SUDAH BERAKHIR SUDAH

1245 Kata
Hari beranjak siang ketika Yanti bangun, badannya tak lagi kedinginan tetapi masih lemas. Kepalanya juga masih agak sakit. Dicobanya untuk bangun dan mencari Bi Jum. Ternyata bi Jum ada di depan. Sedang membersihkan ruang depan. “bibi belum pulang?” tanya Nayla seraya duduk dikursi. “belum non” jawab Bi Jum sambil terus menyapu lantai.”non sudah baikan?’ tanyanya kemudian. “udah nggak mengigil lagi bi, Cuma masih lemes.” Bi jum hanya tersenyum melanjutkan menyapu. Di biarkannya Yanti merebahkan tubuhnya dikursi. “non mau dibuatkan makanan apa?” tanyanya sambil mengelus elus lembut rambut Yanti. “nggak bi. Yanti nggak pengen makan apa apa. Ada s**u nggak bi. Pengen s**u hangat bi. Ada tidak?” “ada non. Sebentar bibi buatkan ya.” Bi Jum menlangkah ke dapur membuat s**u hangat. Setelah selesai di hantarkannya ke depan untuk segera di minum Yanti. “ini non. Mau langsung diminum?” “iya Bi.” Jawabnya sambil duduk lalu menerima s**u hangat yang disodorkan Bi Jum. “makasih ya bi.” Bi Jum hanya tersenyum. “bi, Yanti sudah memutuskan kalau Yanti sudah baikan Yanti akan pergi dari sini. Yanti benar benar ingin mengakhirinya bi. Maafkan Yanti bi” Yanti langsung sedih. Bi Jum hanya diam tak tahu harus mengatakan apalagi. Yanti sudah memutuskan. Bi Jum hanya mampu terdiam. “bi... kok diam saja? Bibi marah?” tanya Yanti melihat Bi Jum hanya diam mendengarkan penuturannya. “nggak non. Bibi hanya berpikir bagaimana kita bicara pada Karta. Bibi hanya takut non akan mendapat masalah jika non bicara langsung berdua.” “bibi benar. Yanti juga belum pulih benar. Bibi ada saran? Bibi maukan bantu Yanti?” “iya non bibi mau. Bibi juga nggak tega liat non begini. non kalau pisah sama Karta sekolah aja ya non. Mau non? Nanti Bibi bantu. Bibi rasa Yanti harusnya ada disekolah.” “maaf bi, Yanti nggak bisa bi. Rasanya sudah terlalu terlambat untuk itu. Yanti hanya ingin kerja. Kerja apa saja yang penting halal. Nggak apa kerja yang berat asal ada bi.” Ujar Yanti menggenggam erat tangan Bi Jum. “ya sudah kalau begitu. Gimana kalau non ikut bibi ke desa? Kita ke rumah Pak RT. Nanti kita minta tolong diurusi perpisahan non secara baik baik. Gimana non?” “iya bi, Yanti mau. Kayaknya itu keputusan yang baik untuk dilakukan.” “baiklah kalu gitu nanti sore kita bersiap ya. Apa sekarang saja ya? Bibi takut nanti malah ketemu Karta kalu siang begini. tapi kalau sore keburu Karta kesini. Duh, bibi jadi bingung juga non.” Bi Jum geleng geleng. “bi Jum jangan khawatir. Kalau kata Yanti mah mending sekarang bi. Kita pelan pelan saja jalannya. Nanti Yanti pake tutupan muka saja Bi. Nggak apa. Daripada sore bibi malah khawatir dan nggak tenang begini.” Yanti masih saja terus menggenggam tangan Bi Jum “iya non kalau begitu ayo kita berkemas sekarang saja.” Bi Jum membantu Yanti berdiri dan menuju kamar. “non sudah kuat apa? Lumayan jauh non. Apalagi lewat sawah sawah.” Tanya Bi Jum khawatir. “nggak apa Bi. Yanti kuat. Kita pelan pelan saja.” Yanti meyakinkan Bi Jum. “iya non. Ayo non kita berkemas.” Mereka bedua bergegas mengemasi pakaian Yanti. Tidak semua mereka bawa. Hanya beberapa saja. Memang banyak sekali pakaian pemberian Karta. Padahal Yanti tak membawa sehelai pun tetapi sekarang malah banyak sekali. “udah non?” tanya Bi Jum sambil memasukkan pakaian Yanti ke tas. “udah bi. Kebanyakan kalau semua mending ini aja. Berat bawanya bi.” Ujar Yanti. “iya non. Hayuk kita segera pergi.” Bi Jum dan Yanti bergegas keluar gubuk. Bi Jum juga mengunci pintu seperti biasanya. Setelah selesai mereka melangkah menuju desa. Kali ini Bi Jum lebih waspada. Ia memilih jalan lain. Jalan memutar agar tak bertemu Karta. “semoga Karta tak lewat sini.” Doanya dalam hati. Mereka melewati jalan yang sepi di penuhi pohon pohon teh. Tak lama mereka melewati jembatan kecil menyebrangi sungai. Jembatan satu orang yang hanya untuk orang bukan jembatan permanen untuk mobil dan motor. Setelah menyebrang mereka dihadapkan dengan sawah hijau membentang. Perlahan mereka terus berjalan hingga sampai ke desa. Bi Jum bergegas menuju rumah pak RT melaporkan keadaan Yanti meminta perlindungan dan pemecahan masalah. “assalamualaikum” panggil Bi Jum begitu tiba didepan rumah Pak RT. “Waalaikumsalam” tak lama terdengar sahutan salam dari dalam. Keluarlah seorang pria berumur empat puluh tiga tahun membuka pintu. “oh Bu Jum. Masuk bu” Pak RT mempersilahkan mereka berdua masuk dan duduk. “darimana bu Jum? Ini siapa? Keponakannya ya?” tanyanya langsung melihat Yanti. Yanti hanya tersenyum mepersilahkan Bi Jum menceritakan permasalahannya. “dari kerja Pak RT. Iini Non Yanti. Istri Karta Pak” bi Jum membuka percakaapan. “istri?” Pak RT agak kaget. “saya belum mendapat kabar kalau soal itu.” “iya Pak. Sudah hampir sebulan mereka menikah. Non Yanti selama ini berada di gubuk diperkebunan tehnya Pak Karta.” Ujar Bi Jum menerangkan “kedatangan kami kemari sebenarnya ingin minta tolonng kepada Pak RT sebagai penengah masalah Non Yanti dan Karta Pak. Non Yanti ini berpisah dari Karta. Mereka menikah dibawah tangan, belum ada surat nikah. Non Yanti memilih berpisah baik baik Pak. Mohon maaf kalau Pak Rt bertanya tentang masalah apa itu minta maaf Pak rasanya saya kurang pantas menceritakan aib keluarga Karta. Barangkali Pak RT tahu sendiri bagaimana perangai Karta terdahulu .” Bi Jum berkata sambil menarik nafas panjang. Kemudian melanjutkan “kami hanya ingin kata talak dari Karta pak. Non sudah tak tahan lagi. Mohon bapak bisa menjadi penengah masalah ini agar tak terjadi keributan. Agar masalah Yanti dan Karta bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Non juga tidak punya wali disni pak.” Trrang Bi Jum panjang lebar. “iya iya bu jum saya paham maksudnya. Saya akan membantu sebisanya. Jadi akan bicara dengan Karta. Menurut Bu Jum kapan waktu yang tepat?” tanya Pak RT kepada Bu Jum. “secepatnya Pak. Saya ingin selesai secepat mungkin.” Ujar Yanti. Akhirnya Ia bicara sejak datang tadi Ia hanya terdiam. “bagaiman jika malam nanti. Apa kita kerumahnya atau bagaimana Bu?” “bapak saja sama suami saya. Biar kami menunggu dirumah saja.” “baik kalau begitu bu.” “terima kasih banyak Pak. Kami mohon diri.” Bi Jum dan Yanti pun berpamitan. Mereka menuju kerumah Bi Jum yang tak begitu jauh dari rumah Pak RT. Sesampainya dirumah Bi Jum, Yanti segera berbaring. Badannya yang belum sehat betul membuat Yanti berkeringat dingin. Segera Bi Jum mebuatkan teh hangat lagi agar tubuh Yanti baikan. Tak lupa kali ini Ia memanggil Bu Mantri agar memeriksa kondisi Yanti. “nggak apa bu, hanya gejala mau tifus saja.” Ujar Bu Mantri kepada Bi Jum setelah memeriksa kondisinya Yanti. Tak lupa memeberikan obat dan menyuruh Yanti istirahat total. Setelah Bu Mantri pulang Yanti segera makan dan meminum obatnya. Tak lama setelahnya Yanti pun tertidur. Tidurnya nyenyak sekali. Sehinggga tak menyadari bahkan mendengar suasana sekelilingnya. Malam hari setelah magrib, Mang Agus, suami Bi Jum beserta Pak RT bertandang kerumah Karta. Yanti dan Bi Jum tak turut serta. Bahkan Yanti saja belum bangun. Menurut penuturan Mang Agus dan Pak RT, Karta menyetujui semua kehendak Yanti untuk berpisah. Tetapi Karta sama sekali tidak ingin memerikan harta apapun mengingat mereka belum sebulan bersama. Mang Agus sebagai perwakilan Yanti menyetujuinya. Meski begitu Karta menyiapkan uang sejumlah dua juta rupiah untuk Yanti. Itu pun Karta tidak berjanji dan Mang Agus pun berkata tak begitu mengharapkannya. Mereka kerumah Karta hanya sebentar. Karta tak banyak bicara hanya diam dan menyetujui keinginan Yanti. Apapun masalah yang terjadi antara Karta dan Yanti sama sekali tak di beberkan saat itu. Pak RT pun tak ambil pusing masalah apa yang terjadi antara keduanya. Bi jum bahagia sekali mendengar tak ada masalah apa pun tentang keinginan Yanti. Tak sabar rasanya ia menceritakan perihal ini kepada Yanti. Sayangnya Yanti tak kunjung bangun juga. Bi Jum mengecek kondisi Yanti. Badannya normal, tidak panas atau pun dingin. Tetapi Bi Jum merasa khawatir, Ia pun meminta suaminya bertanya ke Bu Mantri. “tidak apa apa Mang Agus, keponakannya baik baik saja. Memang sakit tifus harus banyak istirahat. Bagus kalau Yantinya tidur. Biar Ia istirahat total malam ini. Tadi obatnya memang ada yang bikin kantuk, biar bisa istirahat.”terang Bu Mantri. Mendengarnya Bi Jum juga jadi lega di biarkannya Yanti beristirahat hingga besok pagi menjelang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN