RINDU IBU

1006 Kata
Setiap pulang di sore hari Yanti selalu membawa bungkusan nasi.dua bungkus nasi. Terkadang lauk ayam, ikan, daging rendang bahkan telur. Satu miliknya satunya lagi tentu saja milik Yasir. “wah tiap hari makan daging bisa cepat gemuk akang neng Yanti.” Ujar Yasir membuka bungkusan nasinya malam ini. “alhamdulillah kang, sayur daging rendang tadi masih banyak. Sekali kali kita makan daging dulu. Nggak perlu nunggu lebaran.”ujarnya sambil makan nasi rendangnya. Terucap lebaran, Yanti jadi ingat akan Saropah, ibunya di kampung. Hampir tiga bulan sudah tak bertemu. Yanti jadi rindu. “apa kabar ibu ya? Ibu makan tidak malam ini? Apa adik bayinya sudah lahir” batin Yanti. Dahulu Yanti malah tak pernah makan daging. Meski saat hari raya idul adha atau hari raya qurban mereka mendapat jatah pembagian dari masjid, Yanti tak pernah mencicipinya. Ibunya si Saropah malah akan menjualnya. Untuk dibelikannya rokok. Yanti hanya akan makan daging jika ada yang memberinya semangkuk rendang. Itu sudah sangat jarang. Mengingat Saropah malah marah marah diberi hantaran sayur oleh tetangga. Hanya bu RT saja yang masih tetap memberi. Meski apapun kata Saropah. Bu RT tak pernah jera. “biarlah Saropah ibumu itu mencaci Ibu Yanti, yang penting kamu juga bisa merasakan hari raya.”itu yang di ucapkan Bu RT ketika Yanti bertanya kenapa masih memberi Yanti lauk dihari raya. Melihat Yanti yang terdiam tak melanjutkan makanannya, Yasir jadi usil. Ditariknya bungkus nasi Yanti.p. Yanti yang menyadari bungkus nasinya berpindah langsung tergagap seraya berkata, “akang kurang?” “nggak kok. Eneng makannya sambil melamun aja. Nggak enak apa rendangnya?” “enak kok kang. Cuma jadi keinget sama ibu. Ibu makan apa ya malam ini? Si adik bayinya gimana?” raut wajah Yanti menjadi sedih. “ya udah besok minta libur aja, akang temenin pulang kampung aja, mau?” “nggak kang. Yanti belum siap. Yanti memang rindu Ibu. Tapi Yanti belum siap pulang. Yanti tahu benar dengan ibu. Ibu pasti bakal ngamuk ngamuk begitu tahu Yanti malah bercerai dari Karta malah pulang nggak bawa apa apa. Mana mungkin ibu senang ngeliat Yanti kang. Mending nanti aja kang. Kalau Yanti udah banyak duit baru Yanti mau pulang.” Ujar Yanti bersemangat dan menyuap nasinya. “neng yakin?” “iya kang. Yakin. Yanti mah kenal banget sama ibu. Ibu pasti baik baik saja. Yanti malah khawatirnya sama adik bayi itu kalau udah lahir. Kalau malam malam ibu pergi, si adik bayi sama siapa?” “akang nggak tahu juga neng. Emang nggaka da tempat buat nanya tentang kabar ibu apa dikampung? Nggak ada yang punya handphone apa? Nanti kita bisa telpon ke kampung, kita nanti ke wartel aja. Bisa numpang nelpon disana.” Terang Yasir. “barang kali Pak RT punya handphone kang. Tapi Yanti malah nggak tahu nomernya. Yanti malah nggak pernah nanya apalagi tahu tentang handphone kang.” “iya juga, ya udah nanti akang cari tahu supir yang ke kampung neng. Nanti kita bisa bertanya atau sekalian menanyakan kabarnya ibu neng di kampung. Kalau ada malah kita bisa juga titip uang atau barang buat ibu di kampung.” “bisa begitu kang?” “iya bisa atuh neng. Kalau sekarang mah serba instan. Kirim uang bisa lewat bank, nggak perlu kirim surat surat segala kayak zaman dulu. Udah serba modern neng.” Yanti manggut manggut mendengarkan Yasir. Setiap malam mereka berdua selalu bersama. Seorang tak ada celah bagi orang lain di antara mereka berdua. Bagi Yanti Yasir adalah segalanya, kakak, saudara, bahkan bak seorang ayah yang selalu melindungi. Rasanya aneh jika melakukan hal tanpa Yasir apalagi saat makan malam atau sarapan pagi. Mereka selalu bersama sama. Pagi ini tampak berbeda dari biasanya. Sudah jam tujuh dan Yasir belum datang ke kamar Yanti. Biasanya pukul 06.30 Yasir sudah ada di kamarnya. Karena takut terlambat Yanti bergegas sarapan sendirian. Terasa ada yang hilang Yanti malah tak menghabiskan sarapannya. Ia bergegas membawa sarapan Yasir dan kopinya dan mengantarkannya ke kamarnya. “kang... kang,,, belum bangun apa? Udah siang” yanti menggedor kamar Yasir. “kang.... Yanti ini. Nyenyak amat tidur” panggil Yanti lagi. “kang Yasir kok belum bangun? Apa demam ya? Nggak biasanya begini. tapi udah kesiangan ini. Duh gimana ya?” yanti kebingungan. Tiba tiba tetangga Yasir, Kak Sita lewat dari mengantar anaknya sekolah. “lo Yanti... nyariin Yasir ya? Kayaknya semalam Yasir nggak pulang. Ada temannya yang kecelakaan katanya. Kayaknya belum pulang tuh.” Terang Kak Sita. “oh gitu ya kak. Makasih ya kak.” Yanti pun pergi dari depan pintu Yasir dan kembali membawa makanan dan kopi yang di bawanya. Yanti kembali kekamarnya dan menaruh makanan serta kopi itu di meja. Sengaja Yanti menitipak kunci kepada tetangganya. Barangkali Yasir kembali dan ingin sarapan maka Yasir tinggal makan saja. Yanti sudah sangat terlambat jika harus menunggu Yasir. “sebaiknya aku segera berangkat. Ini sudah sangat terlambat. Tidak enak dengan teman yang lain.”ujar Yanti sambil mengunci pintu kamarnya kembali. Tak lupa dititipkannya kunci kamarnya ke tetangganya. Dengan berlari kecil Yanti berangkat ke RM Bu Ani. Ia bahkan hampir tertabrak motor saat ingin menyebrang. Beruntung pengendara sepeda motor itu mengerem mendadak. Jika tidak bisa bisa Yanti pun akan mengalami kecelakaan mirip dengan teman Yasir semalam. Yanti terlambat sepuluh menit dari jam harusnya Ia masuk kerja. “yanti kenapa berlari lari begitu? “tanya Bu Ani keheranan. “yanti udah telat Bu, mangkanya lari lari.” Ujar Yanti sambil mengatur nafasnya yang ngos ngosan. “lari lari gitu nanti kamu ketabrak sepeda motor gimana?” tegur Bu Ani. “iya Bu, tadi aja nyaris untung orangnya ngerem mendadak.” “nah kan, mangkanya jangan lari lari gitu. Nggak apa telat asal memang alasannya bener bener bukan karena kamunya yang udah malas kerja disini.” Ujar Bu Ani. “nggak bu, Yanti tadi ke tempat Kang Yasir dulu. Yanti khawatir soalnya udah siang kang Yasir belum nonggol. Nggak kayak biasanya.” “em, lantas Yasirnya ada di kamarnya?” “nggak Bu. Kata tetangganya pergi dari semalam. Temannya ada yang kecelakaan.” “tuh kan, kecelakaan. Makanya har=ti hati. Kamu jangan lari lari lagi ya. Mana kamu tadi saya lihat nggak nengok nengok lagi nyebrangnya.” Sekali lagi Bu Ani menegur Yanti. “iya Bu, saya minta maaf. Nggak lagi kayak gitu Bu.” “ya sudah kamu buruan ke dapur. Bikinin kopi. Empat gelas. Ke meja nomer 05 didepan ya. Yang bapak bapak itu.” “iya buk. Bai” ujar Yanti seraya menuju dapur dan membuatkan para pelanggan kopi. Tak lupa Yanti juga membawakan aneka kue sebagai teman minum kopi. Meski banyak karyawannya sering telat, Bu Ani tak pernah benar benar marah. Asalkan jangan semua karyawan yang telat. Jika hanya satu tak masalah. Jangan saja tiap hari. Kalau tiap hari artinya udah nggak doyan kerja lagi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN