Chapter 08

1118 Kata
Agatha terlihat sibuk dengan ponsel berwarna putih yang ada di tangannya, bukan ponsel miliknya melainkan milik Andriel. Agatha menatap Andriel yang sedang berdiri, "duduk, jangan berdiri kayak gitu." Andriel duduk di tepi tempat tidur Agatha tepat di depan gadis itu. "Kenapa handphone kamu bisa kayak gini?" Andriel menggeleng. "Layar handphone kamu udah hancur luar dalem, kalo mau diganti pasti banyak keluar duit kamu." "Jadi gimana?" "Terserah," Agatha menyerahkan ponsel tersebut kepada Andriel. "Kenapa terserah?" "Bingung kan sama jawaban aku? Kemaren-kemaren aku juga bingung banget sama jawaban kamu, jawabnya terserah mulu. Kan aku kesel," Andriel memperhatikan ponselnya yang terlihat sudah tidak layak pakai. "Berapa harga handphone ini?" Sebenarnya Agatha tahu berapa harga handphone Andriel karena model handphone mereka sama. Dari raut wajah Andriel terlihat jelas jika laki-laki itu sedang bingung. "Harga?" Agatha mengangguk. "Bukannya handphone kita sama?" Agatha tertawa, "berarti harga handphone kita sama ya?" Andriel mengangguk. "Terus bayar nya gimana pas beli?" Andriel merogoh kantong celananya. Mata Agatha membulat lebar melihat Andriel mengeluarkan black card dan langsung diberikan kepadanya. "Kamu bayar nya pake ini?" Andriel mengangguk. "Darimana kamu dapet ini?" "Dari orang," Mata Agatha menyipit, "siapa?" "Gak boleh tau," "Aish!" Agatha yang sempat berharap rasa penasarannya segera terbayarkan mendadak kecewa mendengar jawaban Andriel. "Beli handphone baru aja kalo kamu mau, tapi yang harganya murah biar kalo ancur gak rugi-rugi banget walaupun duit kamu banyak," Andriel mengambil black card yang dikembalikan pada nya. "Atha," Agatha terkejut dan langsung beranjak dari tempat tidur ketika pintu kamarnya dibuka. Agatha berdiri membelakangi Andriel, jantung Agatha berdegup kencang melihat Aya terdiam di ambang pintu sambil memperhatikan ke arahnya. "Kenapa kayak kaget gitu?" "Enggak," Agatha tertawa seraya menggeleng. "Makan malem dulu ayo," Agatha mengangguk. Aya tersenyum lalu menutup pintu kamar Agatha. Agatha balik badan dimana Andriel sudah pergi menghilang dari kamarnya. ☁️ "Put," Putri berdehem. "Kamu percaya hantu gak?" Putri menoleh, "percaya gak percaya sih." "Kamu pernah denger soal arwah gentayangan?" "Pernah," "Dimana?" "Di TV," Bahu Agatha merosot turun, "maksudnya yang kisah nyata." "Gak pernah sih, emang kenapa?" Agatha menggeleng karena rasanya tidak mungkin ia mengungkapkan tentang rasa penasarannya terhadap Andriel. "Balik ke kelas yuk," ajak Putri saat keduanya sudah selesai makan. Agatha mengangguk. Ketika sampai di kelas Agatha mendapati Andriel sedang membaca buku, seperti menyadari kehadirannya Andriel berdiri memberi jalan untuk Agatha tanpa mengalihkan mata dari buku. Agatha duduk di bangkunya dengan tubuh menghadap Andriel, gadis itu memperhatikan Andriel yang terlihat begitu serius dengan bukunya. Agatha memajukan tubuhnya dengan dagu yang ia topang dan mulai mengeluarkan suara dengan nada pelan. "Aku kemaren liat kamu di rumah sakit, kamu ngapain?" Andriel menggeleng. "Gak pernah mau jawab serius kalo ditanya," Agatha mengambil buku Andriel dan menyimpan buku tersebut di dalam laci nya. "Jawab yang serius!" Ucap Agatha saat Andriel menatapnya. "Gak perlu tau," "Gak usah datengin aku ntar malem, awas aja." "Gak janji," Agatha memberikan tatapan sinis seraya menyerahkan buku yang ia simpan. ☁️ "Kenapa sih kita harus satu kelompok," Agatha bukan bertanya melainkan mengeluh. "Kenapa kita sebangku?" Andriel hanya diam. Agatha mengangkat paper bag yang sedari tadi ia pegang, "ini bahan-bahannya udah aku beli jadi kita tinggal bikin, mau dibikin dimana?" "Ter..." "Jangan terserah!" Agatha menghentakkan kaki. "Mau nya dimana?" "Di rumah aku gak boleh karena kan udah dibilang aku gak boleh bawa cowok," Agatha mendekati Andriel. "Di rumah kamu aja," "Gimana?" Tanya Agatha tidak sabar mendengar jawaban Andriel. Andriel mengangguk. Agatha langsung menarik tangan Andriel berlari menuju parkiran mobil. Sekitar dua puluh menit kemudian Agatha dibuat terpaku dengan rumah berukuran tidak terlalu besar namun luas itu. "Ini rumah kamu?" Andriel menggeleng. "Jadi rumah siapa?" "Orang," "Ya siapa? Aku juga tau orang, kamu aja yang bukan orang." "Masuk," "Eh, katanya bukan rumah kamu tapi kok malah masuk sih?" Agatha berlari mengejar Andriel yang sedang membuka pintu rumah. Agatha duduk di sebuah sofa berwarna hitam sambil melepas tas dan menaruh barang bawaannya di atas meja. Mata Agatha sibuk menyapu isi rumah tersebut  berharap menemukan sesuatu yang dapat membuat rasa penasarannya hilang. "Cari apa?" Agatha menatap Andriel lalu menggeleng. Andriel menyingkirkan meja kaca yang ada di tengah-tengah karpet kemudian duduk sambil mengeluarkan isi yang ada di dalam paper bag. Agatha ikut duduk di karpet dengan kedua kaki ditekuk ke belakang. "Ini sketsa rumahnya, aku sendiri lho yang gambar." Andriel mengangguk. "Kamu yang potongin kardus nya ya," Andriel kembali mengangguk. Selama Andriel menggambar desain rumah di kardus tidak ada yang membuka percakapan, Agatha yang tidak tahan dalam keheningan pun mulai merasa bosan. "Langsung di lem," Andriel memberikan beberapa potongan kardus pada Agatha. Bukannya langsung mengerjakan apa yang Andriel perintahkan Agatha malah diam sambil menekuk-nekuk kardus dan juga memperhatikan apa yang sedang Andriel kerjakan. Andriel menoleh karena Agatha hanya diam saja. "Kamu gak mau nawarin aku minum? Aku juga belum makan siang," kata Agatha. "Mau minum apa?" Kedua mata Agatha berbinar seketika, "es!" "Bukannya gak boleh?" "Kamu denger apa kata Papi aku tadi malem?" Andriel mengangguk. "Kok bisa denger? Kamu ada dimana tadi malem? Kenapa aku gak liat kamu?" "Mau minum apa?" "Terserah deh," Agatha menyandarkan tubuhnya di sofa. Andriel bangkit berdiri sambil diperhatikan oleh Agatha. Tak lama Andriel sudah kembali seraya membawa minum untuknya. Agatha menerima gelas yang disodorkan kepadanya, gelas tersebut berisikan jus tanpa ada rasa dingin sedikitpun. Kenapa bisa ada kayak gini di rumah dia? Apa dia juga minum ini? Sebenernya dia makhluk apa sih? Agatha membatin sambil memperhatikan jus yang diberikan oleh Andriel. "Aku gak minum itu," Mata Agatha beralih pada Andriel. "Kamu denger apa yang aku omongin walaupun di dalem hati?" Andriel mengangguk sembari mengambil lem. "Gak jadi aku minum deh, aku gak suka jus yang gak dingin." Agatha menaruh gelas jus tersebut. Andriel menatap lama Agatha dalam diam. Tatapan Andriel yang terkesan dingin membuat Agatha menjadi takut sehingga memutuskan untuk meminum jus itu dengan tubuh miring ke samping. Agatha memegang gelas jus nya dengan kedua tangan, Agatha melirik Andriel dengan tubuh yang masih miring ke samping. Jika memang dengan membatin Andriel mendengarkan ucapannya maka akan Agatha lakukan sekarang juga. Laper banget, di sini cari makanan dimana ya? Kedua bibir Agatha berkedut menahan senyum melihat Andriel mengeluarkan sebuah kotak yang Agatha tahu apa isi dibalik kotak tersebut. "Oh," Agatha pura-pura tidak tahu dan sedikit kaget saat Andriel memberikan kotak itu padanya. Dengan tutup kotak yang transparan Agatha bisa melihat dengan jelas cake yang Andriel berikan. "Aku lupa kalo kamu bisa denger batinan aku. Ini yang dari kakak kelas itu ya?" Andriel mengangguk. "Aku makan dulu ya ntar abis makan aku bantuin kamu, aku suka gak fokus kalo lagi kelaperan." "Iya," "Iya apa?" "Iya udah," "Kamu tau gak nama aku?" "Masa gak tau," "Aku udah pernah sebut nama kamu masa kamu gak mau sebut nama aku," "Iya Agatha," Bibir Agatha terkatup rapat, tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang hanya karena Andriel menyebut namanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN