AKU INGIN PERGI

1035 Kata
Bi Jum sangat tergesa gesa pergi ke desa. Sampai tak menyadari jika mata Karta dari tadi mengawasinya yang melewati tempat gudang penyimpanan hasil perkebunan. Karta pun mengikutinya, lalu begitu dekat ia menghentikan Bi Jum. “bi Mau kemana? Kenap tergesa gesa begitu?” tanyanya sambil tangannya menghalau jalan Bi Jum. Bi Jum sampai kaget begitu mengetahui Karta sudah ada di hadapannya. Bi Jum begitu ceroboh sampai lupa jalan dan malah melewati jalan yang jelas jelas akan ada Karta disana. Bi jum yang hanya diam bingung menjawab apa. Melihat tangan Bi Jum yang membawa obat obatan Karta tersenyum “kenapa? Anak itu demam bi?” tanyanya tersenyum sinis. “iya den” bi Jum menggangguk hormat. “udah bi. Jangan repot repot. Anak itu hanya manja saja. Baru diguyur air begitu udah demam.” Ujar Karta terkekeh. Tangannya dimasukkannya ke saku celana. Sedangkan tangan satunya masih memegang rokok. “apa? Aden yang menyiram Yanti?” tanya Bi jum tak percaya. Bukannya menjawab Karta malah terkekeh. Lalu dia menghisap rokoknya dalam. “iya bi, habis saya kesal. Saya datang dia malah tidur pake selimut dan tak menyadari kalau saya datang. Bahkan hampir tiap kali saya melihatnya saya hanya merasa kesal dengannya. Bahkan tangan saya jadi gatal ingin menyakitinya.” Ujar Karta tak berprasaan. “apa apaan itu den? Kenapa begitu? Bukankah aden harusnya memperlakukannya dengan baik? Bukankah Ia sudah jadi istri aden?” bi Jum bertanya sengit. “saya tidak suka anak kecil itu, mau dia mati atau bibi mau pergi juga saya tidak peduli.” Ujar Karta berlalu pergi. “dasar gila” maki Bi Jum sambil pergi. “istri sakit bukannya diurusin malah didoain mati. Kamu nggak pernah berubah Karta. Sudah tua nggak ada tobatnya.”gerutu Bi Jum Karta dan Bi Jum sudah lama saling mengenal. Bisa di bilang mereka tumbuh bersama. Umur mereka tak jauh berbeda. Orang tua Bi Jum sudah lama mengabdi kepada keluarga Karta. Perbedaan mereka yang lebih tua Bi Jum enam tahun membuat mereka hampir bersama sepanjang hidup mereka. Keluarga Bi Jum adalah salah satu pegawai paling setia keluarga Karta. Sepanjang perjalanan kembali ke gubuk, Bi Jum tak hentinya berdoa semoga Yanti baik baik saja. Rasa khawatir, cemas dan wa was sepanjang jalan. “Ya Allah semoga si non baik baik saja. Duh ini kaki makin tua makin lambat saja.”ujar wanita berumur empat puluh delapn tahun itu. Sesampainya didepan gubuk bi Jum segera mencari kunci dan membukanya. Tergesa gesa ia masuk dan mencari keberadaan Yanti. Dilihatnya dikamar Yanti tidak ada. Ternyata Yanti tertidur dimeja makan. Kepalanya bersandar di meja. Matanya terpejam. Masih dengan khawatir, Bi Jum menghampiri Yanti. Dirabanya kepala Yanti. “astaga badannya badan sekali.” Bi Jum merasa kaget meraba kening Yanti. “non, non, bangun non. Ayo kita pindah ke kamar saja. Bibi sudah beliin non obatnya. Hayuk diminum dulu non.” Ujar Bi Jum membangunkan Yanti. Perlahan Yanti membuka matanya dengan lemah. “bibi sudah kembali? Badan Yanti lemas bi. Kepalanya sakit” keluh Yanti lalu kembali bersandar ke meja lagi. Di pukul pukulnya kepalanya dengan tangannya sendiri untuk meredakan sakit kepalanya. “non, udah non jangan dipukul pukul kepalanya. Ini minum obat dulu. Sebentar lagi sembuh sakitnya. Hayuk non.” Bi Jum memberikan obat demam dan sakit kepala kepada Yanti beserta air minum. Dengan tangan gemetar dan lemah Yanti meminum obatnya. Lalu kembali berbaring dimeja. “non, dikamar saja. Biar bibi kompress demamnya biar cepat turun.” Ajak Bi Jum sambil memapah tubuh Yanti. Sesampainya dikamar Yanti segera dibaringkan ke tempat tidurnya. Selimut tebal segera menutupi tubuh Yanti. Kepala Yanti terasa hangat sedangkan kakinya terasa dingin seperti es. Dengan sigap Bi Jum mengambil air dan handuk kecil untuk mengompress Yanti. Segera di tempelkannya handuk kecil itu ke dahi Yanti. Setelah itu diambilnya minya gosok dan dioleskannya ke kakinya Yanti. Sambil di pijat pijat bi Jum mengajak Yanti bicara. “non sudah makan? Mau makan apa non? Nanti bibi carikan?” tanyanya agar Yanti mau makan. “mulutnya berasa pahit Bi, nggak enak makan. Yanti nggak pengen makan apa apa Bi.”ujar Yanti lemah. “kalau non nggak makan gimana demamnya hilang non. Bibi ambilkan ya? Makan ya non walau sedikit.” Tawar Bi Jum lagi. “nanti saja bi, Yanti mau tidur saja.” Ujar Yanti. Lalu matanya terpejam. Sebelum benar benar terpejam, Yanti kembali membuka matanya. Teringat sesuatu yang ingin di tanyakannya pada Bi Jum. “bi, apa tidak apa apa bibi disini lama lama? Nanti bibi dapat masalah gimana?” tanya Yanti masih lemah. “nggak apa non, yang penting non baikan dulu. Nanti bibi pulang. Jadi nggakkan ada maslah kok.” Bi Jum menjawab sambil tersenyum menenangkan Yanti. “oh begitu Ya bi, bi apa Karta selalu begini kepada istrinya? Bukankah bibi sudah lama kerja dengan Karta. Bibi pasti tahu sesuatu iya kan bi?” “iya bibi sudah lam kerja dengan Karta non, Karta memang kasar sama istri non. Maafkan bibi. Tetapi bibi kira Karta akan berubah. Ternyata sama saja. Maaf non bibi tidak bisa apa apa membantu non” ujar Bi Jum dengan nada sedih. “nggak apa apa bi. Bibi bisa kan bantu Yanti. Yanti mau pergi saja bi.” Ujar Yanti menitikkan air matanya. “kenapa non, jangan begitu non?” ujar Bi Jum ikutan sedih. Ia tahu Yanti tersiksa, tetapi Bi Jum sudah menyayangi Yanti tak ingin berpisah. Bi Jum juga berharap pernikahan Karta kali ini bisa langgeng. Tetapi apa mau dikata ternyata Yanti pun tak tahan menghadapi Kaarta. “Yanti tidak tahan Bi, Yanti ingin pergi saja.” “pergi tidak menyelesaikan masalah non.” Ujar Bi Jum datar “maaf jika bibi salah ngomong, tetapi status non adalah istri Karta. Bagaimana pun juga non dan den Karta harus menjalankannya dengan benar. Meski menikah siri. Menikah dibawah tangan tetap harus ada kata pisah dari Karta non. Non tidak boleh pergi tanpa izin suami non. Dosa.” Yanti tersenyum mendengar ucapan Bi Jum. “maaf bi, Yanti awam tentang agama. Yanti bahkan nggak tahu apa apa tentang agama. Yanti nggak pernah ada yang ngajari. Dulu ada temen yang suka ngajarin tetapi dia pindah ke kota. Yanti bacaa tulisan saja tersendat sendak bi. Hitung uang yang pinter.” Ujar Yanti. Bi Jum terkekeh mendengar kalimat terakhir Yanti. “bertahanlah sampai sembuh non. Jika memang harus, bibi akan membantu sebisa dan semampu non.” Ujar bi Jum menenangkan Yanti. “makasih banyak ya bi sudah membantu Yanti selama ini. Bahkan selalu melindungi Yanti. Yanti tahu bibi bisa saja kena masalah karena ini.” “tidak apa non, tidak apa. Karta juga marah nggak kan marah besar sam bibi. Bibi sudah lama kerja sama Karta jadi tahu benar bagaiman dia.” Ujar Bi Jum. Mereka berpelukakkan bersama. “ya sudah, non istirahat ya. Bibi kebelakang. Nanti bibi bikini sup ya non. Biar badannya anget. Non tidurlah.” “iya bi” Bi Jum segera kebelakang melanjutkan pekerjaannya dan Yanti beristirahat mencoba memejamkan mata memulihkan kondisi tubuhnya yang meriang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN