Motor yang dia kendarai sudah tiba di kediaman wanita yang tadi merintih kesakitan di telfon. Tapi dia ragu mau masuk ke dalam rumah itu, takut ditolak mentah-mentah. Dwiki ragu, mau masuk atau tidak. Tapi jika tidak, kekhawatirannya sudah membuncah. Apalagi ketika mengingat suara rintuhan kesakitan wanitanya tadi di telfon. "Bismillah." baru saja dia mau mengetuk gerbang, sang empu rumah keluar dari dalam rumahnya dengan kunci rumah yang ada di tangannya. "Loh, Nak Dwiki?" Dwiki langsung mengeluarkan senyum terbaiknya, "Malam Pak." sapa Dwiki. "Malam, ada apa ya?" tanya Arif yang masih bingung dengan kehadiran pria itu di depan rumahnya. "Eh, Syifanya ada Pak?" sebenarnya Dwiki tidak enak, tapi mau bagaimana lagi kepalang tanggung. "Oh, nyariin Syifa. Dia udah tidur kayaknya, tadi

