KE KOTA

1010 Kata
Setelah malam pertemuan Mang Agus dan Pak RT kerumah Karta, Yanti jadi makin semangat bahkan keadaannya makin membaik. Sore itu Yanti sedang bersantai di halaman rumah Bi Jum beberapa hari ini Yanti memang berada dirumah Bi Jum. Rumah bi Jum jika jam segini akan ramai. Banyak anak anak kecil bernain di depan rumah. Yanti sampai tertawa tawa melihat anak anak itu bermain. Tiba tiba sebuah mobil berhenti. Nampak Karta turun dari mobil senyum Yanti menghilang ketika melihat Karta datang ke arahnya. “kamu sudah baikan ?” tanya Karta sambil duduk disamping Yanti. “iya. Begitulah.” Jawab Yanti sekenannya. Yanti nampak malas bertemu lagi dengan Karta. Apalagi mengingat kejadian kejadian sebelumnya. “maaf atas semua yang terjadi.”Karta mengaku salah “ Yanti aku menceraikanmu. Setelah ini kamu bebas kemanapun kamu suka.” Ujar Karta mentalak Yanti. Yanti hanya terdiam mendengar Talak itu jatuh. Sedih bercampur senang. Karta menyerahkan amplok coklat ke hadapan Yanti. “ini sejumlah uang untuk Yanti. Untuk kamu gunakan keperluanmu. Maaf aku tak banyak memberimu. Aku juga tak berjanji memberimu lagi setelah ini.” Yanti menerimanya lalu membukanya, “terimakasih.”ujarnya singkat. Karta pun pami dan menuju mobilnya. Bi Jum hanya melihatnya dari jauh. Menyadari Bi Jum melihatnya, Karta menunduk hormat lalu melambaikan tangannya permisi. Bi Jum hanya menggangguk. Meskipun usia Bi Jum lebih muda, Karta selalu menghormatinya. “non”panggil Bi Jum mendekati Yanti. Dilihatnya amplok coklat di meja didekat Yanti. “Karta ngapain non?” “dia sudah mengatakan talaknya bi. Aku sekarang bebas.” Ujar Yanti sumbringah. Bi Jum hanya tersenyum, “syukurlah jika ini memang terbaik untuk kalian.” “Karta memberikan sejumlah uang bi.” Ujar Yanti menyerahkan amplok coklat itu.”untuk Bi Jum saja. Karena selama ini sudah banyak mebantu Yanti.” Bi Jum menggeleng cepat. “tidak non, ini hak non. Biar semua kebaikan ini jadi ladang ibadah bibi non. Bibi juga nggak bisa ngasih apa apa non. Maafkan bibi.” Bi Jum menunduk. “kenapa minta maaf bi, bibi sudah baik sekali sama Yanti. Merawat dan menjaga Yanti. Bahkan sekarang menampung Yanti. Yanti sangat bersyukur sekali bibi bekerja dengan Karta. Jadi Yanti ada penolong. Kalau saja Yanti tidak ada bibi, entah bagaimana hidup Yanti bi.” Yanti menggenggam tangan bi Jum “makasih bik” ujarnya tulus. Mereka menitikkan air mata bersama lalu tertawa konyol bersama. “non setelah ini rencananya mau kemana? Pulang ke kampung kah?” tanya bi Jum. “nggak Bi. Tolong suruh orang kasih pesan ke Ibu besok Ya bi. Yanti mau kekota. Bilang kalau Yanti sudah pisah dengan Karta. Yanti nggak mau pulang Bi. Ibu juga sama saja. Yanti pengen kerja Bi. Pengen mandiri. Punya uang banyak.” Ujar Yanti tertawa. “iya non. Yang penting non bahagia. Jangan lupa jaga kesehatan jaga diri kalau jauh ya non.”pesan Bi Jum. “semoga non mendapat jodoh yang baik setelah ini. Aamiin.”ujar Bi Jum mendoakan Yanti. “amiiiii” sahut Yanti. Yanti bahagia sekali semua masalahnya dengan Karta telah selesai. Ia sudah bernafas lega sekarang. Sekarang Ia harus memikirkan langkah apa selanjutnya. Mau kekota manakah Ia. Dan mau apa dikota itu nantinya. Beberapa hari kemudian, yanti bersiap kekota. Sudah jauh hari Ia berbicara dengan Bi Jum dan suaminya. Mereka menyarankan ke kota terdekat saja dulu. Ke kota bisa menumpang mobil perkebunan. Kalau menunggu bis atau angkutan umum, sangat jarang sekali masuk desa. Karena kebanyaakan orang desa memiliki kendaraan sendiri ke kota. Pagi hari Yanti telah bersiap, semua barang telah diemasnya. Bi Jum bahkan telah menyiapkan bekal untuknya. Yanti nampak bersemangat sekali kali ini. Tak berapa lama, sebuah mobil perkebunan berhenti. Memang mobil perkebunan Karta. Tetapi sopirnya bukan Karta. Pak Agus sudah menitipkan Yanti pada supir mobil itu. Mang Aryo. Itulah supirnya. Hari ini Mang Aryo sendirian kernetnya tak berangkat. Ia nampak kerepotan mengangkut dan menyusun sayuran hari ini. Bahkan Ia sampai kesiangan. “Yanti pamit ya Bi, makasih untuk semuanya.” Pamit Yanti pada Bi Jum. Mereka berangkulan lama sekali. Bi Jum bahkan tak hentinya menangis. “jaga diri baik baik non. Jangan salah pergaulan. Jangan salah berteman ya non kalau sudah dikota.”pesannya. Yanti hanya menggangguk pelukannya belum juga lepas. Bi Jum nampak berat melepas Yanti. Yanti sudah dianggapnya seperti cucunya sendiri. “udah Bu, kasihan Mang Aryo sudah menunggu. Sudah kesiangan ini.”tegur suami Bi Jum. Bi jum dan Yanti tertawa bersama dan melepas pelukannya. “Yanti pamit Bi” ujarnya kemudian. Mencium punggung tangan Bi Jum dan suaminya, Mang Agus lalu melangkah menuju mobil. “hayuk naik non”sapa Mang Aryo. “iya mang.” Yanti pun naik ke mobil dan menaruk tas didekatnya. Yanti melambaikan tangan untuk terakhir kalinya kepada Bi Jum dan Mang Agus. Mobil pun melaju perlahan meninggalkan kediaman Bi Jum. Sepanjang perjalanan Mang Aryo dan Yanti banyak diam. Memang Mang Aryo bukan orang yang suka bicara atau pun kepo dengan urusan orang. Yang Mang Aryo tahu Yanti akan ke kota dan akan bekerja. Itu saja. Mang Aryo sama sekali tidak mengetahui atau diberitahu yang Ia antar adalah mantan istri bossnya, Pak Karta. Keluar dari desa yang terlihat hanyalah sawah dan hutan. Banyak mobil yang lalu lalang. Banyak pula mobil pengangkut sayur yang lain. Didepannya ada mobil sayur yang mogok. “tunggu sebentar ya non. Didepan ada teman yang mogok.”tunjuk mang Agus kemobil di depannya. Yanti menggangguk dan memberikan izin. Mang Agus nampak memeriksa mobil temannya lalu mengisi air. Tak berapa lama mobiln itu menyala. “hayuk lanjut lagi non.”ujar Mang Aryo begitu sampai ke mobilnya kembali. “hebat Mang. Bisa benerin mobil mogok juga”puji Yanti tulus. “ah nggak non. Biasa aja. Lagi bisa bantu ya bantu. Biasanya malah nggak nyala nyala kalau itu mobil sendiri yang mogok.”ujarnya terkekeh sendiri menyadari dahulu mobilnya mogok kdan tak bisa Ia perbaiki. Yanti ikut tersenyum. Sepanjang jalan kali ini mereka bicara. Kebanyakan tentang mobil. Mang Agus memang suka mobil. Apalagi mobil mobil tua. Yanti hanya tersenyum menanggapi. Terkadang Ia juga tertawa. “non ada saudara nanti di kota?” tanya Mang Agus akhirnya. “nggak ada Mang.”Jawab Yanti. “lah nanti gimana atuh non. Nggak ada orang di kota.” Mang Agus ikutan cemas. “nggak apa mang. Nanti cari kosan saja.” Yanti tersenyum. “jangan atuh non. Di kota mah apa apa mahal. Mending kalau ada kenalan ikut kenalannya aja dulu. Atau kalo punya temen bisa kos bareng. Kalau sendirian ma mahal. Apalgi non masih mau nyari kerja, bukan langsung kerja.” Saran Mang AGUS. “Iya juga ya Mang.” Ujar Yanti tersenyum. Sepanjang jalan Yanti jadi memikirkan akan kerja dimana Ia nantinya. Meski begitu Yanti telah siap memulai semuanya dikota yang baru. Semoga kota nanti bisa dapet kerja yang baik. Doa Yanti dalam hati. Perjalanan masih cukup jauh. Yanti mulai mengantuk. Mang Aryo mengizinkan Yanti untuk tidur. Lalu terpejamlah mata Yanti. Menemui mimpi mimpi indahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN