6

1417 Kata
6   "Woah! Kayaknya gue masih nggak percaya kalau lo sekarang sekelas sama gue." Ujar Kelvin sembari mendekat kemeja Jill dan duduk tepat didepannya. "Kok bisa sih lo milih pindah kesini?! Gimana ceritanya?" Kelvin bertanya sembari menopang dagu. "Takdir. Mungkin." Jawab Jill singkat sembari tersenyum senang. Ia masih terlalu sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Kelvin menatap Jill penuh curiga. "Jangan bilang kalau lo dari awal udah tau bakal pindah kesini. Mangkanya lo sengaja gak ngasih tau, biar surprise kan?!" "Lah, gue aja nggak tau kalau lo sekolah disini." "Nggak tau?" Jill mengangguk. "Bukannya gue pernah bilang ke lo, dimana gue sekolah ya?!" Jill malah meringis ke arah Kelvin. "Hehehe, itu masalahnya." "Kenapa?" "Gue lupa." Jawab Jill dengan raut watadosnya. "Ck. Apa-apaan?! Gimana bisa lo lupa dimana tempat sekolah temen deket lo sendiri?" Ujar Kelvin tak percaya. Jill hanya memanyunkan bibir. Lalu tidak lama ada dua anak cowok yang datang menghampiri mereka. Itu temen deket Kelvin disekolah. "Vin. Kantin yok!" Ajak Gio. "Kalian duluan aja deh. Entar habis ini gue nyusul bareng sama Jill. Nggak papa kan?!" "Eh, emang kalian berdua udah saling kenal? Kok keliatan akrab gitu?" Kali ini giliran kenan ikut bersuara. "Gue sama Jill kebetulan temenan deket." Kata Kelvin memberitahu pada dua sahabatnya. "Serius?" Tanya Gio tak percaya, yang mendapat anggukan dari Kelvin. "Kalau gitu. Kenalin kita dong Vin." Cetus Kenan malu-malu. "Kenapa mesti minta kenalin? Kenalan sendiri kan bisa." --Kelvin. Kenan hanya mendengus. Lalu mulai memperkenalkan dirinya kepada Jill dengan tangan terulur. "Kenalin. Gue kenan. Temennya Kelvin sekaligus cowok terganteng disekolah ini." Ujarnya dengan senyum mengembang lebar. Karena Gio belum berkenalan dan Kenan belum juga melepas tangannya dari Jill, Gio segera saja menepisnya cepat. "Lama banget kenalannya. Gue juga mau kali." Gio mengembangkan senyum termanisnya didepan Jill. Berdehem sejenak. Tangannya terangkat naik menyugar rambutnya kebelakang. "Kenalin. Gue Gio, dan gue siap ngebantu lo kapanpun kalau lo lagi ada dalam masalah." Jill tersenyum lucu melihat tingkah kedua teman Kelvin saat ini. "Kalian berdua bisa panggil gue Jill." Bahkan Kelvin juga harus menepis tangan Gio yang juga terlalu lama berjabat tangan dengan Jill. "Lo juga kelamaan kali jabat tangannya." Sinisnya. "Elahh! Nggak bisa banget lo liat temen bahagia dikit." Kesal Gio, saat Kelvin menepis tangannya. "Katanya lo berdua mau ke kantin?" Kelvin mengingatkan. Berharap mereka akan segera pergi. "Ngusir??" Celetuk Kenan. "Iya." Jawab Kelvin tanpa merasa tidak enak sedikitpun. Kenan dan Gio mendengus hampir bersamaan. Lalu tidak lama mereka berdua pun menurut pergi ke kantin, setelah memastikan jika nanti Jill juga akan menyusulnya bersama Kelvin. Lagi pula cacing diperut mereka juga sudah kelaparan minta makan. "Lo udah selesai kan beres-beres bukunya?! Kalau udah, kita ke kantin bareng. Nanti biar gue yang traktir." "Ya udah ayok!" Jill yang sudah berdiri, seketika memekik sakit saat merasa nyeri di kakinya kembali muncul. Hampir saja gadis itu lupa kalau saat ini kakinya tengah terluka. Ia bahkan baru ingat kalau ia belum mengobati lukanya sama sekali semenjak masuk tadi. Melihat Jill yang kesakitan seperti itu, tentu membuat Kelvin menjadi khawatir. "Lo kenapa Jill? Mananya yang sakit?" Kelvin bahkan sudah beranjak dari duduknya--untuk memeriksa bagian mana yang membuat Jill menjadi kesakitan seperti ini. "Gu-gue nggak papa. Cuman luka kecil." Memang semenjak masuk kelas tadi, Jill sudah berusaha menahan rasa sakit saat berjalan. Itu ia lakukan supaya dirinya tidak mendapat perhatian lebih berupa cemoohan dari teman kelasnya. Apalagi mengingat jika dirinya ini adalah murid baru. "Lo bilang cuman luka kecil. Tapi lo keliatan kesakitan banget." Ujar Kelvin yang kini sudah berjongkok dan melihat luka dibagian lutut Jill. Kelvin lalu berdiri, "lo tunggu disini. Biar gue ambilin sesuatu di UKS bentar buat ngobatin kaki lo." Kelvin sudah akan pergi, namun Jill menahannya agar tidak usah melakukan hal tersebut. Tentu saja Kelvin tetap bersikeras dan tidak mau mendengarkan apa kata Jill. Hingga akhirnya Jill hanya bisa diam saat melihat Kelvin sudah keluar dari pintu kelas. ***** Kelvin yang baru saja hendak masuk ke UKS, tidak sengaja berpapasan dengan kapten basket disekolahnya--Kenzo-- yang baru saja keluar dari UKS. Sama sekali tidak ada sapaan antara keduanya. Karena memang Kelvin dan Kenzo tidak saling mengenal dekat satu sama lain. Tapi kelvin, dia cukup tau siapa Kenzo--karena jabatan cowok itu yang memang adalah kapten basket disekolah. Selain itu, Kenzo juga cukup dikenal karena pesonanya yang selalu dapat menarik hati cewek-cewek di SMA Garuda. Kelvin yang sudah berada didalam UKS, membuka lemari kecil yang biasa digunakan untuk menyimpan obat-obatan seperti alkohol, obat merah, perban dan juga sejenis lainnya. Ia mengambil alkohol untuk membersihkan luka dilutut Jill nantinya. Dan ia juga mengambil plester untuk menutup luka. Setelah itu barulah Kelvin keluar dari UKS dan kembali ke kelasnya dengan langkah tergesa. Saat hampir mencapai kelas... Perlahan kakinya memelan dan berhenti tepat didepan pintu dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan, saat ia melihat sang kapten basket sekolahnya tengah berjongkok didepan Jill, untuk mengobati luka dilututnya. 'Kenapa dia ada disini? Apa mereka berdua saling mengenal?' tanya Kelvin yang hanya sanggup membatin saat melihatnya diambang pintu. "Gue kan udah bilang, nggak perlu." "Sstt..! Diem. Gak usah bawel. Bentar lagi juga selesai." Kata Kenzo yang saat ini masih berkutat membersihkan luka dilutut Jill menggunakan alkohol. "Ishh! Lo tuh bener-bener keras kepala banget ya?!" "Emangnya lo enggak?" Kenzo melirik sinis Jill sekilas, lalu kembali fokus mengobati luka dilututnya. Lagi pula, gadis itu bisa seperti ini juga karena ulah Kenzo yang bilang akan meninggalkannya saat Jill tengah menaiki pagar dan akhirnya malah terjatuh. Ya.. diam-diam Kenzo mengakui jika itu memang kesalahannya. Tapi tidak didepan Jill. "Ngeselin banget sih?!" Gerutu Jill, yang masih bisa didengar jelas oleh Kenzo. "Gue udah sebaik ini, masih juga lo bilang ngeselin. Dasar cewek galak!" Cibir Kenzo, tanpa melihat lawan bicaranya. "Issh! Buruan deh ngobatinnya. Gue laper tau nggak?!" "Ck. Iya iya! Bawel banget sih jadi cewek." ***** Sementara itu didalam kelas 12-IPA1, seorang cewek pemiliki wajah cantik berambut hitam panjang dengan poni didepannya--yang dikenal ramah dan juga baik hati ini, terlihat sedang menanyai salah seorang teman dekat Kenzo yang kini sedang ngobrol dengan beberapa temannya yang lain. "Dani, lo tau nggak Kenzo dimana?" "Emangnya ada apa lo nyariin dia?" Dani malah balik bertanya. "Gue mau balikin buku ini. Kemarin gue minjem buku ini kedia." Gadis itu menunjukkan buku yang sedari tadi berada digenggamannya. "Ya udah, titipin aja ke gue. Nanti pasti gue kasih ke orangnya kok." Sahut Arkan tiba-tiba. "Eh. Nggak perlu. Biar gue kasih sendiri ke orangnya. Kan gue yang minjem." Tolak gadis itu dengan halus sembari tersenyum. "Ahh.. bilang aja kalau lo pengen ketemu dia kan?!" Ujar Arkan menduga. Dani memasang wajah Terkejutnya. "Atau jangan-jangan, kalian berdua udah pacaran diem-diem tanpa ngasih tau kita ya?!" Sahut Dani yang juga ikut menduga seperti Arkan. "Eh. Bu-bukan gi--" bahkan gadis itu dibuat tidak bisa berkata-kata saat teman-teman Kenzo kembali memotong ucapannya. "Bisa juga sih. Selama ini kan anak-anak pada tau kalau kalian berdua emang deket. Iya kan? Lo pasti udah jadian sama Kenzo kan?!" Tanya Dani mencari pembenaran atas dugaannya tadi. "Aduh! Sakit g****k!" Maki Dani, saat Leon tiba-tiba menjitaknya. "Lo apa-apan sih?!" Leon yang sedari tadi duduk dimeja belakang Dani, sepertinya sudah tidak tahan mendengar ocehan ngawur dua teman dekatnya itu. "Lagian mulut lo ngebacot mulu dari tadi. Bikin gosip yang enggak-enggak sama sohib lo sendiri. Temen macam apa lo? Gue bilangin si Kenzo baru tau rasa." Ujar Leon setengah kesal. "Tapikan emang bener kalau mereka deket." Sahut Arkan, yang mendapat anggukan dari Dani. "Deket, bukan berarti jadian b**o!" Kesal Leon, dan mulai mengalihkan pandangan pada gadis cantik yang masih berdiri di dekat meja Dani. "Tadi Kenzo bilang ke gue mau ke tempatnya anak kelas 12-IPS1. coba lo cari kesana. Mungkin dia masih disana." "Oh.. ya udah makasih ya, Leon." Gadis itupun pergi keluar kelas untuk menghampiri Kenzo. Dalam hati ia tidak henti-hentinya bertanya untuk apa Kenzo pergi ke kelasnya anak IPS-1? Apa Kenzo punya teman dikelas tersebut? Padahal setahunya, Kenzo tidak memiliki teman dikelas itu. Atau ini.. soal cewek? Fikir gadis itu. Lalu mulai mempercepat langkah kakinya menuju kelas yang dimaksud. Saat sudah sampai dipintu kelas itu, ia segera masuk dan melihat Kenzo tengah berjongkok --memasang plester dilutut cewek yang beberapa hari yang lalu sudah berhasil ia singkirkan dari rumahnya. Berharap ia tidak akan lagi melihat gadis itu. Tapi sekarang ia justru melihat Jillian bersekolah disini. Lebih tepatnya sekolah milik ayahnya--Hendra. Yang sekarang juga menjadi ayah tiri Jill. Yang semakin membuat hatinya kian panas, bagaimana bisa Kenzo mengenal Jillian dan malah sekarang sedang memasang plester dilutut gadis itu penuh perhatian. Tanpa sadar ia mengepalkan dua tangannya erat dengan emosi dihatinya. Cowok yang selama ini ia sukai, malah memberi perhatian pada cewek seperti Jillian?! Marah. Itulah yang dirasakannya saat ini. Kakinya berjalan mendekat menghampiri mereka berdua, dengan memasang senyum manis dibibirnya. "Kenzo. Kamu disini? Aku dari tadi udah nyariin kamu kesana kemari. Akhirnya ketemu juga." Kenzo akhirnya berdiri karena memang sudah selesai mengobati luka di lutut Jill. Ia menoleh ke arah gadis yang berdiri dibelakangnya sembari melontarkan tanya. "Stella? Ada apa nyariin gue?" Sementara Jill yang melihat kedatangan Stella hanya bisa diam mematung dengan rasa tidak percayanya. 'jadi, gue juga satu sekolah sama saudara tiri gue??' ****** [BERSAMBUNG]    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN