DI MESS SUPIR

1263 Kata
Kantuknya belum hilang, keteika Yanti terbangun karena suara berisik disekitarnya. Dibukanya matanya perlahan. “sudah dipasar rupanya” ujar Yanti ketika melihat kerumunan dihadapannya. Ditatapnya sekeliling. Rupanya Mang Aryo tak ada disana. “kemana Mang Aryo ya?” tanya Yanti sambil turun dari mobil dan membawa tasnya. Celingak celinguk Yanti menjari Mang Aryo tetapi tak kelihatan. Ia ingin pergi tetapi belum mengucapkan terima kasih. “neng, cari mang Aryo ya?” tanya seseorang sambil tersenyum. Dia pria yang cukup manis. Usianya baru sekitar 23 tahun. Berberawakan tinggi tegas. Berkulit sawo matang khas Indonesia asli. Pria itu tidaklah tampang atau rupawan. Tetapi enak dilihat. Wajahnya mulus tanpa jerawat. “saya Yasir neng.”ujarnya memperkenalkan diri. “saya kernetnya Mang Aryo dulu. Tapi sekarang kadi kernet taksi kota neng.”ujarnya lagi. “Yanti”jawab Yanti singkat. “mang Aryo kemana ya?” tanya Yanti. “lagi ada urusan katanya neng. Neng mau makan? Kesana aja ada warteg yang enak makanannya. Tadi udah dipesenin Mang Aryo kalau neng bangun disuruh makan dulu.” Ujar Yasir kemudian. Yanti pun tersenyum mengganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah kaki Yasir menuju warung tegal didekat mereka. “neng mau kemana?” tanya Yasir. “saya mau nyari kerjaan kang. Tapi belum tahu mau kemana.”ujar Yanti. “mau ikut saya tidak? Akang mah Cuma mau bantu aja neng, kalau neng mau. Akang tinggal di mess supir. Kalau neng mau ikut aja. Banyak kamar kosong kok. Ada beberapa cewek juga. Istri para supir juga ikut. Jadi jangan khawatir. Gimana?” Yasir menawarkan Yanti untuk ikut dengannya ke mess supir. “akang Yakin?” yanti malah nampak tak yakin. “lo kenapa nggak neng?” yasir malah balik bertanya. “ya bukan apa apa kang, saya kan bukan siapa siapa apalagi istri supir. Nanti saya malah membuat masalah untuk akang.” Yanti menolak halus. “nggak apa neng. Neng bilang aja neng itu sodara akang dari kampung. Kalau udah di bilang gitu mah diem mereka mah. Mereka bukan orang yang suka ikut campur neng. Asal nggak ngapa ngapain juga orang mah ngizinin aja neng.” Terang Yasir. Yanti nampak masih ragu ragu. Tetapi mau bagaimana lagi, di kota tak ada orang yang dikenalnya. “iya kang. Neng mau”ujar Yanti akhirnya “maaf merepottkan akang” Yanti menunduk. “nggak apa atuh neng. Akang jadi keinget adik akang dikampung kalau liat neng mah. Jadi kangen kampung euy.”ujarnya tersenyum bersemangat. “ayo makan dulu kang”ujar Yanti melihat makanannya sudah disajikan diatas meja. “hayuk atuh” mereka berduapun makan dengan lahap. Meski pagi tadi sudah makan Yanti ikutan kelaparan melihat cara Yasir yang makan dengan lahapnya. “keluarga neng pada dikampung? Berapa saudara neng?” tanya Yasir sambil makan. “iya kang dikampung, saya anak satu satunya kang. Nggak ada adik atau kakak. Ada sih calon adik. Tetapi saya belum tahu apa Ibu saya sudah melahirkan atau belum. Sebelum pergi Ibu saya lagi hamil besar.”Yanti bercerita sambil bersedih. Matanya hampir turun hujan. “looo...kok bisa neng? Udah lama atuh pergi dari kampung ya? Udah keliling kemana aja neng?” tanya Yasir masih bersemangat mendengarkan. “panjang kalau di ceritakan mah kang.” “nggak apa neng. Akang punya banyak waktu buat mendengarkan. Di sampung ampe besok besok juga nggak apa. Biar akang bisa punya alasan buat ketemu sama si eneng terus setiap harinya.” Ujar Yasir etrsenyum Yanti terkekeh mendengarnya. “akang bisa aja. Yanti mah habis bercerai kang” “seumur gini udah nikah malah cerai neng?” ujar Yasir tak percaya akan apa yang didengarnya. “iya kang. Umur pernikahan neng malah belum sebulan kang. Yanti nggak kuat dikurung digubuk di tengah hutan. Nggak boleh kemana mana nggak ngerti kenapa. Tiap suami Yanti datang Cuma mau nyiksa Yanti aja. Ada ada saja pyang bikin dia jadi kesal sama Yanti. Mungkin Yanti yang salah nggak ngerti esti gimana jadi seorang istri.” Yanti mengakui kecetekan ilmunya dalam berumah tangga di hadapan Yasir. “ya nggak gitu juga neng. Menikah mah sama sama belajar, sama sama saling melengkapi dan menyempurnakan.”ujar Yasir. “akang sudah menikah?” “maunya sih udah. Tapi belum ketemu jodohnya neng.” Yasir tersenyum sambil garuk garuk kepala. “semoga segera bertemu sama jodohnya ya kang. Yanti doakan” ujar Yanti tulus sambil tersenyum. “amiiiin” “neng mau kerja dimana?? Udah ada rencana?” “belum ada kang, masih mau nyari nyari dulu.” “mau kerja dirumah makan nggak? Kemarin kayaknya ada yang nyari karyawan deh. Ntar akang tanya lagi kesana kalau neng mau” “mau kang. Mau. Kerja apa aja kang. Asal halal.” “ya udah nanti akang cari tahu dulu ya masih apa tidak lowongannya. Semoga belum ada yang ngisi. Jadi neng bisa langsung kerja.” “iya kang. Semoga aja, biar Yanti bisa cepet kerja. Makasih banyak lo kang.” “aduh si eneng. Makasih melulu, santai aja neng. Kalau ada apa apa cerita aja ama akang ya. Bilang aja adiknya akang Yasir. Banyak yang kenal disini mah. insyaAllah kalau nyebut nama akang mah udah aman.” “waaah udah punya nama disini kang?” “nggak bukan yang begitu. Banyak yang kenal aja. Enak dikenal banyak orang neng, jadi banyak yang bisa di mintai tolong. Bisa saling tolong nyari kerja yang utama mah. Soalnya yang itu yang paling mudah.” “iya ya kang. Banyak kenalan mah cari lebih banyak informasi ya?” “iya bener banget neng. Kita mesti tolong menolong sama siapa aja. Besok lusa kita pasti bakal minta tolong ke orang lain juga. Bahkan kalau kita baik sam orang, saudara sam keluarga kita juga kalau meminta tolong sama orang juga orang nggak segan nolong.” “akang bener banget.” “iya neng. Akang dikota nolong orang. Bantuin orang. Dikampung emak sama adik adik kalau kesulitan juga bakal ada yang nolong. Sebagai balasan atas apa yang akan lakukan disini. Akang yakin itu. Akang percaya ada timbal baliknya. Jadi akang takut mau bikin dosa, takut orang orang dikampung kenanya. Akang udah lama banget nggak pulang kampung. Jadi kangen kampung euy ngomong gini sama neng” “kenapa nggak mudik balik kampung aja kang?” “nggak neng. Modalnya gede. Akang mah duit Cuma cukup buat makan. Kalau ada lebih mending dikirim buat emak dikampung. Daripada akang pulang malah nggak bisa bawa apa apa buat emak. Balik ke kota malah minta diongkosin pula. Nyusahin emak aja.”ujar Yasir panjang lebar. “tapi kan, terkadang orang tua itu pengennya anaknya yang pulang. Bukannya oleh oleh atau kiriman uang. Oran tua sama keluarga juga kangen sama akang. Pasti itu kang” “iya juga ya neng, nabung dulu ini mah neng. Pendapatn kecil habis habis aja” “ngirirt ngirit kang, buat modal kawin.” Bisik Yanti “hehe iya neng.” Obrolan mereka terus berlanjut di warung makan itu. Setelah selesai mereka menuju mess supir yang tak begitu jauh dari pasar sayur. Sekitar lima belas menit mereka sampai. Nampak bangunan beruba kamar kamar kosan bercecer didepan mereka. Bangunan itu tiga tingkat. Memiliki dua bangunan yang saling berhadap hadapan. Hampir 60 kamar semuanya. Disetiap kamar dilengkapi kasur dan alat masak. Mess itu memang diperuntukkan untuk para supir dan keluarga supir. Entah siapa yang mewakafkan bangunan itu, Yasir tidak tahu. Yang ia tahu sejak tiga tahun dikota dimess itu lah Yasir tinggal. “hayuk neng masuk, akang kenalin sama ketuanya dulu ya. Sambil minta izin sekalian ngambil kunci.” “iya akang.’ Yanti mengikuti langkah kaki Yasir dari belakang. Sambil melihat lihat kesibuukan disekitar mess. Kebanyakan ibu ibu. Barangkali istri para supir. Banyak anak anak yang sedang bermain dijam segini. “assalamualaikum kang Dul. Kang?” panggil Yasir didepan kamar bernomor 014 itu. “waalaikumsala, oh Yasir. Masuk” ujar Kang Dul membuka pintu dan menyuruh Yanti dan Yasir masuk. Mereka dipersilahkan duduk dan diberi segelas air. “dari mana Sir?” “dari pasar sayur kang. Biasa dinas pagi kang” “oh iya iya, ini siapa Sir?” tanya Kang Dul. “adik kang, dari kampung. Rencana mau tinggal disini. Maaf kang, Dia nggak punya siapa siapa disini. Ini malah pertama kalinya ke kota. Saya khawatir kalau dia sendirian kang.” Ujar Yasir. “ya nggak apa disini saja. Masih banyak yang kosong juga. Yang penting saling jaga ya Dik. Jaga kebersihan dan kenyamanan penghuni yang lain juga.” Pesan Kang Dul. “baik kang. Terima kasih” ujar Yanti. “sama sama. Sebentar sama ambil kuncinya.” Kang Dul ke dalam dan kembali membawa kunci kamar. “ini kamar no 037. Bangunan depan lantai dua. Yasir bisa menunjukkannya nanti. Maaf akang nggak bisa nganter, sama Yasir saja Ya. Akang lagi beresin atap ayam disamping. Mohon maaf ya.” “nggak apa kang sama saya aja” ujar Yasir lalu menerima kunci. Setelahnya mereka berpamitan dan menuju kamr bernomer 037.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN