Gazali dari tadi tidak berbicara, dia ingin tahu apakah Firdaus melakukan ini untuk mengambil keuntungan dari keluarga Sagom, dan dengan sengaja memperhatikannya.
Tapi dari ekspresi dan ucapan Firdaus—
Tentu bukan itu maksudnya.
Gazali tidak dapat menerima bahwa ayahnya yang sehat tiba-tiba meninggal karena sakit, dia tentu memiliki harapan di hatinya.
"Hei! Saya percaya pada Anda!"
“Pak Gazali! Saya berani menjamin dengan pengalaman saya bahwa Ayah Anda benar-benar sudah meninggal, tidak bisa diselamatkan." Dokter itu terus menghalanginya.
Wajah Gazali menggelap, "Apakah Anda mengharapkan Ayah saya meninggal?"
Wajah dokter itu seketika memucat, "Pak Gazali, maafkan saya, saya tidak bermaksud, tetapi dia......"
"Hei anak muda! Di mana pilmu? Tenang saja, rawat saja dengan percaya diri, kalaupun gagal, saya tetap berhutang budi kepada Anda."
Setelah selesai berbicara, dia membungkuk pada Firdaus.
Firdaus tidak mengatakan apa-apa. Setelah menyetujui, sinar kemerahan pot kecil itu menghilang, tetapi di sakunya muncul sebutir pil berwarna kuning keemasan, dia kemudian mengeluarkannya.
Pilnya tidak berwarna dan tidak berbau, permukaannya berwarna kuning seperti dilapisi cat, membuat orang sulit mempercayainya.
Dokter tidak mengatakan apapun, tapi sudut mulutnya menyeringai, dia siap mengejek Firdaus saat dia tak mampu menyelamatkannya nanti.
Firdaus membuka mulut pria tua itu dan dengan lembut memasukkan pil tersebut.
Melihat gerakan Firdaus, Dokter itu hampir tertawa, melihat caranya menipu orang.
Dia belum pernah mendengar ada pil yang dapat menyelamatkan orang yang sudah dinyatakan meninggal.
Setelah meminum pil, pria tua itu tidak segera bangun, dan Firdaus sedikit bingung.
Dokter itu melihat ekspresi Firdaus berubah, sudut mulutnya terangkat tinggi-tinggi, "Bahkan jika Anda ingin menjilat Pak Gazali, bisakah lebih meyakinkan sedikit? Mana ada pil yang dapat menyelamatkan orang yang sudah meninggal, bahkan untuk orang yang sudah koma dalam waktu yang lama saja tidak mungkin.
“Anda, bukankah Anda koma selama tiga bulan? Bagaimana bisa tiba-tiba sadar? Penyakitnya sudah sembuh?" Perawat yang ada di sampingnya menatap Samsul, setelah sekian lama, dia bertanya dengan terkejut.
Dia pernah merawat Samsul dulu, tentu tahu akan hal ini.
"Benar! Tadi pagi saya baru memberitahukan pada mereka, jika tidak membayar biaya pengobatan, silahkan tunggu waktu meninggal, kenapa sekarang tiba-tiba sembuh?" Perawat yang lain bertanya.
Samsul: "..."
"Ayah saya sembuh setelah meminum pil saya."
Hah……
Seluru orang di tempat itu terkejut!
Wajah dokter tadi semakin memanas, dia masih tidak mau mengaku kalah, "Huh! Orang yang koma tidak sama dengan orang yang sudah meninggal, orang yang sudah meninggal tidak memiliki gelombak otak......."
Ah……
Pria tua yang terbaring di ranjang itu tiba-tiba mengeluarkan suara rendah.
Dokter itu dengan cepat menutupi mulutnya!
"Pergi!"
Lift baru saja mencapai lantai pertama, dan Gazali menendang keluar dokter itu.
"Cepat rawat dia, kondisinya masih sangat lemah."
Firdaus berpesan, lalu memapah kedua orangtuanya keluar dari lift.
Gazali terkejut dan sangat berterima kasih kepada Firdaus, dia segera menekan tombol lift dan naik ke lantai atas.
Meski dia tahu situasi ini aneh, tapi dia tidak menyangka, Ayahnya benar-benar hidup, dia merasa seperti sedang bermimpi.
Dokter yang masih tersisa disitu melongo, orang yang sudah meninggal kembali hidup?
Benar-benar tak habis pikir!
Mustahil!
“Cepatlah!” Gazali berteriak ditengah keterkejutannya.
Para dokter melonjak kaget, dan tangan mereka mulai bekerja.
Tetapi, mata mereka tertuju kepada Firdaus dan orangtuanya yang baru saja keluar, penuh dengan kebingungan, apa yang telah dia berikan pada pasien, oh bukan, bahkan yang sudah almarhum?
Saat ini orangtua Firdaus memandang putra mereka, juga seperti sedang bermimpi, baru saja akan membuka mulut untuk bertanya, tetapi ponsel Firdaus berbunyi.
Melihat ID penelepon, dia buru-buru menjawabnya.
“Tunggu di Rumah Sakit, jangan pergi dulu!” setelah Zairawati mengatakan itu, hanya terdengar bunyi 'tut tut' dari telepon, tidak menunggu jawaban dari Firdaus.
Firdaus menghadap kedua orangtuanya, "Ayah, Ibu, kalian pulang duluan, nanti aku akan menyusul."
Melanny segera mengerti, mengangguk, dan pergi dengan Samsul.
Tak tak tak!
Orangtuanya baru saja pergi, tak lama terdengar suara sepatu hak tinggi di parkiran mobil.
Firdaus melonjak, secara reflek melihat ke arah datangnya suara itu.
Wajah yang familier, tatapan yang familiar, ekspresi yang familiar, tetapi——
hati yang tidak familier.
Istrinya, Zairawati.
Gaun ketat tanpa lengan berwarna biru, stoking berwarna menyerupai warna kulit, dengan sepatu stiletto berwarna abu-abu.
Sosok yang mempesona, lekukan tubuh yang anggun.
Menarik perhatian banyak pria.
Firdaus mundur selangkah karena terkejut.
Zairawati melirik Firdaus, "Kamu belum mati?"
Suaranya tidak dingin, dan tanpa emosi.
Hati Firdaus membeku. Setelah menikah dengannya selama tiga bulan, yang paling diharapkan oleh keluarga Yastoyo adalah—
Kematiannya!
Dengan ekspresi canggung, dia mengangguk singkat.
Tatapan menghina Zairawati mengeras seketika, bahkan ada sedikit kemarahan di wajahnya.
Dia tadi menerima telepon dari Melanny bahwa Firdaus terluka, dia tidak tahu apa yang terjadi, dan langsung menyetor uang sebesar seratus juta ke Rumah Sakit, dan karena tidak tenang, dia segera pergi ke rumah sakit, tapi tak disangka, Firdaus berdiri di depannya dengan sehat dan bugar.
Wajah Zairawati tak berekspresi, "Ayahmu sudah sembuh?"
"Sudah sembuh!"
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Ya, baik-baik saja."
"Inikah suami Bu Zairawati yang seperti benalu itu? Lumayan tampan ya?"
"Apa gunanya tampan? Dia hanya sampah tak berguna! Hanya benalu, menumpang hidup saja."
"Haha, bagaimana kamu tahu kalau dia sampah? Siapa tahu dia sebenarnya hebat, bagaimanapun Bu Zairawati adalah seorang wanita yang luar biasa."
...
Saat Firdaus dan Zairawati saling tanya jawab dengan kaku, beberapa wanita berjalan sambil bergosip melewati mereka.
Firdaus menunduk dan tidak berkata apa-apa, Zairawati menggelengkan kepalanya dan menghela nafas, "Kamu pulang duluan saja!"
Oh?
"Baiklah!"
Setelah mengatakan itu, Firdaus berbalik dan pergi.
Zairawati memandangi punggung Firdaus, hatinya bergulung-gulung naik turun, sangat ingin memukulinya, mengapa dia tidak bisa hidup seperti laki-laki?
Walaupun sudah menjadi menantu keluarga kaya, walaupun hanya menjadi tumbal, tidak bisakah hidup seperti laki-laki?
Jangan hanya menganggukkan kepala, apakah dia benar-benar mau hidup seperti anjing?
Tiga bulan ini, tidak mencari pekerjaan, hanya bersih-bersih, mencuci baju, memasak, mana ada laki-laki yang begitu?
Bahkan yang membuatnya semakin kesal adalah,
alasan Neneknya, Amalia, menikahkannya dengan Firdaus ini yang bahkan lebih membingungkan.
Yaitu menunggu sampai Firdaus mati, lalu menikahkannya dengan Casril Qadir, putra dari keluarga Qadir, ini membuat Zairawati sangat jijik.
Dia ingin sekali meminta Firdaus untuk hidup seperti laki-laki sungguhan, hidup seperti orang normal, tetapi dia memilih untuk menyerah——
Sama seperti kayu busuk yang tidak bisa diukir, tidak berguna!
Zairawati memasuki lift, dan ada dua perawat yang sedang mendiskusikan tentang pil pemuda yang menyelamatkan dua nyawa orang itu.
"Pemuda itu sangat tampan! Tapi keberuntungannya juga sangat baik, menyelamatkan Ayah dari kepala PT. Sagom, dia pasti akan hidup dengan baik kedepannya.
"Hei! Bagus sekali jika aku bisa bertemu pria sepertinya, bisa memakaikan seragam untuknya setiap hari....."
Zairawati mendengarkan diskusi kedua perawat itu, hatinya merasa tidak enak, Keluarga Yastoyo beberapa waktu lalu bernegoisasi dengan Perusahaan Sanda, yang merupakan anak perusahaan PT. Sagom, dan mereka belum bisa mendapatkan kontraknya. Hari ini, Nenek Amalia menyerahkan tugas ini padanya, jika gagal mendapatkan kontrak itu, maka dia sekeluarga harus angkat kaki dari rumah Yastoyo.
Memikirkan diskusi kedua perawat itu, dia sangat berharap bahwa pemuda itu adalah Firdaus!
Tapi……
Zairawati tampak muram.