4

1633 Kata
4   Diruang tamu, Anton, Jill, dan juga Kelvin, terlihat duduk bersama diselingi perbincangan ringan antara ketiganya. "Oh.. jadi kamu yang namanya Kelvin?" ujar Anton, yang dari kemarin sering mendengar nama Kelvin disebut oleh anak gadisnya. "Iya om." jawab Kelvin dengan ekspresi yang masih canggung. "Yang kemarin nganterin Jill kesini juga kan?!" Anton bertanya kembali, yang kemudian diangguki Kelvin dengan senyuman yang masih sangatlah canggung. Anton yang mengerti hal itupun, kembali bersuara. "Udah. Nggak perlu canggung begitu kalau sama om. anggap aja kita udah kenal lama. Ya?" Kelvin kembali mengangguk. Anton beralih menoleh ke arah anaknya Jill, dan mulai bertanya pada gadis itu, untuk memastikan apa yang sedari tadi berada dibenaknya. "Tapi Jill. Ini beneran kan kalau Kelvin cuman temen kamu. bukannya pacar?" Tentu saja mendengar hal itu membuat Kelvin yang tengah minum, dan Jill yang tengah memakan kue, menjadi tersedak bersamaan. "Papa ngomong apa sih?! siapa yang pacaran. aku sama Kelvin beneran cuman temen doang pah.." ujar Jill, menjelaskan dengan wajah serius. "Kalau nggak percaya, tanya aja sama mama." "I-iya om. kita berdua beneran cuman temenan aja kok." Sahut Kelvin, ikut bersuara. Seolah tidak mau terjadi kesalah fahaman diawal pertemuannya dengan ayah Jill. Anton hanya mengangguk mengerti. "Ya sudah kalau gitu. Kalian lanjutin aja ngobrolnya. Papa tinggal kedalam." Jill dan Kelvin hanya mengangguk mengiyakan. "Emang kita kayak orang pacaran apa?! ada-ada aja bokap gue." Cetus Jill, saat kepergian ayahnya. Kelvin tersenyum ke arah Jill, lalu menggodanya. "Mungkin menurut papa lo, kita cocok jadi pasangan. Mangkanya dia ngiranya kita pacaran." Segera saja Jill menjejalkan kue yang barusan diambilnya kedalam mulut Kelvin. "Nggak usah ngarang. Apaan sih!" Kelvin hanya nyengir dengan mengunyah kue yang baru saja dijejalkan Jill kedalam mulutnya. Saat sudah menelannya, cowok itu teringat mengenai pembicaraannya dengan Jill, soal kepindahan sekolahnya. "Lo katanya pindah sekolah kan?" Jill mengangguk. "Itu idenya mama. Katanya biar nggak jauh-jauh pulang perginya." "Emang pindah kemana? kalau boleh tau." Tanya Kelvin penasaran. Jill mengedikkan bahu bersamaan. "Gue nggak nanya sih." "Berarti, lo pasrah aja gitu dipindahin kesekolah manapun?" "Menurut gue, semua sekolah sama aja kan?! Lagian.. kalau gue milih juga, belum tentu nyokap sama bokap setuju." "hmm.." Kelvin mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. "Tapi nih ya. Baru sehari gue pindah kesini, gue udah dibikin kesel sama satu orang cowok yang tinggal disebelah rumah gue." Ujar Jill, memulai curhatnya. "Cowok? Siapa?" tanya Kelvin dengan kening mengernyit penasaran. Gadis itu mulai mengingat-ingat siapa nama cowok resek tersebut. "Emm.. siapa ya?! Bentar-bentar gue inget-inget dulu." Dengan wajah serius mulai mengingat dan mengeja sebuah nama. "Ken.. ken..Kenzo! iya Kenzo namanya." "Tuh cowok bener-bener resek dan ngeselin banget. Semaleman gue nggak bisa tidur gara-gara gue masih ngerasain geli pas tuh cowok sengaja naruh tikus kecil ditangan gue. Ah.. pokoknya nyebelin banget deh tuh orang. Terus nih ya, pas pertama kali gue masuk kamar. Gue malah liat dia lagi tela----" Jill terdiam ketika menyadari perkataannya saat ini. Hampir saja dia keceplosan. Menurutnya, sangat tidak mungkin jika dia harus menceritakan bagian memalukan itu kepada Kelvin. Ya, sepertinya hal seperti itu tidak usah diceritakan. Kelvin menaikkan kedua alisnya heran, saat melihat Jill tiba-tiba terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya. "Apa? lo liat dia lagi apa??" Kelvin bertanya penasaran. Jill tertawa hambar. "Hehehe.. eng..enggak enggak. Nggak papa." "Apa'an sih Jill? Gue kan penasaran. Kalau lo ceritanya setengah-setengah gitu, nggak usah cerita kali." "I-itu.. bagian yang itu kayaknya nggak usah diceritain. Nggak penting." Ucap Jill, berharap Kelvin tidak lagi penasaran. "Lo ngomong gitu, malah makin bikin gue tambah curiga." "Ishh! Udah nih. makan aja kuenya yang banyak! Nggak usah kepo." Lagi. Jill kembali menjejalkan kue kedalam mulut Kelvin seperti tadi. Namun kali ini dengan jumlah yang lebih banyak. Tidak mau hanya diam, Kelvin malah membalas dengan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Jill padanya. Jill yang kembali membalas, begitu juga dengan Kelvin. Begitu seterusnya. Hingga mereka tidak menyadari keberadaan Gavin yang sudah berdiri menyaksikan tingkah keduanya yang justru mirip seperti orang pacaran. Gavin berdehem. "Ehem." Membuat keduanya berhenti bersikap konyol dan menoleh keasal suara. "Gavin? Mau kemana malam-malam bawa tas?" tanya Jill, saat melihat tas dipunggung adiknya. "Mau kerumahnya kak Kenzo. Minta bantuin bikin PR." "Kakak bisa bantuin." "Kakak kan lagi sibuk pacaran. daripada gangguin kak Jill yang lagi pacaran, mending minta bantuin kak Kenzo aja. Lagian disini berisik!" lalu Gavin melangkah pergi menuju pintu keluar rumahnya begitu saja. "Gavin! Ishh, ngeselin banget sih tu anak." Kesal Jill, dengan ucapan adiknya yang seenaknya bilang jika ia dan Kelvin berpacaran. Padahal keduanya hanya berteman. "Pasti dia bisa ngeselin gitu, karena terlalu sering bergaul sama cowok resek yang namanya Kenzo itu." Mendengar lagi-lagi nama Kenzo disebut, membuat Kelvin teringat seseorang yang sangat populer disekolahnya. Dan keterdiaman Kelvin ini membuat Jill bertanya-tanya. "Kenapa Vin? Kok tiba-tiba diem. kayak ada yang lagi lo pikirin." "Nggak. Gue cuman keinget kapten basket disekolah gue yang namanya juga Kenzo. Tapi nggak mungkin lah Kenzo yang itu." Kelvin mengalihkan topik pembicaraan. "Oh ya, lo mesti liat ini deh." Mengeluarkan ponsel dari saku celana, dan membuka salah satu video dance cover grup mereka di youtube. *Jill yang rambutnya digerai pendek sebahu. * "Udah satu juta lebih tuh yang nonton." Kata Kelvin memberitahu. "Telat." Cetus Jill, bersikap biasa. "Kok telat?" "Iya telat. soalnya gue udah tau duluan." "Lo keliatan cantik disitu." Ujar Kelvin memuji Jill, dengan berkata yang sejujurnya. "Jadi sebenarnya lo mau bilang, kalau gue aslinya jelek?" Kelvin menggeleng. "Aslinya, lo jauh lebih cantik lagi. Apalagi kalau diliat sedeket ini." Kelvin tiba-tiba memajukan sedikit wajahnya ke arah Jill. Membuat kedua netra mereka saling beradu untuk sepersekian detik. Bahkan Kelvin menatap Jill dengan sangat lekat. Dan tanpa sadar apa yang dilakukannya itu menimbulkan efek tersendiri dijantungnya. Ctak! "Aduh!" Kelvin mengaduh sakit. Tangannya mengusap keningnya nyeri akibat Jill yang baru saja menyentilnya kencang. "Sakit..!" "Mangkanya nggak usah kumat. Kebiasaan banget deh." "Orang gue ngomong jujur kok." "Terserah!" Memang Kelvin sudah sangat sering berkata seperti itu pada Jill. Tapi Jill selalu saja bersikap biasa dan menganggap jika Kelvin tengah menggodanya dan tidak serius. Padahal Kelvin benar-benar berbicara jujur. **** Dikamar, Kenzo terlihat serius mengajari Gavin soal matematika nomer tujuh dan sembilan yang membuat anak SMP itu kesulitan. Tentu saja Gavin memperhatikannya dengan seksama, lalu mencoba mengerjakan dan jika sudah selesai akan diperlihatkan ke Kenzo untuk dikoreksi. Gavin memang sering meminta bantuan mengenai PR sekolahnya pada Kenzo. Dan cowok itu selalu membantunya dengan senang hati. Gavin memang sangat dekat dengan Kenzo. Dan ia sudah menganggap Kenzo sebagai kakak laki-lakinya sendiri. bahkan saking dekatnya mereka berdua, Kenzo sampai mau meluangkan sedikit waktunya untuk melatih Gavin bermain basket. Mengingat Kenzo ini begitu mahir dalam olah raga basket. Apalagi dia juga termasuk kapten basket disekolahnya. Kenzo yang kini tengah sibuk memainkan game diponselnya sembari menunggu Gavin selesai mengerjakan soal, mulai melontarkan tanya pada anak itu, tanpa mengalihkan fokus dari layar ponselnya. "Kenapa nggak minta ajarin kakak lo? kan dia sekarang tinggal serumah sama lo." "Orangnya lagi sibuk pacaran sama cowoknya." Jawab Gavin seenak jidat yang membuat Kenzo merubah posisi tidurannya menjadi duduk. "Kakak lo udah punya cowok?" Gavin mengangguk dengan masih serius mengerjakan soal matematikanya. "Serius?" tanya Kenzo masih tak percaya. Apalagi saat mengingat bagaimana sikap Jill padanya kemarin. Rasanya tidak mungkin akan ada lelaki yang mau mendekatinya dengan sifatnya yang seperti itu. "Yang gue liat sih gitu tadi." Kenzo diam dengan mengangguk-anggukkan kepala pelan. Lalu terdengar suara motor berderum diluar rumah. Kenzo beranjak turun dari kasur untuk melihat dari balik tirai kamarnya. Rupanya suara motor tersebut berasal dari depan rumah Gavin. Kenzo melihat Jill tengah menaiki motor bersama seorang cowok. Ia sama sekali tidak bisa melihat jelas cowok itu, karena memakai helm. 'Pasti itu cowoknya.' Batin Kenzo menebak. Lalu kembali berjalan menaiki ranjang. "Kakak lo kayaknya keluar tuh Vin, sama cowoknya." "Biarin aja kak." Kenzo melirik sekilas jam di dinding. "Emang lo nggak khawatir? Udah malam gini." "Tadi dirumah ada papa. mungkin kak Jill dapat izin papa buat keluar." "Oh.." Kenzo mengangguk faham. Lalu mulai bertanya mengenai kepindahan Jill disini. "Oh ya Vin, sorry nih ya kalau gue kepo. Lo kan dari dulu tinggal cuman berdua sama bokap lo. kenapa sekarang kakak lo ikut tinggal disini?" Gavin menghentikan gerakan tangannya yang sedang menulis. "Yang gue denger sih, katanya kak Jill nggak suka tinggal serumah sama saudara tirinya." "Kenapa? mereka sering berantem?" Gavin mengedikkan bahu. "Kalau soal itu, mending kak Kenzo tanya sendiri aja sama kak Jill nya langsung." "Enggak ah." "Kenapa?" "Kakak lo serem. Galak lagi. nih buktinya kening gue udah jadi korban keganasan dia." Gavin terkekeh. "Ya elah kak. Itu kan juga salah kak Kenzo sendiri. ngapain pakek acara t*******g didepan kak Jill. Jadinya ditimpuk kan?!" "Wah-wah! Nih bocah kalau ngomong suka nggak disaring. Gue tuh bukannya t*******g. Tapi handuk yang gue pakek tuh nggak sengaja melorot depan dia. lagian kurang kerjaan banget gue sengaja t*******g depan cewek galak kayak dia. udah galak, serem lagi." "Jangan gitu. Entar naksir." "Nggak bakal!" **** Esok harinya... Jill berlari sekencang mungkin ke arah pintu gerbang yang hendak ditutup. Hari ini pertama kalinya Jill masuk ke sekolah barunya, yaitu SMA Garuda. Dan dia malah telat seperti ini. Ini semua karena Gavin yang susah dibangunkan saat tidur. Dan Jill ikut terkena imbasnya. "Bapak! Jangan ditutup dulu pintunya, saya mau masuk." Ujar Jill, dengan napas ngos-ngosan karena belari. "Masuk? Enak aja. Kamu nggak liat ini udah jam berapa?" "Tapi pak, saya kan cuman telat tiga menit doang." Kata Jill, sesaat setelah melihat jam ditangan kirinya. Sang satpam memperhatikan penampilan Jill yang memakai seragam berbeda dari seragam yang dikenakan siswi disekolah tersebut. "Tiga menit kamu bilang cuman?? Itu tetep telat namanya! Kamu ini siswi baru, tapi hari pertama masuk malah udah telat." "Yahh pak. Maafin saya dong. saya janji lain kali nggak bakal telat masuk lagi. beneran." Jill mengangkat dua jari tengah dan telunjuknya ke atas, bersamaan. "Please pak. Sekali ini doang. Bantuin saya ya pak." "Nggak bisa! Kalau semua murid yang telat saya biarin masuk, bisa-bisa saya yang dapat masalah." Jill yang kembali hendak protes, dikejutkan oleh seorang cowok yang tiba-tiba datang telat dengan napas tersengal tak beraturan akibat berlari. "Pak, tolong bukain pintunya pak. Saya mau masuk." Ucap cowok itu, dengan kedua tangan memegangi pagar. "Kamu lagi. udah datang telat, seenaknya minta dibukain. Balik pulang sana!" "Tapi pak..." "Nggak ada tapi-tapian. Saya bilang balik!" bentak sang satpam, yang membuat cowok itu sedikit berjingkat. Sang satpam berusaha tidak perduli dan berbalik pergi menjauhi pagar. Cowok itu tertunduk lelah dengan deru napas tersengal naik turun. "Anjiir lah! galak banget sih tu satpam."Gerutunya. Sementara Jill yang sedari tadi memperhatiakan dari samping dengan raut terkejutnya. Mulai bersuara. "Kenzo? Lo.... sekolah disini juga?" [BERSAMBUNG]    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN