Sudah beberapa hari Yanti dikota dan tinggal di mess supir. Yasir telah membantunya menghafal jalan jalan sekitar mess. Yasir bahkan mengenalkannya ke beberapa teman Yasir. Meski sudah beberapa hari di kota Yanti belum ingin bekerja dulu. Mungkin lusa Yanti akan berkeliling mencari kerja.
Lowongan kerja yang tempo hari diceritakan Yasir sudah diisi orang lain. Yanti akan mencari sendiri sekaligus berkeliling agar lebih hafal daerah sekitar sini. Yanti senang seklai. Yasir bahkan terkadang menemaninya berkeliling sekitar mess. Kadang juga menemani Yanti berbelanja ke pasar. Yanti senang sekali memiliki Yair. Yanti seolah memiliki kakak yang selalu setia menemaninya.
Yasir pun selalu mengistimewakan Yanti. Jika sudah pulang kerja , Yasir akan mengunjungi Yanti bahkan membawakan Yanti makanna. Yanti merasa senang sekali.
Seperti sore ini, selepas magrib Yasir datang. Yasir bahkan belum mandi apalagi mengganti pakaiannya. Ia langsung menuju kamar no 037 membawakan Yanti pecel lele.
“akang baik banget. Ada duitkah beliin Yanti makanna terus?”” ujar Yanti sambil menimati pecel lelenya.
“ada neng. Ada rejeki lebih akang hari ini.” Ujar Yasir sambil duduk didepan pintu. Angin dari luar terasa sepoy sepoy menerpa wajahnya.
“rejeki lebih mending di tabung buat keluarga dikampung kang.” Ingat Yanti.
“iya neng. Oh iya, mau kerjaan neng? Tadi abang lewat rumah makan Bu Ani. Inget Bu Ani nggak? Kita tempo hari pernah makan disana.”
“iya inget kang. Lagi ada lowongan kerja ya disana?’
“iya neng. Kata karyawannya tadi gitu. Satu karyawannya ada yang mau berhenti. Katanya mau nikah gitu. Mau pulang kampung. Besok kita kesana hayuk. Mau neng?”
“mau atuh kang. Sekarang juga mau kesana. Ntar keburu ada yang ngisi pula.”
“sabar atuh. Kayaknya tutup kalau malam mah. Bukanya dari pagi ampe sore aja. Besok aja.”
Yanti menggangguk.
“rejeki mah nggak kemana neng. Meski mau kayak mana juga kalau rejeki neng mah kayak makal diambil orang atuh. Gitu juga soal jodoh neng.”
“kenapa kang? Akang udah ketemu?”
“belooon si. Beloon nyatain. Bingung akang mah.”
“bingung kenapa kang?”
“kayaknya si cewek nggak peka sama perasaan akang.”
“duh kesiannya” ujar Yanti mengacak rambut Yasir seraya menyodorkan secangkir kopi yang baru saja di buatnya.
“nggak apalah neng. Jodoh nggak kemana, meski nanti dia malah ke buru nikah sama orang. Biarkan saja. Ku tunggu jandamu.” Ujar Yasir terkekeh.
“akang ngatain Yanti ya?” ujar Yanti mentoel pinggul Yasir. Yasir malah tertawa terpingkal pingkal.
“dih tersinggung si eneng.”
“nggak ya. Enak aja.” Ujar Yanti.
“udah ah mau mandi. Kopinya tak bawak aja. Sampai besok neng.” Ujar Yasir seraya membawa gelas kopi menuju kamarnya nomor 054.
Pagi pun menjelang. Yanti nampak begitu bersemangat bangun dan membuat sarapan nasi goreng dan telor ceplok. Tak lupa Yanti juga menyiapkan sarapan untuk Yasir beserta kopinya. Biasanya memang Yasir akan sarapan di tempatnya seperti itulah setiap pagi.
Teh hangat dan kopi hitam sudah tersaji. Tak lama kemudian Yasir datang dengan seragam kernetnya.
“wah, udah siap ni” ujarnya sambil meminum kopinya.
“enak bener.” Pujinya pada Yanti.
“mangkanya nikah kang. Biar ada yang ngurusi.” Ujar Yanti terkekeh.
“ntar neng. Ngumpulin modal dulu. Modal nikah dan modal ngomong.”
“ngomong pake modal juga kang?”
“iya modal keberanian. Akang takut ditolak terus ceweknya nggak mau ketemu lagi.akang nggak sanggup kayak gitu.”
“emang ceweknya siapa sih? Kok Yanti nggak dikenalin juga.”
“ntar ntar aja neng. Akang belum siap. Hayuk makan, keburu dingin.nkita jadi kan ke tempatnya Bu Ani pagi ini?’
“iya kang jadi. Yanti udah siap. Tinggal sarapan aja lagi.”
“iya. Nanti kalau keterima kerja nggak bisa sarapan bareng lagi kita ya?”
“kenapa nggak bisa kang? Kalo nggak bisa disini akang pesen aja di tempat Bu ANI. Kan sama aja kang? Hehe” tawa Yanti.
Akhir akhir ini Yanti sering tertawa bersama Yasir. Tak di ingatnya lagi lukanya di masa lalu bersama Karta.
Seteah selesai sarapan Yasir dan Yanti bergegas menuju Rumah Makan BU ANI. Letaknya tak seberapa jauh dari mess supir. Sekitar dua puluh menit berjalan kaki mereka pun sampai. Rumah makan Bu Ani berdiri dilahan strategis. Dekat terminal dan pasar serta perkantoran. Mudah di jangkau karena letaknya di pinggir jalan raya.
Suasana Rumah Makan nampak lenggang. Belum ada makan tersaji. Hanya ada beberapa orang yang duduk di depan menikmati kopi mereka.
“tunggu ya neng. Akang nyarin temen akang dulu sebentar. Biar nanti kita tanya dia dulu, baru nanya ke Bu Aninya.”
Yanti hanya mengganguk mengiyakan. Sambil duduk ia melihat lihat sekeliling. Suasana rumah makan yang bernuansa padang. Nampak gambar keris dan pemandangan pulau samosir di dinding. Bahkan ada seperti ornamen rumah padang di dindingnya. Nampak indah di pandang mata.
Tak berapa lama Yasir kembali.
“masih ada neng lowongannya. Temen akang lagi manggil Bu Aninya. Kita tunggu aja dulu ya.”
“iya kang” jawab Yanti santai.
“kok si neng santai begitu. Akang yang malah gugup gini. Kayak akang aja yang mau kerja. Anget dingin gini perasaan ya.” Ujar Yasir mengelap peluhn di dahinya.
Yanti hanya tersenyum memperhatikan Yasir, “akang mau demam ya? Keringetnya banjir gitu.”
“nggak tahu ni neng. Anget dingin rasanya.”
Tak berapa lama kemudian Bu Ani datang menghampirinya. Yasir tampak bersalaman dengan Bu Ani. Yanti mengikuti Yasir bersalaman dengan Bu Ani.
“ini adik saya Bu, yang mau kerja disini.”
“:oh, siapa namanya?”
“yanti bu”
“yanti usia berapa?”
“lima belas bu”
“bisa masak yanti?”
“dikit dikit Bu. Kalau yang ribet Yanti kurang bisa.”
“oh gitu nanti bantu bantu di belakang ya. Liatin aja temen yang lain kerjain apa. Bantuin potong potong sayur atau cuci cuci ikan. Lakuin apa yang kamu bisa. Nanti saya ajarin yang lain ya.”
“iya bu.”
“ya sudah kalau begitu saya tinggal ya Bu.. titip adik saya, kalau dia belum bisa mohon di ajari supaya dia bisa bantu bantu kerja disini.”
“iya” jawab Bu Ani.
Yasir pun pergi ke terminal melakukan pekerjaannya sperti biasa. Sedangkan Yanti mengikuti Bu Ani ke dapur. Di dapur sudah banyak karyawan lain sibuk dengan pekerjaanya masing masing.
“kamu disini aja dulu, bantuin motong sayur buncis sama wortel. Abis itu kupas semua bawangnya ya. Pisahin bawang yang merah sama yang merah yang puti sama yang putih. Abis itu bawangnya di blender. Kalau kamu nggak bisa make blender tanya saya. Itu aja dulu yang kamu kerjain kalau udah selesai nanti lanjut yang lain. Saya mau ke sana dulu.”
Yanti pun melaksanakan tugas yang di berikan Bu Ani. Setelaah selesai Ia pun menghampiri Bu Ani. Dengan telaten, bu Ani mengajari Yanti cara memblender bawang.
Begitulah kesaharian Yanti sekaramng. Bekerja dari pagi samapai sore hari di rumah makan Bu Ani. Pukul enam sore rumah makan tutup. Semua karyawan diizinkan membawa pulang makanan dan lauknya. Maksimal tiga bungkus nasi.
Yanti pun selalu membawa dua bungkus. Satu untuknya dan satu lagi untuk Yasir.