi katanya? Padahal aku masuk kelas aja belum..!” heran Nurfa dalam hati. Orang tuanya keluar dengan wajah lesu. Mereka menatap putrinya dengan rasa prihatin. Ibunya memeluk putrinya dan mengusap kepalanya. “Nggak papa, Sayang. Umi nggak peduli kamu lulus dari sekolah mana. Yang penting kamu bisa melanjutkan sekolahmu” ujar ibunya dengan mengisak. Gadis ini tahu akan nasibnya. Kali ini dia tak lagi menangis. Dia masih merasa hampa. Bahkan hingga mereka menyelesaikan administrasi dan mereka bertiga kembali pulang kerumah. Nurfa masih begitu tertekan atas cobaan yang diterimanya ini. Di tahun terakhirnya, awal semester baru dia di kelas tiga, dia telah dikeluarkan dari sekolah. Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau dia dikeluarkan dari sekolah karena hobinya yang sebagai seorang fujoshi. Lalu jika begitu bagaimana dia bisa beradaptasi di lingkungan sekolah yang baru. Kepala Nurfa begitu berat membayangkannya. Sampai-sampai rasanya kepala mau pecah. Dia tak bisa membayangkan betapa malunya jika dia harus menjalani kehidupan di sekolah baru nanti. Semalaman dia tak nafsu makan. Bahkan tak bisa tidur. Dia mengambil air wudhu dan sholat tahajud untuk menenangkan pikirannya. Dia merasa yang dia lalukan masih belum cukup. Dia pun menengadahkan tangannya berdoa sambil menumpahkan segela kegelisahan dan keluh kesahnya. Dia menangis membasahi tempat sujudnya. Tapi dia tak merasakan mendapatkan kekuatan. Dia pun memuroj’ah bacaan Al-Qur’annya dia terus memuroj’ah. Saat teringat perkataan kepala sekolah dia kembali menangis sejadi-jadinya. Di tengah keputus asaan dia melihat lemari. Dia tahu barang-barang kesayangannya di kunci dan dia dilarang membukanya selama seminggu ini. dihiraukannya larangan itu untuk hari ini. toh, meskipun pintu lemari ini terkunci selamanya di tetap dikeluarkan dari sekolah itu. dia pun membuka kuncinya. Sebuah bantal dengan karakter cogan favoritnya menyembul jatuh didekapannya. Di peluknya bantal itu bagaikan kekasihnya. “Ichinose Tokiya-sama.. maaf, aku sempat berpikir untuk melupakan kamu..” dia menangis tersedu-sedu sambil mengusap-usapkan pipinya kewajah dua dimensi di bantal itu. Dipeluknya bantal itu seharian dan perlahan dia mulai bisa menutup matanya dengan tenang.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

GARKA 2

read
6.2K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.1K
bc

TERNODA

read
199.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook