Di depan pintu rumah Yastoyo, Firdaus telah berdiri setidaknya selama lima menit, tidak berani mengetuk pintu.
Ibu mertuanya, Jamilah Latief terus berteriak.
Akhirnya, dia menggertakkan gigi dan mengetuk pintu, dia tidak memiliki kunci rumah——
Karena dia merasa tidak layak
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
Zairawati yang membukakannya, tadi dia masih di rumah sakit, kenapa sekarang sudah sampai di rumah?
Namun, dia segera paham, dia naik bus sementara Zairawati naik mobil pulang ke rumah.
Zairawati menatap Firdaus dengan tatapan sedingin es, dia membalik badan dan kembali ke ruang tamu.
Rumah yang tenang sejenak itu kembali meledak.
Jamilah menunjuk kepada suaminya, Habib Yastoyo. "Dosa apa yang aku buat di masa lalu, sehingga bisa menikah dengan manusia tak berguna sepertimu, tidak bisa diandalkan, tidak punya tempat pula di keluarga Yastoyo kalian, diusir pula oleh keluarga kalian, huhu......"
Detik berikutnya-
Plak!
Ada suara tamparan yang keras, tangan Jamilah turun dari belakang kepala Firdaus.
"Kamu masuk ke keluarga ini bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk menjadi tumbal!"
"Dasar s*alan!"
"Kenapa kamu tidak segera mati!"
Makiannya menjadi semakin keras.
Hati Firdaus dipenuhi dengan amarah.
Cacian dan makian seperti ini bukan hanya terjadi sehari atau dua hari, apalagi hanya sekali atau dua kali.
Dia baru saja akan membuka mulut.
"Bu! Apa yang kamu bicarakan? Firdaus juga adalah bagian dari keluarga kita."
Meskipun wajah Zairawati penuh dengan kekecewaan, tetapi begitu melihat Firdaus yang tak berdaya, dia maju dan membelanya."
"Kamu masih saja membelanya? Alasan kita diusir dari keluarga Yastoyo? Apakah kamu sudah lupa?"
"Sampah tidak berguna yang tidak bisa mengatakan apapun, terus hidup hanya menjadi pemborosan."
"Zairawati tidak menikah denganmu karena cinta, tetapi untuk menunggu kematianmu. Jika bukan karena itu, orang sepertimu tidak akan mendapatkan kesempatan seperti ini sampai kapanpun."
Perkataan Zairawati tadi membuat makian Jamilah semakin parah.
Habib menghela nafas dan tidak berani mengatakan apa-apa.
Dia tahu temperamen Jamilah, membantah hanya akan membuat makiannya semakin kejam. Terutama syarat yang diberikan keluarga Yastoyo kepada mereka kali ini—
Menandatangani kontrak kerja sama dengan Perusahaan Sanda, tetapi hal itu sangat sulit terwujud.
Hati Firdaus bergemuruh, kata "cerai" terus berputar di kepalanya, tetapi dia hanya menundukkan kepalanya, jika ada sebuah cangkang disitu, dia mungkin sudah masuk kedalamnya.
Zairawati melirik Firdaus, dia menjadi lebih putus asa—
Pengecut!
Lemah, tidak memiliki kemampuan apapun.
Dia pernah berharap banyak pada Firdaus, tetapi dia akhirnya menyadari, semakin besar suatu harapan, akan semakin besar juga kekecewaannya.
Tapi--
Zairawati yang memang baik hati sejak lahir akhirnya mengambil sebuah keputusan——
"Firdaus, kita cerai saja!"
Begitu yakin dan pasti!
Tiga bulan lalu, untuk menghilangkan kutukan sejak lahirnya, mereka menyewa Firdaus dibawah suruhan Amalia, sebenarnya, mereka hanya mencari seorang tumbal.
Dalam tiga bulan ini, Zairawati sering kali melihat Firdaus pulang dengan banyak bekas luka, setiap kali ditanya, dia hanya bilang bahwa dia terjatuh.
Sebenarnya, dia tahu betul, dia dipukuli oleh orang suruhan keluarga Yastoyo, tujuannya adalah agar dia mati, membuktikan sekaligus mematahkan kutukannya.
Namun, dia seperti kecoa kecil yang tidak mati, kemampuan bertahan hidupnya sangat kuat.
Meskipun Zairawati tidak pernah ramah kepadanya, tetapi Firdaus tetap menunggunya pulang di gerbang sampai malam, setiap hujan dia akan mengantarkan payung ke kantornya, menghias dan membuat makanan kesukaannya......
Ini membuatnya tidak tahan melihat Firdaus disiksa sampai mati.
Maka--
Dia ingin bercerai.
Boom!
Kata "cerai" yang tadinya memenuhi kepala Firdaus, tiba-tiba diucapkan oleh Zairawati, membuatnya seketika runtuh, dan melihat ke arah Zairawati, dan kata itu menghilang dari kepalanya.
Dari ketidakberdayaan di mata Zairawati, dia melihat kebaikan dan perhatian.
Pot kecil menunjukkan sederet kata: Wanita ini memiliki dahi yang lebar—berpengetahuan tinggi, dia memiliki kutukan membawa malapetaka bagi suaminya sejak lahir, lebih baik dijauhi. Tetapi, hatinya penuh dengan belas kasih dan empati, serta tulus, kutukannya ditekan oleh perpaduan antara pengetahuan dan kebaikan hatinya.
Penuh dengan belas kasih dan empati?
Sulit dipercaya.
Sejak pernikahannya dengan Zairawati, tidak ada kasih diantara mereka, tidak saling bicara jika tidak ada kepentingan, bahkan ada kalanya mereka tidak berbicara satu kalimat pun seharian.
Satu-satunya perhatian Zairawati untuk Firdaus adalah menyetor uang sebesar dua puluh juta rupiah dengan tepat waktu setiap bulannya, ini adalah salah satu syarat dari pernikahan mereka.
Belas kasih dan empati apanya?
Tapi sekarang permintaan Zairawati untuk cerai membuatnya berubah pikiran.
Matanya tiba-tiba jatuh di punggung tangan kanan Zairawati, dan ada garis merah samar di punggung tangannya yang putih.
Sebuah kenangan dari lima belas tahun yang lalu tiba-tiba muncul di pikirannya.
“Aku akan menjadi istrimu, kamu harus menciumku.” Di taman bermain, gadis kecil yang bermain rumah-rumahan itu mengulurkan tangan ke arah anak laki-laki itu.
Sing!
Sebuah pisau mainan plastik dilemparkan ke arah kepala Firdaus oleh seorang anak yang lebih besar, anak perempuan itu menahan pisau itu dengan tangannya, dan dia menangis, muncul luka goresan merah di tangannya.
"Sakit ya? Jangan menangis!"
Huhu...
"Aku akan menjagamu..."
Mungkin karena masih sangat kecil, mungkin dia sudah lupa.
Tapi, karena itu adalah sebuah janji, maka itu harus dipenuhi.
Firdaus menunduk, "Maafkan aku!"
Zairawati berharap Firdaus bisa menyetujui perceraian itu dengan terpaksa, tetapi——
"Aku sudah muak mendengar dua kata itu! Menyebalkan!"
Tok tok tok!
Tepat pada saat ini, ada ketukan di pintu.
Wajah Jamilah seketika berubah menjadi tersenyum, dan dia memelototi Firdaus, "Pasti Casril yang datang!"
Habib segera berdiri, bahkan ekspresi kesal Zairawati sudah hilang ketika melihat ke arah pintu.
Hanya mata Firdaus yang dipenuhi kemarahan, kedua tangannya mengepal erat.
"Zairawati, kalian semua ada di rumah ya!"
Bersamaan dengan suara itu, seorang pria kaya dengan tinggi sekitar 1.75 meter datang, mengenakan setelan Versace dan jam tangan terkenal di pergelangan tangannya.
Casril Qadir!
Mendengarnya membuat telinga Firdaus gatal, menunggu sampai dia mati, dialah pria yang akan tinggal han hidup bersama dengan Zairawati.
Menantu yang ideal di mata Jamilah.
Jamilah menarik tangan Casril, di saat yang bersamaan mendorong Firdaus yang menghalangi pintu, "Casril, cepat masuk, hei! Kali ini lagi-lagi merepotkanmu."
Saat ini, wajahnya begitu hangat.
"Tante, ini syal dari Milan yang saya bawakan untuk Anda, dan ini anggur Prancis untuk Om."
Casril menyerahkan dua kotak hadiah itu kepada Jamilah dan Habib.
Habib tidak mengambilnya, tapi Jamilah mengambil semuanya, "Kami ingin meminta bantuan padamu, tetapi juga menghabiskan uangmu, benar-benar tidak enak jadinya."
Jamilah berkata begitu, tetapi matanya menyapu kedua hadiah itu, kira-kira harganya lebih dari empat puluh juta, hatinya sangat senang!
"Tante jika butuh bantuan saya, katakan saja, saya akan berusaha memenuhinya."
Jamilah menggenggam tangan Casril lebih erat, "Casril benar-benar anak yang baik. Di mataku, kamu adalah menantu idamanku."
Sama sekali tidak ditutupi!
Zairawati menggigit bibirnya dan menundukkan kepalanya, tak mengatakan apapun.
"Sekarang Bu Amalia meminta Zairawati untuk bernegoisasi dengan Perusahaan Sanda, kerjasama kali ini sangat penting bagi PT. Yastoyo, tetapi Zairawati tidak familiar dengan Perusahaan Sanda, jadi aku mau meminta bantuanmu untuk menengahinya."
"Saya dan Karim Wahid, Ketua Perusahaan Sanda, adalah teman baik. Kami sering minum dan pergi ke rumah pelac...... uhuk uhuk ......"
Casril hampir membocorkan kebiasaannya.
Zairawati mengerutkan keningnya.
Jamilah pura-pura tidak mendengarnya. "Casril, negosiasi kali ini tergantung padamu!"
"Ini ... tidak sulit! Hanya saja ..."
Di tengah perkataannya, dia berhenti sejenak, dan melihat ke arah Zairawati.