Part 11 : Jatuh Cinta

1285 Kata
Tak ada hari yang lebih menyenangkan dari hari-harimu bersama dengan orang terkasih. Benar bukan? Begitu juga yang dirasakan oleh Steve. Sejak dulu ... ia selalu berkhayal bisa melewati waktu bersama dengan Sera, ia selalu ingin bersama kekasihnya itu tanpa rasa khawatir dan sekarang ... semuanya benar-benar terjadi. Kini ia bisa menghabiskan waktu dengan bebas tanpa harus mengkhawatirkan sesuatu tentang restu dari orangtua. Karena sekarang mereka sudah mendapatkan restu, bahkan sudah menikah. Steve memandangi Sera yang sedang menikmati hembusan angin pagi di pinggir pantai, perempuan itu sedang memejamkan mata seraya merentangkan tangan menghadap pantai, menyambut matahari terbit di ufuk timur. Desiran halus perlahan menghangatkan hatinya, debaran jantungnya pun mulai menggila hanya karena melihat Sera tersenyum di iringi dengan hembusan angin yang menggoyangkan rambutnya. Hanya karena hal itu ... namun Steve merasa semakin terpesona. Ia semakin jatuh pada pesona perempuan itu. Tangan kanan Steve naik memegang dadanya yang terasa mulai berdetak sangat kencang. Rasanya ia tak pernah merasakan debaran sehebat ini selama mereka bersama. Bertahun-tahun ... hingga sekarang. Baru kali ini ia merasakan debaran jantungnya sehebat ini. Ia merasa ... seperti jatuh cinta kembali pada sosok Sera yang kini semakin memesonanya. Steve ... tak tahu mengapa perasaannya bisa seperti itu. Namun ia menyadari jika dirinya sudah terjatuh begitu dalam pada pesona Sera. Ia tak akan bisa keluar ... atau pergi, karena ia bahkan tak tahu dimana letak jalan keluar. Ia sudah buta ... ia terjebak karena pesona perempuan yang sekarang telah menjadi istrinya itu. “Steve ... kemari.” Sera melambaikan tangan kepadanya dengan senyuman yang masih tercetak pada bingkai cantik wajah istrinya itu. Steve berjalan mendekat, perlahan tanpa melewatkan pemandangan indah dari wajah kasihnya. Apakah ia semakin jatuh cinta seperti ini karena mereka sudah menikah? Ah ... entahlah ... yang jelas ia semakin jatuh cinta pada perempuan itu. “I love you baby ... .” Steve memeluk Sera, mengangkat perempuan itu, membuat Sera menumpukan tangan pada kedua bahunya. Steve memandang Sera yang tampak sangat cantik dari arah dekat itu. “I love you so much Serafina ... I love you more than anything baby.” Sera tersenyum dengan begitu cantik, kemudian membubuhkan sebuah ciuman ringan pada bibir penuhnya ringan. Jantungnya semakin menggila, desirannya kini semakin membuncah memenuhi hatinya. Membuat senyumannya tak bisa di tahan lagi, hingga tersungging sangat lebarnya. Lihat ... bahkan sebuah ciuman ringan mampu membuatnya tak bisa menahan diri. Rasanya ... benar-benar gila. Sangat gila. “I love you too my husband. I love you so much ... I love you more than you think ... .” Senyumannya semakin lebar, ia kemudian membawa Sera berputar, hingga perempuan itu memekik dengan begitu kencangnya diiringi oleh tawa bahagia. Senyumannya semakin merekah sempurna kala Sera memeluk lehernya, perempuan itu juga menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher, yang membuatnya semakin memutar tubuh mereka hingga akhirnya ia tersandung yang membuat mereka terjatuh dengan Sera yang berada di atasnya. Sera masih tertawa ketika menyibakkan rambutnya yang terurai. “Kau ini ... pusing tahu. Kau juga pusingkan? Dasar!” Sera mencubit hidungnya, menariknya sesaat sebelum tiba-tiba menggigitnya. “Ah! Sera ... .” Steve memandang Sera dengan kening mengerut. “Kenapa kau menggigit hidungku?” “Ingin saja, sejak kemarin aku ingin sekali menggigitnya Steve. Habisnya ... cantik sekali. Bentuknya ... aku suka.” Ujar Sera seraya mengelus hidungnya perlahan. Steve menyunggingkan senyumannya. “Lalu ... apa lagi yang kau suka sayang selain hidungku?” “Alis ... mata ... lalu ... .” Sera membalai alis kemudian matanya, ia menatap Sera ketika perempuan itu tidak melanjutkan ucapannya. “Lalu?” “Bibirmu.” Ujar Sera seraya membubuhkan ciuman pada bibir penuh itu. Sera kemudian menatapnya kembali. Ibu jari tangan kanannya kini yang terangkat membelai permukaan bibirnya. “Aku sangat menyukainya Steve ... bibirmu.” Steve mengeratkan pelukannya pada pinggang Sera yang masih berada di atasnya, tangan kirinya merambat baik kemudian sampai ke tengkuk istrinya itu. Ia kemudian menariknya lalu membubuhkan ciuman lain, melumatnya dengan lembut kemudian menciumnya lagi dengan ringan. “Kau ... mulai berani sayang?” Sera tersenyum tipis. “Kau tak suka?” “Aku menyukainya sayang ... apapun yang ada padamu, apapun yang kau lakukan aku sangat menyukainya sayang ... .” tangan kirinya berpindah membelai surai indah Sera, menyampirkan rambut yang menutupi wajah cantik itu. “Aku tak akan keberatan jika kau ingin menciumku setiap saat sayang ... aku suka ... aku suka ... kau mulai terbuka seperti ini. Aku suka ... karena dengan begini aku juga merasa diinginkan sayang. Aku merasa ... kau mulai mencintaiku ... seperti yang aku rasakan. Aku mencintaimu Sera ... sangat. Aku bahkan merasa semakin mencintaimu setelah kita menikah. Aku mencintaimu ... sangat mencintaimu.”     Jantung Sera meloncat-loncat, mendadak berdetak dengan sangat kencan setelah Steve mengungkapkan perasaan cintanya. Apakah ini tandanya perasaannya bersambut? Apakah ia tak sendiri merasakan perasaan ini? Apalagi Steve mengatakan dia semakin mencintainya setelah menikah. Bukankah itu artinya Steve mencintainya? Bukan Nana ... bukan perempuan lain. Tapi dirinya ... Sera. Lelaki itu ... mencintainya. Steve bangkit, membuat tubuhnya ikut bangkit. Setelah itu ia mendudukkan dirinya disamping Steve, menghadap ke arah pantai berwarna emerald yang sangat indah. Ia menoleh ketika merasakan genggaman tangan hangat menyapa kulitnya, disusul oleh sentuhan hangat dari bibir Steve pada punggung tangannya. “Sera ... aku ingin mengatakan semua yang aku rasakan. Aku tahu mungkin kau merasa aku berlebihan, tapi bisakah kau percaya kata-kataku?” Steve memandangnya dengan sangat lembut, membuatnya terhanyut akan keindahan obsidian indah milik suaminya itu. Genggaman tangan itu semakin mengerat. “Aku mencintaimu Sera ... setiap detiknya aku semakin mencintaimu. Sejak kita menikah ... sejak kita menghabiskan waktu bersama. Aku merasa aku semakin jatuh cinta padamu Sera ... aku seperti jatuh cinta kembali. Aku bahkan merasa ... lebih dari sekedar jatuh cinta kembali Sera karena aku sebenarnya tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Aku tidak pernah merasakan cinta sebesar ini sebelumnya ... sampai aku sendiri merasa kewalahan, karena rasanya benar-benar membuncah. Memenuhi hatiku. Setiap hari hatiku berdetak hebat, setiap saat. Setiap melihatmu ... aku merasa semakin jatuh cinta. Bahkan sekarang ... aku semakin mencintaimu Sera ... aku semakin mencintaimu.” Kehangatan memenuhi hatinya ... hingga kini rasanya benar-benar penuh. Setiap ruang dalam hatinya kini terisi, tak ada lagi tempat kosong dan tak ada lagi ragu setelah mendengarkan semua penuturan lelaki itu. Ia bisa merasakan ketulusan lelaki itu, ia bisa merasakan cinta yang begitu besar dari lelaki itu. Karena semua itu sampai ke dalam hatinya ... karena semua perasaan itu bersambut dengan perasaannya. Perasaan cinta yang baru pertama kali ia rasakan. Senyuman Sera mengembang dengan begitu lebarnya. Kini ia menyelipkan setiap jarinya pada celah jari-jari Steve yang terasa begitu kokoh dan hangat, lalu menggenggamnya dengan erat. “Aku juga Steve ... aku merasa untuk pertama kalinya jatuh cinta padamu. Aku jatuh cinta padamu setiap saat. Setiap waktu akupun semakin jatuh cinta padamu. Sampai ... aku tak tahu caranya mengungkapkan semua perasaanku ini Steve karena semuanya benar-benar terasa baru untukku. Terasa lain ... aneh ... tapi menyenangkan. Aku sangat menyukainya ... aku sangat suka ketika desiran halus yang terasa hangat semakin memenuhi hatiku.” Sera kembali tersenyum seraya menatap Steve. “Apakah perasaan kita sama Steve?” Steve mengangguk. “Tentu saja sayang ... tentu saja sama. Karena kita saling jatuh cinta, saling mencintai.” Sera menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi, setelah itu ia menyandarkan kepalanya pada pundak Steve dengan tangan lain yang juga memeluk lengan Steve yang menggenggam tangannya. “Lautnya sangat indah ... .” ujarnya. “Semua ciptaan Tuhan selalu indah, sangat indah sayang ... termasuk perempuan yang berada di sampingku ini. Salah satu ciptaan Tuhan yang begitu indah.” Sera menyunggingkan senyumannya kembali saat merasakan dadanya lagi-lagi menghangat. Terasa semakin memenuhi hatinya yang sudah penuh oleh perasaan cinta yang diberikan oleh suaminya itu.     Steve menegakkan posisi duduknya, lalu menangkup bahu Sera, membuat tubuh mereka saling berhadapan, menatap Sera tepat pada iris mata cantik itu. Steve menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali. “Sera ... berjanjilah padaku. Apapun yang terjadi jangan pernah pergi dariku ... berjanjilah kau akan selalu ada disisiku apapun yang terjadi.”     Sera terdiam, matanya mengerjap beberapa saat. Ia mambasahi bibirnya sesaat lalu meneguk ludah. Apakah ia bisa memenuhi janji itu jika ia menyanggupinya?   “Sayang ... .” Sera mengerjapkan matanya kembali kemudian menyunggingkan senyumannya.   “Iya Steve ... aku berjanji.”          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN