5

1473 Kata
5   Cowok itu tertunduk lelah dengan deru napas tersengal naik turun. "Anjiir lah! galak banget sih tu satpam." Gumamnya. Sementara Jill yang sedari tadi memperhatiakan dari samping dengan raut terkejutnya. Mulai bersuara. "Kenzo? Lo sekolah disini juga?" Kenzo menoleh cepat, saat mendengar suara cewek disampingnya. Kedua netranya melebar diiringi rasa keterkejutannya saat tau siapa cewek tersebut. "Elo? Ngapain disini? lo ngikutin gue ya?!" Jill memutar bola matanya malas. "Kurang kerjaan banget gue ngikutin lo." lalu memutar sedikit tubuhnya, menunjukkan tas yang berada dipunggungnya. "Nih liat! Gue murid baru disini." "Murid baru? Disini??" Kenzo memastikan sekali lagi dengan raut masih tak percayanya, dan gadis itu menganggukinya. "Biasa aja kali ekspresi lo. nggak usah lebay gitu." Sinis Jill. Karena menurutnya, yang seharusnya berekspresi seperti itu adalah Jill, bukannya Kenzo. Kalau ia tau ayahnya akan memasukkan dia kesekolah yang sama dengan cowok menyebalkan itu. Jill dari awal pasti sudah menolaknya. Ya.. penyesalan memang selalu datang terakhir. "Gue bukannya lebay. Gue cuman kaget." "Sama aja!" "Ck, lagian lo ngapain sih milih masuk sekolah sini. Sengaja ya, biar bisa deket gue terus?" tuduh Kenzo seenak jidat. "Eh. Denger ya, kalau gue tau bokap bakal masukin gue kesekolah yang sama kayak lo. dari awal gue bakalan nolak. Dasar!" Kali ini Kenzo tak mau melanjutkan perdebatan. Ia hanya berdesis kesal sembari berbalik pergi meninggalkan Jill. Tidak mau jika ia semakin telat nantinya. Jill yang melihat hal itu, tidak mau tinggal diam dan malah mengikuti. "Lo mau kemana?" "Bukan urusan lo!" Kenzo bahkan mengucapkan itu tanpa menatap Jill dan masih terus melangkahkan kaki dengan tergesa. Jill yang masih mengekor dibelakang, kembali melontarkan tanya pada cowok itu. "Jangan bilang kalau lo mau bolos?!" Langkah Kenzo terhenti. Menghela napas panjang berusaha bersabar lalu berbalik menghadap Jill. "Gue bukannya mau bolos sekolah. Lagian lo ngapain sih ngintilin gue? Bikin kesel aja." "Terus kalau nggak mau bolos, kenapa lo malah pergi? Bukannya ngebujuk tuh satpam biar dibolehin masuk." "Percuma. Nggak bakal berhasil." Ujar Kenzo, dengan kembali berbalik berjalan memasuki sebuah g**g sempit, dan masih diikuti oleh Jill dibelakangnya. Saat ini mereka sudah ada di samping gedung sekolah berpagar tinggi. Jill memperhatikan Kenzo yang kini sudah menaikkan satu kakinya ke pagar tersebut. "Eh. Lo-lo mau ngapain?" Jill bertanya bingung. "Mau ngapain lagi?? ya mau manjat masuk lah." ujar Kenzo yang kini sudah menaikkan satu kakinya yang lain ke pagar tersebut. "Terus gue?" Kenzo menghentikan pergerakan kakinya, menoleh ke arah Jill yang masih memperhatikannya dari bawah. "Emangnya lo kenapa??" Jill sama sekali tidak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan Kenzo barusan. Bagaimana mungkin Kenzo tidak peka sama sekali mengenai keadaannya saat ini?! "Gue kan pakek rok." Ujar Jillian mengingatkan, kalau saja cowok itu lupa. "Terus??" tanya Kenzo dengan kening mengernyit. "Ya. Gimana mungkin gue manjat pagar sambil pakek rok begini?? Lo udah gila?!" "Emangnya gue nyuruh lo buat ikut manjat?" tanya Kenzo menyebalkan, membuat Jill terdiam. "Nggak kan?!" "Isshh! Dasar cowok nyebelin!" kesal Jill, menghentakkan dua kakinya. Jill melihat Kenzo yang kembali memanjat naik. sementara ia masih dibawah dan masih sibuk berkutat dengan fikirannya. Apa Jill juga harus ikut memanjat naik dengan memakai rok begini? Selain takut ada yang melihat, jujur ia juga seumur hidup tidak pernah memanjat pagar sekolah seperti ini. apalagi dengan ketinggian yang cukup membuatnya merinding. Kalau ia jatuh dan kepalanya gegar otak, gimana?? Nyatanya gadis itu tau, jika terlalu sibuk memikirkan semua itu, maka ia akan semakin telat dihari pertamanya masuk sekolah. Kenzo yang sudah berhasil masuk kedalam, memperhatikan Jill yang masih berada diluar-melihat pagar dengan tatapan ragu, antara mau manjat atau tidak. "Jadi lo mau berdiri disitu sampai kapan?" Jill tersadar. Melirik sekilas Kenzo dengan sebal. Lalu mulai mengangkat satu kakinya untuk naik. "Jangan ngintip! Balik badan sono!" perintah Jill, yang takut jika cowok itu tengah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kenzo hanya berdecak sembari bergumam membalikkan badannya. "Gak nyadar apa, disini yang tukang intip siapa?!" Sementara Jill mulai perlahan dan hati-hati memanjat naik, saat melihat Kenzo sudah berbalik memunggunginya. "Awas ya, jangan berbalik sebelum gue suruh." Ucap Jill saat sudah sampai di pagar paling atas. Disitu Kenzo berfikir, buat apa juga ia repot berdiri disitu dan menunggu cewek galak itu turun. Lebih baik dia pergi dan segera masuk kedalam kelas sebelum pelajaran dimulai. "Gue cabut!" cetus Kenzo tiba-tiba. Membuat Jill yang mendengar menjadi kelabakan dan juga panik. Ia tidak mau ditinggal sendirian seperti ini. "Ehh.. bentar-bentar. tungguin gue turun dulu!" Jill menoleh sebentar kebelakang. Dan melihat Kenzo mulai berjalan meninggalkannya. Gadis itu semakin panik dan membuat Jill tidak hati-hati dengan pijakannya. Kakinya mendadak tergelincir, tangannya terlepas dari pegangan dan membuat tubuhnya limbung jatuh menghantam tanah dengan sakit yang menjalar cepat dibagian lutut dan tangannya. Pekikan rasa sakit seketika terdengar ditelinga Kenzo dan membuat cowok itu segera menoleh--- menghampirinya cepat. "Lo nggak papa kan?!" tanya Kenzo yang kini sudah berjongkok didepan Jill. "Lo gimana sih, masak manjat ginian doang bisa jatuh? Nyusahin aja lo." Kenzo lalu membantu Jill untuk berdiri. "Sini biar gue bantu." Jill menepis tangan Kenzo, akibat kesal dengan ucapannya barusan. "Nggak perlu, gue bisa sendiri." ketus Jill, lalu berusaha berdiri sendiri dengan menahan sakit di bagian lututnya. Kenzo bisa melihat dengan jelas bagaimana Jill tengah meringis menahan rasa sakitnya. Dan ia sepertinya tidak bisa begitu saja tinggal diam dan membiarkannya. "Sakit kan? Mangkanya biarin gue bantuin lo. nggak usah gedein gengsi deh." "Ini tuh juga gara-gara lo. gue jadi sampai jatuh begini. Tuh liat! Kaki gue sampai berdarah." Kenzo melihat ke arah lutut Jill, yang memang mengeluarkan sedikit darah. Hanya sedikit memang, tapi Kenzo tau jika rasanya pasti sangatlah perih. "Kenapa lo jadinya nyalahin gue? Gue kan gak ngelakuin apa-apa." "Tapi kan gara-gara lo ninggalin gue, gue jadinya panik, terus jatuh!" "Berarti itu salah siapa?? Bukan gue kan?! Lo aja yang kurang hati-hati. Seenaknya nyalahin orang." Jill hanya sanggup menggeram kesal dengan mengepalkan dua tangannya menahan emosi didirinya sendiri. "Arrgg! Lo itu bener-bener....." Dan kalimatnya itu terhenti saat Kenzo tiba-tiba mengalungkan satu tangan Jill ke belakang leher kenzo. "Ngomelnya entar aja. Keburu makin telat nanti." lalu berjalan perlahan dengan memapah tubuh Jill. Jill hanya diam. Terlalu terkejut dengan sikap baik Kenzo padanya kali ini. namun saat sudah sampai dikoridor, Kenzo mulai bersuara menanyakan dimana kelas Jill. "Oh ya, BTW lo kelas berapa? Biar gue anter." "3-IPS1." Jawab Jill singkat. "Oh, jadi lo kelas tiga juga?! ah.. sayang banget kita nggak sekelas." Kenzo memasang wajah dibuat-buat menyesal. "Lagian, gue nggak mau sekelas sama lo." Jill menjawab dengan nada ketus. "Kenapa? gue kan ganteng. Keren lagi." "Apa hubungannya?" "kalau kita sekelas kan, gue jadi bisa jailin lo tiap hari." Kenzo menatap Jill dengan senyum dan alisnya nya tergerak naik turun. Jill yang melihatnya dengan kesal, seketika melepas rangkulan tangannya di leher Kenzo. "Lah.. kenapa?" tanya Kenzo bingung. "Gue nggak butuh bantuan lo. gue bisa ke kelas sendiri." ucap Jillian, bernada ketus. "Yakin? Nggak bakal nyasar entar?" tanya Kenzo meragukan. "Enggak lah!" lalu Jill berjalan sedikit pincang meninggalkan Kenzo dengan berbelok ke koridor yang salah. "Woi! Cewek galak!" teriak Kenzo dari belakang dan membuat langkah kaki Jill terhenti tanpa menoleh. "Lo salah jalan. Kelas lo bukan lewat sana, tapi lewat sini." Jill sejenak memejamkan matanya rapat dan mencoba menahan rasa malunya dari Kenzo yang kini tengah menahan tawa. **** Sepertinya Jill harus mengakui jika Kenzo memiliki sifat gentleman dibalik sifatnya yang selalu membuat Jill kesal setiap bertemu. Karena Kenzo tidak membiarkan Jill dan malah mengantarkan gadis itu sampai didepan kelas, biarpun Jill sudah berulang kali menolak untuk diantarkan. Tok tok tok.. Jill mengetuk pintu kelas yang terbuka dengan ragu. Sang guru yang baru memulai pelajaran pun ikut menoleh dan menyuruhnya masuk. "Maaf pak. Saya telat." Ujar Jill dengan kepala menunduk, saat sudah masuk kedalam kelas. Dan pandangan semua anak didalam kelas kini tengah tertuju ke arahnya sembari berbisik. "Oh, kamu pasti yang katanya murid baru itu kan?! Kenapa bisa telat dihari pertama kamu masuk?" "Maaf pak. Tadi ada masalah pas mau berangkat kesini." Ucap Jill setengah berbohong. "Ya sudah, saya maafkan. Tapi lain kali jangan diulangi lagi." lalu menyuruh Jill memperkenalkan diri. "Sekarang perkenalkan diri kamu terlebih dahulu didepan anak-anak yang lain. Setelah itu kamu boleh duduk." Gadis pemilik rambut sebahu itu mengangguk faham, dan mulai memperkenalkan diri. "Perkenalkan, nama gue Jilliana Callysta. Gue murid pindahan dari SMA Pelita. Dan gue harap kita bisa berteman baik kedepannya. Terimakasih." Setelah selesai memperkenalkan diri, barulah Jill dipersilahkan duduk disalah satu kursi kosong yang berada paling belakang sendiri. karena memang tempat duduk dikelas tersebut satu bangku satu orang. Ia bahkan tidak perduli dengan beberapa anak cowok dikelas yang sebagian sudah heboh saat dirinya memperkenalkan diri tadi. Jill lalu mulai mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Ia bahkan tidak sadar jika sedari tadi sudah ada satu orang cowok yang masih memperhatikannya dengan raut terkejut yang bahkan sulit untuk dihilangkan---duduk sejajar disampingnya. "Psstt! Pssttt!" cowok itu memanggil dengan berbisik, saat kelas sudah mulai tenang. Tapi Jill sama sekali tidak memperdulikannya. Gadis itu masih terlihat sibuk dengan bukunya. Kesal karena diabaikan, cowok itu lantas menulis sesuatu di buku, menyobeknya dan meremasnya kuat-kuat. Lalu melemparnya dan mendarat tepat diatas meja Jill. Tentu saja karena penasaran, Jill lantas membuka kertas tersebut dan membacanya. Kenapa lo nggak bilang kalau lo pindah sekolah disini? tau gitu gue tadi jemput lo pas berangkat. Jill mengernyit bingung dengan isi tulisan tersebut. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari tau siapa si pelempar kertas tersebut. Disaat ia menoleh kesamping kanannya, disaat itu juga senyumnya melebar tak percaya karena bisa satu kelas dengan teman dekatnya. "Kelvin??" **** [BERSAMBUNG]  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN